Selasa, 30 Agustus 2011

Ied Mubarak 1432H !


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H
Mohon maaf atas segala khilaf (terutama jika ada tulisan-tulisan yg tidak berkenan di hati)
Taqabballahu minna wa minkum
Taqabbal ya karim


Read More..

Rabu, 24 Agustus 2011

Bang Pitung dan Kompeni

Kali ini berlatar belakang sejarah dari tanah betawi, jagoan yang dicintai oleh rakyat kecil juga ditakuti oleh pemerintah berkuasa saat itu, siapa lagi kalau bukan Bang Pitung. Berkisar di akhir abad ke 19, di daerah rawa belong, terhidupkanlah seorang jagoan yang diceritakan tidak hanya punya silat yang mumpuni untuk membuat takut para belanda namun juga disebut pandai mengaji dan belajar ilmu tarekat keIslaman. Bang Pitung, sosok ini hebat dan memang nyata, dikatakan membela rakyat betawi saat itu yang sedang dijajah oleh Belanda dengan sistem tanam paksanya. Namun dari kaca mata kompeni, Bang Pitung hanyalah seorang pengacau yang mengancam keamanan VOC karena ulahnya yang sering membuat repot kompeni. Potensi ancaman keamanannya yang sedemikian besar membuat pemerintahan hindia belanda memberlakukan status ‘dicari, hidup atau mati’.

Legenda ini hidup dan tidak boleh hilang dari sejarah tanah betawi. Namun pada kenyataannya sudah banyak hilang kisah patriotisme Bang Pitung dari cerita-cerita anak muda betawi. Bisa dibayangkan banyak anak muda betawi yang sudah termakan arus modernisasi dan lebih senang ngumpul di mall-mall daripada duduk di surau untuk belajar mengaji atau ilmu tentang Islam seperti yang dilakukan Bang Pitung dulu. Maka saya punya kisahnya sedikit dan saya bagikan kepada anak-anak di daerah kukusan yang mengikuti pesantren kilat Ramadhan for Kids. Saya ceritakan kisahnya sedikit dalam bentuk drama yang mereka mainkan dengan senang hati, meskipun ada malu karena disaksikan teman sebayanya. Saya bagikan juga kepada pembaca, naskah dramanya.

Naskah Drama Si Pitung vs Kompeni


Balada Si Pitung dan Kompeni

Dalang:
Pendahuluan
Alkisah di suatu masa di tanah Betawi, tersiarlah sebuah kabar adanya jagoan Betawi yang berani dan dapat mengalahkan banyak orang-orang kompeni Belanda. Orang tersebut sangat sakti, jago dalam berkelahi dan kebal terhadap peluru senjata kompeni.

Scene 1
[si pitung maju sendiri ke atas panggung dan berbicara kepada penonton]
Pitung: Oi penonton. Aye ini Pitung, anak asli betawi, aye bakal hajar pade orang belande yg udah jajah nih tanah betawi. Penonton, entar liat ye, aksi aye dlm menghajar orang belande setelah pesan-pesan berikut ini……
[si pitung keluar panggung]

Scene 2
[rakyat jelata masuk panggung dalam keadaan habis dijorokin oleh tentara belanda dan berbicara kepada penonton]
Rakyat jelata 1: Eh penonton, kgk kasian ape ngeliatin kite dibeginiin? Dasar emang nih kompeni bisanye nyiksa rakyat kecil aje
Rakyat jelata 2: Iye ni penonton, tuh kompeni bisanye nyiksa doang, kite kgk pernah dikasih makan, lapeer nih. *eh emang lg puasa yee…
[tentara belanda masuk sambil menodongkan senjata ke arah rakyat jelata dan berbicara kepada mereka]
Tentara 1: woi, overdome, kamu orang ngapain aja pada kagak kerja. Ayo kerja atau kita bedil kepala-kepala kamu pada. Jangan pada malas
[sisa tentara lainnya ikut juga mengancam rakyat jelata]
[si Pitung tiba-tiba datang, berbicara kpd para tentara dan melawan mereka]
Pitung: Oi, kalian pade ngapain nyiksa rakyat kecil. Kalo berani hadapin aye, Si Pitung.
Dalang:
dan pertempuran pun terjadi. Para tentara belanda memberondong si pitung dengan senapannya, namun dengan kesaktiaannya si pitung bisa menghindari semua peluru tersebut dan menghajar satu persatu para tentara Belanda, sehingga mereka jatuh terkapar.
Dan begitulah hingga pada akhir hayatnya si Pitung terus berjuang membela rakyat betawi dan melawan para penjajah kompeni Belanda. Hingga hari ini kisah kepahlawan si Pitung yang berani melawan kedzaliman Belanda tetap melegenda dan hendaknya kita sebagai generasi muda bisa mengambil pelajaran dari kisah kepahlawanan si Pitung.
[fin]

salah satu adegan dimana pitung mengalahkan belanda

Balada ini berdurasi kurang lebih 5-10 menit dengan canda tawa di sana-sini. Dan diakhir pertunjukannya beberapa anak lainnya ternyata protes, mereka berprotes, “Pitung kan mati ka ditembak peluru emas oleh Belanda”. Begitulah cerita yang beredar. Dan ternyata bocah-bocah ini, ditengah dahsyatnya game online yang merajalela, masih tahu kisah akhir dari Bang Pitung.

si pitung dan tentara kompeni -setelah balada selesai-

Dan Bang Pitung memang mati, ditembak peluru emas polisi belanda schout van Hinne dalam suatu penggerebekan. Peluru biasa sudah tidak mampu menghadang Bang Pitung karena dikabarkan Abang kita ini punya ilmu rawa rontek. Di antara superhero fiksi yang dibuat oleh Marvell dan teman-teman lainnya, kita justru memiliki superhero nyata yang membela rakyat lemah dan berani melawan penguasa yang lalim, dan inilah Bang Pitung kita.

Referensi: Alwi shahab. 2008. Hari-hari akhir si Pitung. alwishahab.wordpress.com/2008/04/15/hari-hari-akhir-si-pitung/. [diakses 24 Agustus 2011].

Read More..

Jumat, 05 Agustus 2011

Membersamai anak-anak


You can learn many things from children. How much patience you have, for instance. (Franklin P. Jones)

Ada canda-tawa yang mungkin masih kita ingat di masa-masa kecil kita. Keceriaan, kejenakaan, betapa polosnya kita, semua lepas dalam kegembiraan bermain bersama, di kelas, lapangan, hingga persawahan tempat kita bermain petasan saat bulan puasa. Senyum mungkin akan tetap terselip di bibir kita ketika mengingat semua hal tersebut.

Betapa tidak, di tengah kedewasaan yang menyediakan tidak hanya kesempatan yang begitu luas akan masa depan, tetapi juga misteri akan kehidupan, ketakutan-ketakutan akan masa depan yang tidak pasti, dan ketidaktahuan akan hal-hal yang berseliweran di sekitar kita. Tanggung jawab adalah pembebanan alami yang dialami setiap anak manusia yang berniat menjadi dewasa. Menjadi tua adalah suatu keniscayaan, namun menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang sama-sama kita pahami akan konsekuensinya.

Mengingat canda-tawa lama

Sejatinya kita perlu melakukan kontemplasi secara regular, meninjau perjalanan yang sudah kita lewati, cita, target dan ambisi yang sudah atau belum tercapai, kegemilangan dan kegagalan masa lalu. Sejenak saja, kemudian kembali kita melihat hari ini dan menjangkau masa depan. Perenungan adalah salah satu cara, bagaimana kita bisa mengingat masa kecil dahulu. Adakah hangat kebahagiaan di sana atau kesusahan yang mendera-dera ? Apapun, saya yakin ada hikmah di dalamnya, meninggalkan permasalahan apakah kita sanggup memaknainya dengan hakiki atau tidak.
Keceriaan anak-anak, membersamai mereka di dalam kegembiraan yang begitu polos, merefleksikan bayangan masa lalu kita saat kanak-kanak. Begitu dekat seolah terlihat jelas bayangan-bayangan canda-tawa kita di masa lalu. Ada pertengkaran pula di dalamnya, namun kita menyaksikan dengan begitu ajaibnya mereka akan berbaikan kembali, tertawa lepas bersama lagi. Keajaiban masa kecil yang terkadang kita lupakan atau malah hilang seiring dengan hempasan waktu dan keadaan.

Refleksi kecil kita


Dan sebuah refleksi kecil kita pada akhirnya membawa kita pada masa sekarang, memberikan kita pelajaran bahwa kita pun perlu belajar dari anak-anak. Dewasa membawa kematangan dan pengetahuan akan dunia, dan kenangan masa kecil kita dapat menjadi sumber inspirasi tiada batas. Mungkin sejenak kita perlu berpikir ulang, memaknai setiap detik-detik perjalanan hidup kita. Membersamai mereka akan membuat kita kembali menemukan inspirasi untuk menjalani hidup ini dengan sepenuh hati, sepenuh senyum anak-anak yang menerima minuman segelas coklat hangat.


Read More..