Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Vaksin 101: Komposisi dan Hal-Hal di Sekitarnya

sumber gambar: quickmeme.com
Vaksin, seperti produk obat lainnya, dibuat dengan memenuhi tiga poin kritis: aman, berkualitas, dan berkhasiat. Penelitian pengembangan vaksin memerlukan usaha yang besar dan pada pembuatan produknya untuk skala massal berada dalam pengaturan yang ketat sehingga diupayakan untuk selalu menjaga keamanan, kualitas, dan khasiat dari tiap produk yang sampai ke tangan masyarakat. Berikut saya sarikan untuk pembaca sekalian, beberapa hal terkait bahan-bahan pada vaksin, terutama mengenai masalah keamanannya. Sebagian besar sumber tulisan ini berasal dari Vaccine Education Center, The Children’s Hospital of Philadelphia(1). Tetapi sebelumnya, kita sama-sama perlu tahu beberapa definisi berikut: (1) Adjuvant adalah bahan yang membantu tubuh menimbulkan respon imun yang lebih baik; (2) Preservative atau pengawet merupakan bahan yang mencegah kontaminasi mikroorganisme pada produk vaksin; (3) Additive atau bahan tambahan yang membantu produk vaksin tetap berkualitas selama penyimpanan(2).

Alumunium

Alumunium (lebih tepatnya dalam konteks ini, garam alumunium) sudah digunakan sejak lama dalam proses pembuatan vaksin. Sebagian orang mungkin mempertanyakan mengenai keamanan penggunaan alumunium sebagai adjuvant. Meskipun demikian, hal yang perlu diketahui pertama adalah alumunium merupakan senyawa yang secara normal ada di lingkungan sekitar kita, begitu pula pada air dan makanan yang masuk ke perut, mengandung alumunium walau dalam jumlah yang sangat sedikit sekali. Jumlah garam alumunium dalam sebuah vaksin sangatlah kecil. Sebagai gambarannya, pada enam bulan pertama, seorang bayi yang mendapatkan vaksin lengkap akan menerima sekitar 4 miligram alumunium yang terkandung dalam vaksin. Akan tetapi, pada durasi yang sama, seorang bayi dapat menerima 10 miligram alumunium dari ASI, 40 miligram jika mereka diberi susu formula secara regular, dan hingga 120 miligram bila mereka diberikan susu formula yang berbahan kedelai. Alumunium akan berbahaya hanya bila ketika fungsi ginjal tidak berfungsi dan bila alumunium dalam jumlah besar diberikan, seperti saat kita meminum antasida untuk obat mag.

Selain alumunium, lipid monofosforil A yang diisolasi dari bakteri juga dapat digunakan sebagai adjuvant dan sudah digunakan pada salah satu produk vaksin HPV.

Formaldehid

Formaldehid digunakan selama proses produksi pada beberapa vaksin untuk menginaktivasi virus atau toksin bakteri yang akan digunakan. Sebagian besar formaldehid akan hilang pada proses pemurnian produk, walau sedikit jumlah yang masih tersisa. Meskipun demikian, hal yang perlu dicatat adalah formaldehid juga merupakan produk samping dari sintesis protein dan DNA dalam sel, sehingga senyawa ini umum ditemukan pada aliran darah. Jumlah formaldehid yang umum terdeteksi pada darah 10x lebih besar dari yang dapat ditemukan pada vaksin.

Gelatin

Gelatin merupakan salah satu jenis stabilizer yang ditambahkan pada produk vaksin. Bahan stabilizer berguna untuk melindung bahan aktif selama proses produksi, pendistribusian, hingga penyimpanan. Gelatin yang digunakan pada umumnya berasal dari hewan babi atau sapi. Selain gelatin, beberapa bahan lain dapat digunakan sebagai stabilizer seperti sukrosa, laktosa, albumin, MSG, dan glisin. Data dari CDC(3) hanya beberapa produk vaksin (keluaran Amerika) saja yang menggunakan gelatin sebagi stabilizer-nya, seperti vaksin influenza, vaksin MMR-II, vaksin rabies, vaksin varicella, vaksin demam kuning (yellow fever), dan vaksin zoster. Pada vaksin produksi dalam negeri (keluaran PT Biofarma) tidak disebutkan menggunakan gelatin sebagai stabilizer-nya(4). Gelatin yang digunakan sebenarnya sangat sedikit sekali dan merupakan merupakan senyawa yang mudah dirusak (dihidrolisis) sehingga konsentrasinya akan semakin berkurang.

Merkuri

Merkuri atau lebih tepatnya sebagai senyawa mengandung merkuri merupakan pengawet yang umum digunakan pada awal abad 20. Pengawet ini digunakan terutama pada sediaan vaksin yang digunakan beberapa kali (tidak sekali pakai habis), seperti pada vaksin influenza. Senyawa mengandung merkuri yang dimaksud adalah Thimerosal. Seringkali terdapat kesalahpahaman antara etilmerkuri dengan metilmerkuri. Etilmerkuri terbentuk setelah tubuh memetabolisme thimerosal dan akan dipecah lagi serta dikeluarkan dari tubuh dengan cepat. Metilmerkuri umum terbentuk di alam ketika terdapat logam merkuri. Jika metilmerkuri ditemukan dalam tubuh, hal ini biasanya terjadi akibat mengkonsumsi pangan yang terkontaminasi logam merkuri. Etilmerkuri dan metilmerkuri merupakan dua senyawa yang berbeda dengan cara metabolisme serta pembuangan (clearance) pada tubuh yang berbeda pula. Hingga saat ini, penelitian-penelitian yang ada tidak menemukan adanya hubungan antara thimerosal pada vaksin dengan autisme pada anak(5).

Bagaimana dengan enzim tripsin? Pada dasarnya tripsin bukan merupakan bagian dari komposisi produk vaksin. Tripsin digunakan pada saat penyiapan kultur virus yang akan digunakan untuk pembuatan vaksin, seperti isolasi sel inang dari jaringan hewan untuk tempat tumbuh virus, atau untuk aktivasi partikel virus tertentu(6). Setelah bahan virus atau bagian virus berhasil di-‘panen’ dari kultur sel, bahan tersebut akan dimurnikan hingga memungkin tidak terdeteksi kembali bahan-bahan lainnya, termasuk enzim tripsin. Kemudian setelah itu bahan virus ini lah yang merupakan komposisi dari produk vaksin.

Sumber-sumber:

  1. Vaccine Education Center The Children’s Hospital of Philadelphia. (2012). Vaccine ingredients: what you should know. Diunduh 7 Maret 2014 [vaccine.chop.edu]
  2. American Academy of Pediatrics. (2013). Questions and answers about vaccine ingredients.
  3. CDC. (2013). Vaccine excipient and media summary. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  4. PT Biofarma. Diakses pada 7 Maret 2014 [biofarma.co.id]
  5. CDC. (2013). Understanding thimerosal, mercury, and vaccine safety. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  6. European Medicines Agency. (2013). Draft guideline on the use of porcine trypsin used in manufacture of human biological medicine products. EMA/CHMP/BWP/814397/2011 [ema.europe.eu]




Read More..

Sabtu, 25 Januari 2014

Anak-anak Ibu

(sumber: natureandhealth.com.au)
Kita semua sepakat, Ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya. Dari naungan rahim seorang ibulah, perkembangan awal manusia dimulai. Mengandung selama kurang lebih 9 bulan, menyapih, merawat-membesarkan hingga setiap anak manusia mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Dan semua orang sepakat, peran Ibu sangatlah esensial dalam perkembangan segala aspek kompetensi anak manusia, kognitif, emosi, perilaku, juga tumbuh-kembang fisik dan mental. Ada pengaruh yang sedemikian besarnya, peran seorang ibu terhadap perkembangan anak. Kita tahu akan hal itu. Banyak studi-studi, contoh-contoh, pengalaman-pengalaman yang membenarkan pendapat tersebut. Golden age merupakan masa yang krusial dalam perkembangan anak, dan peran ibu menjadi sedemikian besarnya dalam mempengaruhi perkembangan emas anak pada rentang umur ini. Akan tetapi jauh sebelum itu, seorang ibu sudah memiliki pengaruh terhadap perkembangan anaknya. Terhadap perkembangan kemampuan anaknya untuk bertahan di dunia luar. Pengaruh ibu sudah dimulai sejak sel pertama manusia terbentuk; zigot.

The Maternal Effect
Kita semua mengenal materi ini; DNA, tak lain tak bukan adalah materi penyimpan semua informasi mengenai kemampuan fisik dan mental manusia. DNA adalah warisan pertama yang diturunkan oleh orangtua kepada keturunannya, menyimpan kombinasi karakter atau sifat kedua orangtua. Dari DNA, protein disintesis, sel dibentuk, jaringan dibangun, organ disusun, hingga seluruh kesatuan manusia dilengkapi. Hingga saat proses pembuahan berhasil dilakukan, ayah dan ibu kita membagi perannya sama. Kita akan menerima sebagian warisan genetik dari ayah dan sebagain lainnya dari ibu. Setiap bagian warisan ayah-ibu kemudian akan bersatu dan membelah terus menerus hingga tercipta manusia utuh. Hal yang selanjutnya menarik adalah setelah peristiwa ini terjadi, kita akan terus-menerus dalam lingkungan ibu, dari rahim hingga gendongan ibu.

Dalam studi hereditas dan genetika, ada istilah yang dikenal sebagai epigenetika, studi mengenai perubahan aktivitas genetis yang terjadi selain karena perubahan sekuens basa DNA. Apa artinya? Perubahan dalam skala molekular hingga (mungkin) fisiologis tubuh organisme, dapat terjadi tidak hanya karena ada perubahan (mutasi) pada sekuens DNA. Mekanisme bagaimana hal ini terjadi masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, meskipun demikian mekanisme yang diketahui di antaranya adalah proses interferensi RNA, remodeling kromatin, metilasi DNA, dan modifikasi histone. Secara sederhana, peristiwa epigenetik merubah bagaimana suatu gen diekspresikan, lebih lanjut lagi, hal ini berarti protein-protein yang akan disintesis oleh suatu sel akan berubah, dan pada akhirnya mungkin saja terjadi perubahan struktur fisiologis organisme tersebut.

Fakta bahwa setelah proses pembuahan terjadi, suatu individu (terutama mamalia, juga manusia) akan terus menerus dalam lingkungan ibunya (terkandung dalam rahim hingga mendapat nutrisi dari ibu). Dalam skala molekular, organel sel seperti mitokondria hanya diperoleh dari sel telur ibu, mengingat mitokondria sel sperma berada pada ekornya yang akan terlepas saat ‘kepala’ sel sperma masuk ke dalam sel telur. Pada studi terhadap berbagai mamalia, pihak ibu dapat memicu terjadinya peristiwa epigenetik terhadap bakal janin yang berkembang dalam rahimnya, yang kemudian dikenal sebagai Maternal Effect. Secara harfiah, kita bisa mengatakan bahwa ibu memiliki akses (tanpa disadari) untuk merubah ekspresi gen (baca: merubah struktur molekular hingga morfologi) dari keturunan yang akan dilahirkannya. Hingga ke tingkat molekular pun, ibu memiliki peran dalam membentuk anak-anaknya.

Implikasi-implikasi
Tujuan utama dari mungkinnya fenomena ini terjadi, tak lain adalah kecendrungan alamiah mahluk hidup untuk bertahan hidup. Suatu insting yang amat mendasar bagi seorang (atau suatu) ibu untuk memperoleh keturunan terbaik yang bertahan hidup di dunia luar (rahim). Walaupun tidak menjamin keturunan berikutnya akan terhindar dari penyakit genetik ataupun ketidakmampuan yang disebabkan faktor genetik muncul, intervensi maternal effect memungkinkan kita memiliki keturunan dalam bentuk terbaik yang bisa diperoleh.

Mungkin ini adalah suatu interpolasi yang terlalu jauh, akan tetapi, jika seorang ibu memiliki keinginan kuat untuk memiliki anak-anak terbaik maka bisa jadi hal tersebut akan memicu terjadinya serangkaian proses yang akan berdampak pada janin yang dikandungnya. Dan pada akhirnya, kita memang anak-anak ibu kita, perwujudan dari harap dan cita sang ibu.

Catatan tambahan
Bagaimana dengan paternal effect, efek ayah, adakah ikut mempengaruhi keturunan yang akan dihasilkan? Pada skala genetik, tentu saja ada, mengingat kita terbentuk dari setengah kromosom ayah dan setengah kromosom ibu. Intensitas hubungan anak-ibu yang sedemikian besar semenjak sel zigot terbentuk memungkinkan ibu memiliki pengaruh besar selama perkembangan janin (selain pengaruh genetik yang memang diturunkan).

Bacaan lebih lanjut:
Champagne, F.A. dan J.P. Curley. (2009). Epigenetic mechanisms mediating the long-term effects of maternal care on development. Neuroscience and Biobehavioral Reviews 33, 593–600.

Qvarnström, A. dan T.D. Price. (2001). Maternal effects, paternal effects and sexual selection. TRENDS in Ecology & Evolution, 16(2), 95-100.

Wolf, J.B. dan M.J. Wade. (2009). What are maternal effects (and what are they not)? Philos. Trans. R. Soc. Lond. B. Biol. Sci., 364(1520), 1107-1115.



Read More..

Senin, 09 Juli 2012

Dilema Kemandirian Obat Indonesia

Berbicara mengenai kesehatan manusia, maka kita membicarakan masa depan suatu komunitas atau bahkan suatu bangsa. Kesehatan adalah aspek pendukung utama keberlangsungan suatu bangsa. Generasi yang berkualitas tidak akan bisa dihasilkan tanpa dukungan faktor kesehatan yang memadai. Anda bisa membayangkan betapa mudahnya wabah penyakit menghancurkan suatu bangsa. Kita melihat betapa virus AIDS melumatkan negara-negara di Benua Afrika atau wabah malaria yang menyerang negara-negara di Asia Tenggara sehingga memakan banyak korban nyawa. Sebuah kehilangan besar bagi suatu bangsa ketika para penerus mereka harus menjadi korban dari suatu wabah penyakit. Kesehatan boleh dibilang merupakan faktor pendukung utama kemajuan suatu bangsa. Tanpanya, kita tidak akan bisa berbicara mengenai pendidikan tinggi atau teknologi maju ataupun mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki suatu bangsa.

Berbicara mengenai faktor pendukung kesehatan suatu bangsa, maka berbagai aspek dapat diulas di dalamnya. Paling tidak saya melihat tiga hal yang menjadi pendukung utama kesehatan suatu bangsa: kualitas tenaga kesehatan, sistem kesehatan dan aplikasinya serta obat dan ketersediaanya di masyarakat. Dua pertama tidak akan saya bahas di esai ini, saya hanya akan membahas mengenai obat dan bagaimana kemandirian akan ketersediaan obat sangat penting bagi masa depan suatu bangsa. Seperti pendapat umum bahwa obat, baik obat regular maupun tradisional, menjadi tumpuan pertama penyembuhan suatu penyakit. Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita saat ini memiliki ketergantungan dengan suatu tablet atau kapsul dibandingkan dengan gaya hidup sehat. Di zaman saat semua orang mengingkan hal-hal yang instan, obat merupakan jawaban terbaik untuk mengatasi kondisi tidak menyenangkan yang kemudian kita sebut sebagai sakit. Dari sini anda dapat melihat bahwa kebutuhan obat yang akan sulit surut di masyarakat menjadikannya pasar yang sangat potensial. Mengendalikan pasar obat bisa jadi mengendalikan tingkat kesehatan masyarakat atau bahkan pembangunan suatu bangsa.

Berbicara mengenai Indonesia, di sini pemerintah mencoba mengendalikan harga obat melalui program obat generik. Namun, ini hanyalah solusi yang menyembuhkan gejala, bukan sumber penyakitnya. Harga obat yang mahal menjadi penyebab utama mahalnya biaya kesehatan di sini. Mengapa harga obat dapat menjadi mahal? Biaya produksi obat menjadi salah satu penyebabnya. Ya, hingga saat ini bahan baku obat Indonesia (baik bahan aktif maupun bahan tambahan) hampir 96% diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, harga obat sangat terpengaruh dari nilai mata uang kita dibandingkan dengan mata uang asing serta kondisi dari negara yang mengekspor bahan baku obat tersebut. Di satu sisi, kita ingin agar harga obat dapat ditekan, di sisi lain para pelaku usaha (industri farmasi) harus memperhitungkan keberlanjutan usahanya.

Sesungguhnya berbicara mengenai ketersediaan obat di masyarakat merupakan hal yang tidak sederhana. Obat boleh jadi tersedia di pasaran namun bila masyarakat tidak mampu membelinya, maka hal tersebut menjadi percuma saja. Tuntutan ditekannya harga obat juga tidak sesederhana yang terlihat, industri farmasi juga harus mengimbangi antara ongkos produksi dan laba yang didapat. Sama saja jika harga obat tidak dapat menutupi ongkos produksi, maka obat pun tidak bisa diproduksi. Produksi bahan baku obat dalam negeri bisa merupakan suatu solusi juga. Tetapi selama efisiensi produksi bahan baku dalam negeri tidak sebaik produksi luar negeri, maka harga bahan baku produksi dalam negeri dapat lebih mahal daripada produksi luar negeri. Lagi-lagi, ini persoalan investasi ke industri bahan baku obat nasional. Jika teknologinya ingin dikembangkan maka investasi dalam jumlah besar harus dilakukan.

Bagi saya pribadi, produksi bahan baku dalam negeri harus segera dilakukan, meskipun masih belum sempurna. Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada impor bahan baku obat dari luar negeri. Komitmen besar harus dimiliki oleh setiap stakeholder untuk menciptakan industri bahan baku obat nasional.


Read More..

Sabtu, 05 Mei 2012

2015: Farmasis dan MDGs

“Our world presents worrisome statistic that endanger the perpetuation of generations to come.” (Kofi Annan).

Sebuah pertemuan besar diadakan dunia, berlokasi di New York, 189 pemimpin dari berbagai negara mencanangkan sebuah langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah yang semakin membesar di dunia, terutama di negara dunia ketiga. Sebuah pertemuan yang diprakarsai oleh PBB ini merumuskan suatu tujuan global yang kemudian kita kenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Dengan target pencapaian di tahun 2015, dalam MDGs, kerja-kerja besar dilakukan untuk mencapai (1) pemunahan kemiskinan dan kelaparan ekstrim; (2) pendidikan dasar bagi semua orang; (3) persamaan gender dan penguatan peran perempuan; (4) penurunan angka kematian bayi; (5) perbaikan kesehatan ibu hamil dan menyusui; (6) pemberantasan penyakit HIV/AIDS, malaria, dan lain sebagainya; (7) terjaminnya keberlangsungan lingkungan hidup; dan (8) pembentukan kerja sama global untuk negara berkembang.

Tujuan-tujuan MDGs paling tidak melingkupi empat isu, yaitu isu ekonomi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, persamaan hak, dan lingkungan. Kita tak perlu berpikir keras untuk menyimpulkan di mana peran seorang farmasis dalam penyuksesan MDGs. Sebagai bagian dari tenaga kesehatan, peran farmasis menjadi begitu penting dalam penjaminan terhadap keefektifan dan keamanan suatu terapi pengobatan pada berbagai kondisi pasien misalnya, (pediatrik, geriatrik, ibu hamil dan menyusui, dan lain sebagainya) sehingga peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia menjadi suatu hal yang mungkin dicapai. Farmasis berperan penuh terhadap tersediannya pengobatan yang dapat membantu memperbaiki kualitas kesehatan pasien, assessment terhadap terapi yang diberikan pasien dan penanggulangannya bila terjadi hal yang tidak diinginkan, serta pencerdasan pasien akan suatu terapi yang dijalani demi meningkatkan keberhasilan pengobatan. Di tahun 2012, memasuki kuatral akhir dari target pencapaian MDGs, kita perlu menengok kembali dan bersama mengevaluasi diri sudah sejauh mana kemajuan dan kontribusi farmasis dalam penyuksesan MDGs.

Indonesia kita hari ini
Ada paling tidak tiga isu dalam MDGs yang menjadi bagian dari isu bersama tenaga kesehatan yaitu angka kematian bayi, kesehatan ibu hamil dan menyusui, serta penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Dan ketika kita mengambil potret isu tersebut, kita akan menemukan bahwa menurut laporan pencapaian MDGs di Indonesia, dari tiga isu kesehatan hanya pemberantasan terhadap tuberkulosis yang telah mencapai target. Penurunan angka kematian bayi memperlihatkan tren yang baik meskipun belum mencapai target. Angka kematian bayi di bawah lima tahun sebesar 44 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2007 dengan target angka kematian bayi sebesar 32 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2015. Sayangnya angka kematian ibu melahirkan cukup mencemaskan; berdasarkan data BPS pada tahun 2007, rasio angka kematian ibu melahirkan sebesar 228 ibu per 100.000 kelahiran, padahal target MDGs pada tahun 2015, ada sebesar 102 ibu per 100.000 kelahiran. Pun demikian dengan angka penderita AIDS yang memperlihatkan tren kenaikan sebesar 4.969 kasus per 100.000 orang pada tahun 2008. Namun, sebaliknya pada kasus malaria yang menunjukan tren penurunan yang baik dengan 1,85 kasus per 1000 orang pada tahun 2009.
Statistik di atas mungkin perlu kembali di-update, namun paling tidak tersingkap bahwa ada PR-PR besar yang perlu dikerjakan bersama. Sementara kita tersibukan akan kegalauan-ria mungkin kita akan tersentil bahwa penderita AIDS terus bertambah dan semakin banyak anak-anak yang tak pernah bertemu ibunya.

Dan kita para farmasis


Komunikasi dan edukasi kepada masyarakat merupakan salah satu rangkaian penting dalam usaha meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dan edukasi yang dapat diberikan oleh seorang farmasis tidak selalu mengenai obat dan penggunaannya melainkan juga pola hidup yang diperlukan untuk mendukung usaha perbaikan kesehatan itu sendiri.
Pada bidang riset, pengembangan baik zat aktif baru maupun bentuk sediaan yang lebih efektif terus dikembangkan oleh para ahli farmasi. Obat baru tidaklah cukup untuk memberantas suatu penyakit menular, tetapi diperlukan juga suatu sistem kesehatan yang kuat. Oleh karena penyakit menular maupun penyakit degeneratif (seperti penyakit diabetes atau jantung) dipengaruhi secara signifikan oleh pola hidup suatu masyarakat maka peran farmasis di ranah farmasi komunitas menjadi penting. Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) menjadi senjata ampuh hanya bila benar dilaksanakan oleh farmasis.
MDGs 2015 sudah seharusnya menjadi visi bersama para farmasis dan tenaga kesehatan lainnya. Kita bersama, dalam berbagai bidang, perlu kembali merevitalisasi peran farmasis dalam memajukan kesehatan Indonesia. Tahun 2015 adalah target nyata dari kerja-kerja nyata di masyarakat dan banyak orang bersedia mengambil peran-peran tersebut dan menjadi bagian dari tinta sejarah kesehatan Indonesia. Pertanyaan besarnya, bagaimana dengan anda ?




Referensi
Bappenas. 2010. Report on the achievement of the millennium development goals Indonesia 2010. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
UNDP. 2006. Modul 4: health strategies. Dipresentasikan di UNDP RBA Workshop on MDG-Based National Development Strategies, UN Millennium Project. February 27th – March 3rd.



Read More..

Minggu, 25 Maret 2012

Dari balik tidur kita: Circadian rhythms

“As a well-spent day brings happy sleep, so a life well spent brings happy death” (Leonardo da Vinci)

Mari sejenak kita akan menjelajah jauh melewati mimpi-mimpi yang tercitra di lelap-lelap kita, menuju lebih dalam melewati tengkorak kepala dan tiba pada suatu susunan sel yang luar biasa mengagumkan sekaligus misterius, dan tidak lain adalah otak kita sebagai pusat regulasi seluruh fungsi tubuh manusia. Salah satu fenomena menarik yang akan kita bahas di artikel ini adalah mengenai tidur. Baiklah tapi jangan anda ikut merasa mengantuk saat membaca artikel ini :).

Pernahkah anda bertanya mengapa kita mengantuk kemudian tertidur meskipun kita tidak merasa lelah. Bagaimana dengan orang yang terbiasa bangun pukul 4 pagi sedangkan lainnya masih berselimut saat pukul 7 menjelang ? Meskipun tampak sebagai sebuah aktivitas sederhana, tidur memiliki mekanisme yang cukup rumit untuk dijelaskan. Regulasinya ternyata luar biasa, melibatkan hormon, neurotransmitter (suatu pesan sinyal di otak), serta sel-sel otak itu sendiri. Dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini berhasil mengupas, walau belum seluruhnya, persoalangan mengenai siklus bangun-tidur manusia. Soal-menyoal bangun-tidur ini bukanlah hanya milik manusia saja, tetapi juga berbagai mahluk hidup hingga mikroba-tak-kasat-mata yang tak bisa anda lihat.

Circadian dan jam tubuh
Circadian rhythms adalah kunci awal yang menjelaskan fenomena siklus bangun-tidur kita. Circadian rhythm secara sederhana didefinisikan sebagai ritme biologis yang dibentuk secara endogen (oleh tubuh kita sendiri) pada periode waktu sekitar 24 jam. Circadian rhythms tidak hanya mengacu pada ritme fisik (tubuh) tetapi juga ritme mental dan tingkah laku (behavior) yang dalam kondisi normal, berubah-rubah secara teratur dan konsisten. Circadian rhythms merespon atas kondisi lingkungan kita, berupa terang dan gelap. Berbagai faktor alami dalam tubuh kita membentuk ritme ini yang dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti yang saya sebutkan tadi. Circadian rhythm bukanlah apa yang kita sebut sebagai jam biologis tubuh meskipun keduanya saling berkaitan dan jam biologis tubuh kita mengontrol ritme ini. Jam biologis tubuh sendiri merupakan suatu kumpulan molekul dalam sel di seluruh tubuh (jadi bukan hanya satu) yang dikoordinasikan oleh suatu jam biologis utama (master clock) yang terletak di otak dan membuat jam-jam biologis ini tersinkronisasi. Master clock sendiri merupakan kumpulan sel saraf di otak yang disebut dengan suprachiasmatic nucleus atau kita singkat dengan SCN. SCN ini mengandung sekitar 20.000 sel saraf dan terlokalisasi di hipotalamus. Hal yang menarik adalah bagian hipotalamus otak ini terletak di atas persimpangan saraf optis dari mata. Nampaknya, respon dari lingkungan yang mempengaruhi circadian rhythm ditangkap oleh mata, terutama respon cahaya.

Circadian dan rasa kantuk
Circadian rhythm bagaimanapun berpengaruh pada fungsi tubuh kita dimana ritme alami ini berpengaruh terhadap perubahan siklus bangun-tidur, pelepasan hormon dan fungsi tubuh lainnya. Circadian rhythm terutama penting dalam menentukan pola tidur manusia. SCN mengontrol produksi suatu hormon yang disebut dengan melatonin yang akan membuat kita mengantuk. Informasi atas keadaan lingkungan, terutama cahaya yang ditangkap oleh mata kita, memberi sinyal kepada SCN melalui suatu jalur cepat yang dapat kita sebut sebagai retinohypothalamic tract (RHT). Bila kondisi dimana cahaya berkurang (misal pada malam hari) SCN akan memberi tahu otak kita untuk memproduksi melatonin lebih banyak lagi sehingga mau tidak mau, kita akan semakin mengantuk dan jatuh tertidur.

Melihat lebih dalam circadian
Sinkronisasi jam biologis tubuh yang berada di seluruh tubuh membutuhkan suatu penghambat neurotransmitter yang dikenal sebagai GABA (gamma aminobutyric acid). Pengaturan pelepasan GABA termasuk pengaturan individu jam biologis tubuh telah diketahui diatur oleh beberapa gen di tubuh kita. Hal ini dapat diketahui pada awalnya melalui serangkaian penelitian yang melibatkan lalat favorit penelitian genetika, Drosophila sp. hingga bintang laboratorium, tikus. Dan kemudian pada akhirnya, gen yang homolog dengan kedua hewan di atas juga berhasil diindetifikasi pada manusia. Mutasi pada gen-gen ini diketahui dapat menyebabkan abnormalitas dari ritmisitas sirkadian.

Circadian dan jetlag
Salah satu fenomena terkenal dari abnormalitas circadian rhythm adalah jetlag yang dialami oleh banyak travelers di seluruh dunia. Sebagai gambarannya, ketika anda terbang melewati wilayah dengan zona waktu yang berbeda, jam biologis tubuh anda akan berbeda dari jam di pergelangan tangan anda, hal ini bisa berarti lebih cepat atau lebih lambat beberapa jam. Maka ketika kita terbangun pada daerah dengan zona waktu yang berbeda dari tempat asal kita, misal perbedaan waktu dari California menuju New York adalah tiga jam, pada pukul 7 pagi, tubuh kita akan menganggapnya masih pukul 4 pagi sehingga membuat kita merasa tidak stabil dan mengalami disorientasi. Meskipun demikian, tubuh kita akan segera menyesuaikan dengan baik pada beberapa hari.

Abnormalitas pada circadian rhythm dapat berakibat lebih parah dari sekedar jetlag. Circadian rhythm yang tidak normal telah diasosiasikan dengan berbagai gangguan tidur termasuk insomnia dan gangguan mental seperti depresi, bipolar disorder dan lain sebagainnya. Selain itu abnormalitas pada ritme ini dianggap berpengaruh terhadap terjadinya berbagai macam penyakit. Infraksi miokardial (kerusakan pada otot jantung) dan serebrovaskular (pembuluh darah otak) sering terjadi pada pagi hari. Terjadinya gejala asma dikaitkan dengan waktu sore. Dan, meskipun belum diketahui secara jelas, kejadian sudden infant death syndrome (SIDS) –sindrom kematian mendadak pada bayi- sering terjadi pada jam-jam di awal pagi.

Penutup
Seperti yang anda duga, circadian rhythm juga berperan pada pola tidur kita. Kebiasaan jam bangun dan jam tidur juga diatur oleh ritme ini. Karena pada umumnya pada satu keluarga memiliki kondisi lingkungan yang cukup homogen, pola tidur setiap anggota keluarga akan cenderung mirip. Pola tidur pun ternyata bisa diubah dan studi mengenai perubahan pola tidur yang aman juga telah dilakukan untuk menjaga kesehatan para pekerja yang sering berganti-ganti shift. Saya pernah membaca sebuah artikel –sayangnya saya lupa dari mana- mengatakan bahwa perubahan pola tidur yang sehat dilakukan secara bertahap dalam waktu kurang lebih dua minggu. Bagaimanapun juga, pola bangun-tidur adalah hal yang penting untuk diperhatikan karena akan berpengaruh pada kesehatan dan produktivitas kita juga.

Referensi
Untuk anda yang masih penasaran dapat membaca di:
1. NIGMS. Circadian rhythms fact sheet. http://www.nigms.nih.gov/Education/Factsheet_CircadianRhythms.htm. Diakses pada 25 Maret 2011.
2. Rivkees, S.A. (2002). Circadian rhythms – genetic regulation and clinical disorders. Growth Genetics and Hormones, Vol. 18 (1). Diunduh dari www.gghjournal.com.





Read More..

Minggu, 11 Maret 2012

Galau patologis

Kita mungkin perlu berpikir ulang tentang sakit hati dan kegalauan…

Sakit hati, patah hati, pecah hati atau apapun itu yang bermakna broken heart banyak disematkan untuk kondisi kegalauan dimana manusia merasa terpecah-pecah dan hancur berantakan secara konotatif. Kondisi kegalauan luar biasa dapat disebabkan oleh kekecewaan berat yang tentunya memiliki banyak musababnya di bagian awal. Sensasinya tidak menyenangkan, tidak ada luka yang bisa diobservasi tapi ada rasa tidak nyaman yang luar biasa. Obatnya mungkin juga tidak berbentuk dan karenanya sayang sekali orang yang mengandalkan obat penenang untuk mengatasinya.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan psikologis manusia, sesungguhnya memiliki kaitan dengan neurologis atau sistem persyarafan manusia. Otak manusia (mungkin dapat dikatakan sebagai otak terkompleks dari spesies yang ada di muka bumi) secara mendasar memiliki dua fungsi, yaitu fungsi fisiologis yang berarti pusat regulasi segala hal yang terjadi di dalam tubuh kita dan fungsi yang lebih tinggi yaitu fungsi intelektual yang berhubungan dengan memori dan kondisi mental. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kondisi kejiwaan manusia, termasuk kegalauan, akan lebih komprehensif bila dilihat dari dua sudut pandang: psikologis dan neurosains.

Jika anda membuka KBBI kita, galau dapat didefinisikan sebagai, (1) sibuk beramai-ramai, ramai sekali; (2) kacau tidak keruan (pikiran). Baiklah, hanya definisi kedua yang kita pakai di tulisan ini. Sekali lagi, kondisi pikiran tidak keruan/kacau bisa berimplikasi banyak pada banyak hal. Anda mungkin membayangkan kondisi sulit tidur, lemas, tidak semangat melakukan apa-apa, perasaan cemas, gangguan makan atau bahkan depresi. Hal-hal tersebut mungkin akan sedikit sekali berimplikasi pada kesehatan, namun hal yang berbeda bila kondisinya berubah menjadi patologis, gangguan yang dialami dapat lebih parah. Mari kita bahas secara sederhana, beberapa dari kondisi galau level dua: galau patologis.

Galau dan sulit makan
Gangguan makan walau tampak sederhana merupakan hal yang kompleks untuk dijelaskan. Kondisi gangguan makan tidak dapat dijelaskan secara sederhana oleh psikologis, biokimia, fisiologis atau psikiatris. Oleh karena penyebab gangguan makan sangat banyak maka kita batasi hanya yang disebabkan oleh kondisi kegalauan. Gangguan makan yang dimaksud dapat berarti sulit makan atau anoreksia (memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan). Nampaknya ada abnormalitas pada sistem hormonal manusia yang berhubungan dengan kelenjar hipotalamus-ptiutari-gonad, hipotalamus-ptiuirari-adrenal dan hipotalamus-ptiuitari-tiroid. Oleh karena memiliki hubungan pada kelenjar gonad, gejala amenorrhea (tidak dapat haid) sering ikut serta pada sekitar 25% wanita dengan gangguan makan. Selain itu disfungsi pada neurotransmitter (bayangkan seperti sms versi otak) seperti serotonin, norepinefrin dan dopamine ikut berpengaruh karena ketiga neurotransmitter ini memiliki fungsi penting pada kontrol perilaku makan. Dan neurotransmitter tersebut juga berperan dalam suasana emosi manusia, seperti gembira dan sedih. Pengobatan terurutama lebih ditekankan pada aspek psikologis dibandikan aspek farmakologis. Namun bila membutuhkan intervensi farmakologis, antidepresan dapat diberikan.

Galau dan depresi
Galau yang berlebihan memang jika sampai menyebabkan depresi. Namun bukan tidak mungkin hal ini dapat terjadi karena kebanyakan gangguan depresi terjadi kareana gangguan pada mood individual yang diakibatkan oleh satu pengalaman atau lebih. Sayangnya, gangguan depresi juga terlalu kompleks untuk dijelaskan hanya melalui satu suduh pandang, karena depresi sepertinya merupakan efek dari gabungan beberapa faktor penyebab. Namun, bila kita melihat dari sudut pandang molecular biologi maka pada mayoritas pasien dengan gangguan depresi terjadi perubahan pada neurotransmitter monoamine pada otak, terutama pada norefinefrin, serotonin dan dopamine. Empat hipotesis mengenai terjadinya kondisi depresi beranggapan bahwa adanya perubahan pada neurotransmitter (baik pada senyawanya atau reseptornya) memiliki peranan penting dalam terjadinya depresi. Dan lagi-lagi kita dapat melihat bahwa kondisi mood/mental/kejiwaan yang bersifat ‘abstrak’ memiliki hubungan erat pada biokimia tubuh, dan setiap sisi memiliki hubungan saling mempengaruhi. Intervensi farmakologis umumnya dialamatkan pada obat dari golongan SSRi (selective serotonin reuptake inhibitor) seperti citalopram atau fluoxetine.

Galau dan kecemasan
Kondisi kecemasan mengacu pada perasaan gugup atau ketakutan atau terancam pada individual. Perasaan cemas tidak hanya mengakibatkan kenyamanan psikologis tetapi juga berpengaruh pada kondisi fisiologis seperti denyut jantung yang meningkat atau napas yang memendek. Dalam sudut pandang neurologis nampaknya kondisi gangguan kecemasan berhubungan dengan sistem neurotransmitter, seperti norefinefrin, GABA dan serotonin dan beberapa area dari otak. Bagian dari otak, amigdala memainkan peranan kritis dalam stimulasi rasa takut dan pembelajaran dari respon terhadap ketakutan. Locu ceruleus yang berada di pangkal otak mengandung norefinerin paling besar dari bagian otak lainnya bertanggung jawab atas respon takut, Dan bagian hipokampus berperan terhadap ingatan akan trauma.Orang yang mengalami gangguan kecemasan memerlukan terapi psikologis dan farmakologis. Obat lapis pertama untuk mengatas gangguan kecemasan adalah benzodiazepin

Jikalaupun galau…
Kondisi kegalauan semestinya dapat dicegah ataupun diatasi dengan baik tanpa perlu intervensi obat. Karena hal ini berhubungan dengan kondisi pikiran dan mental, maka pendekatan mengatasinya secara individual dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sikap hidup yang positif berpengaruh besar terhadap kondisi kejiwaan seseorang.


Referensi
Dipiro, John T., et al. (2005). Pharmacotherapy: A pathophysiologic approach 6th edition. Mc-Graw Hill: New York.



Read More..

Sabtu, 11 Februari 2012

Obat-Obat Terbaik: Mengintip Industri Farmasi

Hasil akhir tidak menjamin mutu produk, namun mutu haruslah dibentuk ke dalam produk (CPOB)

Mari kita berimajinasi sebentar, bayangkan anda sedang flu berat, anda tidak punya pilihan kecuali membeli obat pereda flu di toko sebelah. Anda akan menemukan beragam obat yang dapat membantu meradakan gejala flu dengan berbagai warna dan kemasan yang berbeda. Kemudian, anggap saja anda mengambil suatu obat dengan merek tertentu, membayarnya, kemudian membawanya pulang. Sekarang anda hendak meminumnya bersama dengan segelas air mineral hangat, anda memegangnya dan kemudian memasukannya ke dalam mulut dalam gerakan lambat dan kemudian saya memencet tombol pause. Baiklah, dari obat (kita bayangkan saja obatnya berbentuk tablet) yang kita beli pernahkah terpikirkan bahwa isi obat tersebut hanyalah tepung yang dicetak menjadi tablet ? Dan anda sembuh hanya karena anda menginginkan anda sembuh ?

Awal mula obat anda
Sekarang saya akan mengajak anda berlari mundur dan melihat bagaimana mereka diciptakan. Percaya atau tidak, obat anda yang berbentuk tablet, kapsul, kaplet bahkan berbentuk segitiga pada awalnya hanyalah serbuk-serbuk tertentu yang kemudian ditimbang dengan berat tertentu, dicampur dan diaduk dan akhirnya dimasukan ke dalam sebuah mesin yang mengompakkan bentuk mereka menjadi sebuah obat yang tadi anda telan. Mudah bukan ? Anda cukup memiliki alat timbang, baskom untuk mencampur bahan-bahan dan (yang ini agak mahal) sebuah mesih pencetak tablet, maka anda dapat memiliki tablet sendiri. Tapi tunggu dulu, walaupun anda mendapatkan bentuk obat yang cantik, bisakah anda memastikan bahwa obat tersebut menyembuhkan dan bukannya meracuni ? Baiklah anggap saja satu obat yang anda buat tersebut menyembuhkan anda dari flu, namun apakah anda yakin dapat menghasilkan obat yang sama dengan kualitas yang sama selanjutnya?

High regulated business
Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi obat menyembuhkan anda sama besarnya dengan potensi meracuni anda. Oleh karenanya mungkin aturan main dalam industri farmasi adalah salah satu yang terketat, paling tidak di Indonesia. Permasalah utamanya tentu saja bahwa obat diharapkan dapat menyembuhkan dan bukan sebaliknya. Kita perlu menjamin bahwa setiap obat yang ada di sekitar kita bukanlah racun-racun yang tidak menyenangkan. Regulasi kita banyak mempersyaratkan suatu obat bukan hanya dari proses produksinya, namun sejak awal pembuatan bahan baku obat, proses distribusinya hingga akhirnya anda dapatkan dari sebuah apotek. Obat-obat yang sudah beredar di tengah-tengah kita pun tidak lepas dari pemantauan. Mereka tetap dan terus dikaji keamanan, kualitas dan kemanfaatannya walaupun sudah dinyatakan layak untuk dijual. Segala bentuk usaha ini tidak lain untuk menjamin bahwa obat yang dihasilkan aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten hingga waktu yang tertera pada tanggal daluwarsa.

Aturan main
Sebuah pedoman akhirnya dibuat untuk melindungi kita semua dari obat-obat yang tidak layak. CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) merupakan pedoman yang dipakai oleh semua industri farmasi di Indonesia dalam proses produksi suatu produk obat. Di dalamnya terurai aturan main, kriteria serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua industri farmasi yang ada di Indonesia. Pada prinsipnya pedoman ini dibuat untuk menjamin bahwa obat yang diproduksi aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten. Salah satu hal yang menjadi penekanan adalah bagaimana menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya secara konsisten. Adalah hal yang percuma bila konsistensi mutu obat yang dihasilkan tidak dapat dijamin karena anda tahu, dalam sekali running sebuah mesin pencetak obat dapat menghasilkan ribuan tablet obat dalam waktu satu jam.

Prinsip lain yang perlu anda ketahui adalah bahwa kita tidak dapat menjamin mutu suatu obat hanya berdasarkan hasil tes laboratorium yang dilakukan pada obat jadi. Mengapa ? Dapat anda bayangkan bahwa suatu industri farmasi memiliki keterbatasan untuk memeriksa setiap keping obat yang dibuatnya. Oleh karena itu dari populasi obat yang begitu banyak, maka hanya diambil sekian jumlah sampel yang dapat mewakili populasi obat tersebut. Meskipun saya berkata ‘dapat mewakili’, sekali lagi kita tidak bisa menjamin bahwa semua obat akan memenuhi syarat. Maka pendekatan yang dilakukan bukanlah pada produk jadi namun pada proses untuk menghasilkan produk tersebut. Mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut dengan jalan menciptakan proses yang terkendali. Variabilitas adalah musuh utama dari kinerja proses produksi obat. Variabilitas merupakan hal yang harus dikendalikan (jika bisa hingga 100%) karena idealnya kita menginginkan kualitas yang sama pada setiap tablet yang dihasilkan.

Pertanyaannya menjadi bagaimana mengendalikan variabilitas tersebut ? Jawaban mudahnya adalah memastikan setiap alur proses produksi obat dapat kita kendalikan. Pengendalian yang dimaksud bukan hanya mengenai proses pembuatan obat, tetapi semua aspek yang berpengaruh kepadanya, misal bahan bakunya, lingkungan tempat produksinya hingga orang yang melakukannya. Dengan maksud ingin mengatur secara detail proses produksi obat, maka dibuatlah pedoman CPOB ini yang mengatur 12 aspek yang menyangkut masalah bagaimana memastikan mutu obat, personel yang terlibat, bangunan dan fasilitasnya, peralatan, kebersihan baik individu maupun lingkungan, proses produksi, mengawasi mutu produk, menginspeksi dan mengaudit proses dan aspek yang ikut mempengaruhi, penanganan terhadap keluhan produk dan penarikan kembali produk dari pasaran, pendokumentasian aktivitas, kualifikasi dan validasi proses dan aspek-aspek terkait hingga mengenai kerja sama pembuatan produk antar industri farmasi.

Mengintip lantai produksi
Ya hanya mengintip, ini dapat berarti harfiah bahwa anda mungkin tidak akan dapat pernah menginjakan kaki di lantai produksi industri farmasi dan melihat proses produksi secara langsung sekalipun anda menginginkannya. Well, saya akan membantu anda membayangkan bagaimana masuk ke lantai produksi obat. Hal yang pertama yang perlu anda ketahui bahwa anda harus melepas pakaian serta sepatu anda dan menggantinya dengan pakaian dan sepatu yang khusus digunakan di area ini. Pakaian produksi ini khusus karena dirancang agar tidak melepaskan serat atau partikel sebanyak pakaian yang biasa anda pakai. Bahkan jika kita memasuki area dimana produk steril seperti obat suntik dibuat, dalam proses menuju ke area tersebut kita akan berganti pakaian sebanyak tiga kali ditambah mandi di tempat yang disediakan sebelum akhirnya masuk ke area produksi steril. Kemudian kita akan berjalan di koridor produksi dimana anda akan menemukan lantai halus yang terbuat dari bahan epoksi dan anda tidak akan menemukan sudut dimanapun. Sudut-sudut yang terbentuk, misal pada pertemuan antara lantai dan dinding, tidak berbentuk siku, namun melengkung. Hal yang mungkin tidak bisa dilihat atau dirasakan adalah bahwa ada perbedaan tekanan udara antara ruangan dengan koridor. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kontaminasi antar bahan karena adanya partikel-partikel yang berterbangan.


Uraian di atas hanyalah sebagian dari cara pengendalian proses produksi, dan ingat bahwa bukan hanya proses pembuatan obat saja yang dikendalikan, tetapi juga gudang penyimpanan barang, laboratorium hingga kantin yang disediakan. Anda bisa membayangkan bahwa betapa segala hal yang menyangkut mutu obat yang dihasilkan harus bisa dikendalikan. Tujuan akhirnya agar obat yang anda telan pada awal tulisan ini tadi, benar-benar obat dengan mutu terbaik yang dapat dihasilkan.



Read More..

Sabtu, 16 Juli 2011

Blood type test: Semudah A, B, …. O


Well, tulisan ini berawal dari sebuah pengalaman saya yang dijadikan objek uji coba untuk menvalidasi blood type test kit yang sudah kadaluarsa. Sama seperti makanan, pereaksi-pereaksi yang digunakan dalam suatu kit juga memiliki batas kadaluarsa, meskipun pereaksi-pereaksi tersebut dalam keadaan terpisah satu sama lain dalam wadah tersendiri. Namun, kemungkinan adanya zat pereaksi yang terurai setelah penyimpanan selama beberapa waktu dapat menjadikan hasil uji golongan darah menjadi tidak valid.

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca sekalian adalah untuk apa menguji kit yang sudah kadaluarsa? Hehe.., ini berawal dari paradigma hemat agar kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk uji golongan darah di lab komersial, padahal lab sendiri ternyata bisa melakukannya. Kebetulan sekali ada seperangkat kit yang masih terbungkus rapi dan belum pernah dipakai namun sayangnya sudah kadaluarsa. Alhasil, lagi-lagi dengan berlandaskan paradigma hemat, dipakai saja kit tersebut. Nah, sebelum dicobakan ke orang yang ingin diketahui golongan darahnya, maka kita perlu menvalidasi dahulu kit tersebut dengan cara mencobakannya kepada orang yang sudah diketahui golongan darahnya, which in this term was me!. xp

Kisah A, B, dan O
Pada permukaan sel darah manusia terdapat antigen yang utamanya adalah glikoprotein (merupakan protein yang terikat molekul gula) yang kemudian disebut sebagai antigen A dan antigen B. Sistem penggolongan ABO ini dikembangkan oleh Karl Lendsteiner, seorang patologis dari Austria saat dia mengetahui adanya perbedaan reaksi yang terjadi setelah mencampurkan secara acak serum dan sel darah merah dari mahasiswa-mahasiswanya. Seperti yang bisa diduga, mereka yang bergolongan darah A hanya memiliki antigen A pada permukaan sel darah merahnya, golongan darah B hanya memiliki antigen B, golongan darah AB memiliki antigen A dan B, serta golongan darah O tidak memiliki antigen A dan B. Bagaimanapun juga, tubuh kita akan membentuk antibodi terhadap antigen yang kita tidak miliki. Sehingga, mereka yang bergolongan darah A akan menghasilkan antibodi anti-B yang menyebabkan mereka tidak bisa menerima transfusi darah dari orang bergolongan darah B, dan begitu pula sebaliknya. Sisanya, golongan darah O akan menghasilkan antibodi anti-A dan antibodi anti-B sedangkan para pemilik golongan darah AB dapat menerima transfusi darah dari semua golongan darah karena tidak memiliki antibodi anti-A dan anti-B.

Eksekusi…
Back to lab, dan setelah perlengkap tersedia, pereaksi anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D (ini disebut juga anti-rhesus), kapas, alkohol, jarum steril, serta kartu golongan darah; eksekusi kemudian dilaksanakan. Caranya mudah anda tinggal menusukan jarum ke salah satu jari dengan cepat dan tanpa ragu-ragu, dengan pengecualian ibu jari dan jari kelingking (kalo saya tidak salah) tidak boleh digunakan karena kedua jari tersebut tidak dilewati oleh saluran getah bening. Tsk…. (saya tidak tahu sebenarnya bagaimana penulisan efek suara jari ditusuk), darah kemudian keluar dan diteteskan ke atas empat kotak yang tercetak di kartu golongan darah. Penting bagi mereka yang diperiksa darahnya untuk bersikap tenang dan rileks agar darah dapat keluar dengan mudah. Tentunya tenang saja, rasa sakitnya hanya sekejap saja. Darah yang telah berada di atas kartu golongan darah diratakan sedikit dan diteteskan reagen sesuai dengan keterangan yang ada di bawah gambar kotak. Lalu digoyang-goyang pelan untuk meratakan reaksi yang terjadi kemudian lihat hasilnya. Sebagai tambahan, hasil positif dinyatakan dengan terjadinya penggumpalan darah (aglutinasi).

Mereka yang bergolongan A
Pada kotak anti-A menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B tidak ada penggumpalan, kotak anti-AB menunjukkan penggumpalan juga.
Mereka yang bergolongan B
Pada kotak anti-A tidak menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B ada penggumpalan, kotak anti-AB menunjukkan penggumpalan juga.
Mereka yang bergolongan AB
Pada kotak anti-A menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B juga ada penggumpalan, begitu pula dengan kotak anti-AB.
Mereka yang bergolongan O
Pada kotak anti-A tidak menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B juga tidak ada penggumpalan, begitu pula kotak anti-AB.
Serta rhesus
Mereka yang memiliki rhesus positif akan terlihat adanya penggumpalan pada kotak anti-D dan begitu sebaliknya.

Setelah diperiksa jangan lupa untuk menutupi luka tusukan dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi alkohol. Sayang sekali, karena uji yang saya jalani gratis tis tis tis sehingga tidak ada roti apalagi mie, :p (memang bukan transfusi darah juga yaa..). Dan hasilnya, ternyata kit kadaluarsa itu masih dapat dipakai, terbukti setelah menghasilkan kesimpulan yang tepat dari golongan darah saya yaitu B.




(diolah dari berbagai referensi)

ps. Bagi mereka yang penasaran, isi pereaksi adalah komponen reaktif dari antibodi monoklonal yang spesifik terhadap antigen-A atau antigen-B. Antibodi monoklonal ini berasal dari immunoglobulin kelas IgM. Antibodi ini diencerkan dalam bovine albumin, etilendiamin tetraasetat (EDTA), dan sebagai pewarna, Patent Blue (Anti-A) atau Tartrazin (Anti-B).


Read More..

Sabtu, 16 April 2011

In a Cup of Tea

“Come let us have some tea and continue to talk about happy things” (Chaim Potok)

Minuman pembuka

Di pagi hari dan secangkir teh hangat sungguh nikmat, tidak hanya bagi anda pecinta teh tetapi juga sebagian besar masyarakat dunia dengan pengecualian para penikmat kopi yang tentunya akan lebih memilih kopi. Teh tak diragukan lagi merupakan minimun yang mendunia, disajikan di berbagai kesempatan istimewa dari istana kerajaan Inggris hingga lesehan bambu pedesaan Indonesia.
Secara umum jenis teh yang ada di dunia ini adalah teh putih, kuning, hijau, hitam, oolong, dan teh fermentasi. Kultur masyarakat membantu menciptakan beragam jenis hidangan teh yang sesuai dengan karakteristik masyarakat tersebut. Bahkan penamaan pun dapat berbeda walau dalam jenis teh yang sama, sebagai contoh istilah "teh merah (red tea)" yang digunakan oleh masyarakat asia ternyata merupakan teh yang sama yang disebut "teh hitam (black tea)" oleh masyarakat barat.

Ini teh susu
Tenang... saya tidak hendak merubah topik pembicaraan menjadi susu; mari bicara teh. Minuman teh merupakan hasil dari produk agrikultur daun atau pucuk daun dari spesies Camellia sinensis maupun varietasnya. Teh pada umumnya dibuat dengan memanaskannya bersama air dan meminumnya setelah air tersebut berubah warna. Tentunya proses ini yang dikenal sebagai infus ini pada dasarnya mengekstraksi kandungan zat dalam teh ke dalam air.
Teh merupakan tanaman asli daerah asia selatan dan timur dengan kemunculan kebiasaan meminum teh pertama kali kemungkinan besar berasal dari daerah sana, meskipun masih belum diketahui secara pasti. Namun penggunaan teh sebagai minuman tercatat pada abad ke-10 sebelum masehi. Teh sudah biasa diminum pada zaman Dinasti Qyn. Dibawa oleh para pedagang Cina, teh menjadi minuman favorit yang mendunia.



Seeing inside


Teh minuman nikmat yang didapat dari daun atau kuncup daun kering dari tanaman teh. Dengan begitu banyak manfaat yang dirasakan oleh para penikmat teh, para pencari tahu menelisik kandungan ekstrak teh dan setelah melalui proses berliku, didapat berbagai macam senyawa kimia dalam teh, terutama dari keluarga besar polifenol.
Jika anda membuat segelas teh hijau yang terkenal itu kemudian anda keringkan hingga habis airnya maka anda akan mendapatkan ampas teh sebanyak kurang lebih 250-350 mg. Dari bobot sebesar itu ketika anda mengurainya lebih lanjut akan didapat 30-42% senyawa katekin (bagian dari keluarga polifenol) dan 3-6% kafein. Dari senyawa-senyawa yang disebut katekin ini yang paling dinilai menarik terutama senyawa (-)-epigalokatekin-3-galat (EGCG). Saat pembuatan teh hitam (atau teh merah yang biasa diseduh orang Indonesia), daun teh dilumat hingga hancur mengakibatkan enzim polifenol oksidase mengkatalisis oksidasi sehingga terjadi polimerisasi dari katekin. Intinya adalah enzim polifenol oksidasi mempercepat reaksi oksidasi sehingga terjadi proses penggabungan senyawa-senyawa katekin (ini yang disebut polimerisasi...). Hasil reaksi oksidasi ini juga adalah senyawa theaflavin (yang tidak terdapat di teh hijau) dengan turunan-turunannya (theaflavin-3-galat, theaflavin-3'-galat, theaflavin-3,3'-digalat) yang membentuk kekhasan warna, rasa, dan aroma teh hitam.
Bagaimanapun juga artis dalam kandungan teh adalah senyawa polifenol dengan aktivitasnya sebagai antioksidan yang berasal dari kemampuannya untuk menangkap spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS). Selain itu, polifenol dari teh juga mampu mengikat berbagai ion logam sehingga mencegah keikutsertaan mereka dalam proses reaksi peroksidasi dalam tubuh. Polifenol teh hijau dan teh hitam ternyata juga dapat menangkap spesies nitrogen reaktif sehingga mengurangi kerusakan pada jaringan lemak, protein, dan asam nukleat.

Teh eh teh...
Teh diyakini oleh masyarakat dunia memiliki berbagai banyak khasiat dan beberapa penelitian memang menunjukkan hal yang serupa. Teh dengan kandungan polifenolnya yang terkenal itu, dapat menghambat oksidasi dari LDL (low density lipoprotein-si lemak baik) sehingga menghambat perkembangan arterosklerosis yang memungkinkan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Selain itu efek hipokolesterolemik juga berkontribusi pada perlindungan dari penyakit jantung.
Pada model tikus (percobaan dengan tikus maksudnya) teh memperlihatkan efek penghambatan terhadap karsinogenesis (proses pembentukan kanker) yang lagi-lagi ditunjukan oleh keluarga polifenol.

On the other side of the looking glass
Dari segala hal kemampuan teh dalam menolong manusia meningkatkan kualitas hidupnya, tersimpan juga sisi lain dari sisi baik. Polifenol teh memiliki kecenderungan kuat untuk berikatan dengan protein dan berbagai mineral. Sehingga dimungkinkan mengakibatkan penurunan absorbsi asupan protein (terutama jenis prolin) dan mineral-mineral oleh tubuh. Kita bisa mengambil kesimpulan mencampur susu bersama teh atau meminum susu berbarengan dengan teh, hampir bisa dipastikan menyebabkan efek baik susu menjadi tidak berguna. Meskipun demikian studi lebih lanjut mengenai efek tidak bersahabat dari teh tetap dilakukan.
Konsumsi terlalu banyak dari teh dapat berakibat pada gangguan nutrisi akibat dari kecenderungan kuat polifenol dalam berikatan serta kandungan kafeinnya, meskipun demikian tidak ada data yang benar-benar menunjukkan bahwa hal tersebut membahayakan bagi nyawa manusia.

Mari ngeteh, mari bicara

Dan memang teh menjadi minuman nikmat peneman perbincangan, karena dirasakan dapat memberikan sensasi relaksasi saat meminumnya. Sebuah senyawa bernama L-Theanine yang bertanggung jawab atas efek ini. L-Theanine merupakan asam amino istimewa pada teh dan memberikan apa yang disebut sebagai rasa ke-5. L-Theanine akan menstimulasi perubahan gelombang otak ke gelombang alfa (hal yang sama juga didapat jika bermeditasi) sehingga menciptakan sensasi relaksasi yang dalam. Selain itu L-Theanine juga mempengaruhi kadar dopamin dan seretonin dalam otak yang memproduksi efek relaksasi.
Dan dari secangkir teh tentunya banyak yang kita peroleh...

Let's have a cup of tea...




Pustaka:
1. Wikipedia
2. Yang dan Landau. 2000. The Journal of Nutrition.
3. NaturDoctor.com

Read More..

Rabu, 22 Desember 2010

Amankah Habbatussaudah ?

Habbatussaudah yang dikenal di Indonesia sebagai jinten hitam, menjadi bahan produk-produk herbal yang laku di pasaran. Banyak produsen produk herbal tersebut yang mencatut hadist Rasulullah saw,“Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)” (HR. Muslim), tentunya menjadi nilai tambah untuk menarik konsumen yang beragama Islam.

Ketika kita berbicara mengenai obat atau suplemen (baik berbahan kimia sintesis atau bahan alam) maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: kualitas produk, keamanan, dan efikasinya. Ketiga hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena berhubungan dengan kondisi konsumen yang akan mengonsumsinya. Anda bisa bayangkan jika suatu produk obat/suplemen tidak memperhatikan tiga hal tersebut maka konsumenlah yang akan menjadi korban.

Habbatussaudah atau jinten hitam sebagai obat/suplemen yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit pun ternyata memiliki efek-efek yang tidak diinginkan. Padahal selama ini, perhatian masyarakat adalah pada khasiat dari suatu produk herbal tanpa lebih lanjut memikirkan bagaimana keamanan dari produk tersebut.

Hasil penelitian oleh Zaoui, et.al. (2002) menunjukkan adanya efek toksisitas akut dan kronis yang dihasilkan oleh ekstrak minyak dari Nigella sativa. Pemberian sampel secara oral pada tikus percobaan menunjukkan LD50 sebesar 2,06 ml/berat badan. Pengamatan pada konsentrasi dari enzim hepatik menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti, namun kadar serum glukosa, trigeliserida, dan kolesterol darah turun dengan drastis. Hal ini diikuti dengan timbulnya penurunan berat badan pada hewan coba. Penelitian ini juga meliputi sistem hematologi dari hewan coba. Pada penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan kadar hemoglobin serta penurunan kadar leukosit dan trombosit secara signifikan. Selain itu penelitian secara in vitro juga menunjukkan adanya kematian sel limfosit oleh ekstrak Nigella sativa.

Alhamdulillah, ternyata dapat kita simpulkan ekstrak Nigella sativa hanya memiliki efek toksisitas yang rendah dengan ditunjukkan tingginya angka LD50 dan stabilitas dari enzim hepatik pada hewan coba. Oleh karena itu Nigella sativa memiliki kisaran indeks keamanan yang lebar. Meskipun demikian, penggunaan ekstrak Nigella sativa perlu diperhatikan terutama pada pasien-pasien yang juga mengkonsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sel darah putih dan trombosit.

Pustaka:
Zaoui A, Y. Cherrah, N. Mahassini, K. Alaoui, H. Amarouch, M. Hassar. Acute and Chronic Toxicity of Nigella sativa Fixed Oil. Phytomedicine 2002; 9: 69-74.



Read More..

Senin, 06 Desember 2010

Keamanan dan Kualitas Produk Herbal

Studi mengenai efikasi dan keamanan terhadap produk herbal berkembang dengan pesat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Banyaknya orang-orang yang beralih ke pengobatan alternatif (terutama terapi herbal) dan keterbatasan pengetahuan tentang terapi herbal itu sendiri di kalangan petugas medis, menjadikan aspek keamanan dan standarisasi dari suatu produk herbal sangat dibutuhkan.

Masyarakat dan beberapa pihak profesional di bidang kesehatan percaya bahwa obat-obat herbal lebih aman karena lebih alami, namun data-data penelitian yang mendukung asumsi tersebut tidaklah banyak. Efek samping dari suatu produk herbal tetaplah ada yang meliputi efek toksik dari zat aktifnya, efek-efek dari kontaminan yang mungkin ada pada sediaan obat herbal, serta interaksi antara obat herbal dengan obat lainnya.

Kontaminan-kontaminan yang mungkin saja dapat mengontaminasi suatu produk herbal dapat berupa logam-logam berat, seperti timbal, merkuri, arsen atau bahan-bahan farmasetik yang sengaja ditambahkan pada sediaan herbal agar timbul efek farmakologis yang diinginkan. Selain itu kontaminasi dapat berasal dari mikroorganisme akibat proses pembuatan yang tidak baik.


Tumbuhan-tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan juga memiliki kemiripin kinerja dengan obat-obat konvensional. Hal ini karena, pada dasarnya tumbuhan-tumbuhan tersebut mengandung senyawa-senyawa kimia tertentu yang pada tubuh manusia bersifat aktif secara biologis. Oleh karena alasan inilah pemberian kombinasi obat herbal dengan obat konvesional dapat mengakibatkan efek-efek yang tidak diinginkan. Interaksi ini sama seperti interaksi obat pada obat-obat konvensional yang dapat berefek pada farmakokinetika obat, seperti absoprsi, metabolisme, dan eliminasi obat. Selain terhadap obat konvensional, interaksi dapat juga terjadi antara obat herbal dengan enzim-enzim yang memetabolisme obat. Sebagai contoh interaksi dengan enzim-enzim di hati, seperti isoenzim sitokrom (CYP) P450 dapat berefek besar, karena CYP P450 merupakan enzim yang memetabolisme hampir sebagian besar jenis obat yang masuk ke dalam tubuh. Sulitnya pemeriksaan terhadap efek-efek obat herbal yang mungkin timbul dalam tubuh manusia menjadi hal lain yang penting untuk diperhatikan.

Pustaka:
Rodriguez-Fragoso L, J. Reyez-Esparza, S.W. Burchiel, D. Herrera-Ruiz, Eliseo Torres. Risks and Benefits of Commonly Used Herbal Medicines in Mexico. Toxicology and Applied Pharmacology 2008; 227: 125-135.




Read More..

Minggu, 26 September 2010

Uji Kit Test Kehamilan

Kit Test Kehamilan adalah sebuah set alat yang dapat digunakan untuk mengetahui kehamilan secara praktis. Sama seperti alat-alat yang dipakai dalam dunia kesehatan, Kit tes kehamilan pun perlu diuji alatnya untuk menjamin kualitas dari kit tersebut. Berikut beberapa uji yang dilakukan:

Uji Sensitivitas dan Spesifitas
Kit uji kehamilan pada umumnya menggunakan prinsip pengukuran hCG pada urin manusia. Sebelum dilakukan pengujian pada kit uji kehamilan, terlebih dahulu dilakukan kuantifikasi terhadap kadar hCG pada sampel urin manusia. Proses pengukuran ini dapat menggunakan metode immunokromatografi. Pada prinsipnya reaksi imunologi terjadi pada kertas kromatografi melalui aksi kapilaritas. Pada sistem ini menggunakan dua jenis antibody-antigen spesifik. Salah satu antibody ditempatkan pada kertas kromatografi (fase diam) dan lainnya dilabel dengan koloid emas (colloidal gold) dan diinfiltrasi ke tempat sampel (sample pad). Ketika cairan sampel diteteskan pada tempat sampel, maka akan terbentuk kompleks imun dengan antibodi yang dilabeli dengan koloid emas. Kompleks tersebut akan bergerak bersama dengan cairan sampel dan akan berinteraksi dengan antibodi yang ada pada kertas kromatografi dan menghasilkan garis berwarna merah ungu (Anonim, 2007). Selanjutnya kadar urin dianalisis berdasarkan pola kromatogram yang terbentuk.

Pada metode ini menggunakan sukarelawan wanita hamil (sampel positif) dan pria atau anak-anak (sampel negatif). Kadar hCG pada urin sukarelawan kemudian diperiksa menggunakan metode immuno kromatografi ataupun immuno-enzimologi. Selanjutnya seri sampel urin disiapkan untuk diperiksa dengan kit yang akan diuji. Urin yang memperlihatkan hasil negatif diuji sebanyak 14-16 kali, urin yang menunjukkan hasil positif dengan konsentrasi hCG yang diatur sampai pada batas deteksi kit diuji sebanyak 27-30 kali, dan urin yang menunjukkan hasil positif dengan konsentrasi hCG yang diatur hingga dua kali lipat dari batas deteksi kit diuji sebanyak 14-16 kali (Daviaud, 1993)
Pembacaan hasil uji dengan cara:
Spesifisitas = (negatif benar ×100%)/((negatif benar +positif palsu) )
Sensitifitas = (positif benar ×100%)/((positif benar+negatif palsu))
Akurasi = ((positif benar +negatif benar)×100% )/(jumlah sampel)

Uji Stabilitas dipercepat
Stabilitas dari kit tes kehamilan dapat diperiksa melalui uji stabilitas dipercepat. Metode ini dilakukan dengan cara menyimpan kit pada suhu 37°C selama tujuh minggu. Pada setiap minggu, tiap kit dikalibrasi menggunakan kontrol serum hCG WHO, 3rd IS 75/537, yang diencerkan sampai tingkat deteksi yang masih bisa diukur. Uji stabilitas dipercepat dihentikan bila hasil dari dua pengukuran kit yang disimpan pada suhu 37°C berturut-turut memperlihatkan perbedaan dari kit dari batch yang sama yang disimpan pada kondisi yang dipersyaratkan oleh pabrik (Daviaud, 1993).
Pustaka:
Anonim. 2007. Principle of Immunochromatography Kit. URL: http://www.bl-inc.jp/imno_e.html. Diakses pada 26 September 2010.

Daviaud, Jolle, Dominique Fournetm Chantal Ballongue, Guy-Pierre Guillem, Alain Leblanc, Claude Casellas, dan Bernard Pau. 1993. Reability and Feasibility of Pregnancy Home-Use Test: Laboratory Validation and Diagnostic Evaluation by 638 Volunteers. Clin. Chem 39 (1): 53-59.

Read More..

Selasa, 24 Agustus 2010

Mikroorganisme Endofit: Sumber Potensial Obat Alami


Masalah kesehatan merupakan masalah penting bagi umat manusia. Tidak dapat dipungkiri, berbagai penyakit yang mendunia (seperti AIDS, Flu Burung, Diabetes, penyakit jantung) menjadi tantangan utama bagi para praktisi kesehatan maupun peneliti untuk dapat menemukan agen terapi maupun cara terapi yang lebih baik. Saat ini obat-obat sintetik mulai kehilangan pamornya sebagai akibat efek samping yang ditimbulkannya serta efekasi dari obat tersebut yang menurun dari masa ke masa.

Masyarakat dunia pun mulai melirik pengobatan alami (herbal) sebagai alternatif. Sebagian besar masyarakat dunia percaya bahwa obat herbal lebih aman dibandingkan dengan obat sintetik. Hal ini bermula dari anggapan bahwa semua yang zat yang berasal dari alam lebih ramah bagi tubuh. Pernyataan ini tentunya tidak sepenuhnya benar, karena pada dasarnya tubuh tidak membedakan asal zat yang masuk ke dalamnya, apakah dari alam atau sintetik. Selama zat-zat yang masuk ke dalam tubuh mudah untuk diekskresikan dan tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada sistem tubuh maka zat tersebut boleh dikatakan aman. Obat herbal pun jika diberikan pada dosis yang tidak benar, tetap akan berefek tidak baik bagi tubuh. Sehingga pandangan bahwa obat herbal sudah pasti aman perlu diluruskan terutama obat-obat herbal yang sudah dalam bentuk ekstrak.

Kekurangan terbesar dari obat herbal adalah masalah penyediaan bahan baku dan standardisasinya. Obat herbal menjadi lambat berkembang boleh jadi disebabkan sulit dipenuhinya bahan baku yang terstandar bagi industri. Tentunya akan bermasalah bila bahan baku yang digunakan umtuk memproduksi obat tidak memiliki standar yang sama karena akan menjadi tidak sama pula efeknya. Selain itu diperlukan penyediaan lahan yang cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut. Jika kita melihat di Indonesia maka ketersediaan lahan tentunya hanya bisa didapat di daerah-daerah saja. Kemudian akan timbul masalah baru jika para petani tidak ingin mengkonversi lahannya menjadi lahan tanaman obat. Secara ekonomis akan lebih menguntungkan jika menanam tanaman yang lebih dibutuhkan banyak orang, seperti tananaman-tanaman pangan. Selain itu penjagaan mutu tanamannya pun memerlukan usaha tersendiri.
Zat kimia bahan alam memiliki potensi yang besar sebagai sumber obat-obat baru. Saat ini hampir 49% zat kimia berkhasiat yang baru diregistrasikan ke FDA merupakan produk alam ataupun derivatnya. Sebuah fakta lagi bahwa obat antikanker super-mahal, paclitaxel (Taxol), merupakan turunan dari produk berbahan dasar alam. Melihat potensi besar ini maka kebutuhan akan sumber selain tanaman merupakan hal yang penting. Untungnya ditemukanlah sumber baru yaitu mikroorganisme endofit.


Mikroorganisme endofit dapat didefinisikan sebagai mikroorganisme yang hidup secara berkoloni pada jaringan internal tumbuhan tanpa menyebabkan efek negative bagi tumbuhan tersebut. Sebagian besar mikroorganisme endofit memang hidup bersimbiosis mutualisme dengan tumbuhan inangnya. Mikroorganisme endofit dapat berupa bakteri ataupun jamur dan dinilai menjadi sumber penting bagi zat berkhasiat. Banyak penelitian mengemukakan bahwa mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat metabolit sekunder yang sama dengan tumbuhan inangnya. Banyak peneliti percaya bahwa alasan mengapa mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat yang sama dengan tumbuhan inangnya adalah karena rekombinasi genetik yang terjadi antara mikroorganisme endofit dengan tumbuhan inangnya dalam waktu yang lama.

Keuntungan besar dari fakta tersebut tentunya berefek pada masalah ekonomi. Masalah penyediaan lahan, lamanya waktu menanam, standardisasi bahan baku dapat teratasi. Sebagaimana mikroorganisme lainnya, mikroorganisme endofit tidak memerlukan lahan yang luas untuk dapat menghasilkan zat kimia yang sama dengan tumbuhan inangnya, selain itu waktu panennya pun lebih cepat. Pertumbuhan mikroorganisme endofit yang dikontrol di dalam laboratorium memudahkan standardisasinya. Efek selanjutnya adalah pada turunnya harga produk yang dihasilkan nantinya. Namun tentunya tidak semua mikroorganisme endofit dapat menghasilkan zat metabolit sekunder yang sama dengan inangnya. Oleh karena itu proses penelitian lebih lanjut pun tetap diperlukan.

Mikroorganisme endofit memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai sumber zat kimia bahan alam yang memiliki khasiat farmakologis maupun mengobati penyakit-penyakit infeksius. Meskipun jalan menuju pemanfaatannya secara optimal masih panjang namun secercah cahaya harapan tersebut masih ada.

Pustaka:
Strobel, Gary dan Bryn Daisy. 2003. Bioprospecting for Microbial Endophytes and Their Natural Products. Microbiol. Mol. Biol. Rev 67(4): 491-502.

Read More..

Jumat, 07 Mei 2010

Uji Antioksidan


Aktifitas antioksidan tidak dapat diukur secara langsung, melainkan melalui efek antioksidan dalam mengontrol proses oksidasi. Banyak metode yang bisa digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan. Pada pengukuran aktifitas antioksidan perlu diperhatikan sumber radikal bebas dan substrat. Hal ini dikarenakan antioksidan mungkin dapat melindungi lipid dari kerusakan oleh radikal bebas, namun di waktu yang sama dapat mempercepat kerusakan molekul sel lainnya. Untuk mengatasi masalah ini dapat digunakan beberapa metode pengukuran aktifitas antioksidan untuk mengevaluasi efek dari antioksidan. Berikut ini adalah metode yang sering digunakan untuk mengukur aktifitas total antioksidan total suatu senyawa:


1.Uji DPPH
DPPH atau 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (α,α-difenil-βpikrilhidrazil) merupakan suatu radikal bebas yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari elektron bebas pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 520 nm.
Ketika larutan DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, maka warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan tereduksinya DPPH.
Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode ini berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Hasil dari uji ini diinterpretasikan sebagai EC50, yaitu jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH sebesar 50%. Pada metode ini tidak diperlukan substrat sehingga memiliki keuntungan, yaitu lebih sederhana dan waktu analisis yang lebih cepat.

2.Uji ABTS
Asam 2,2’-Azinobis(3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS) merupakan substrat dari peroksidase, di mana ketika dioksidasi dengan kehadiran H2O2 akan membentuk senyawa radikal kation metastabil dengan karakteristik menunjukan absorbansi kuat pada panjang gelombang 414 nm. ABTS merupakan senyawa larut air dan stabil secara kimia.
Akumulasi dari ABTS dapat dihambat oleh antioksidan pada medium reaksi dengan aktivitas yang bergantung waktu reaksi dan jumlah antioksidan. Kemampuan relatif antioksidan untuk mereduksi ABTS dapat diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 734 nm. Absorbansi maksimal juga dapat terjadi pada panjang gelombang yang lain. Panjang gelombang yang mendekati daerah infra merah (734 nm) dipilih untuk meminimalkan interfensi dari absorbansi komponen lainnnya.
Hasil pengukuran dengan spektrofotometer selanjutnya dibandingkan dengan standar baku antioksidan sintetik, yaitu trolox yang merupakan analog vitamin E larut air. Hasil perbandingan ini diekspresikan sebagai TEAC (Trolox Equivalent Antioxidant Activity). TEAC adalah konsentrasi (dalam milimolar) larutan trolox yang memiliki efek antioksidan ekuivalen dengan 1,0 mM larutan zat uji. TEAC mencerminkan kemampuan relatif dari antioksidan untuk menangkap radikal ABTS dibandingkan dengan trolox.

3.Uji TRAP
Pengujian TRAP atau Total Radical-Trapping Antioxidant Parameter bekerja berdasarkan pengukuran konsumsi oksigen selama reaksi oksidasi lipid terkontrol yang diinduksi oleh dekomposisi termal dari AAPH (2,2’-Azobis(2-aminidopropana)hidroklorida) untuk mengukur total aktivitas antioksidan. Hasil uji ini diekspresikan sebagai jumlah (dalam mikromol) radikal peroksil yang terperangkap oleh 1 liter plasma. Pengukuran serum TRAP berdasarkan penentuan lamanya waktu yang diperlukan oleh serum uji untuk dapat bertahan dari oksidasi buatan.

4.Uji FRAP
Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) bekerja berdasarkan reduksi dari analog ferroin, kompleks Fe3+ dari tripiridiltriazin Fe(TPTZ)3+ menjadi kompleks Fe2+, Fe(TPTZ)2+ yang berwarna biru intensif oleh antioksidan pada suasana asam. Hasil pengujian diinterpretasikan dengan peningkatan absorbansi pada panjang gelombang 593 nm dan dapat disimpulkan sebagai jumlah Fe2+ (dalam mikromolar) ekuivalen dengan antioksidan standar.


pustaka
Antolovich, Michael, Paul D. Prenzler, Emilios Patsalides, Suzanne McDonald, Kevin Robards. 2002. Methods for Testing Antioxidant Activity. Analyst. 127: 183-198.

Molyneux, Philip. The Use of the Stable Free Radical Diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci. Technol. 26(2): 211-219.


Read More..

Minggu, 18 April 2010

Alami Tidak Selalu Aman


Obat-obat herbal, seperti jamu dan obat-obat dalam bentuk ekstrak tumbuhan, hingga saat ini dipercaya secara umum tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh, benarkah demikian ? Perbedaan paling mendasar antara obat herbal dan obat sintetik adalah dari segi asal zat aktif yang terkandung di dalamnya. Zat aktif dari obat-obat sintetik dibuat berdasarkan sintesis kimia, seperti mereaksikan zat A dengan zat B, yang proses sintesis tersebut tentunya bukan hal yang sederhana. Pada obat-obat sintetik, zat aktif yang terkandung di dalamnya diharapkan merupakan senyawa murni (bukan berarti dalam satu obat hanya ada satu zat aktif saja) karena pengontrolan terhadap penetapan dosis dan efek toksik sangatlah penting. Bayangkan jika ternyata ada senyawa pengotor lain (bahkan senyawa yang hanya memiliki perbedaan pada bidang polarisasinya saja, bukan strukturnya termasuk senyawa pengotor) maka akan menjadi sangat sulit untuk memprediksi efek-efeknya pada tubuh.


Berbeda dengan obat sintetik, zat-zat aktif yang terdapat pada obat-obat herbal berasal langsung dari tumbuhan. Pembuatan obat-obat herbal sendiri bermacam-macam mulai dari langsung menggunakan bagian tumbuhan yang dipercaya berkhasiat hingga mengekstrak zat kimia tumbuhan yang diketahui memiliki efek farmakologis, bahkan sampai mengisolasinya. Senyawa-senyawa kimia pada tumbuhan umumnya bukanlah senyawa murni. Senyawa tersebut biasanya berikatan dengan senyawa-senyawa lain, seperti gula dan lain sebagainya. Hingga saat ini alasan tersebutlah yang diasumsikan membuat obat herbal menjadi lebih ramah bagi tubuh.

Kepercayaan masyarakat umum sekarang menganggap obat herbal pasti aman. Namun hal tersebut perlu dikaji ulang. Pada dasarnya setiap obat merupakan zat kimia asing dari luar tubuh yang dapat menjadi pedang bermata dua. Meskipun obat herbal diketahui lebih aman dari obat sintetik, efek toksik dari obat herbal tetaplah ada. Sebagai contoh herbal sambiloto yang diketahui memiliki efek hepatoprotektif (melindungi hati) dan immunomodulator (pembangkit sistem imum), ternyata tetap memiliki efek samping, seperti anoreksia, gangguan pada saluran pencernaan, hingga syok anafilaksis jika diberikan melalui jarum suntik. Contoh lainnya adalah mahkota dewa yang dipercaya berkhasiat mengobati berbagai penyakit ini jika dikonsumsi secara langsung biji buahnya akan sangat beracun atau gambir yang digunakan sebagai anti diare, ternyata bila digunakan secara berlebihan justru akan berakibat pada kesulitan buang air besar. Sama seperti obat sintetik, efek samping timbul akibat konsumsi obat yang tidak sesuai. Dengan kata lain, obat herbal pun sama dengan obat sintetik, memiliki efek samping dan tidak akan selalu aman. Ibu hamil dan menyusui dan anak-anak tetap menjadi pihak yang rentang terhadap penggunaan obat, baik sintetik maupun herbal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat-obatan herbal antara lain:
•Keamanan obat herbal pada umumnya;
•Kandungan racun yang mungkin dikandung tanaman herbal yang digunakan;
•Efek yang merugikan pada organ tertentu, seperti sistem kardiovaskuler, sistem saraf, hati, ginjal dan kulit;
•Keamanan obat-obatan herbal untuk pengguna yang rentan, misalnya: anak-anak dan remaja, lansia, wanita selama kehamilan dan menyusui, pasien dengan kanker dan pasien bedah;
•Interaksi yang mungkin terjadi di antara komponen obat herbal;
•Waktu penggunaan yang tepat.

Obat herbal pada umumnya dipilih karena ketidakpercayaan terhadap obat sintetik, baik dari segi khasiat maupun efek samping. Meskipun demikian lebih baik lagi bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan. Lebih aman dan lebih murah.


Pustaka:
http://www.apoteker.info/Pojok%20Herbal/khasiat_medis_sambiloto.htm
http://www.smallcrab.com/kesehatan/687-efek-samping-pengobatan-herbal
WHO. 2002. WHO Monograph on Selected Medicinal Plants Vol.2. Geneva: World Health Organization, Hlm. 12-21

Read More..

POTENSI Andrographis Paniculata Nees SEBAGAI ANTI VIRUS HIV DAN VIRUS FLU BURUNG

Ringkasan

M. Gama Ramadhan*, Khairul Basyar*
*Mahasiswa Departemen Farmasi Universitas Indonesia

Penyakit yang disebabkan oleh virus hingga saat ini masih menjadi persoalan kesehatan yang belum terselesaikan. Berbagai macam obat telah ditemukan namun resistensi obat-obat tersebut menjadi penyebab ketidakefektifan terapi penyakit virus. Penyakit HIV (Human Imunodeficiency virus) dan virus flu burung menjadi penyakit yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Penyakit oleh virus ini telah menjadi pandemik di seluruh dunia. Kemoterapi oleh obat-obat kimia menimbulkan banyak efek samping bagi pasien serta resistensi bila digunakan dalam jangka waktu panjang. Hingga saat ini, masih belum ditemukan obat-obat anti virus yang benar-benar menyembuhkan penyakit HIV dan virus flu burung.

Bertolak dari permasalahan tersebut maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai obat-obat anti virus jenis baru. Calon-calon obat ini dapat berasal dari senyawa tumbuhan, seperti andrografolida. Sambiloto atau Andrographis paniculata sudah lama terkenal sebagai tanaman obat yang memiliki berbagai khasiat. Tanaman ini sudah lama digunakan sebagai jamu oleh masyarakat Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan adanya aktivitas anti virus, anti bakteri, dan anti malaria dari andrografolida dan turunannya. Andrografolida diperkirakan dapat menjadi inhibitor protease bagi HIV dan menghambat haemaglutinin dari virus virus flu burung. Hal ini mengindikasikan senyawa andrografolida dan derivatnya dapat menjadi obat baru dalam terapi HIV dan virus virus flu burung.

Potensi yang ditunjukkan oleh Andrographis paniculata cukup menjanjikan dalam pengembangan obat anti virus. Penentuan bentuk sediaan yang tepat merupakan hal yang penting untuk menjamin jumlah senyawa aktif yang adekuat dalam peredaran sistemik dan dapat diterima oleh pasien.


korespondensi penulis: gm_ramadhan@yahoo.com
Read More..

MANAJEMEN BENCANA GEMPA BERBASIS FARMASI

Ringkasan

Nisa Yulianti*, M. Gama Ramadhan*, Offi Eka Hartisyah*
*Mahasiswa Departemen Farmasi Universitas Indonesia

Bencana merupakan hal yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Namun, hal tersebut tidak berarti menghindari atau mengurangi dampak yang diakibatkannya. Bencana dapat ditanggulangi akibatnya jika terdapat suatu manajemen yang baik mengenai penanggulangan bencana. Bencana dapat muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah bencana gempa. Bencana gempa cukup banyak terjadi di Indonesia, sehingga menuntut masyarakat Indonesia untuk dapat menanggulanginya dengan baik. Bencana gempa tidak hanya dapat menimbulkan kerusakan pada infrastruktur saja tetapi juga dapat mengancam kesehatan korban bencana. Oleh karena itu, peran tenaga medis sangat diperlukan dalam mengantipasi kemungkinan gangguan kesehatan yang muncul saat dan pasca bencana gempa terjadi.

Bertolak dari permasalahan diperlukannya peran tenaga medis dalam mengoptimalkan penanggulangan bencana gempa, pemulis menggagas topik manajemen bencana gempa berbasis farmasi. Kenapa harus berbasis farmasi ? Hal ini dikarenakan masih sedikitnya peran farmasis dalam merespon bencana yang terjadi. Selain itu permasalahan kesehatan yang timbul mengindikasikan diperlukannya tenaga ahli yang mampu mengatur logistik obat-obatan sehingga dapat menjamin ketersediaan obat-obatan yang diprioritaskan, pemberian informasi obat kepada pasien, dan pengawasan penggunaannya

Manajemen bencana yang baik menjadi suatu keharusan agar dapat meminalisir segala kerugian yang terjadi. Manajemen bencana yang baik akan dapat timbul jika ada koordinasi yang baik antara pihak-pihak terkait dan sinergisitas pada pelaksanaannya.


korespondensi penulis: gm_ramadhan@yahoo.com
Read More..