Tampilkan postingan dengan label farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Vaksin 101: Komposisi dan Hal-Hal di Sekitarnya

sumber gambar: quickmeme.com
Vaksin, seperti produk obat lainnya, dibuat dengan memenuhi tiga poin kritis: aman, berkualitas, dan berkhasiat. Penelitian pengembangan vaksin memerlukan usaha yang besar dan pada pembuatan produknya untuk skala massal berada dalam pengaturan yang ketat sehingga diupayakan untuk selalu menjaga keamanan, kualitas, dan khasiat dari tiap produk yang sampai ke tangan masyarakat. Berikut saya sarikan untuk pembaca sekalian, beberapa hal terkait bahan-bahan pada vaksin, terutama mengenai masalah keamanannya. Sebagian besar sumber tulisan ini berasal dari Vaccine Education Center, The Children’s Hospital of Philadelphia(1). Tetapi sebelumnya, kita sama-sama perlu tahu beberapa definisi berikut: (1) Adjuvant adalah bahan yang membantu tubuh menimbulkan respon imun yang lebih baik; (2) Preservative atau pengawet merupakan bahan yang mencegah kontaminasi mikroorganisme pada produk vaksin; (3) Additive atau bahan tambahan yang membantu produk vaksin tetap berkualitas selama penyimpanan(2).

Alumunium

Alumunium (lebih tepatnya dalam konteks ini, garam alumunium) sudah digunakan sejak lama dalam proses pembuatan vaksin. Sebagian orang mungkin mempertanyakan mengenai keamanan penggunaan alumunium sebagai adjuvant. Meskipun demikian, hal yang perlu diketahui pertama adalah alumunium merupakan senyawa yang secara normal ada di lingkungan sekitar kita, begitu pula pada air dan makanan yang masuk ke perut, mengandung alumunium walau dalam jumlah yang sangat sedikit sekali. Jumlah garam alumunium dalam sebuah vaksin sangatlah kecil. Sebagai gambarannya, pada enam bulan pertama, seorang bayi yang mendapatkan vaksin lengkap akan menerima sekitar 4 miligram alumunium yang terkandung dalam vaksin. Akan tetapi, pada durasi yang sama, seorang bayi dapat menerima 10 miligram alumunium dari ASI, 40 miligram jika mereka diberi susu formula secara regular, dan hingga 120 miligram bila mereka diberikan susu formula yang berbahan kedelai. Alumunium akan berbahaya hanya bila ketika fungsi ginjal tidak berfungsi dan bila alumunium dalam jumlah besar diberikan, seperti saat kita meminum antasida untuk obat mag.

Selain alumunium, lipid monofosforil A yang diisolasi dari bakteri juga dapat digunakan sebagai adjuvant dan sudah digunakan pada salah satu produk vaksin HPV.

Formaldehid

Formaldehid digunakan selama proses produksi pada beberapa vaksin untuk menginaktivasi virus atau toksin bakteri yang akan digunakan. Sebagian besar formaldehid akan hilang pada proses pemurnian produk, walau sedikit jumlah yang masih tersisa. Meskipun demikian, hal yang perlu dicatat adalah formaldehid juga merupakan produk samping dari sintesis protein dan DNA dalam sel, sehingga senyawa ini umum ditemukan pada aliran darah. Jumlah formaldehid yang umum terdeteksi pada darah 10x lebih besar dari yang dapat ditemukan pada vaksin.

Gelatin

Gelatin merupakan salah satu jenis stabilizer yang ditambahkan pada produk vaksin. Bahan stabilizer berguna untuk melindung bahan aktif selama proses produksi, pendistribusian, hingga penyimpanan. Gelatin yang digunakan pada umumnya berasal dari hewan babi atau sapi. Selain gelatin, beberapa bahan lain dapat digunakan sebagai stabilizer seperti sukrosa, laktosa, albumin, MSG, dan glisin. Data dari CDC(3) hanya beberapa produk vaksin (keluaran Amerika) saja yang menggunakan gelatin sebagi stabilizer-nya, seperti vaksin influenza, vaksin MMR-II, vaksin rabies, vaksin varicella, vaksin demam kuning (yellow fever), dan vaksin zoster. Pada vaksin produksi dalam negeri (keluaran PT Biofarma) tidak disebutkan menggunakan gelatin sebagai stabilizer-nya(4). Gelatin yang digunakan sebenarnya sangat sedikit sekali dan merupakan merupakan senyawa yang mudah dirusak (dihidrolisis) sehingga konsentrasinya akan semakin berkurang.

Merkuri

Merkuri atau lebih tepatnya sebagai senyawa mengandung merkuri merupakan pengawet yang umum digunakan pada awal abad 20. Pengawet ini digunakan terutama pada sediaan vaksin yang digunakan beberapa kali (tidak sekali pakai habis), seperti pada vaksin influenza. Senyawa mengandung merkuri yang dimaksud adalah Thimerosal. Seringkali terdapat kesalahpahaman antara etilmerkuri dengan metilmerkuri. Etilmerkuri terbentuk setelah tubuh memetabolisme thimerosal dan akan dipecah lagi serta dikeluarkan dari tubuh dengan cepat. Metilmerkuri umum terbentuk di alam ketika terdapat logam merkuri. Jika metilmerkuri ditemukan dalam tubuh, hal ini biasanya terjadi akibat mengkonsumsi pangan yang terkontaminasi logam merkuri. Etilmerkuri dan metilmerkuri merupakan dua senyawa yang berbeda dengan cara metabolisme serta pembuangan (clearance) pada tubuh yang berbeda pula. Hingga saat ini, penelitian-penelitian yang ada tidak menemukan adanya hubungan antara thimerosal pada vaksin dengan autisme pada anak(5).

Bagaimana dengan enzim tripsin? Pada dasarnya tripsin bukan merupakan bagian dari komposisi produk vaksin. Tripsin digunakan pada saat penyiapan kultur virus yang akan digunakan untuk pembuatan vaksin, seperti isolasi sel inang dari jaringan hewan untuk tempat tumbuh virus, atau untuk aktivasi partikel virus tertentu(6). Setelah bahan virus atau bagian virus berhasil di-‘panen’ dari kultur sel, bahan tersebut akan dimurnikan hingga memungkin tidak terdeteksi kembali bahan-bahan lainnya, termasuk enzim tripsin. Kemudian setelah itu bahan virus ini lah yang merupakan komposisi dari produk vaksin.

Sumber-sumber:

  1. Vaccine Education Center The Children’s Hospital of Philadelphia. (2012). Vaccine ingredients: what you should know. Diunduh 7 Maret 2014 [vaccine.chop.edu]
  2. American Academy of Pediatrics. (2013). Questions and answers about vaccine ingredients.
  3. CDC. (2013). Vaccine excipient and media summary. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  4. PT Biofarma. Diakses pada 7 Maret 2014 [biofarma.co.id]
  5. CDC. (2013). Understanding thimerosal, mercury, and vaccine safety. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  6. European Medicines Agency. (2013). Draft guideline on the use of porcine trypsin used in manufacture of human biological medicine products. EMA/CHMP/BWP/814397/2011 [ema.europe.eu]




Read More..

Memasak dalam Industri Farmasi

(sumber gambar: pharmaleaders.tv)
Industri farmasi, mungkin, adalah industri dengan regulasi terketat (high regulated) dalam pelaksanaannya, dimulai dari pemilihan bahan baku hingga produk jadi yang siap diedarkan di pasaran. Bahkan, setiap produk yang telah beredar masih akan diawasi keamanannya untuk masyarakat. Anda bisa membayangkannya seperti ini, anda adalah suatu industri, memasak adalah hal yang anda lakukan. Jika Anda mengikuti konsep regulasi pada industri farmasi (Good Manufacturing Practice/CPOB), hal berikut yang akan terjadi:


  1. Sebelum pergi ke pasar untuk berbelanja bahan masakan, Anda akan memulainya dengan menuliskan resep masakan yang akan anda buat, beserta cara pembuatannya, cara bagaimana Anda memastikan bahwa rasa dan kualitas masakan Anda akan tetap konsisten, parameter yang akan Anda tes untuk memenuhi standar kualitas yang Anda harapkan dari hasil akhir masakan Anda ketika disajikan di meja makan.
  2. Anda diwajibkan memilih bahan baku masakan yang memenuhi standar yang telah ditentukan. Semua bahan baku yang akan anda gunakan, dimulai dari bahan utama hingga bumbu-bumbunya, akan diperiksa terlebih dahulu, kualitasnya, keamanannya.
  3. Setelah bahan baku memenuhi standar yang telah ditentukan, selanjutnya anda akan mulai masuk ke dapur, ruang produksi anda membuat masakan. Anda akan memastikan segala fasilitas dan peralatan yang akan digunakan memenuhi standar yang telah ditentukan. Kebersihan dapur, bahkan hingga kadar partikel udara terkandung di dalamnya. Sekali saja ditemukan ada hama (serangga, cicak, tikus, dan lainnya) masuk ke dapur Anda, bisa dipastikan masakan Anda akan ditolak masuk ke meja makan. Anda akan memastikan kompor, panci, sodet, dan peralatan masak lainnya berfungsi dengan baik dan sesuai.
  4. Anda akan memastikan siapa personil yang boleh masuk ke dapur Anda. Apakah Anda akan bekerja sendiri atau dibantu orang lain? Berapa orang? Siapa saja? Anda akan memastikan dapur Anda tidak memuat terlalu banyak orang yang akan membuat proses memasak menjadi tidak efektif dan efisien.
  5. Di tengah Anda memasak, Anda akan mengambil sedikit sampel masakan untuk diuji. Sudahkan memenuhi standar yang telah ditentukan? Jika belum, maka Anda akan melakukan investigasi letak kekeliruannya, apakah pada cara Anda memasak atau bahan bakunya yang ternyata bermasalah. Akhirnya bisa beberapa kemungkinan; bisa jadi proses memasak Anda dihentikan atau masih bisa dilanjutkan atau diulang kembali dari awal. Selain itu, Anda akan mencatat segala temuan-temuan yang terjadi selama Anda memasak.
  6. Setelah Anda selesai memasak, dan masakan jadi, sekali lagi Anda akan mengambil sedikit sampel masakan Anda dan diuji kembali. Sudahkah memenuhi syarat yang telah ditentukan? Pengujian bukan hanya masakannya, tetapi juga ‘bungkus’nya, seperti piringnya, sendok-garpunya, tutup sajinya, apakah sudah memenuhi syarat?
  7. Oh iya, pihak diluar Anda (regulator, anggota keluarga lain) akan turut mengaudit masakan Anda.
  8. Masakan Anda yang sudah disajikan di meja makan masih akan tetap diawasi. Apakah menimbulkan sakit perut setelah memakannya, atau bahkan diare pada orang yang memakannya.
Kurang lebih demikian, gambaran yang disederhanakan pada proses yang terjadi dalam Industri farmasi. Jika pada industri makanan ada dua poin kritis yang harus memenuhi standar, keamanan dan kualitas produk maka pada industri farmasi ditambah satu poin lagi, yaitu efikasi atau efek menyembuhkan dari produk obat. Tentunya kita semua tidak menginginkan meminum obat yang tidak menimbulkan efek baik apa pun kan. Dalam CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang diatur oleh Badan POM sendiri ada 12 aspek standar yang harus dipenuhi oleh suatu industri farmasi di Indonesia. Bisnis industri farmasi berjalan pada garis-garis nyawa konsumen, sudah menjadi paradigma bersama bahwa segala produk yang dihasilkan akan aman, bermutu, dan berefek.

Bacaan lebih dalam:
Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik.

Catatan tambahan:
Mengintip sedikit gambaran produksi pada industri farmasi dapat and abaca di tulisan saya di sini.



Read More..

Senin, 19 Agustus 2013

Parasetamol dan cerita lainnya

“Hingga saat ini saya kira semua sepakat, parasetamol masih menjadi obat yang paling dicari-cari saat kepala sakit terasa, saat demam menggigil melanda.”

Parasetamol tak pernah ditemukan benar-benar secara tidak sengaja, paling tidak hingga mereka menyebutnya parasetamol dan dipasarkan oleh Sterling-Winthrop Co. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mencatat selalu ada pelajaran dari setiap kesalahan, dan dari sebuah kesalahan pemberian obat cacing, naftalen, menjadi asetanilid, dua orang asisten professor dari Universitas Strassburg mencatatkan dalam sejarah, obat penurun demam (antpiretik) baru yang dapat diproduksi dengan murah. Sayangnya, keberuntungan tak berlangsung lama, asetanilid memiliki efek samping serius pada hemoglobin darah dan peredarannya ditarik dari pasaran.

Berhenti hingga di sinikah? Tentu saja tidak. Ketidaksengajaan penemuan efek antipiretik asetanilid menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran yang sama yang ada pada setiap penemu-penemu besar dunia. Rasa penasaran yang sama yang membangun peradaban manusia. Hingga singkat cerita, percobaan-percobaan dilakukan, sintesis senyawa baru yang memiliki potensi lebih baik dan efek samping rendah diciptakan. Setelah 60 tahun sejak kejadian kesalahan pemberian obat cacing di Universitas Strassburg, parasetamol dipasarkan ke dunia. Meledak menjadi obat sakit kepala dan demam yang dicari-cari umat manusia.

Kesalahan-kesalahan selalu terjadi, dari sesepele salah mengambil warna dasi hingga salah memberikan obat. Kesalahan-kesalahan mungkin terjadi, pada pribadi yang sudah ahli dan terbiasa sekalipun. Tetapi mereka yang luarbiasa adalah mereka yang mengakui kesalahannya, menyelesaikannya, bahkan bisa jadi memanfaatkannya menjadi suatu yang lebih berguna.

Cerita-cerita sakit kepala
Bahkan ketika mengetik tulisan ini, kepala saya masih agak terasa pening karena beberapa hal nampaknya terlalu menjadi beban pikiran. Beberapa hal memang tak perlu dipikirkan berlebihan karena hal-hal tersebut tercipta untuk dikerjakan. Masalah-masalah tak akan pernah selesai dengan memikirkan solusinya saja. Sakit kepala bisa saja tetap berlangsung walau solusi ditemukan, jika solusi tersebut tak pernah dilakukan, yang berarti tidak terbukti ketepatannya, yang dengan demikian menambah sakit kepala anda !

Banyak hal memang akan membuat anda sakit kepala, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan atau rencana-rencana yang tak berjalan sesuai harapan. Bahkan harapan sendiri bisa membuat anda sakit kepala ! Sekali lagi jika harapan tersebut hanya dibayangkan, tak selangkah pun coba diwujudkan. Bayangan-bayangan masa depan bisa jadi sangat menyeramkan, tetapi bayangan hanyalah bayang-bayang, ketakutan-ketakutan akan masa depan tidak pernah perlu terjadi, dan masa depan sendiri bukanlah sesuatu yang harus selalu dibayang-bayangkan. Masa depan ada untuk kemudian kita melangkah memeluknya.

Urusan cinta yang membius banyak orang bisa jadi membuat anda lebih sakit kepala lagi. Tak ada kegilaan yang lebih memayahkan kecuali pada orang-orang yang memendam rindu dan tersiksa karena kerinduannya. Urusan gila-menggila karena cinta-rindu-harap sebenarnya bisa dihindari dengan mindset yang tepat. Ah, terlalu awam bagi saya untu berbicara persoalan gila-rindu-cinta-harap yang tak habis-habis. Paling tidak, satu solusi yang bisa saya tawarkan untuk meredakan sakit kepala anda sementara, minumlah obat sakit kepala, parasetamol !


Read More..

Senin, 09 Juli 2012

Dilema Kemandirian Obat Indonesia

Berbicara mengenai kesehatan manusia, maka kita membicarakan masa depan suatu komunitas atau bahkan suatu bangsa. Kesehatan adalah aspek pendukung utama keberlangsungan suatu bangsa. Generasi yang berkualitas tidak akan bisa dihasilkan tanpa dukungan faktor kesehatan yang memadai. Anda bisa membayangkan betapa mudahnya wabah penyakit menghancurkan suatu bangsa. Kita melihat betapa virus AIDS melumatkan negara-negara di Benua Afrika atau wabah malaria yang menyerang negara-negara di Asia Tenggara sehingga memakan banyak korban nyawa. Sebuah kehilangan besar bagi suatu bangsa ketika para penerus mereka harus menjadi korban dari suatu wabah penyakit. Kesehatan boleh dibilang merupakan faktor pendukung utama kemajuan suatu bangsa. Tanpanya, kita tidak akan bisa berbicara mengenai pendidikan tinggi atau teknologi maju ataupun mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki suatu bangsa.

Berbicara mengenai faktor pendukung kesehatan suatu bangsa, maka berbagai aspek dapat diulas di dalamnya. Paling tidak saya melihat tiga hal yang menjadi pendukung utama kesehatan suatu bangsa: kualitas tenaga kesehatan, sistem kesehatan dan aplikasinya serta obat dan ketersediaanya di masyarakat. Dua pertama tidak akan saya bahas di esai ini, saya hanya akan membahas mengenai obat dan bagaimana kemandirian akan ketersediaan obat sangat penting bagi masa depan suatu bangsa. Seperti pendapat umum bahwa obat, baik obat regular maupun tradisional, menjadi tumpuan pertama penyembuhan suatu penyakit. Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita saat ini memiliki ketergantungan dengan suatu tablet atau kapsul dibandingkan dengan gaya hidup sehat. Di zaman saat semua orang mengingkan hal-hal yang instan, obat merupakan jawaban terbaik untuk mengatasi kondisi tidak menyenangkan yang kemudian kita sebut sebagai sakit. Dari sini anda dapat melihat bahwa kebutuhan obat yang akan sulit surut di masyarakat menjadikannya pasar yang sangat potensial. Mengendalikan pasar obat bisa jadi mengendalikan tingkat kesehatan masyarakat atau bahkan pembangunan suatu bangsa.

Berbicara mengenai Indonesia, di sini pemerintah mencoba mengendalikan harga obat melalui program obat generik. Namun, ini hanyalah solusi yang menyembuhkan gejala, bukan sumber penyakitnya. Harga obat yang mahal menjadi penyebab utama mahalnya biaya kesehatan di sini. Mengapa harga obat dapat menjadi mahal? Biaya produksi obat menjadi salah satu penyebabnya. Ya, hingga saat ini bahan baku obat Indonesia (baik bahan aktif maupun bahan tambahan) hampir 96% diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, harga obat sangat terpengaruh dari nilai mata uang kita dibandingkan dengan mata uang asing serta kondisi dari negara yang mengekspor bahan baku obat tersebut. Di satu sisi, kita ingin agar harga obat dapat ditekan, di sisi lain para pelaku usaha (industri farmasi) harus memperhitungkan keberlanjutan usahanya.

Sesungguhnya berbicara mengenai ketersediaan obat di masyarakat merupakan hal yang tidak sederhana. Obat boleh jadi tersedia di pasaran namun bila masyarakat tidak mampu membelinya, maka hal tersebut menjadi percuma saja. Tuntutan ditekannya harga obat juga tidak sesederhana yang terlihat, industri farmasi juga harus mengimbangi antara ongkos produksi dan laba yang didapat. Sama saja jika harga obat tidak dapat menutupi ongkos produksi, maka obat pun tidak bisa diproduksi. Produksi bahan baku obat dalam negeri bisa merupakan suatu solusi juga. Tetapi selama efisiensi produksi bahan baku dalam negeri tidak sebaik produksi luar negeri, maka harga bahan baku produksi dalam negeri dapat lebih mahal daripada produksi luar negeri. Lagi-lagi, ini persoalan investasi ke industri bahan baku obat nasional. Jika teknologinya ingin dikembangkan maka investasi dalam jumlah besar harus dilakukan.

Bagi saya pribadi, produksi bahan baku dalam negeri harus segera dilakukan, meskipun masih belum sempurna. Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada impor bahan baku obat dari luar negeri. Komitmen besar harus dimiliki oleh setiap stakeholder untuk menciptakan industri bahan baku obat nasional.


Read More..

Sabtu, 05 Mei 2012

2015: Farmasis dan MDGs

“Our world presents worrisome statistic that endanger the perpetuation of generations to come.” (Kofi Annan).

Sebuah pertemuan besar diadakan dunia, berlokasi di New York, 189 pemimpin dari berbagai negara mencanangkan sebuah langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah yang semakin membesar di dunia, terutama di negara dunia ketiga. Sebuah pertemuan yang diprakarsai oleh PBB ini merumuskan suatu tujuan global yang kemudian kita kenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Dengan target pencapaian di tahun 2015, dalam MDGs, kerja-kerja besar dilakukan untuk mencapai (1) pemunahan kemiskinan dan kelaparan ekstrim; (2) pendidikan dasar bagi semua orang; (3) persamaan gender dan penguatan peran perempuan; (4) penurunan angka kematian bayi; (5) perbaikan kesehatan ibu hamil dan menyusui; (6) pemberantasan penyakit HIV/AIDS, malaria, dan lain sebagainya; (7) terjaminnya keberlangsungan lingkungan hidup; dan (8) pembentukan kerja sama global untuk negara berkembang.

Tujuan-tujuan MDGs paling tidak melingkupi empat isu, yaitu isu ekonomi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, persamaan hak, dan lingkungan. Kita tak perlu berpikir keras untuk menyimpulkan di mana peran seorang farmasis dalam penyuksesan MDGs. Sebagai bagian dari tenaga kesehatan, peran farmasis menjadi begitu penting dalam penjaminan terhadap keefektifan dan keamanan suatu terapi pengobatan pada berbagai kondisi pasien misalnya, (pediatrik, geriatrik, ibu hamil dan menyusui, dan lain sebagainya) sehingga peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia menjadi suatu hal yang mungkin dicapai. Farmasis berperan penuh terhadap tersediannya pengobatan yang dapat membantu memperbaiki kualitas kesehatan pasien, assessment terhadap terapi yang diberikan pasien dan penanggulangannya bila terjadi hal yang tidak diinginkan, serta pencerdasan pasien akan suatu terapi yang dijalani demi meningkatkan keberhasilan pengobatan. Di tahun 2012, memasuki kuatral akhir dari target pencapaian MDGs, kita perlu menengok kembali dan bersama mengevaluasi diri sudah sejauh mana kemajuan dan kontribusi farmasis dalam penyuksesan MDGs.

Indonesia kita hari ini
Ada paling tidak tiga isu dalam MDGs yang menjadi bagian dari isu bersama tenaga kesehatan yaitu angka kematian bayi, kesehatan ibu hamil dan menyusui, serta penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Dan ketika kita mengambil potret isu tersebut, kita akan menemukan bahwa menurut laporan pencapaian MDGs di Indonesia, dari tiga isu kesehatan hanya pemberantasan terhadap tuberkulosis yang telah mencapai target. Penurunan angka kematian bayi memperlihatkan tren yang baik meskipun belum mencapai target. Angka kematian bayi di bawah lima tahun sebesar 44 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2007 dengan target angka kematian bayi sebesar 32 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2015. Sayangnya angka kematian ibu melahirkan cukup mencemaskan; berdasarkan data BPS pada tahun 2007, rasio angka kematian ibu melahirkan sebesar 228 ibu per 100.000 kelahiran, padahal target MDGs pada tahun 2015, ada sebesar 102 ibu per 100.000 kelahiran. Pun demikian dengan angka penderita AIDS yang memperlihatkan tren kenaikan sebesar 4.969 kasus per 100.000 orang pada tahun 2008. Namun, sebaliknya pada kasus malaria yang menunjukan tren penurunan yang baik dengan 1,85 kasus per 1000 orang pada tahun 2009.
Statistik di atas mungkin perlu kembali di-update, namun paling tidak tersingkap bahwa ada PR-PR besar yang perlu dikerjakan bersama. Sementara kita tersibukan akan kegalauan-ria mungkin kita akan tersentil bahwa penderita AIDS terus bertambah dan semakin banyak anak-anak yang tak pernah bertemu ibunya.

Dan kita para farmasis


Komunikasi dan edukasi kepada masyarakat merupakan salah satu rangkaian penting dalam usaha meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dan edukasi yang dapat diberikan oleh seorang farmasis tidak selalu mengenai obat dan penggunaannya melainkan juga pola hidup yang diperlukan untuk mendukung usaha perbaikan kesehatan itu sendiri.
Pada bidang riset, pengembangan baik zat aktif baru maupun bentuk sediaan yang lebih efektif terus dikembangkan oleh para ahli farmasi. Obat baru tidaklah cukup untuk memberantas suatu penyakit menular, tetapi diperlukan juga suatu sistem kesehatan yang kuat. Oleh karena penyakit menular maupun penyakit degeneratif (seperti penyakit diabetes atau jantung) dipengaruhi secara signifikan oleh pola hidup suatu masyarakat maka peran farmasis di ranah farmasi komunitas menjadi penting. Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) menjadi senjata ampuh hanya bila benar dilaksanakan oleh farmasis.
MDGs 2015 sudah seharusnya menjadi visi bersama para farmasis dan tenaga kesehatan lainnya. Kita bersama, dalam berbagai bidang, perlu kembali merevitalisasi peran farmasis dalam memajukan kesehatan Indonesia. Tahun 2015 adalah target nyata dari kerja-kerja nyata di masyarakat dan banyak orang bersedia mengambil peran-peran tersebut dan menjadi bagian dari tinta sejarah kesehatan Indonesia. Pertanyaan besarnya, bagaimana dengan anda ?




Referensi
Bappenas. 2010. Report on the achievement of the millennium development goals Indonesia 2010. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
UNDP. 2006. Modul 4: health strategies. Dipresentasikan di UNDP RBA Workshop on MDG-Based National Development Strategies, UN Millennium Project. February 27th – March 3rd.



Read More..

Sabtu, 11 Februari 2012

Obat-Obat Terbaik: Mengintip Industri Farmasi

Hasil akhir tidak menjamin mutu produk, namun mutu haruslah dibentuk ke dalam produk (CPOB)

Mari kita berimajinasi sebentar, bayangkan anda sedang flu berat, anda tidak punya pilihan kecuali membeli obat pereda flu di toko sebelah. Anda akan menemukan beragam obat yang dapat membantu meradakan gejala flu dengan berbagai warna dan kemasan yang berbeda. Kemudian, anggap saja anda mengambil suatu obat dengan merek tertentu, membayarnya, kemudian membawanya pulang. Sekarang anda hendak meminumnya bersama dengan segelas air mineral hangat, anda memegangnya dan kemudian memasukannya ke dalam mulut dalam gerakan lambat dan kemudian saya memencet tombol pause. Baiklah, dari obat (kita bayangkan saja obatnya berbentuk tablet) yang kita beli pernahkah terpikirkan bahwa isi obat tersebut hanyalah tepung yang dicetak menjadi tablet ? Dan anda sembuh hanya karena anda menginginkan anda sembuh ?

Awal mula obat anda
Sekarang saya akan mengajak anda berlari mundur dan melihat bagaimana mereka diciptakan. Percaya atau tidak, obat anda yang berbentuk tablet, kapsul, kaplet bahkan berbentuk segitiga pada awalnya hanyalah serbuk-serbuk tertentu yang kemudian ditimbang dengan berat tertentu, dicampur dan diaduk dan akhirnya dimasukan ke dalam sebuah mesin yang mengompakkan bentuk mereka menjadi sebuah obat yang tadi anda telan. Mudah bukan ? Anda cukup memiliki alat timbang, baskom untuk mencampur bahan-bahan dan (yang ini agak mahal) sebuah mesih pencetak tablet, maka anda dapat memiliki tablet sendiri. Tapi tunggu dulu, walaupun anda mendapatkan bentuk obat yang cantik, bisakah anda memastikan bahwa obat tersebut menyembuhkan dan bukannya meracuni ? Baiklah anggap saja satu obat yang anda buat tersebut menyembuhkan anda dari flu, namun apakah anda yakin dapat menghasilkan obat yang sama dengan kualitas yang sama selanjutnya?

High regulated business
Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi obat menyembuhkan anda sama besarnya dengan potensi meracuni anda. Oleh karenanya mungkin aturan main dalam industri farmasi adalah salah satu yang terketat, paling tidak di Indonesia. Permasalah utamanya tentu saja bahwa obat diharapkan dapat menyembuhkan dan bukan sebaliknya. Kita perlu menjamin bahwa setiap obat yang ada di sekitar kita bukanlah racun-racun yang tidak menyenangkan. Regulasi kita banyak mempersyaratkan suatu obat bukan hanya dari proses produksinya, namun sejak awal pembuatan bahan baku obat, proses distribusinya hingga akhirnya anda dapatkan dari sebuah apotek. Obat-obat yang sudah beredar di tengah-tengah kita pun tidak lepas dari pemantauan. Mereka tetap dan terus dikaji keamanan, kualitas dan kemanfaatannya walaupun sudah dinyatakan layak untuk dijual. Segala bentuk usaha ini tidak lain untuk menjamin bahwa obat yang dihasilkan aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten hingga waktu yang tertera pada tanggal daluwarsa.

Aturan main
Sebuah pedoman akhirnya dibuat untuk melindungi kita semua dari obat-obat yang tidak layak. CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) merupakan pedoman yang dipakai oleh semua industri farmasi di Indonesia dalam proses produksi suatu produk obat. Di dalamnya terurai aturan main, kriteria serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua industri farmasi yang ada di Indonesia. Pada prinsipnya pedoman ini dibuat untuk menjamin bahwa obat yang diproduksi aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten. Salah satu hal yang menjadi penekanan adalah bagaimana menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya secara konsisten. Adalah hal yang percuma bila konsistensi mutu obat yang dihasilkan tidak dapat dijamin karena anda tahu, dalam sekali running sebuah mesin pencetak obat dapat menghasilkan ribuan tablet obat dalam waktu satu jam.

Prinsip lain yang perlu anda ketahui adalah bahwa kita tidak dapat menjamin mutu suatu obat hanya berdasarkan hasil tes laboratorium yang dilakukan pada obat jadi. Mengapa ? Dapat anda bayangkan bahwa suatu industri farmasi memiliki keterbatasan untuk memeriksa setiap keping obat yang dibuatnya. Oleh karena itu dari populasi obat yang begitu banyak, maka hanya diambil sekian jumlah sampel yang dapat mewakili populasi obat tersebut. Meskipun saya berkata ‘dapat mewakili’, sekali lagi kita tidak bisa menjamin bahwa semua obat akan memenuhi syarat. Maka pendekatan yang dilakukan bukanlah pada produk jadi namun pada proses untuk menghasilkan produk tersebut. Mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut dengan jalan menciptakan proses yang terkendali. Variabilitas adalah musuh utama dari kinerja proses produksi obat. Variabilitas merupakan hal yang harus dikendalikan (jika bisa hingga 100%) karena idealnya kita menginginkan kualitas yang sama pada setiap tablet yang dihasilkan.

Pertanyaannya menjadi bagaimana mengendalikan variabilitas tersebut ? Jawaban mudahnya adalah memastikan setiap alur proses produksi obat dapat kita kendalikan. Pengendalian yang dimaksud bukan hanya mengenai proses pembuatan obat, tetapi semua aspek yang berpengaruh kepadanya, misal bahan bakunya, lingkungan tempat produksinya hingga orang yang melakukannya. Dengan maksud ingin mengatur secara detail proses produksi obat, maka dibuatlah pedoman CPOB ini yang mengatur 12 aspek yang menyangkut masalah bagaimana memastikan mutu obat, personel yang terlibat, bangunan dan fasilitasnya, peralatan, kebersihan baik individu maupun lingkungan, proses produksi, mengawasi mutu produk, menginspeksi dan mengaudit proses dan aspek yang ikut mempengaruhi, penanganan terhadap keluhan produk dan penarikan kembali produk dari pasaran, pendokumentasian aktivitas, kualifikasi dan validasi proses dan aspek-aspek terkait hingga mengenai kerja sama pembuatan produk antar industri farmasi.

Mengintip lantai produksi
Ya hanya mengintip, ini dapat berarti harfiah bahwa anda mungkin tidak akan dapat pernah menginjakan kaki di lantai produksi industri farmasi dan melihat proses produksi secara langsung sekalipun anda menginginkannya. Well, saya akan membantu anda membayangkan bagaimana masuk ke lantai produksi obat. Hal yang pertama yang perlu anda ketahui bahwa anda harus melepas pakaian serta sepatu anda dan menggantinya dengan pakaian dan sepatu yang khusus digunakan di area ini. Pakaian produksi ini khusus karena dirancang agar tidak melepaskan serat atau partikel sebanyak pakaian yang biasa anda pakai. Bahkan jika kita memasuki area dimana produk steril seperti obat suntik dibuat, dalam proses menuju ke area tersebut kita akan berganti pakaian sebanyak tiga kali ditambah mandi di tempat yang disediakan sebelum akhirnya masuk ke area produksi steril. Kemudian kita akan berjalan di koridor produksi dimana anda akan menemukan lantai halus yang terbuat dari bahan epoksi dan anda tidak akan menemukan sudut dimanapun. Sudut-sudut yang terbentuk, misal pada pertemuan antara lantai dan dinding, tidak berbentuk siku, namun melengkung. Hal yang mungkin tidak bisa dilihat atau dirasakan adalah bahwa ada perbedaan tekanan udara antara ruangan dengan koridor. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kontaminasi antar bahan karena adanya partikel-partikel yang berterbangan.


Uraian di atas hanyalah sebagian dari cara pengendalian proses produksi, dan ingat bahwa bukan hanya proses pembuatan obat saja yang dikendalikan, tetapi juga gudang penyimpanan barang, laboratorium hingga kantin yang disediakan. Anda bisa membayangkan bahwa betapa segala hal yang menyangkut mutu obat yang dihasilkan harus bisa dikendalikan. Tujuan akhirnya agar obat yang anda telan pada awal tulisan ini tadi, benar-benar obat dengan mutu terbaik yang dapat dihasilkan.



Read More..

Senin, 12 Desember 2011

Tahap antara proses ekstraksi: Pemekatan

Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan yang tidak terlalu diperhatikan saat proses ekstraksi simplisia berlangsung. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat tahapan ini di antara dua tahapan utama dalam proses ekstraksi, yaitu proses ekstraksi itu sendiri dan proses pengeringan ekstrak menjadi ekstrak kering.

Meskipun demikian, jenis ekstrak yang diinginkan mempengaruhi metode pemekatan yang dipilih. Ekstrak cair sebagai hasil ekstraksi dari ekstraktor, dikenal sebagai misela (miscella), pada umumnya akan dipekatkan dengan metode evaporasi. Ekstrak cair dimasukan ke alat evaporator dimana ekstrak akan dipekatkan dalam vakum untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental ini selanjutnya akan dikeringkan untuk mendapatkan ekstrak kering. Pada skala industri, pelarut yang berhasil didapatkan kembali akan digunakan lagi untuk ekstraksi batch berikutnya.

Pada proses lanjutan, ekstrak cair yang diperoleh dapat dilakukan:


  1. Pemekatan sebagian atau total, tergantung apakah ekstrak cair tersebut ditujukan untuk ekstrak kering, ekstrak cair, atau kental.
  2. Pemekatan sebagian atau diekstraksi kembali (counterextracted) dengan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan ekstrak yang lebih banyak dan lebih murni.
  3. Diekstrak kembali tanpa pemekatan untuk mengisolasi senyawa tertentu.

Selain poin ketiga, setiap ekstrak perlu dilakukan pemekatan. Pada proses pemekatan perlu diperhatikan stabilitas kimia dari senyawa yang ingin diperoleh. Oleh karena itu, proses pemekatan sering kali dilakukan pada suhu 25° – 30° C atau temperatur tinggi dengan durasi singkat untuk menjaga kestabilan senyawa kimia yang bersifat termolabil.

Pemekatan didefinisikan sebagai peningkatan komposisi senyawa terlarut (solute) dalam pelarutnya melalui metode evaporasi atau vaporisasi (vaporization) tanpa mengubahnya menjadi produk kering, meskipun hasil akhir dari proses pemekatan dapat berupa ekstrak dengan viskositas tinggi. Istilah vaporisasi atau boiling down lebih sering digunakan untuk menggambarkan pemekatan suatu ekstrak dibandingkan dengan evaporasi. Evaporasi didefinisikan sebagai proses perubahan keadaan cair menjadi gas dengan kehadiran gas lain, misalnya udara, pada wadah atau tempat evaporasi. Namun pada istilah vaporisasi, hanya molekul dari pelarut yang hadir dalam wadah atau tempat vaporisasi. Istilah boiling down digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah zat padatnya atau konsentrat dengan kepadatan tinggi, sedangkan istilah vaporisasi digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah pelarutnya.

Parameter yang mempengaruhi proses pemekatan meliputi jumlah larutan yang akan dipekatkan dan kestabilan dari zat terlarut. Jika diperkirakan zat terlarut yang dikehendaki bersifat termostabil maka pemekatan dapat dilakukan pada tekanan biasa atau di bawah vakum. Zat yang bersifat termolabil harus dipekatkan dengan suhu yang diperkirakan tidak akan mendegradasi zat tersebut. Peningkatan tekanan dapat dilakukan agar suhu yang diperlukan untuk menguapkan pelarut dapat diturunkan.


Referensi:
List, P.H. dan P.C. Schmidt. 1989. Phytopharmaceutical technology. London: Heyden & Son Limited.
Bomberdelli, E. 1991. Technologies for the processing of medicinal plants. In R.O.B. Wijesekera (ed). The medicinal plant industry. Florida: C R C Press Inc.
Handa, S.S., et. al. 2008. Extraction technology for medicinal and aromatic plants. Trieste: ICS-UNIDO



Read More..

Rabu, 22 Desember 2010

Amankah Habbatussaudah ?

Habbatussaudah yang dikenal di Indonesia sebagai jinten hitam, menjadi bahan produk-produk herbal yang laku di pasaran. Banyak produsen produk herbal tersebut yang mencatut hadist Rasulullah saw,“Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)” (HR. Muslim), tentunya menjadi nilai tambah untuk menarik konsumen yang beragama Islam.

Ketika kita berbicara mengenai obat atau suplemen (baik berbahan kimia sintesis atau bahan alam) maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: kualitas produk, keamanan, dan efikasinya. Ketiga hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena berhubungan dengan kondisi konsumen yang akan mengonsumsinya. Anda bisa bayangkan jika suatu produk obat/suplemen tidak memperhatikan tiga hal tersebut maka konsumenlah yang akan menjadi korban.

Habbatussaudah atau jinten hitam sebagai obat/suplemen yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit pun ternyata memiliki efek-efek yang tidak diinginkan. Padahal selama ini, perhatian masyarakat adalah pada khasiat dari suatu produk herbal tanpa lebih lanjut memikirkan bagaimana keamanan dari produk tersebut.

Hasil penelitian oleh Zaoui, et.al. (2002) menunjukkan adanya efek toksisitas akut dan kronis yang dihasilkan oleh ekstrak minyak dari Nigella sativa. Pemberian sampel secara oral pada tikus percobaan menunjukkan LD50 sebesar 2,06 ml/berat badan. Pengamatan pada konsentrasi dari enzim hepatik menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti, namun kadar serum glukosa, trigeliserida, dan kolesterol darah turun dengan drastis. Hal ini diikuti dengan timbulnya penurunan berat badan pada hewan coba. Penelitian ini juga meliputi sistem hematologi dari hewan coba. Pada penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan kadar hemoglobin serta penurunan kadar leukosit dan trombosit secara signifikan. Selain itu penelitian secara in vitro juga menunjukkan adanya kematian sel limfosit oleh ekstrak Nigella sativa.

Alhamdulillah, ternyata dapat kita simpulkan ekstrak Nigella sativa hanya memiliki efek toksisitas yang rendah dengan ditunjukkan tingginya angka LD50 dan stabilitas dari enzim hepatik pada hewan coba. Oleh karena itu Nigella sativa memiliki kisaran indeks keamanan yang lebar. Meskipun demikian, penggunaan ekstrak Nigella sativa perlu diperhatikan terutama pada pasien-pasien yang juga mengkonsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sel darah putih dan trombosit.

Pustaka:
Zaoui A, Y. Cherrah, N. Mahassini, K. Alaoui, H. Amarouch, M. Hassar. Acute and Chronic Toxicity of Nigella sativa Fixed Oil. Phytomedicine 2002; 9: 69-74.



Read More..

Senin, 06 Desember 2010

Keamanan dan Kualitas Produk Herbal

Studi mengenai efikasi dan keamanan terhadap produk herbal berkembang dengan pesat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Banyaknya orang-orang yang beralih ke pengobatan alternatif (terutama terapi herbal) dan keterbatasan pengetahuan tentang terapi herbal itu sendiri di kalangan petugas medis, menjadikan aspek keamanan dan standarisasi dari suatu produk herbal sangat dibutuhkan.

Masyarakat dan beberapa pihak profesional di bidang kesehatan percaya bahwa obat-obat herbal lebih aman karena lebih alami, namun data-data penelitian yang mendukung asumsi tersebut tidaklah banyak. Efek samping dari suatu produk herbal tetaplah ada yang meliputi efek toksik dari zat aktifnya, efek-efek dari kontaminan yang mungkin ada pada sediaan obat herbal, serta interaksi antara obat herbal dengan obat lainnya.

Kontaminan-kontaminan yang mungkin saja dapat mengontaminasi suatu produk herbal dapat berupa logam-logam berat, seperti timbal, merkuri, arsen atau bahan-bahan farmasetik yang sengaja ditambahkan pada sediaan herbal agar timbul efek farmakologis yang diinginkan. Selain itu kontaminasi dapat berasal dari mikroorganisme akibat proses pembuatan yang tidak baik.


Tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan juga memiliki kemiripin kinerja dengan obat-obat konvensional. Hal ini karena, pada dasarnya tumbuhan-tumbuhan tersebut mengandung senyawa-senyawa kimia tertentu yang pada tubuh manusia bersifat aktif secara biologis. Oleh karena alasan inilah pemberian kombinasi obat herbal dengan obat konvesional dapat mengakibatkan efek-efek yang tidak diinginkan. Interaksi ini sama seperti interaksi obat pada obat-obat konvensional yang dapat berefek pada farmakokinetika obat, seperti absoprsi, metabolisme, dan eliminasi obat. Selain terhadap obat konvensional, interaksi dapat juga terjadi antara obat herbal dengan enzim-enzim yang memetabolisme obat. Sebagai contoh interaksi dengan enzim-enzim di hati, seperti isoenzim sitokrom (CYP) P450 dapat berefek besar, karena CYP P450 merupakan enzim yang memetabolisme hampir sebagian besar jenis obat yang masuk ke dalam tubuh. Sulitnya pemeriksaan terhadap efek-efek obat herbal yang mungkin timbul dalam tubuh manusia menjadi hal lain yang penting untuk diperhatikan.

Pustaka:
Rodriguez-Fragoso L, J. Reyez-Esparza, S.W. Burchiel, D. Herrera-Ruiz, Eliseo Torres. Risks and Benefits of Commonly Used Herbal Medicines in Mexico. Toxicology and Applied Pharmacology 2008; 227: 125-135.




Read More..

Minggu, 26 September 2010

Uji Kit Test Kehamilan

Kit Test Kehamilan adalah sebuah set alat yang dapat digunakan untuk mengetahui kehamilan secara praktis. Sama seperti alat-alat yang dipakai dalam dunia kesehatan, Kit tes kehamilan pun perlu diuji alatnya untuk menjamin kualitas dari kit tersebut. Berikut beberapa uji yang dilakukan:

Uji Sensitivitas dan Spesifitas
Kit uji kehamilan pada umumnya menggunakan prinsip pengukuran hCG pada urin manusia. Sebelum dilakukan pengujian pada kit uji kehamilan, terlebih dahulu dilakukan kuantifikasi terhadap kadar hCG pada sampel urin manusia. Proses pengukuran ini dapat menggunakan metode immunokromatografi. Pada prinsipnya reaksi imunologi terjadi pada kertas kromatografi melalui aksi kapilaritas. Pada sistem ini menggunakan dua jenis antibody-antigen spesifik. Salah satu antibody ditempatkan pada kertas kromatografi (fase diam) dan lainnya dilabel dengan koloid emas (colloidal gold) dan diinfiltrasi ke tempat sampel (sample pad). Ketika cairan sampel diteteskan pada tempat sampel, maka akan terbentuk kompleks imun dengan antibodi yang dilabeli dengan koloid emas. Kompleks tersebut akan bergerak bersama dengan cairan sampel dan akan berinteraksi dengan antibodi yang ada pada kertas kromatografi dan menghasilkan garis berwarna merah ungu (Anonim, 2007). Selanjutnya kadar urin dianalisis berdasarkan pola kromatogram yang terbentuk.

Pada metode ini menggunakan sukarelawan wanita hamil (sampel positif) dan pria atau anak-anak (sampel negatif). Kadar hCG pada urin sukarelawan kemudian diperiksa menggunakan metode immuno kromatografi ataupun immuno-enzimologi. Selanjutnya seri sampel urin disiapkan untuk diperiksa dengan kit yang akan diuji. Urin yang memperlihatkan hasil negatif diuji sebanyak 14-16 kali, urin yang menunjukkan hasil positif dengan konsentrasi hCG yang diatur sampai pada batas deteksi kit diuji sebanyak 27-30 kali, dan urin yang menunjukkan hasil positif dengan konsentrasi hCG yang diatur hingga dua kali lipat dari batas deteksi kit diuji sebanyak 14-16 kali (Daviaud, 1993)
Pembacaan hasil uji dengan cara:
Spesifisitas = (negatif benar ×100%)/((negatif benar +positif palsu) )
Sensitifitas = (positif benar ×100%)/((positif benar+negatif palsu))
Akurasi = ((positif benar +negatif benar)×100% )/(jumlah sampel)

Uji Stabilitas dipercepat
Stabilitas dari kit tes kehamilan dapat diperiksa melalui uji stabilitas dipercepat. Metode ini dilakukan dengan cara menyimpan kit pada suhu 37°C selama tujuh minggu. Pada setiap minggu, tiap kit dikalibrasi menggunakan kontrol serum hCG WHO, 3rd IS 75/537, yang diencerkan sampai tingkat deteksi yang masih bisa diukur. Uji stabilitas dipercepat dihentikan bila hasil dari dua pengukuran kit yang disimpan pada suhu 37°C berturut-turut memperlihatkan perbedaan dari kit dari batch yang sama yang disimpan pada kondisi yang dipersyaratkan oleh pabrik (Daviaud, 1993).
Pustaka:
Anonim. 2007. Principle of Immunochromatography Kit. URL: http://www.bl-inc.jp/imno_e.html. Diakses pada 26 September 2010.

Daviaud, Jolle, Dominique Fournetm Chantal Ballongue, Guy-Pierre Guillem, Alain Leblanc, Claude Casellas, dan Bernard Pau. 1993. Reability and Feasibility of Pregnancy Home-Use Test: Laboratory Validation and Diagnostic Evaluation by 638 Volunteers. Clin. Chem 39 (1): 53-59.

Read More..

Rabu, 15 September 2010

Sterilisasi Gas: Faktor Pengaruh

Sterilisasi bukanlah hal yang asing di dunia kesehatan, mengingat banyaknya sediaan-sediaan farmasi maupun alat-alat kesehatan yang mensyaratkan dilakukan sterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan demi keamanan dari pasien. Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara dimulai dari sterilisasi panas kering biasa hingga sterilisasi radiasi yang menggunakan inti-inti radioaktif. Pada bahasan kali ini kita akan berbicara mengenai sterilisasi gas.
Sesuai dengan namanya sterilisasi gas menggunakan gas (umumnya etilen oksida) sebagai zat pensteril. sterilisasi gas menawarkan kelebihan dibanding cara sterilisasi lainnya, berupa ekonomisitas. Tekonologi saat ini menjamin pengontrolan proses sterilisasi gas secara penuh oleh komputer (computerized control) dan juga penggunaan 100% gas etilen oksida secara aman.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sterilisasi gas, antara lain: (1) kelembapan relatif udara saat sterilisasi; (2) suhu saat sterilisasi dilakukan; (3) konsentrasi dari gas yang digunakan dan jangka waktu pemaparannya; (4) kemampuan penetrasi dari gas yang digunakan. Berbagai parameter sterilisasi tersebut merupakan variabel kritis sehingga dianjurkan untuk melakukan prakondisi bahan sampai didapatkan kadar kelembapan yang diperlukan dapat mengurangi waktu yang diperlukan agar diperoleh suhu yang diinginkan pada bahan sebelum dimasukan ke dalam bejana sterilisasi.

Kelembapan relatif udara saat sterilisasi
Kelembapan merupakan parameter paling penting yang mempengaruhi efisiensi proses sterilisasi dengan gas. Ketika kelembapan optimal tercapai, maka proses sterilisasi hanya bergantung pada aktivitas molekular dari gas pensteril dan interaksinya dengan populasi mikroba yang diekspos. Kondisi kelembapan relatif optimum untuk suhu 25°C, di mana terdapat kesetimbangan antara bahan dan lingkungan adalah 33%. Namun umumnya diperlukan kelembapan relatif yang lebih tinggi karena proses sterilisai biasanya berlangsung pada suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar.
Kelembapan sangat penting dalam memfasilitasi pembentukan sisi reaktif (reactive sites) yang ada pada mikroba untuk berinteraksi dengan gas pensteril (sebagai contoh proses alkilasi oleh gas etilen oksida). Ketika sel atau spora mengering akan membuat interaksi sisi reaktif dengan gas pensteril menurun akibat terjadi perubahan pada bagian sel yang mengandung protein.
Apabila kelembapan relatif mencapai kesetimbangan dengan suhu kamar, namun suhu bahan yang akan disterilkan meningkat maka akan menyebabkan penurunan kelembapan pada permukaan mikroba. Kondisi ini terjadi ketika bahan yang akan disterilisasi sudah dikemas sehingga terdapat barier difusi kelembapan sehingga kelembapan relatif optimum hanya dicapai oleh lingkungan di luar kemasan. Solusi atas permasalahan ini adalah dengan memperbesar kelembapan relatif sebesar 33% agar dapat memberikan kelembapan yang mampu menembus kemasan sehingga kondisi optimum pada permukaan mikroorganisme dapat dicapai.
Pada praktiknya, kelembapan relatif pada chamber yang digunakan biasanya ditingkatkan hingga 40-50%. Hal ini akan membuat kelembapan diabsorbsi dengan baik oleh bahan dan menghasilkan gradient konsentrasi yang selanjutnya dapat meningkatkan laju difusi melintasi bahan pengemas.
Sebagai contoh pada gas etilen oksida diperlukan kelembapan yang tepat agar gas tersebut dapat berpenetrasi dan membunuh mikroorganisme. Pada kelembapan yang rendah (contoh, kurang dari 20%), laju kematian mikroorganisme menjadi tidak logaritmik dan dengan semakin berkurangnya kelembapan akan semakin meningkatkan resistensi mikroorganisme. Kelembapan pada chamber sterilisasi biasanya dinaikkan hingga 50-60% dan berlangsung sampai permukaan dan membran sel mikroorganisme dapat menyerap kelembapan sebelum pemberian gas etilen oksida. Namun tingkat kelembapan yang terlalu tinggi, yaitu ketika melebihi titik embun, juga dapat mengurangi efektifitas dari gas etilen oksida. Jika titik embun terlewati, maka akan terjadi proses pengembunan uap air di mana akan memperlambat perpindahan gas etilen oksida ke spora. Selain itu, gas etilen oksida dapat bereaksi dengan air sehingga dapat mengurangi jumlah molekul etilen oksida yang tersedia.
Uap air yang dimasukan ke dalam kamar sterilisasi bersama gas tidak akan dapat menghidrasi mikroorganisme secara memadai. Padahal uap air harus diserap oleh bahan-bahan di sekelilingnya dan dapat menembus mikroorganisme. Oleh karena itu pada setiap siklus sterilisasi harus terdapat masa menetapnya uap air sampai kelembapan relatif mencapai 95%.

Suhu saat sterilisasi
Sterilisasi dapat berlangsung pada suhu kamar namun akan membutuhkan waktu pemaparan yang lama. Oleh karena itu, agar waktu sterilisasi berjalan efisien, umumnya dilakukan peningkatan suhu. Setiap kenaikan suhu sebesar 17°C dalam kisaran 5-40°C akan mengurangi waktu sterilisasi menjadi setengah kalinya. Penggunaan suhu yang sangat tinggi untuk sterilisasi gas sudah tidak dilakukan sejak seringnya sterilisasi terhadap bahan yang termolabil. Kisaran suhu 60°C dianggap sebagai batas tertinggi untuk sterilisasi gas.

Konsentrasi gas pensteril dan lama sterilisasi
Efektifitas dari sterilisasi bergantung pada interaksi antara molekul gas pensteril dengan mikroba yang diekspos. Oleh karena itu, semakin banyak molekul gas semakin cepat laju kematian dari mikroba. Meskipun demikian, besarnya konsentrasi dari gas pensteril juga perlu diseimbangkan dengan biaya yang dibutuhkan.
Selain itu laju sterilisasi bergantung pada tekanan parsial gas yang ditentukan oleh jumlah gas pada chamber. Jika konsentrasi gas diduakalikan maka waktu pemaparan yang dibutuhkan menjadi setengah kalinya. Sebagai contoh, konsentrasi gas etilen yang biasa direkomendasikan di pabrik-pabrik, yaitu 850-900 mg/L selama 3 jam atau 450 mg/L selama 5 jam pada suhu 54°C. Untuk mencapai tingkat keefektifan maksimum, digunakan konsentrasi gas etilen oksida sebesar 500 mg/L. Bila konsentrasi gas etilen oksida bukanlah faktor yang paling menentukan maka laju peng-inaktifan spora akan meningkat dua kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10°C.
Waktu yang diperlukan pada proses sterilisasi gas cukup lama. Waktu sterilisasi berhubungan dengan tingkat kontaminasi, kelembapan, suhu, dan konsentrasi gas. Sebagai contoh, diperlukan konsentrasi etilen oksida sebesar 450 mg/L dan di bawah kondisi tekanan 27 Psi, suhu 55°C, dan kelembapan relati 50% untuk dapat melakukan proses sterilisasi dengan baik dalam jangka waktu 2-3 jam. Pada umumnya, waktu pemaparan berlangsung selama 6 jam dengan menggunakan etilen oksida untuk memberikan batas aman dan waktu yang cukup bagi gas untuk berpenetrasi ke bahan.

Kemampuan penetrasi gas pensteril
Penetrasi gas melewati barier kemasan menentukan banyaknya gas yang sampai pada mikroorganisme. Sangat penting untuk memastikan bahwa benda-benda yang akan disterilisasi gas telah bersih. Adanya partikel organik akan mengurangi efisiensi proses sterilisasi tetapi tidak mencegah proses tersebut. Oklusi mikroorganisme dalam bentuk kristal juga akan mencegah difusi kelembapan secara komplit. Penetrasi gas akan lebih efektif bila gas tersebut secara luas dapat diabsorbsi oleh berbagai bahan

Demikian sedikit-banyak mengenai sterilisasi gas, semoga bermanfaat.

Pustaka:
Gillis, John R. dan Greg Mosley. Validation of Ethylene Oxide Sterilization Processes. Dalam Agalloco, James dan Frederick J. Carleton (ed.). Validation of Pharmaceutical Processes 3rd edition. New York: Informa Healthcare USA

Read More..

Selasa, 14 September 2010

Kontrol Kualitas Produk Steril

Suatu produk yang dimaksudkan untuk digunakan secara steril tentunya harus mengalami proses sterilisasi terbih dahulu. Ketika produk tersebut telah selesai melewati proses sterilisasi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan kontrol terhadap produk steril tersebut. Pada industri bagian ini dikerjakan oleh tim QC (Quality Control). Paling tidak berikut gambaran kontrol kualitas dari produk steril:

Tingkat Keyakinan Sterilitas (Sterility Assurance Levels)
Tingkat Sterility Assurance Levels (SAL) didefinisikan sebagai kemungkinan keberadaan mikroorganime yang masih dapat hidup pada suatu produk setelah mengalami proses sterilisasi. SAL biasa diekspresikan dengan 10-n. Pemilihan SAL yang tepat dipengaruhi oleh tujuan dari penggunaan produk yang akan disterilisasi dan kestabilan produk tersebut terhadap proses sterilisasi. Perhitungan D10 digunakan untuk menghitung dosis yang harus digunakan untuk mencapai SAL yang diinginkan. Suatu produk yang disterilisasi dapat dikatakan steril, jika secara teoritis kemungkinan mikroorganisme untuk dapat bertahan hidup adalah 10-3 atau 10-6, tergantung dari tujuan penggunaan produk tersebut. Namun nilai SAL dapat ditoleransi menjadi kurang dari 10-6 jika produk tersebut, (1) tidak dapat menerima proses sterilisasi yang dapat mencapai nilai SAL 10-6 tanpa berefek buruk pada keamanan dan fungsi produk tersebut; (2) memberikan keuntungan untuk diagnosis, perawatan, dan penyembuhan pasien; (3) sangat unik sehingga tidak ada produk alternatif lain yang dapat menerima proses sterilisasi yang dapat mencapai nilai SAL 10-6.
Produk yang seharusnya memiliki nilai SAL 10-6 adalah sebagai berikut:
1.Produk yang ditujukan untuk berkontak dengan jaringan tubuh, seperti:
a.Perban luka
b.Kateter jantung
c.Sarung tangan operasi
d.Alat suntik
e.Jarum hipodermik
f.Larutan parenteral
g.dan lain sebagainya
2.Produk yang merupakan saluran cairan steril, seperti:
a.Saluran cairan dari set IV
b.Saluran cairan dari alat suntik
c.Wadah penyimpan produk steril
d.dan lain sebagainya
3.Alat implan operasi, seperti:
a.Sediaan implan
b.Lensa intraokular
c.Benang jahit operasi
d.dan lain sebagainya
Nilai SAL sebesar 10-3 ditetapkan untuk produk yang tidak dimaksudkan berkontak dengan jaringan tubuh, seperti:
1.Koleksi spesimen atau peralatan transfer, seperti:
a.Tabung koleksi sel darah untuk keperluan tes diagnostik in vitro
b.Peralatan media kultur
c.Pipet yang digunakan untuk keperluan serologi
d.Wadah spesimen
2.Peralatan topikal, seperti:
a.Elektrode ECG
b.Pakaian operasi
c.dan lain sebagainya
3.Peralatan yang berkontak dengan mukosa, seperti:
a.Alat penekan lidah
b.Sarung tangan
c.Kateter urin
4.Produk yang tidak tahan pada proses sterilisasi untuk mencapai nilai SAL 10-6, seperti:
a.Katup jantung buatan
b.dan lain sebagainya

Evaluasi Bioburden Produk
Bioburden adalah populasi dari mikroorganisme yang dapat hidup pada bahan baku hingga pada komponen suatu produk akhir. Faktor yang dapat mempengaruhi bioburden adalah:
1.Bahan baku; sintetik lebih rendah dari organik
2.Komponen produksi; pembuatan dengan mesin lebih rendah dari buatan tangan
3.Tingkat kontrol lingkungan produksi
4.Peralatan pembantu perakitan produk; seperti udara terkompresi, air, lubrikan
5.Pembersihan pendahuluan sebelum pengemasan
6.Pengemasan dari produk akhir; otomatis dengan mesin lebih rendah daripada manual
Pengujian bioburden produk membutuhkan data jumlah dan identitas dari mikroorganisme. Identifikasi mikroorganisme tersebut tidak perlu terlalu dalam, namun data tentang jenis bakteri gram apa dengan genusnya memberikan informasi yang berguna dan dapat digunakan untuk pengawasan perubahan mikroorganisme dan sebagai perbandingan data mikroorganisme yang muncul kembali selama monitoring lingkungan. Evaluasi bioburden dilakukan dengan cara memilih 10 kemasan secara acak dari satu lot produk yang baru diproduksi. Jumlah sampel dapat diturunkan menjadi 5 kemasan jika harga produk sangat mahal. Produk percobaan dapat digunakan dengan syarat terbuat dari bahan dan proses pembuatan yang sama. Produk yang ditolak selama proses pembuatan dapat pula digunakan selama produk tersebut diperlakukan pada semua langkah produksi. Produk yang sudah kadaluarsa atau sudah lama tidak dapat digunakan karena tidak dapat mewakili keadaan produk yang baru diproduksi.
Metode yang digunakan untuk pengujian bioburden harus divalidasi agar diketahui hubungan antara jumlah estimasi dengan jumlah mikroorganisme yang ada sebenarnya. Metode apapun yang digunakan haruslah reproduksibel sehingga dapat dibandingkan dengan data yang dibuat kemudian. Semua perlakuan harus menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi kemampuan bertahan hidup dari mikroorganisme, seperti kenaikan temperature, pengocokan, ataupun kejutan osmotik (osmotic shock). Estimasi bioburden terdiri dari tiga fase:
1.Pemindahan mikroorganisme dari produk dengan teknik ekstraksi, seperti ultrasonifikasi, agitasi mekanis, pencampuran vortex, pembilasan, contact plating, dan lain-lain. Surfaktan dapat digunakan untuk memfasilitasi pemindahan mikroorganisme.
2.Pemindahan mikroorganisme ke media kultur dengan cepat; metode yang digunakan di antaranya adalah filtrasi membrane, pour plating, spread plates, dan lain sebagainya. Kondisi inkubasi yang tepat harus diperhatikan, seperti pada bakteri aerob pada 30-35°C selama dua hari, ragi dan kapang pada 20-25°C selama 5-7 hari, dan bakteri anaerob pada 30-35°C selama 3-5 hari.
3.Perhitungan koloni.

Uji Sterilitas Produk
Ada dua pendekatan yang dapat digunakana untuk melaksanakan uji sterilitas produk, yaitu:
1.Pencelupan langsung produk pada medium kultur atau medium kultur ke produk, selanjutnya diinkubasi selama 14 hari. Pada proses ini perlu diperhatikan:
Produk mungkin harus dibongkat sebelum terpapar ke media transfer atau secara aseptis dibagi terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke wadah medium.
b. Media kultur harrus dapat menjamin kontak dengan keseluruhan bagian produk
c. Pengocokan atau agitasi setelah perpindahan di media kultur
d. Mempertahankan kontak antara medium dengan produk selama masa inkubasi
2.Pemindahan mikroorganisme dari produk dengan cara elusi dan filtrasi atau memisahkan mikroorganisme yang akan dipindahkan ke kondisi pertumbuhan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Penggunaan teknik elusi mirip dengan yang digunakan pada proses estimasi bioburden
b. Penambahan surfaktan mungkin diperlukan untuk memperbaiki pemindahan mikroorganisme dengan melembabkan permukaan produk
c. Filter membrane yang digunakan berkisar pada 0,45 mikron
d. Pemindahan filtrat ke media kultur dilakukan secara aseptis
Umumnya hanya digunakan satu media kultur yang optimal untuk pengkulturan mikroorganisme aerobik dan fakultatif. Medium soybean-casein digest (tripic soy broth) merupakan media yang paling umum digunakan dan sampel uji diinkubasi pada 28-32°C selama 14 hari. Sampel harus diperiksa tiap hari dan dicatat hasil perkembangannya
Medium pertumbuhan harus diuji terlebih dahulu kualitasnya dalam menumbuhkan bakteri sebelum digunakan pada uji sterilisasi, dan efek produk terhadap kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh harus dievaluasi dengan uji bakteriostasis/fungistasis. Hasil uji akan dibandingkan dengan pertumbuhan mikroorganisme uji pada wadah dengan atau tanpa produk.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi disain metode uji steriilitas adalah sebagai berikut:
1)Bagian produk yang akan dibuat klaim sterilitasnya
2)Sifat fisiko-kimia dari produk
3)Kemungkinan tipe organisme yang akan mengontaminasi dan lokasinya pada atau di dalam produk.
Metode yang digunakan untuk uji sterilitas selama validasi akan mempengaruhi hasil uji coba.

Pustaka
Booth, Anne F. 2001. Sterilization Validation and Routine Operation Handbook: Radiation. Lancaster: Technomic Publishing Company, Inc.
Read More..

Selasa, 24 Agustus 2010

Mikroorganisme Endofit: Sumber Potensial Obat Alami


Masalah kesehatan merupakan masalah penting bagi umat manusia. Tidak dapat dipungkiri, berbagai penyakit yang mendunia (seperti AIDS, Flu Burung, Diabetes, penyakit jantung) menjadi tantangan utama bagi para praktisi kesehatan maupun peneliti untuk dapat menemukan agen terapi maupun cara terapi yang lebih baik. Saat ini obat-obat sintetik mulai kehilangan pamornya sebagai akibat efek samping yang ditimbulkannya serta efekasi dari obat tersebut yang menurun dari masa ke masa.

Masyarakat dunia pun mulai melirik pengobatan alami (herbal) sebagai alternatif. Sebagian besar masyarakat dunia percaya bahwa obat herbal lebih aman dibandingkan dengan obat sintetik. Hal ini bermula dari anggapan bahwa semua yang zat yang berasal dari alam lebih ramah bagi tubuh. Pernyataan ini tentunya tidak sepenuhnya benar, karena pada dasarnya tubuh tidak membedakan asal zat yang masuk ke dalamnya, apakah dari alam atau sintetik. Selama zat-zat yang masuk ke dalam tubuh mudah untuk diekskresikan dan tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada sistem tubuh maka zat tersebut boleh dikatakan aman. Obat herbal pun jika diberikan pada dosis yang tidak benar, tetap akan berefek tidak baik bagi tubuh. Sehingga pandangan bahwa obat herbal sudah pasti aman perlu diluruskan terutama obat-obat herbal yang sudah dalam bentuk ekstrak.

Kekurangan terbesar dari obat herbal adalah masalah penyediaan bahan baku dan standardisasinya. Obat herbal menjadi lambat berkembang boleh jadi disebabkan sulit dipenuhinya bahan baku yang terstandar bagi industri. Tentunya akan bermasalah bila bahan baku yang digunakan umtuk memproduksi obat tidak memiliki standar yang sama karena akan menjadi tidak sama pula efeknya. Selain itu diperlukan penyediaan lahan yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut. Jika kita melihat di Indonesia maka ketersediaan lahan tentunya hanya bisa didapat di daerah-daerah saja. Kemudian akan timbul masalah baru jika para petani tidak ingin mengkonversi lahannya menjadi lahan tanaman obat. Secara ekonomis akan lebih menguntungkan jika menanam tanaman yang lebih dibutuhkan banyak orang, seperti tananaman-tanaman pangan. Selain itu penjagaan mutu tanamannya pun memerlukan usaha tersendiri.
Zat kimia bahan alam memiliki potensi yang besar sebagai sumber obat-obat baru. Saat ini hampir 49% zat kimia berkhasiat yang baru diregistrasikan ke FDA merupakan produk alam ataupun derivatnya. Sebuah fakta lagi bahwa obat antikanker super-mahal, paclitaxel (Taxol), merupakan turunan dari produk berbahan dasar alam. Melihat potensi besar ini maka kebutuhan akan sumber selain tanaman merupakan hal yang penting. Untungnya ditemukanlah sumber baru yaitu mikroorganisme endofit.


Mikroorganisme endofit dapat didefinisikan sebagai mikroorganisme yang hidup secara berkoloni pada jaringan internal tumbuhan tanpa menyebabkan efek negative bagi tumbuhan tersebut. Sebagian besar mikroorganisme endofit memang hidup bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan inangnya. Mikroorganisme endofit dapat berupa bakteri ataupun jamur dan dinilai menjadi sumber penting bagi zat berkhasiat. Banyak penelitian mengemukakan bahwa mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat metabolit sekunder yang sama dengan tumbuhan inangnya. Banyak peneliti percaya bahwa alasan mengapa mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat yang sama dengan tumbuhan inangnya adalah karena rekombinasi genetik yang terjadi antara mikroorganisme endofit dengan tumbuhan inangnya dalam waktu yang lama.

Keuntungan besar dari fakta tersebut tentunya berefek pada masalah ekonomi. Masalah penyediaan lahan, lamanya waktu menanam, standardisasi bahan baku dapat teratasi. Sebagaimana mikroorganisme lainnya, mikroorganisme endofit tidak memerlukan lahan yang luas untuk dapat menghasilkan zat kimia yang sama dengan tumbuhan inangnya, selain itu waktu panennya pun lebih cepat. Pertumbuhan mikroorganisme endofit yang dikontrol di dalam laboratorium memudahkan standardisasinya. Efek selanjutnya adalah pada turunnya harga produk yang dihasilkan nantinya. Namun tentunya tidak semua mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat metabolit sekunder yang sama dengan inangnya. Oleh karena itu proses penelitian lebih lanjut pun tetap diperlukan.

Mikroorganisme endofit memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai sumber zat kimia bahan alam yang memiliki khasiat farmakologis maupun mengobati penyakit-penyakit infeksius. Meskipun jalan menuju pemanfaatannya secara optimal masih panjang namun secercah cahaya harapan tersebut masih ada.

Pustaka:
Strobel, Gary dan Bryn Daisy. 2003. Bioprospecting for Microbial Endophytes and Their Natural Products. Microbiol. Mol. Biol. Rev 67(4): 491-502.

Read More..

Rabu, 07 Juli 2010

Journey to the Future: Machine Oriented

Man becomes man only by his intelligence, but he is man only by his heart.[Henri Frederic Amiel]

25 Juni 2010

Pagi ini tetap menyambut kami hangat walau lelah masih terasa di sekujur tubuh. Berkumpul kembali di balsid BNI, kami berangkat menuju kunjungan terakhir minggu pertama. Ditemani oleh prof. Effi, kami meluncur menuju Sukabumi, pabrik minuman ion dan cemilan low GI itu.
Disambut oleh bangunan megah dan orang yang hangat kami memasuki pabrik PT. Amerta Indah Otsuka. Pabrik inilah yang memproduksi pocarisweat dan soyjoy. Kami dipandu menuju aula pertemuan untuk mendengarkan presentasi dari pihak otsuka mengenai pabrik ini. Setelah itu kami disuguhi oleh minuman pocarisweat dan cemilan low GI, soyjoy dan kemudian berlanjut dengan keliling pabrik. Jika anda beranggapan bahwa pabrik Sanbe Steril Plant sudah cukup wah dengan banyaknya tenaga mesin maka di pabrik ini hampir 90% pabrik dijalani oleh mesin. Mulai dari proses pembuatan hingga pengepakan sebagian besar dilakukan oleh mesin.
Tidak lupa foto bersama mengakhiri kunjungan kali ini. Berakhirnya kunjungan ini merupakan akhir dari minggu pertama studek. Tetapi, tunggu dulu, jangan turunkan gairah anda, karena perjalanan selanjutnya akan lebih panjang, berliku, dengan duri di sana-sini.

Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [Qs.95:4]

Read More..

Journey to the Future: Menjajah Bandung

Freedom makes a huge requirement of every human being. With freedom comes responsibility. For the person who is unwilling to grow up, the person who does not want to carry is own weight, this is a frightening prospect. [Eleanor Roosevelt]

24 Juni 2010

Bandung, here we come! Hari ini dimulai lebih awal, pukul 05.30 kami sudah harus berkumpul di balsid BNI. Dengan ditemani oleh Bu Nelly, kami berangkat ke Bandung disertai gerimis mengayun. Perjalanan luar Jakarta pertama kami dan semua orang sudah siap. Alhamdulillah tidak ada gangguan yang berarti selama perjalanan ke dan dari Bandung.

Sanbe Sterile Preparation Plant: Ruangan Tanpa Sudut

Hari ini berkunjung ke perusahaan farmasi terkenal Sanbe Farma, lebih tepatnya ke bagian pabrik yang memproduksi sediaan-sediaan steril, seperti infus, preparat vial dan ampul, dsb yang berlokasi di Padalarang Bandung. Kami disambut dengan hangat dan snack yang enak. Salah satu hal yang menarik adalah kami harus mengganti sepatu yang kami kenakan dengan sepatu yang disediakan oleh pihak pabrik.
Di sini kami mendapat penjelasan tentang Sanbe Steril Plant, terutama sistem air nya yang merupakan jantung dari pabrik ini. Salah satu produk unggulan pabrik ini adalah infus kemasan softbag pertama di Indonesia yang mengalami sterilisasi pada suhu 121°C dan sesuai dengan prosedur CPOB standar Indonesia dan internasional. Selanjutnya kami beranjak mengelilingi tempat ini dan melihat sedikit banyak proses produksi dari infus tersebut. Kegiatan di pabrik ini sudah lebih banyak menggunakan tenaga mesin dan semuanya terintegrasi dalam suatu sistem. Hal yang menarik adalah hampir sebagian besar pabrik ini tidak memiliki sudut, yang merupakan standar dari ruangan steril. Hal ini dikarenakan sudut pada ruangan dapat memperbesar kemungkinan kontaminasi oleh mikroba.
Kunjungan tempat ini pun berakhir, sepatu-sepatu sudah dikembalikan, foto-foto sudah diabadikan, dan saatnya berangkat menuju tempat berikutnya.

Kebun Percobaan Manoko: Hiking untuk melihat tanaman obat

Wow, sebuah tempat dengan jalur menantang untuk dilalui. Naik-turun bukit kami lalui, walaupun dengan keringat di dahi, senut di kaki, dan lelah yang menghampiri, senyum kami tetap tersungging untuk foto yang dijepretkan. Untunglah Bu Nelly diantar dengan motor oleh pihak perkebunan Manoko.
Perkebunan ini terletak di dataran Lembang dengan luas hingga 20,7 Ha dan sebagian besar tertanami tanaman obat dan aromatik. Tempat ini memiliki pemandangan alam yang cukup indah dan sangat tepat untuk foto-foto. Di sini kami berkeliling sambil diberi penjelasan mengenai tanaman yang ada serta khasiatnya.
Setelah kunjungan selesai, kami tetap harus melalui jalur naik-turun itu untuk kembali ke bus. Akhirnya kami sampai di kampus pada maghrib dan diteruskan dengan istirahat di tempat masing-masing untuk mengistirahatkan kaki-kaki yang berteriak dalam bisu.


Read More..

Journey to the Future: Jakarta Ibukota Tercinta

Every great advance in science has issued from a new audacity of imagination. [John Dewey]

23 Juni 2010

Hari ini adalah hari Jakarta karena hari inilah kunjungan terakhir kami di Jakarta. Sama seperti sebelumnya, kami berkumpul pukul 06.30 plus, plus. Plus registrasi, siap-siap, dan tak ketinggalan snack selama perjalanan. Hari ini sang PO tersayang tidak bisa hadir dikarenakan diare yang harus dideritanya, tapi tak mengapa jalur koordinasi sudah diserahkan ke pihak acara sehingga kegiatan tetap berjalan lancar. Meskipun diawali dengan kedatangan bus yang terlambat akibat miskomunikasi antara supir bus dan pihak manajemen bus, kami toh tetap berangkat dengan gairah yang sama.

Museum BI: uang, sejarah, dan negara

Museum BI mungkin salah satu museum di Indonesia yang menawarkan konsep museum yang berbeda. Perpaduan antara gaya bangunan khas belanda nan klasik, canggihnya teknologi digital, dan sejarah moneter Indonesia yang dikemas dengan kompak menjadi daya tarik lebih bagi museum BI. Dengan dipandu oleh seorang tour guide, kami mengelilingi museum BI dengan sajian pertama adalah game menangkap uang digital yang menggunakan sensor cahaya sebagai respon terhadap gerakan tangan manusia. Selanjutnya adalah menonton film singkat tentang sejarah museum BI yang disaji cukup menarik. Tak lupa setelah itu ada bagi-bagi hadiah untuk mereka yang berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan tour guide. Perjalanan berlanjut dengan melihat koleksi museum BI, mulai dari sejarah moneter Indonesia yang dipadukan oleh teknologi touch screen, bentuk uang yang ada di Indonesia dari masa ke masa, dan emas batangan berwarna kuning kusam, serta tak lupa foto-foto di segala sudut ruangan. Secara garis besar museum ini cukup mengagumkan dan kunjungan ini diakhiri dengan foto-toto bersama.

SCI: Like a magic, advanced science was appeared

Kami selanjutnya meluncur Stem Cell and Cancer Institute (SCI) yang terletak di Pulo Mas, Jakarta Timur. Di sini pun dosen pembimbing sudah hadir lebih dahulu, yaitu Pak Iskandar. Kemudian sebagai lembaga penelitian yang bergerak di bidang stem cell dan kanker, SCI memiliki SDM yang mumpuni dan perlengkapan yang cukup advance d Indonesia, di antaranya RT/PCR, Western Blot, Cell Culture dan ELISA serta Immunofluorescence dan Flow Cytometry. SCI memiliki dua divisi yaitu divisi stem cell dan divisi antikanker. Masing-masing divisi tersebut memiliki spesifikasi yang bergerak dibidang:
Divisi stem cell: Mouse embryonic stem cell, Adult Stem cell dari pembuluh darah tepi untuk pengobatan luka bakar, stroke, dsb, serta stem cell yang berasal dari darah plasenta manusia.
Divisi Antikanker: program pencegahan kanker, terapi dan diagnosis molekular melalui biomarker, serta vaksin kanker.
Saat tiba di tempat ini, kami dibagi menjadi grup, salah satu grup mengikuti presentasi dan lainnya tur keliling SCI. Banyak hal yang diperlihatkan di sini dengan penjelasan yang cukup detail, meskipun tidak semua penjelasan kami mengerti.
Kunjungan pun di akhiri dengan foto bersama dan decak kagum akan sains dan teknologi yang sudah cukup maju di lembaga ini. Sungguh tempat yang inspiratif!

Science is an imaginative adventure of the mind seeking truth in a world of mystery. [Sir Cyril Herman Hinshelwood]



Read More..

Journey to the Future: Kunjungan Pertama, Sebuah Langkah Awal

Berdoalah di tiap awal pekerjaanmu, karena hal itulah yang memberikan nilai lebih dalam setiap hasilmu.

21 Juni 2010

Hari pertama dimulai pukul 06.30, kami berkumpul di balai sidang BNI. Banyak yang tepat waktu, namun tidak sedikit yang tetap telat. Kunjungan hari pertama dimulai ke BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dan selanjutnya berkunjung ke Ristra Indolab. Studek sudah dimulai, semangat kami meninggi, inilah saatnya, perjalanan menuju masa depan pun dimulai.

BPOM, lembaga pemerintah

BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) merupakan lembaga pemerintah non-kementrian. Kunjungan pertama kami adalah ke lembaga ini yang berlokasi di Jl. Percetakan Negara, Jakarta dengan menaiki dua bus. Jumlah kami sekitar 66 dengan ditemani oleh Prof. Atiek yang ternyata sudah sampai lebih dahulu sebelum kami. Pada rundown acara, dijadwalkan kunjungan dimulai pukul 10.00, namun kami hadir setengah jam sebelumnya (such a punctual people!!, hehe..)
Kami disambut dengan hangat oleh Drs. Arustiyono, Apt., Kepala Biro Umum BPOM, yang kemudian menjelaskan betapa BPOM memiliki tugas penting, yaitu memberi perlindungan pada konsumen bahkan hingga ke pelosok daerah dan diakhiri dengan pengingatan akan pentingnya softskill selain hardskill bagi para pegawai BPOM.
Sesi selanjutnya diberikan pemaparan tentang BPOM oleh Dra. Neviyenti, Apt. yang berisikan mengenai l atar belakang pendirian Badan POM, kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, grand strategy, struktur organisasi, visi dan misi, produk yang diawasi oleh Badan POM, serta mekanisme pengawasannya. Selain itu, sesi ini juga dihadiri oleh Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Obat Dra. Tri Asti Isnariani,Apt.M.Pharm dan Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Keracunan, Dra.Murti Hadiyani. Sesi ini diakhiri dengan diskusi, penyerahan kenang-kenangan, dan foto bareng.

Ristra IndoLab, Hidup Mahasiswi!!..

Beranjak dari Jl. Percetakan Negara, kami meluncur ke citeureup, Bogor lokasi target kami selanjutnya, Ristra IndoLab. Wajah para mahasiswi Farmasi terlihat lebih cerah (atau setidaknya begitu menurut penulis). Tak ayal, Ristra merupakan produsen kosmetik yang terkenal di kalangan menengah ke atas, dan apalagi setelah berhembus berita akan dibagikan produk Ristra kepada para peserta yang hadir.
Disambut dengan hangat oleh pihak Ristra, cukup menghibur kami yang agak kepanasan karena AC dalam ruangan tidak sepenuhnya bekerja. Selanjutnya presentasi oleh dokter dari Ristra mengenai kulit dan problemnya serta cara kita menanggulanginya. Kunjungan dilanjutkan dengan keliling pabrik Ristra. Setidaknya ada tiga bagian yang kami kunjungi, yaitu bagian produksi, quality control dan R (Research) and D (Development). Meskipun pada bagian produksi, pekerjaan yang dilakukan masih menggunakan banyak tenaga manusia, Ristra IndoLab dapat menerima pesanan produk untuk diproduksi dari perusahaan kosmetik lainnya. Pada bagian produksi sendiri terlihat adanya ruang preparasi bahan (penyiapan bahan, penimbangan, dll), kemudian bagian yang memproduksi lipstick, bedak, sabun, gel, dan lain sebagainya. Tak lupa ketika memasuki bagian produksi ini kami diharuskan memakai baju khusus untuk mengurangi adanya kontaminasi.
Pada bagian quality control dan R and D, kami berdiskusi langsung dengan pekerja di sana. Banyak hal menarik dan baru bagi kami, kurang lebih memberikan gambaran mengenai pekerjaan di bagian ini. Hal menarik lainnya adalah kami menemui alumni farmasi UI angkatan 2002 (kalo tidak salah) yang bernama ka Inggid (kalo tidak salah lagi, maaf ya ka..) di bagian R and D.
Kunjungan diakhiri dengan pemberian dua buah produk Ristra, yaitu Trustee, penyerahan kenang-kenangan dan foto bareng.
Inilah hari pertama kunjungan kami. Rasa lelah pun terbayar dengan kunjungan yang ada. Sungguh semoga pengalaman yang didapat dapat berguna di masa depan.

Even every long journey must begin with a single step.[unknown]


Read More..

Journey to The Future: Opening Theme

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.[ Eleanor Roosevelt]



Sebuah catatan perjalanan, inilah isi tulisan ini dan tulisan lanjutan yang akan diterbitkan dengan tagline yang sama. Catatan mengenai perjalanan untuk mencari sedikit pengalaman untuk sebuah harapan yang besar. Catatan perjalanan dari keluarga besar Farmasi UI 2007, little experience for great expectation.
Studi Ekskursi (studek) merupakan acara angkatan yang biasa diadakan oleh mahasiswa farmasi UI. Ekskursi berarti di luar kursi, maksudnya adalah sebuah studi di luar kelas untuk melihat langsung gambaran ruang kerja bagi mahasiswa farmasi di masa depan nantinya, setidaknya itulah tujuan utamanya. Mungkin tidak banyak yang tahu, dahulu acara ini merupakan proker dari himpunan mahasiswa farmasi UI, yang kemudian diubah menjadi acara kultural angkatan yang diadakan saat menjelang tahun ke-4 studi di Farmasi UI. Selanjutnya dengan berbagai pertimbangan dan dorongan, pada tahun 2009, kegiatan ini dilegal-formalkan dengan dimasukan sebagai proker khusus HMD farmasi UI.
Studek ini sudah mulai dirancang pada tahun ke-2 studi di Farmasi oleh Farmasi UI angkatan 2007. Pemilihan PO (Project Officer) pun dilaksanakan, kepanitiaan segera dibentuk, dan angkatan mulai disolidkan untuk berkontribusi secara aktif di kegiatan ini. Saat itu dibuat keputusan untuk menghentikan kas angkatan dan mengalihkannya ke tabungan studek. Minggu per minggu uang dikumpulkan, ada yang bayar lunas langsung, ada juga yang menunggak hingga beberapa minggu. Pencarian dana lebih digiatkan ketika memasuki tahun ke-3. Konsep awal dibentuk, Kita pergi ke singapura!! Tetapi tidak kawan, budget terlalu tinggi dan tidak banyak yang bisa dikunjungi, jangan-jangan malah lebih banyak belanjanya. Target diturunkan namun tetap harus lebih baik dari tahun lalu, Kita akan menginjak pasir Bali! Kesepakatan telah dibuat dan terpenting adalah pelaksanaannya. Karena cita tanpa usaha hanyalah angan kosong. Dan tentunya tidak dapat dihindari, kesibukan kuliah harus disisihkan sedikit untuk kepentingan studek. Namun tidak mengapa, inilah pembelajaran menuju kedewasaan. Manajerial waktu merupakan skill yang tak dipelajari saat duduk di bangku kelas.
Waktu terus bergulir, hari semakin dekat, dan kami terus bergerak. Ego pribadi janganlah diikutkan, semua untuk kepentingan bersama. Barisan dirapatkan, pergerakkan terus diakselerasi; memenuhi target budget, fiksasi tempat kunjungan, perancangan konsep acara itulah tema utamanya. Technical Meeting tidak lupa diadakan, tanggal 18 Juni semua hal yang perlu disiapkan disosialisasikan. Tempat kunjungan dan bus sudah dikonfirmasi, kami siap berangkat.
Hari-hari tinggal dihitung jari-jemari. Meskipun dengan keterbatasan di sana-sini kami tetap berani melangkah. Bukankah di setiap perjalanan panjang selalu diawali dengan sebuah langkah? Mereka yang melangkah dengan rasa takut sebenarnya tidak pernah beranjak kemana-mana. Pagi pun tiba, dan mentari tetap tersenyum hangat kepada kami, meskipun awan kegelisahan tetap menggantung, kami melangkah dengan tekad di hati. Semoga hati-hati kami disatukan, langkah-langkah kami dikuatkan, keberkahan dan kebermanfaatan teriring disetiap sudut-sudut studi ini.
Mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini, mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.[Hasan Al-Banna]



Read More..