Ada yang lebih spesial kali ini dari sekedar kunjungan kedua ke Jepang, ini kali pertama saya menjalankan tigaperempat bulan Ramadhan di negeri orang, ini kali pertama saya berpuasa selama sekitar 15 jam. Berpuasa di negeri dengan penduduk mayoritas nonmuslim sebenarnya bukan suatu masalah, apalagi jika mereka juga mengerti hal yang sedang kita lakukan. Jika ada hal yang berbeda dari hari biasa adalah bahwa saya absen dari makan siang bersama anggota lab lainnya. Karena memang sedang berpuasa, maka saat istirahat saya isi dengan kembali melanjutkan pekerjaan di lab. Satu hal lagi yang sangat berbeda tentu saja tidak ada pasar kaget penjual kolak pisang, pacar cina, atau kue-kue basah di kanan kiri jalan atau orang-orang yang menghabiskan waktu menunggu maghrib seperti di Indonesia.
Meskipun belum memasuki puncak musim panas di bulan Agustus, matahari bersinar lebih lama dari pada musim lainnya. Di sini, kita sudah memasuki waktu subuh di sekitar jam 3 pagi dan menjemput waktu maghrib di sekitar jam setengah 7. Durasi puasa memang berkisar 15 jam, terlihat berat apalagi di musim panas, tetapi jika dijalani ternyata biasa saja. Apalagi jika kamu menghabiskan lebih dari setengah waktu kamu di lab. Menjalani puasa di sini, Alhamdulillah, banyak diberi kemudahan karena pihak asrama TBIC pun menfasilitasi bagi para penghuni muslim, makanan untuk sahur. Pada malam sebelumnya, mereka yang berpuasa akan mengisi semacam borang yang berisikan menu untuk sahur. Variasi menunya tidak banyak, tetapi jenisnya cukup lengkap dari nasi/roti/cornflake, ada lauknya berupa ayam, serta minuman sari buah ataupun susu. Mas Andi, sebagai ketua komunitas WNI di TBIC, pun berhasil melobi pihak TBIC untuk menyediakan ruangan shalat yang lebih luas di lantai 2 selama bulan Ramadhan. Cukup kiranya memuat belasan muslim yang hendak bertarawih bersama di TBIC. Tarawih pun menjadi hal yang sangat berkesan di Ramadhan tahun 2013, karena inilah pertama kalinya saya berjamaah dengan muslim dari berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Afrika, baik berkulit hitam maupun bule. Imam tarawih biasa dipimpin oleh seorang saudara Muslim dari Mesir yang bersuara merdu setiap kali membaca ayat-ayat Qur’an. Selain itu, setiap hari kami bergantian menyediakan ta’jil untuk berbuka bersama, sekedar sirup dan kurma yang dinikmati bersama-sama.
Di Tsukuba terdapat satu masjid yang biasa dijadikan semua komunitas muslim dari berbagai benua yang tinggal di Tsukuba untuk shalat jum’at berjamaah. Kamu jangan membayangkan sebuah masjid dengan kubah di tengah dan tiang-tiang penyangga berwarna putih atau lainnya. Masjid Tsukuba merupakan rumah (saya kurang tahu apakah hanya menyewa atau sudah dibeli) yang cukup besar dan memiliki 3 ruangan utama: ruang shalat pria, ruang shalat wanita, dan ruang untuk pengurus masjid. Di sampingnya terdapat semacam toko yang menjual macam-macam pangan halal. Meskipun demikian, di sini merupakan pusat komunitas muslim Tsukuba berkumpul, bercengkrama, dan saling berbagi persaudaraan, cinta, serta keimanan. Sepertinya sudah menjadi tradisi untuk melaksanakan buka puasa bersama setiap akhir pekan di sini. Biasanya pelaksana buka puasa dibagi per komunitas Muslim, misalnya pada minggu pertama dilaksanakan oleh komunitas muslim dari Timur Tengah yang menyediakan nasi biryani atau minggu kedua dilaksanakan oleh komunitas muslim dari Indonesia-Malaysia yang kali ini menyediakan menu ayam kecap, capcai, lumpia, hingga brownies kukus. Perjalanan dari TBIC menuju masjid sekitar satu jam yang ditempuh dengan naik sepeda. Seperti biasa, saya ke sana bersama Mas Andi dan Mas Suryo.
Masjid Tsukuba
Buka puasa bersama minggu pertama dengan menu utama nasi biryani
Buka bersama minggu kedua disiapkan oleh komunitas muslim Indonesia dan Malaysia. Saya pun ikut bantu-bantu mempersiapkannya :))
Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2013 memang jadi Ramadhan yang demikian istimewa, bukan karena dijalani di negeri orang, melainkan betapa gembiranya bersua dengan saudara-saudara Muslim dari berbagai negara. Menjadi minoritas di negara lain memang membuat rasa persaudaraan dan kedekatan hati menjadi begitu terasa, tetapi bukan tentang itu, bukan hanya itu, Allah sedemikian baiknya mendekatkan hati-hati sesama muslim, memperingankan langkah-langkah kaki bersilaturahim serta tangan kita bersalaman, dan mulut kita yang tersungging senyum seraya berucap salam. Semoga Allah memberkahi tiap jumpa dan salam kita, semoga Allah merahmati tiap silaturahim yang senantiasa dihubungkan. Allahu yubarik fiikum
Apa yang akan kamu tuliskan pada sebuah blog? Kontemplasi sarat makna? Rekaman cerita-cerita sewaktu? Kisah-kisah istimewa penuh inspirasi? Atau ricauan tentang dunia?
Beberapa minggu sebelum perjalanan pesawat saya yang pertama, dosen saya pernah berpesan untuk sebuah perjalanan jauh melintas pulau-pulau ini, “Tuliskan gam”, pesannya, “kisah perjalanan kamu”. Sejak saat itu, ketika saya melakukan perjalanan jauh (yang sangat jarang sekali dilakukan), ada buku catatan kecil yang saya bawa, sekedar untuk menuliskan teman perjalanan, nama tempat, hal-hal menarik yang kemudian tertangkap mata. Saya kemudian menyadari bahwa sekiranya perlu untuk menuliskan pengalaman-pengalaman yang patut untuk dikenang, pada sebuah blog atau catatan-catatan lainnya. Bukan untuk siapa-siapa, dan semoga bukan menjadi wadah berpamer-ria, hanya paling tidak, menjadi pengingat bahwa kita pernah diberi kesempatan-kesempatan berharga, yang walaupun semua hal tersebut telah terlewati, semoga masih terus tersimpan rasa syukur atasnya.
Rangkaian tulisan Summer Tsukuba adalah rekam jejak saat saya diberi kesempatan sekali lagi ke Jepang dalam rangka tugas pekerjaan pada tahun 2013. Seri Summer Tsukuba ini akan saya susun berdasarkan topik-topik besar menarik yang saya lakukan selama satu bulan di sana. Hari ketika saya membuka ruang kantor SATREPS Project di gedung IASTH FK UI, kemudian menyerahkan CV pada calon atasan saya saat itu, Aoki sensei, dan membuat janji untuk wawancara adalah awal dari kesempatan saya kembali ke sana. Hari itu, di awal Juli 2013, memasuki musim panas dan menuju bulan Ramadhan, saya kembali ke negara yang telah melesat bangkit semenjak keterpurukannya di tahun 1945, meskipun kali ini bukan lagi ke Tokyo, melainkan ke sebelah utaranya, dan dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam, kita akan mendapatinya sebagai kota Tsukuba.
Kunjungan kedua
Proyek riset yang saya ikuti merupakan bagian dari program SATREPS Jepang yang mengolaborasikan tiga institusi pendidikan, FK Universitas Kobe, FK Universitas Indonesia, dan FF Universitas Airlangga dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan JST (Japan Science and Technology Agency) sebagai penyuntik donasi. Oleh karena kunjungan saya ke Tsukuba ini mendapat endorsement dari JICA, sungguh sangat dimudahkan pengurusan visa dan keperluan lainnya.
Borang aplikasi dari JICA dan Tiket keberangkatan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam dengan Japan Airlines (JAL 726) sendirian tanpa teman (semacam jomblo :P), saya menapakkan kaki kembali di Narita. Melesat turun dari pesawat, saya tiba di satellite building dan berlanjut menuju gedung utama (honkan) dengan menggunakan kereta monorel tanpa masinis. Setelah mengambil koper dan barang bawaan, saya menyelesaikan urusan kepabeanan (custom inspections), dan menuju loket JICA di lobi kedatangan. Sesampainya di sana, saya disambut petugas yang berjaga, seorang lelaki setengah baya, bersalaman dengan sedikit berkenalan dan bercakap-cakap. Selanjutnya ternyata saya diantarkan ke taksi yang sudah dipesankan untuk membawa saya ke JICA Tsukuba International Center (TBIC), sebuah asrama yang menampung banyak orang dari berbagai negara.
Menuju TBIC
TBIC terletak di kawasan Koyadai, di antara perumahan penduduk dengan pemandangan tatanan rumah yang rapi, jalan yang cukup lengang, serta hamparan persawahan yang masih cukup banyak. Setibanya saya di sana, meja resepsionis adalah tempat pertama yang dituju. Setelah mengisi beberapa borang, saya menerima arahan singkat mengenai jadwal orientasi, kunci kamar, serta kartu makan. Berjalan santai menuju kamar, ha yang saya lakukan pertama kali adalah rebahan di tempat tidur !
Meskipun demikian, setelah badan kembali segar, saya iseng untuk berjalan-jalan di sekitar TBIC.
Di sekitar TBIC
Sambil menghirup udara sore yang segar, dan ditemani suara tonggeret yang khas di musim panas, Japan, here I am back again :)
Apakah yang menjadi ketakutan manusia, sebenarnya?
Monster yang terbaring di bawah tempat tidur atau bayangan perempuan berambut panjang di pojok kamar sebelah lemari baju atau binatang yang merayap, melata mengerikan? Bukan, saya rasa bukan. Ketidaktahuan adalah ketakutan terbesar manusia. Mahluk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, kejadian yang tidak dimengerti sepenuhnya, atau bahkan masa depan yang tak pernah jelas muaranya berakhir. Ketakutan, ketidakmengertian membawa manusia keluar dari lingkaran amannya, memaksa manusia untuk menghadapi apapun itu, tragedi, masa lalu, masa depan. Siapa yang tertinggal?
Apa yang paling buruk dari tertinggal? Ketidakmengertian mengapa semua orang meninggalkan, ketidaktahuan apa yang akan terjadi setelahnya. Kita mungkin tak pernah benar-benar mengerti mengapa hal itu terjadi atau hal ini tidak bisa terjadi. Mengapa jawaban-jawaban tak selalu muncul di depan mata. Mengapa kita ditinggal belakangan, sendirian. Dan merasa sendirian adalah hal yang dihindari sangat oleh manusia. Bukan tentang berapa orang di sekitarnya, perasaan sendirian tak melulu berhubungan lurus dengan jumlah orang yang berada di samping kanan-kiri atau depan-belakang. Merasa sendiri adalah esensi dari kesendiriannya, menelingkupi hati, pikiran, raga bahkan walau dunia bergerak bising di sekitar. Siapa yang ingin ditinggal oleh orang terkasih? Kemudian sendiri setelahnya, berjalan di tepi-tepi sepi. Tetapi setiap kekasih akan terpisah, setiap hubungan akan menemui akhir, dan waktu yang membingkai semua hal juga terbatas. Waktu-waktu yang berujung di batasnya dan keinginan-keinginan yang ingin terus melaju, memaksa kita untuk memilih. Meninggalkan satu hal untuk hal lainnya, juga tertinggal oleh satu hal dan menjadi hal lainnya. Kita mungkin tak pernah ingin meninggalkan, begitu pula kita tak ingin pernah ditinggalkan.
Demikiankah?
Dan takut adalah manusia. Meskipun demikian, dikatakan bahwa di atas semua itu, manusia tetap bisa bahagia. Walau dengan bayangan di waktu lalu atau ketidakpastian di akan datang. Kita hidup saat ini. Dikatakan ada pilihan untuk bahagia. Tidak ada orang yang ingin ditinggal di belakang, sendirian. Semisal kamu sendiri, adakah menemukan pilihan untuk berbahagia di sana?
Saya pernah melihatnya, mungkin kamu juga, tentang cerita-cerita manusia yang digerakkan secara luarbiasa oleh mimpi. Mereka memimpikannya, memercayai keindahan mimpi-mimpinya, menggerak memujudkan hingga merubahnya menjadi sesuatu yang nyata. Mimpi, impian, cita yang kemudian terwujud nyata, dan mengakhiri dengan bahagia. Akhir bahagia.
Demikian dan sayangnya tidak berlaku sedemikian untuk semua orang.
Kita mengenal ada dua jendral besar dalam sejarah manusia. Keduanya bermimpi tinggi, bervisi besar, dan tergerakkan secara luarbiasa oleh mimpi-visi mereka. Dari keduanya kemudian kita belajar, alur besar takdir dalam aliran waktu dunia sudah digoreskan. Mimpi-mimpi mereka sama hanyut dalam alirannya, namun takdir hanya memeluk mimpi yang sudah digariskan padanya.
Dia seorang Habasyah yang kemudian menjadi Jenderal di Yaman. Mimpinya besar, membangun pusat peribadatan terbesar di kawasan timur tengah, bahkan dunia di daerah Yaman. Pusat peribadatan di mana seluruh umat manusia akan mengalihkan kiblat padanya. Mimpi besar perlu usaha-usaha besar mewujudkannya, dan Jenderal yang kemudian dikenal sebagai Abrahah tahu, satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan meluluh-lantahkan Ka’bah. Dan Abrahah melakukan kerja-kerja besar, memimpin pasukan gajah yang menggentarkan untuk menghancurkan pusat peribadahan yang bangun oleh Ibrahim AS. Hingga pada akhirnya kita sama-sama tahu, kisahnya diabadikan khusus pada satu surat dalam Al Qur’an, dibaca oleh seluruh umat Islam sejak diturunkannya. Al Fiil.
Sementara itu, terjarak sekitar 800 tahun lebih, kita memiliki Jenderal yang mewarisi mimpi besar para pendahulunya. Tergerakkan oleh mimpi besar, menaklukan sebuah kota yang sudah dijanjikan, Jenderal ini menggapainya dengan gemilang. Kerja besarnya bahkan sudah dimulai semenjak kanak-kanak, menempa ilmu pada salah satu alim terbaik di masanya, Syaikh Aaq Syamsudin. Menjadikannya sebagai yang disebutkan dalam sabda Muhammad saw., kita semua kemudian mengenalnya sebagai Muhammad Al Fatih. Sang Pembebas.
Dua jenderal besar, dengan mimpi besar dan ikhtiar-ikhtiar terbaik, terlepas dari siapa salah dan benar, salah satunya gagal dan kalah, sementara lainnya berhasil dan berjaya. Dalam pusaran sejarah umat manusia kita belajar, di sisi pemenang, selalu berdampingan mereka yang kalah. Menang-kalah, berhasil-gagal, berjaya-terhina adalah koin dua sisi, satu sama lain berdamping tidak terpisah, menjadi paket kehidupan yang menggelinding melaju bersama waktu. Hingga pada akhirnya kita sama-sama memahfumi, di ujung usaha-usaha manusia selalu terbaring dua kemungkinan.
Yang pada akhirnya kita harus menjemputnya jua.
Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang ada di ujung jalan-jalan yang kita pilih, diakhir usaha-usaha demi mimpi. Adakah sukses membahagia di sana? Atau justru derita menestapa siap memeluk kita yang datang. Ragu dan malah berhenti di tempat tidak menyelesaikan apa-apa. Sementar kita meragu, tanpa tersadar, waktulah yang membawa kita pada ujung akhir perjalanan. Mimpi-mimpi, sayangnya, tidak melulu harus tergapai. Pada ujung-ujung takdir, mimpi kita mungkin tak akan selalu gemilang. Hasilnya bisa jadi tetap sama, bersinar gemintang atau kelam meredup, tetapi bagaimana kita menuju padanya yang memberikan perbedaan besar di antaranya. Adalah hal yang sangat berbeda, maju naik ke atas arena pertandingan dengan kepala tegak dan maju diseret masuk ke dalam arena. Karena, berkahnya bisa jadi ada pada prosesnya, ada pada tiap cara kita menggapainya. Karena hikmahnya, bisa jadi bukan di akhir cerita, melainkan di tengah, di sepanjang perjalanan. Hal yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah, jalan mana yang akan kita ambil?
“Hingga saat ini saya kira semua sepakat, parasetamol masih menjadi obat yang paling dicari-cari saat kepala sakit terasa, saat demam menggigil melanda.”
Parasetamol tak pernah ditemukan benar-benar secara tidak sengaja, paling tidak hingga mereka menyebutnya parasetamol dan dipasarkan oleh Sterling-Winthrop Co. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mencatat selalu ada pelajaran dari setiap kesalahan, dan dari sebuah kesalahan pemberian obat cacing, naftalen, menjadi asetanilid, dua orang asisten professor dari Universitas Strassburg mencatatkan dalam sejarah, obat penurun demam (antpiretik) baru yang dapat diproduksi dengan murah. Sayangnya, keberuntungan tak berlangsung lama, asetanilid memiliki efek samping serius pada hemoglobin darah dan peredarannya ditarik dari pasaran.
Berhenti hingga di sinikah? Tentu saja tidak. Ketidaksengajaan penemuan efek antipiretik asetanilid menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran yang sama yang ada pada setiap penemu-penemu besar dunia. Rasa penasaran yang sama yang membangun peradaban manusia. Hingga singkat cerita, percobaan-percobaan dilakukan, sintesis senyawa baru yang memiliki potensi lebih baik dan efek samping rendah diciptakan. Setelah 60 tahun sejak kejadian kesalahan pemberian obat cacing di Universitas Strassburg, parasetamol dipasarkan ke dunia. Meledak menjadi obat sakit kepala dan demam yang dicari-cari umat manusia.
Kesalahan-kesalahan selalu terjadi, dari sesepele salah mengambil warna dasi hingga salah memberikan obat. Kesalahan-kesalahan mungkin terjadi, pada pribadi yang sudah ahli dan terbiasa sekalipun. Tetapi mereka yang luarbiasa adalah mereka yang mengakui kesalahannya, menyelesaikannya, bahkan bisa jadi memanfaatkannya menjadi suatu yang lebih berguna.
Cerita-cerita sakit kepala
Bahkan ketika mengetik tulisan ini, kepala saya masih agak terasa pening karena beberapa hal nampaknya terlalu menjadi beban pikiran. Beberapa hal memang tak perlu dipikirkan berlebihan karena hal-hal tersebut tercipta untuk dikerjakan. Masalah-masalah tak akan pernah selesai dengan memikirkan solusinya saja. Sakit kepala bisa saja tetap berlangsung walau solusi ditemukan, jika solusi tersebut tak pernah dilakukan, yang berarti tidak terbukti ketepatannya, yang dengan demikian menambah sakit kepala anda !
Banyak hal memang akan membuat anda sakit kepala, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan atau rencana-rencana yang tak berjalan sesuai harapan. Bahkan harapan sendiri bisa membuat anda sakit kepala ! Sekali lagi jika harapan tersebut hanya dibayangkan, tak selangkah pun coba diwujudkan. Bayangan-bayangan masa depan bisa jadi sangat menyeramkan, tetapi bayangan hanyalah bayang-bayang, ketakutan-ketakutan akan masa depan tidak pernah perlu terjadi, dan masa depan sendiri bukanlah sesuatu yang harus selalu dibayang-bayangkan. Masa depan ada untuk kemudian kita melangkah memeluknya.
Urusan cinta yang membius banyak orang bisa jadi membuat anda lebih sakit kepala lagi. Tak ada kegilaan yang lebih memayahkan kecuali pada orang-orang yang memendam rindu dan tersiksa karena kerinduannya. Urusan gila-menggila karena cinta-rindu-harap sebenarnya bisa dihindari dengan mindset yang tepat. Ah, terlalu awam bagi saya untu berbicara persoalan gila-rindu-cinta-harap yang tak habis-habis. Paling tidak, satu solusi yang bisa saya tawarkan untuk meredakan sakit kepala anda sementara, minumlah obat sakit kepala, parasetamol !
Tidak ada kue ulangtahun, perayaan dengan berbagai giveaway, bahkan pesta-pesta meriah malam malam. Bukan, memang kau kira perayaan ulangtahun orang kaya dan terkenal.
Well, alhamdulillah, masih diberi konsistensi untuk menulis catatan-catatan sedikit ilmu di kepala atau dari buku-buku yang dibaca, jurnal, paper, artikel yang sedang iseng-iseng gak ada kerjaan terbaca :p, dalam sebuah blog yang sejak Mei 2009 lalu terterbitkan di dunia maya, Journal of Ramadhan !
Tentu saja bukan sebuah blog populer, dari 4 tahun malang melintang di dunia maya, hanya tercatat 32 followers dan 56.345 views (berdasarkan statistik internal blogger) yang tanpa sengaja tersesat ke blog Journal of Ramadhan. Mungkin karena tulisan saya yang memang gak bagus atau topik yang tidak populer atau bahkan keduanya!. HAHAHA. Though I don't really care about it. Di titik awal ketika memutuskan untuk menulis blog, hanya ada keinginan untuk berbagi keingintahuan tentang alam kita, diri kita sendiri, bahkan mengintip sedikit misteri mengagumkan di dunia. Saya selalu percaya, dengan sudut yang tepat, topik-topik sains selalu akan semengagumkan cerita fantasi sebelum tidur, seindah roman cinta paling memukau, atau serenyah kisah metropop di novel-novel teenlit. Suatu hari nanti, saya yakin ada saat di mana kita dapat berbincang tentang kisah penemuan menakjubkan terbaru, sehangat kopi yang kita minum di warung kopi sebelah.
After all, terimakasih kepada para pembaca yang tanpa sengaja tersesat dan yang (jika ada) menanti blogpost terbaru tiap bulannya atau para silent reader dan tentu saja pembaca yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di bagian komentar. Trims and I'll keep writing or, oh well, blogging ;)
Christoper Columbus pulang dari pelayaran melelahkan menemukan daratan di seberang laut Atlantik. Disambut suka cita oleh rakyat Spanyol dan rajanya, didengungkan sebagai pahlawan pembawa dunia baru bagi Spanyol. Pesta perayaan dibuat, ditengah makan malam pelaut-pelaut hebat berkata nyinyir, “Kau telah menemukan dunia di luar samudra kita, lalu ada apa dengan semua itu? Siapa pun dapat menyebrangi lautan dan menemukannya.” Alih-alih menjawab, Columbus mengambil sebutir telur dan menantang semua hadirin untuk membuatnya berdiri tanpa bantuan apa pun. Setiap orang mencoba, telur tetap berputar dan jatuh, gagal memenuhi tantangan, dan mereka mengatakannya tidak mungkin. Columbus melakukannya, meretakkan sedikit pada bagian bawah telur hingga menjadi rata dan mendirikannya dengan mudah. “Apa yang lebih mudah dari melakukan hal yang kalian anggap tidak mungkin?”, ucap Columbus, “Siapa pun dapat melakukannya.”
Kesadaran seringkali merupakan pemicu dari segalanya. Hal-hal sederhana, inspirasi-inspirasi mengagumkan, ide-ide cemerlang selalu berawal dari kesadaran yang menyentak diri manusia. Kesadaranlah yang membedakan antara inovator dengan orang biasa dan para filsuf dengan rakyat jelata. Apel jatuh mungkin hanyalah sekedar apel yang jatuh dalam pandangan orang lain, namun tidak bagi Newton. Ada sesuatu yang lebih besar terkuak di dalamnya, sebuah kesadaran muncul, menyentak Newton. Apel berada dalam posisi diam di atas pohon, jatuh dengan kecepatan yang semakin cepat ke bawah. Pada akhirnya, hanya Newton lah yang tersadarkan, bukan petani atau sembarang orang yang melintasi pohon apel. Dan dari kesadaran ini muncul ide cemerlang tentang alam semesta, gaya gravitasi.
Orang-orang menyebutnya insight, pemahaman akan suatu kebenaran yang tersembunyi. Ide-ide yang muncul seringkali sederhana, namun menuju ide tersebut adalah hal yang lain. Kisah klasik yang meskipun diragukan kebenarannya memberikan kita contoh, kisah penemuan hukum Archimedes yang merupakan prinsip sederhana yang dapat dimengerti ke siswa kelas menengah pertama. Dari semua orang yang berendam dalam pemandian umum mungkin hanya Archimedes yang menyadarinya. Columbus, Newton, Archimedes melihat sesuatu yang berbeda dari suatu hal yang dianggap biasa. Mereka memberikan kita contoh ide-ide sederhana dapat berakibat besar dan ditemukan dengan cara-cara yang tidak biasa. Penemuan-penemuan besar terkadang diinspirasikan dari sesuatu yang sederhana. Observasi, telaah, analisis, percobaan-percobaan membuka yang tersembunyi dari hal-hal sederhana.
Bahwa inspirasi ada di sekitar kita dan menunggu untuk ditemukan adalah keniscayaan. Hal yang kita perlukan mungkin sekedar melihat dari sisi yang berbeda, menemukan maksud dari suatu fenomena, atau bahkan berbagi dengan orang lain. Yakinlah, kita akan bisa menemukan keunikan dari kepolosan, ketakjuban dari ketidakbiasaan, dan keindahan dari hal-hal sederhana.
Eksperimen-eksperimen selalu berangkat dari sebuah pertanyaan, para peneliti kemudian mengandaikan hasilnya dengan membuat hipotesis, mereka melakukan percobaan-percobaan dan mendapatkan hasil. Percobaan-percobaan, bukan satu tetapi banyak percobaan, sehingga dapat menjawab persoalan yang membentang. Hal yang menarik tentu saja betapa satu jawaban dapat menimbulkan sepuluh pertanyaan lanjutan. Dan apa yang kita dapat dari siklus tak terbatas ini adalah apa-apa yang kita lihat sekarang, dari microchip berukuran mini hingga spaceship penjelajah angkasa.
Ada sebuah adagium terkenal dalam dunia riset, “hasil negatif bukanlah sebuah kegagalan”. Hasil positif dan negatif adalah paket dalam semua hal di dunia ini. Kita tak pernah bisa mengharapkan data yang selalu bagus, linearitas yang selalu 0.9999, atau hasil yang selalu optimal. Kegagalan pasti ada pada setiap eksperimen, pencilan sering ada dalam setiap statistik, dan hasil negatif sangat mungkin muncul dalam setiap assay, namun bagaimana cara pandang terhadap setiap kegagalan, data pencilan, dan hasil negatif merupakan hal yang esensial. Karena setiap hasil negatif, setiap kegagalan yang dialami tidak lain merupakan penemuan akan suatu cara untuk tidak membuat suatu tujuan tercapai. Sebuah momen pembelajaran langsung yang tak didapat di bangku kuliah. Sehingga manusia akan terus-menerus berusaha, trial and error, mencapai hasil yang diinginkan.
Hasil negatif tidak perlu menjadi suatu kegagalan, tidak tercapainya cita tak pernah perlu menjadi akhir kehidupan. Karena setiap kita memiliki pilihan untuk mengambil jalan lain, jika kamu masih kuat melawan tantangan, lawanlah sekuat tenaga, jika takdir memilihkan yang lain maka ambillah. Beranjak dari suatu kegagalan akan cita juga adalah keberanian, berani menyusun ulang kembali cerita cita, berani menjalani langkah yang baru. Dan hal itu bukanlah tanda penyerahan !
Topik ini sepertinya tidak ada habisnya, Cinta. Menderas bagai air bah, mengalun lembut seringan angin sore, menggelora senyala api, menguatkan setabah bumi. Cinta, seribu penulis telah membahas topik ini pada seribu cerita, kisah, catatan, bahkan darah-darah yang mengalir atas nama cinta. Cinta, kamu dan aku membahasnya tak jemu jua, seringkali berulang hingga terpatri di ingatan kata sakti tentangnya. Selalu saja ada cita rasa baru, ada sudut pandang baru, ada kisah baru setiap kali mengulangnya, melafadzkannya lembut dalam setiap perasaan insan.
Maka biarlah aku, kali ini, membahasnya untukku dan untukmu.
Cinta harusnya pertemuan jiwa-jiwa, persambungan pikiran-pikiran, perangkulan ego-ego. Di dalamnya setiap insan memahami bahwa beda tidak perlu menjadi sengketa. Karena beda bisa jadi penambal lubang-lubang kelemahan, jika tidak, maka memahamkan dan memaafkan sudahlah cukup. Tidak ada insan sempurna yang lepas dari kesalahan.
Cinta seharusnya menumbuh-mengembangkan segala potensi yang ada. Para pecinta sejati tidak mengungkung yang dicintainya atas nama kepemilikan. Maka cinta menjadi penyalanya, pemantik setiap potensi diri, memanusiakan manusia, menjadi manusia yang sebaik-baiknya manusia, insan kamil. Maka setiap pembelajarannya adalah cinta, dan bersama-sama kita belajar menjadi lebih baik. Para pecinta sejati tidak membiarkan yang dicintainya terjebak dalam kenaifan ‘menjadi diri sendiri’. Kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik selalu ada, ‘menjadi diri sendiri’ jika itu berarti tidak mengambil kesempatan untuk menjadi diri yang lebih baik tidaklah berguna. Karena cinta menumbuh-mengembangkan potensi diri, dia bersama bertumbuh dan berkembang dalam jiwa-jiwa para pecinta pembelajar yang senantiasa mengasah diri, menjadi lebih baik.
Cinta adalah tentang pekerjaan memberi, maka hanya orang-orang kuat dan memiliki yang bisa mencintai. Cinta adalah pekerjaan orang-orang kuat, konsisten memberi bukanlah hal ringan yang bisa dilakukan sepanjang hayat. Para pecinta bukan berarti tidak menerima, bisa jadi suatu keniscayaan, tetapi hal itu hanyalah suatu akibat. Fokus para pecinta sejati adalah memberi, dengan segala daya menumbuh-kembangkan yang dicintai. ”Para pecinta sejati tidak suka berjanji,” tulis Anis Matta, “tetapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Janji menerbitkan harapan, tetapi pemberian melahirkan kepercayaan.” Maka menjadi seorang ibu adalah pekerjaan perempuan-perempuan kuat sepanjang zaman, bukan pekerjaan sampingan para wanita karir. Cinta mereka adalah tentang memberi segala daya, menumbuh-mengembangkan, merawat, dan melindungi. Oleh karenanya bagi seorang laki-laki kewajiban terhadap ibu lebih didahulukan dari kewajiban kepada istri.
Cinta seharusnya memuliakan, cinta memuliakan para pecinta dan bukan merendahkannya. Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang paling memuliakan perempuan. Maka laki-laki yang mengumbar janji cinta atas perempuan, namun tidak menikahinya adalah omong kosong besar. Cinta itu memuliakan, maka pernikahan memuliakan laki-laki dan perempuan dalam naungan cinta. Para pecinta sejati tak mengumbar janji, begitu mereka memutuskan untuk mencinta, mereka memilih jalan kesunyian untuk bekerja mewujudkan rencana memberi. Mereka bersiap diri hingga sampai waktunya tiba dan cinta akan menyambutnya dalam keberkahan dan naungan cinta ilahi.
Cinta berbicara tentang keberanian jua pengorbanan. Dari Ali, pemuda cerdas yang disebut sebagai pintu ilmunya Rasulullah, kita belajar. Adalah Fatimah, seorang gadis yang memunculkan debaran dalam jiwa pemuda Ali . Sudah dua sahabat utama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, yang ditolak pinangannya. Dia merelakan dua kali, ketika sahabat utama Rasulullah hendak melamar Fatimah. “Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?” Sahabat-sahabat Anshar menyemangatinya, “kami merasa engkaulah yang baginda maksud.” Maka Ali mengambil satu dari dua pilihan cinta, keberanian. Sangat memalukan meminta Fatimah menunggu hingga dirinya siap dan menikahinya. Tidak bagi Ali, maka cinta adalah tentang mengambil kesempatan yang ini keberanian atau merelakan yang ini pengorbanan. “Ahlan wasahlan,” jawab Rasulullah dan Ali mendapat tidak hanya satu (ahlan) tetapi bahkan dua (wasahlan) yang berarti persetujuan. Dan dari keberanian cinta lahirlah energi besar tanggung jawab. Dan kita semua tahu, Ali tidak memulai pernikahannya dari nol, tetapi minus. Dengan rumah yang tadinya hendak dihadiahkan oleh sahabat-sahabatnya, tetapi Rasulullah memintanya untuk mencicil dan ini berarti hutang. Di jalan para pecinta sejati, cinta bertemu dengan tanggung jawab. Ali memperlihatkannya kepada kita, energi besar tanggung jawab lahir dari cinta dan kita bisa menengok rumah tangga surgawi dari sepasang Ali-Fatimah.
Cinta itu merah saga, menggerakan jiwa-jiwa untuk berbuat, menggelorakan semangat-semangat untuk bekerja. Maka cinta adalah energi jiwa, menghimpunkan segala daya, menyalakan gairah dalam rasa. Cinta bukanlah merah jambu, lenye-lenye, melemahkan jiwa dengan angan panjang, memanjakan rasa dengan senang semu. Cinta itu merah saga, sekencang angin membadai, sederas banjir menerjang, bergelora bak api menyala-nyala. Tapi kemudian ia menjadi tenang, sehangat dekapan ibu, selembut semilir angin, seteguh pijakan bumi. Maka cinta adalah sebuah kata kerja, membangun peradaban manusia, meninggikannya hingga menggapai surga.
Ada dua pilihan ketika bertemu cinta,
jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana,
tinggi menggapai surga (Salim A. Fillah)
___ Beberapa inspirasi tentang cinta: Anis Matta. Serial cinta. Salim A. Fillah. Jalan cinta para pejuang.
In 1670, Blaise Pascal noted with awe that “man is equally incapable of seeing nothingness which he emerges and the infinity which he is engulfed.” Pascal recognized that we spend our lives on a thin slice between unimaginably small scales of the atoms that compose us and the infinitely large scales of galaxies. (David Eagleman in Incognito)
Faktanya kita, manusia, adalah organisme dengan keterbatasan yang sangat luas; tidak berbeda dari organisme lainnya di muka bumi, hanya saja manusia memiliki kelebihan-kelebihan dibanding mereka. Terlepas dari intelegensi dan kemampuan manusia untuk bertahan hidup sehingga menjadikannya sebagai organisme yang mendominasi, manusia dibatasi oleh kondisi biologisnya. Baiklah, kita semua, manusia pada umumnya, melihat dunia dalam warna-warni yang memikat. Berbeda dari hampir semua hewan yang tidak melihat banyak warna yang sama dengan kita. Kita melihat dunia dan percaya bahwa hal-hal yang kita lihat merupakan suatu realitas objektif tentang ‘dunia di luar sana’. Pada bagian belakan mata, kita memiliki tiga jenis reseptor yang terspesialisasi dan teroptimalisasi untuk menangkap radiasi gelombang elektromagnetik yang memantul dari suatu benda yang kemudian kita sebut sebagai cahaya tampak. Ketika para reseptor menangkap radiasi ini, mereka akan melepaskan sinyal-sinyal ke dalam otak yang selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk persepsi yang kita sebut sebagai penglihatan (visual). Tetapi sayangnya, hanya sepersekian dari spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh tiga jenis reseptor ini yang berarti sisa dari spektrum elektromagnetik ini, dari berbagai gelombang yang membawa sinyal TV atau telepon genggam hingga sinar X dan sinar gamma, terlewat begitu saja tanpa kita sadari. Ya, sains kemudian maju melangkah jauh sehingga kita menciptakan alat yang dapat ‘melihat’ apa yang tidak bisa kita lihat. Tidak perlu berbicara mengenai dunia mikroba yang tidak bisa kita lihat atau semesta nun jauh di sana yang tidak bisa kita jangkau, pada tataran skala dunia kita berdiri, realitas objektif mengenai ‘dunia’ sekitar yang kita yakini, pada realitanya tidak objektif. Kita memiliki kekurangan dalam ‘melihat’ dunia sekitar kita (realitas yang lebih besar) secara utuh.
Sebuah konsep kemudian diperkenalkan oleh seorang biologis Jerman, Jakob von Uexkull, setelah ia menyadari adanya perbedaan dari hewan-hewan pada suatu ekosistem yang sama dalam menangkap sinyal atau tanda dari lingkungan mereka. Dia berpendapat ada dua bagian di dunia ini: bagian yang kita bisa lihat atau rasakan yang dikenal sebagai the umwelt (lingkungan atau dunia sekeliling kita) dan realitas yang lebih besar yang dia sebut sebagai the umgebung. Setiap dari kita, setiap organisme di bumi memiliki umwelt-nya yang kemudian dipersepsikan sebagai realitas objektif mengenai ‘dunia di sekeliling’-nya. Pernahkan anda bertanya, bagaimana rasanya, bagaimana dunia orang yang terlahir buta (congenitally blind)? Apakah itu dunia yang gelap atau sesuatu seperti ketiadaan? Ternyata tidak seperti yang kita kira, perasaan adanya kegelapan atau ‘penglihatan yang hilang’ tidak dirasakan oleh mereka. Oleh karena mereka tidak memiliki indera pengelihatan sedari awal, mereka tidak merasakan adanya sesuatu yang hilang dari diri mereka, otak mereka tidak pernah menerjemahkan dunia visual sejak awal. Hal yang sama berlaku seperti mereka yang terlahir buta warna penuh atau sebagian, mereka tidak akan menyadari adanya warna yang hilang hingga mereka mengetahui bahwa orang lain dapat melihat corak yang tidak dapat mereka lihat. Pun jika anda berpikir bahwa semua warna yang dapat anda lihat merupakan suatu realitas yang sejati maka anda perlu berpikir ulang. Ada sebuah fenomena mutasi genetik yang terjadi pada paling sedikit 15% wanita dunia yang memberikan mereka satu jenis ekstra fotoreseptor di mata. Dengan empat jenis fotoreseptor ini, mereka dapat membedakan secara jelas warna yang terlihat sama oleh sebagian besar dari kita. Bahkan dalam skala diri sendiri pun, manusia memiliki keterbatasan yang besar.
Tetapi semua ini baru separuh cerita. Saya mengasumsikan para pembaca blog saya percaya akan adanya Tuhan, atau paling tidak adanya suatu kekuatan yang berada di luar kita. Konsep adanya Pencipta Maha Cerdas, bagaimanapun dikritisinya oleh paham ateisme, secara tidak langsung disadari sendiri dengan adanya konsep the bigger reality atau the umgebung. Bagaimanapun dahulu manusia percaya bahwa bumi datar dan merupakan pusat dari semesta yang menyebabkan matinya banyak pemikir cerdas. Beratus tahun kemudian kita menemukan adanya galaksi-galaksi lain selain bimasakti. Dahulu manusia percaya bahwa mahluk hidup dibuat dari unsur-unsur api, air, kayu, tanah, dan sebagainya, namun kini dengan bantuan alat-alat tertentu kita bisa menemukan adanya entititas terkecil dari atom hingga quark. Jika apa yang kita lihat belumlah tentu benar adanya maka apa yang tidak bisa kita observasi belumlah tentu benar ketidakadaanya. Iman atau percaya merupakan suatu keyakinan diri kita akan adanya kekuatan-kekuatan Maha Cerdas di luar sana yang menjadi penyambung dari segala keterbatasan kita. Meskipun tidak bisa kita observasi, seringkali kita menemukannya dalam diri dan dunia sekitar kita.
”… Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya…” (Qs. 2:255)
Bacaan menarik untuk disimak lebih lanjut:
Eagleman, D. (2011). Incognito: the secret lives of the brain. New York: Vintage Books.
Purwanto, A. (2008). Ayat-ayat semesta. Bandung: Penerbit Mizan.
Great leaders will not guarantee an optimal organization, but great followers will come close (Todd Nielsen).
Sebuah sesi inspirational sharing dengan CEO General Electric Indonesia, Pak Handry Satriago, membuat saya me-review kembali peran pemain-pemain utama dalam sebuah organisasi, which is its leader and followers. Kita sering mendengarnya, bahkan sudah banyak buku-buku yang membahas mengenai leadership, bagaimana anda menjadi pemimpin yang berpengaruh atau seni-seni memimpin dan mempengaruhi orang lain. Mungkin anda juga pernah mengikuti latihan-latihan kepemimpinan dari yang wajib anda ikuti ketika masuk ke sebuah organisasi hingga leadership training yang berharga jutaan rupiah. Yes, all of us are really familiar with term of leadership, yet not about followership. Being a leader promises many great advantages, oleh karenanya posisi ini begitu diinginkan oleh kita semua. Dan bagaimana sebagian besar dari kita memandang posisi pengikut atau anak buah? Posisi tidak penting yang bekerja manut-manut mengikuti arahan pemimpin dan tidak perlu ‘macam-macam’. Banyak dari kita memandang posisi pengikut adalah posisi yang tidak penting, tidak prestige dan ‘cukup tahu’ saja. Padahal peran leader and follower selalu ada berdampingan. Dalam hirarki sebuah perusahaan saja, seorang supervisor adalah leader bagi stafnya dan follower bagi middle manager. Demikian pula dengan middle manager yang merupakan seorang follower bagi top manager dan seterusnya. Indeed, we are a follower in the very beginning.
Sekarang sudah banyak disadari betapa strategisnya peran pengikut dalam sebuah organisasi. Kehadiran pemimpin yang luar biasa memang merupakan hal yang tidak tergantikan, tetapi tanpa kehadiran pengikut yang baik tidak akan pernah ada kesuksesan yang berarti dalam suatu organisasi. Berbicara mengenai kuantitas saja, tentu lebih banyak jumlah pengikut dibanding jumlah pemimpin dalam suatu organisasi. Ingat Tahun 1998? Turunnya Presiden Soeharto adalah contoh nyata betapa besar potensi pengikut (rakyat dalam kasus 1998 ini) dalam mempengaruhi tatanan organisasi hingga mampu menurunkan pemimpinnya. Kita sekarang melihat dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang followers, di mana ternyata kesuksesan suatu organisasi yang dibawa oleh seorang pemimpin amat dipengaruhi oleh kualitas pengikut dan bukannya kualitas pemimpin itu sendiri.
Setiap pemimpin terbaik selalu memulai dari tingkat pengikut, paling tidak mereka pasti mengikuti atau terinspirasi pada gaya-gaya kepemimpinan orang lain. Karenannya seorang pengikut yang baik akan dengan mudah berubah menjadi seorang pemimpin yang baik. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah seperti apa pengikut yang baik. Saya tidak persis tahu, tetapi jika mengutip pendapat Pak Handry Satriago, a good follower adalah pengikut yang tidak manut-manut saja melainkan pengikut yang mau memberi pendapat/masukan bahkan berani berseberang pendapat dengan pemimpinnya demi kemajuan organisasi. Mereka memberikan feedback kepada pemimpinnya dan bersama-sama memperbaiki kinerja organisasi.
Ada sebuah contoh menarik, suatu ketika sebuah perusahaan farmasi multinasional memilih seorang CEO barunya yang tidak berlatar belakang farmasi, melainkan dari bidang marketing. CEO baru ini, dengan segala keahliannya, ingin mengeluarkan produk baru yang berpotensi besar untuk dipasarkan secara global, maka bertanyalah ia kepada para scientist-nya. Pada waktu itu ada satu produk obat anti inflamasi yang telah disetujui oleh FDA. CEO ini bertanya apakah obat ini berpotensi besar untuk dipasarkan dan yes, jawab para scientist-nya. Maka dengan segala jurus-jurus marketing-nya, CEO ini berhasil memasarkan produk obat anti inflamasi ini dengan baik. Hanya saja, lama-kelamaan muncul semakin banyak komplain konsumen akibat efek sampingnya sehingga produk obat ini harus dikaji ulang keamanannya. Hal yang mengejutkan adalah ternyata para scientist perusahaan tersebut sudah mengetahui akan potensi efek samping obat ini. Apa intinya? pengikut yang hanya menjadi yes man dan ikut begitu saja apa permintaan pemimpin ternyata tidaklah terlalu bagus. Para pengikut perlu ikut paham visi dan misi dari suatu organisasi dan bersama pemimpinnya membangun organisasi. Tentu ada bedanya dengan para pengeritik, a great follower mengambil inisiatif, belajar, dan ikut terlibat aktif dalam seluruh aktivitas organisasi serta memberikan kinerja terbaik mereka.
at last but not least, I love the quote from Pak Handry Satriago which is said, “a good leader won’t bring any successes to the organization without good followers, otherwise a bad leader won’t do bad things with good followers”.
Dari kehilangan-kehilangan kita belajar tentang keberadaan-keberadaan. Mereka menyebutnya penyesalan, ketika hal-hal remeh-temeh yang terabaikan melesap tanpa terasa dan akhirnya terasa ada yang hilang. Apalagi yang terasa benar keberadaannya, mereka menyebutnya benar-benar-kehilangan, ah paling tidak itu kalimat saya sendiri. Paling tidak, kita yang pernah merasanya, membentuk sendiri definisi kehilangan-kehilangan. Dan seperti halnya, kelahiran dan kematian, dari kehilangan-kehilangan kita bisa belajar hakikat keberadaan-ketersediaan.
Pukul empat dan sadar-sadar Kita pernah terbangun dari tidur menyenangkan dan tersadarkan bahwa segala yang terjadi adalah mimpi. Itu hanya penyesalan sesaat, kau akan melupakan mimpimu semalam. Kita pernah terbangun dan tersadar bahwa harta kita hilang, cinta, jiwa, manusia, hal-hal bahagia. Ada penyesalan, sementara untuk mereka yang sadar, selamanya untuk mereka yang akhirnya tidak ingin dibangunkan.
Kita pernah terbangun pukul 04.00 pagi, menjelang subuh, setelah lewat malam tergelap di sekitar pukul 03.00. Kita pernah terbangun dan menemukan kehilangan-kehilangan. Kita pernah tidak menemukannya, kontak-kontak penting, pekerjaan, catatan-catatan pekerjaan, pencapaian, harta-harta tidak seberapa, tetapi tetap saja harta. Kesadaran pertama bisa membawa kepanikan, ketidakterimaan dan ketidakpercayaan. Kesadaran kedua seharusnya membawa kita akan makna kehilangan-kehilangan. Manajemen mental dan hati yang baik mengantarkan kita pada hakikat kehilangan-kehilangan. Melampaui kecemasan dan kekesalan yang membuncah, hati akan meredamnya, menenangkan dengan makna kehilangan-kehilangan. Dan di kehilangan-kehilangan, kita belajar merelakan apa yang sementara milik kita, apa yang memang hanya dititipkan oleh pemilik sebenarnya.
Pukul empat tigapuluh dan subuh-subuh Banyak kesempatan diciptakan oleh Sang Pencipta, melalui ibadah-ibadah dan doa-doa khusyuk penuh. Ada kesempatan-kesempatan untuk berkeluh-kesah langsung, bergundah-gulana, mengadu pada Pemilik Segalanya.
Di kegundahan akan kehilangan-kehilangan, kita mengambil wudhu, mengambil kesempatan mengadu langsung melalui ibadah dan doa-doa kita. Di saat subuh, kita mengambil waktu sejenak, bertanya dan berhikmah akan rencana-rencana dari Sang Maha Perencana. Di waktu-waktu khidmat, kita berduaan dengan Sang Pencipta, melepas gusar dan kecewa, kegalauan dan dilema dan dengan penuh harap kita bersama yakin Sang Maha Kuasa tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Pukul enam dan cari-cari Dalam menanggapi peristiwa-peristiwa, pencarian akan maksud adalah tidak mudah. Kita perlu membuka hati dan pikiran, berprasangka baik kepada Sang Pengatur. Dan dalam pencarian-pencarian tersebut, hati yang lapang akan menemukan syukur dalam tiap-tiap jengkal peristiwa.
Pagi-pagi, pencarian akan kehilangan-kehilangan dijalankan., setelah ditemukan jejak-jejak yang ditinggalkan. Usaha-usaha tetap digerakkan, hal-hal yang hilang haruslah berusaha untuk dicari, meski harapan itu tipis, meskipun kita tahu ada hal-hal yang tak bisa dikembalikan. Dalam cari-mencari, setapak demi setapak di sekitar jalan, kita bisa menemukan tidak hanya setitik harapan akan adanya jejak kaki yang tersamarkan di atas tanah merah becek, tetapi juga kemaknaan akan usaha-usaha dan kehilangan-kehilangan. Ketika kita berpikir kembali, meninjau situasi, kita tergelak mengetahui ada (banyak) usaha-usaha yang perlu dilakukan. Kita tersentak bahwa seringkali tiada waktu untuk kesedihan-kesedihan, ratapan, keluh dan kesah. Kita terbangkit untuk bergerak, mencari, berusaha mencari penanggulangan, mencari solusi dan kemudian kita tersadarkan bahwa segala cela dan caci tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Pukul sembilan dan terus saja Lanjutkan, teruskan, kehidupan terus berjalan maju dengan atau tanpa kita. Tertahan terus dalam kehilangan-kehilangan adalah kesia-siaan yang nyata.
Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Bukanlah melupakan masa lalu, tetapi berdamai dengannya dan menatap masa depan. Dalam segala usaha yang dilakukan, maka penyerahan kepada Sang Pengatur adalah penyempurna. Dalam keikhlasan usaha dan kerelaan pengorbanan, kita sekali lagi terpahamkan akan hakikat kehilangan-kehilangan. Dari cinta hingga harta tak seberapa, kehilangan-kehilangan kembali mengingatkan kita siapa pemilik cinta hingga harta tak seberapa. Dalam kehilangan-kehilangan, sekali lagi kita mengambil inspirasi dari peristiwa kegalauan masa lalu dan menapak mantap menuju masa depan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan kekecewaan dan kesedihan, tetapi kita yang belajar darinya mengambil bukan sebagai beban tetapi bekal perjalanan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan ikatan dari sepenasib-sepenanggungan, kita belajar dari orang lain. Akhirnya dalam kehilangan-kehilangan, kita dapat menjumpai wajah sabar dan ikhlas yang menguatkan kita sepanjang jalan. Jika tak terjumpai, yakinkan bahwa wajah tersebut terlihat saat kita memandang cermin, wajah yang menjadi penguat di sepanjang jalan.
Dari kehilangan-kehilangan kita menuliskan cinta dan harapan.
”Andai saja kami tetap anak-anak dan tidak pernah menjadi dewasa”
Demikian Qais bin Maluh mengandaikan dalam salah satu syairnya setelah terpisah dengan Laila, cinta masa kecilnya. Qais adalah seorang pemuda tampan nan pintar, berasal dari keturunan Bani Amir dan merupakan seorang yang cerdas dan tekun. Kita mungkin lebih banyak mengenal kisahnya dalam cerita “Laila dan Majnun”, sebuah karya sastra besar yang jauh lebih tua dari kisah “Romeo dan Juliet”-nya William Shakepear dan ditulis oleh seorang sufi asal Persia, Nizami Fanjavi. Kisah roman yang menginspirasi begitu banyak penulis untuk merekam cerita cinta dalam pena-pena mereka. Tak dapat dipungkiri, cinta Qais begitu menggebu dan hal tersebut ternyata disambut oleh Laila yang berasal dari kabilah yang berbeda. Sayang disayang, cinta mereka tertolak oleh perseteruan dua kabilah ini dan selanjutnya kita tahu bagaimana Qais melantunkan begitu banyak syair-syair cinta atas kisahnya dan mulai terobsesi hanya kepada Laila. Dikisahkan bagaimana Qais menjadi gila, bersyair di alam bebas dengan tidak memakai pakaian yang menutupi tubuhnya.
Dan begitulah ketika cinta yang tak berbagi, yang ada adalah perasaan yang bahkan menguasai pikiran dan raga. Setidaknya demikian bagi Qais, pecinta yang begitu putus asa akan cinta. Dan cinta yang tak terbagi ini, meluap, menguasai dan berubah menjadi sesuatu yang membenarkan segala hal sekaligus menyalahkan segala hal lainnya. Pertemuan fisik tak terpenuhi dan apadaya hati hingga pikiran pun tergadaikan, kehidupan serasa penderitaan. Dan mengapa cinta ?
Cinta di atas cinta
Adalah seorang parsi, sahabat Rasulullah saw, yang merasakan cinta kepada seorang wanita sholehah Anshar. Kegalauan menyelimuti pemuda ini, bagaimana tidak, dia adalah seorang Persia, seorang yang berasal jauh dan asing dari Madinah, tempat wanita sholehah ini tumbuh dan meniti kedewasaan. Namun disampaikannyalah kepada seorang saudara yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw, dalam jalinan tali Islam, kepada Abu Darda. Kemudian, mahar pun disiapkan, strategi serta mental dan kedua pemuda ini pun bertamu ke rumah wanita tersebut. “Saya adalah Abu Darda dan ini saudara saya, Salman, seorang Parsi. Kami telah dipersaudarakan atas nama Allah. Dia telah dimuliakan Allah dengan Islam dan dia juga memuliakan Islam dengan amalan dan jihadnya. Di sisi Rasulullah, dia punya tempat yang mulia, sehingga baginda menyebutnya sebagai ahli-bait baginda. Dan kedatangan saya adalah mewakili Salman untuk melamar puteri sholehah dari rumah ini.”
Lamaran ini pun disambut oleh tuan rumah dengan menyampaikan bahwa hak untuk menerima dan menolak lamaran ini adalah pada anaknya yang bersembunyi di balik hijab dengan debaran hati yang membuncah. Hingga, sang Ibu berucap mewakili sang anak, “Maafkan kami atas kejujuran kata dalam jawaban ini. Dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa puteri kami menolak lamaran Salman. Akan tetapi seandainya Abu Darda turut mempunyai hasrat yang sama seperti Salman, puteri kami menerimanya.”
Alamak !, apakah yang terpikirkan dalam benak, ketika tambatan hati yang dilamar justru meninginkan sahabat yang mendampingi. Marah, kesal, galau ? Tidak bagi Salman, yang menjawab, “Allahu Akbar !, dengan mahar dan segala yang telah saya sediakan ini akan saya serahkan kepada sahabat saya Abu Darda untuk pernikahan kalian. Dan saya akan menjadi saksi bagi pernikahan mulia ini.”
Dan dalam sejarah ini, cinta juga tidak terbagi, ada maksud yang tidak tersampaikan dan keinginan yang tidak terpenuhi, namun berakhir dengan ujung yang jelas sangat berbeda dari roman Qais dan Laila. Inilah cinta yang membangun dengan bangun cinta dan bukan menjatuhkan dengan jatuh cinta. Cinta di atas cinta, cinta yang jauh melebihi cinta yang diciptakan fitrah untuk setiap insan di dunia. Cinta di atas cinta, yang tidak terbagi hanya untuk Allah dan Rasul-Nya, cinta syari’i yang sudah seharusnya dimiliki setiap muslim. Cinta ini begitu terang dan hangat menampakan jelas jalan kebenaran. Maka tidaklah cinta fitrah yang didorong syahwat yang menguasai, tetapi cinta Ilahi yang menentramkan.
Berbagi cinta sepanjang hayat
Lelaki mulia ini berada dalam kondisi terlemah, sakit sudah meliputi seluruh tubuhnya selama berhari-hari. Terbaring dalam pangkuan istrinya, dengan ditemani anak perempuan dan menantunya, lelaki ini tampak menghadapi akhir masa-masa tugasnya. Detik-detik akhir mendekat seiring malaikat maut menjalankan tugasnya, perlahan dengan kehati-hatian ruh dari lelaki mulia ini mulai ditarik. Seluruh tubuhnya dibanjiri peluh dan keringat, urat-urat lehernya menegang. Anak perempuannya terpejam dan menantu yang disampingnya menunduk semakin dalam. Terdengar kemudian, lelaki mulia ini terpekik tertahan, “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.” Tubuhnya beranjak dingin, bibirnya bergetar hendak membisikan sesuatu, Ali menantu kesayangannya mendekat ke telinganya, “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu rumahnya, isak tangis mulai bersahutan, para sahabat yang mendampinginya dengan setia saling berpelukan, kesedihan menyeruak menggelayuti langit akan kepergian seorang mulia ini. Putrinya, Fatimah, menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah saw yang mulai kebiruan, “umatku, umatku, umatku.”
Cinta mana lagi yang sedemikian besar hingga bahkan sebelum nafas terakhir terhembus, orang-orang yang bahkan lahir jauh setelah kematiannya masih disebut-sebut olehnya saat menjelang kematian. Dan inilah Rasulullah saw, berbagi cinta sepanjang hayat, cinta yang sedemikian besar hingga bahkan kita yang hidup di masa kini dapat merasakan cintanya melalui ajarannya, perkataannya, sikap dan karakternya yang terus disampaikan dan terjaga dari masa ke masa. Dan berbagi cinta bukanlah hal sesepele “aku cinta padamu” dan “aku akan menikahimu.” Berbagi cinta bukan pula sekedar memiliki sang penggenap hati dan menjalani hidup bahagia bersama. Cinta menjadi kekuatan positif yang sedemikian besar ketika dibagi oleh hati yang ikhlas, seperti cinta keluarga Ibrahim as., cinta yang membangun peradaban. Maka berbagi cinta adalah membangun cinta dalam ketaatan hingga menjulang tinggi ke surga, sepanjang hayat, di jalan cinta-Nya.
Oleh: Anis Matta, Lc.
Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Tapi kebanyakan orang seringkali hanya mengambil bagian tengah dari cinta: emosi. Dalam kehidupan mereka, cinta adalah gumpalan perasaan yang romantis dan indah. Mereka bahkan menderita untuk menikmati romantika cinta. Itulah karenanya kehidupan mereka tidak berkembang..
Cinta adalah sebuah totalitas. Di sana gagasan, emosi dan tindakan menjdi kesatuan yang utuh dan bekerja bersama demi kebahagiaan orang-orang yang kita cintai. Orang-orang dengan kepribadian yang lemah dan lembek tidak dapat mencintai dengan kuat. Para pencinta sejati selalu datang dari orang-orang dengan kepribadian yang kuat.
Cinta itu indah. Bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Inti pekerjaannya adalah memberi, pada orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik. Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi... begitulah cinta. Menerima? Itu mungkin dan bisa jadi pasti! Tapi itu hanya efek. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama.
Pencinta sejati menjadikan dirinya seperti air dan matahari. Ia membuat orang lain tumbuh dan berkembang dengan siraman air dan sinar cahayanya.
Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi.
Para pecinta sejati tak suka berjanji. Karena janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan. Berbeda dengan janji, rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Ketergantungan yang menghidupkan..
Cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang untuk hidup. Meski kehidupan yang mereka bangun sering tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya.
Hadirnya cinta sejati akan sangat terasa begitu ia pergi. Saat itu ada kehilangan menyayat hati. Ada ruang besar kehidupan yang tak berpenghuni
Saat seseorang kehilangan cinta sejati, maka di langit hatinya akan ada mendung pekat yang bisa menurunkan hujan air mata yang amat deras.
Intinya cinta adalah memberi, pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam.
Perhatian adalah pemberian jiwa: sebuah kondisi dimana kamu keluar dari dirimu menuju pada orang lain yang kamu cintai..
Kekuatan para pencinta sejati adalah bahwa mereka pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh.
Perhatian: itulah rahasia agung dari cinta. Saat ia hilang, jiwa orang yang dicintai tersiksa, mungkin ia tak mengatakan, tapi ia merasakan.
Pekerjaan kedua bagi para pecinta sejati setelah memperhatikan, adalah menumbuhkan. Menumbuhkan sang kekasih untuk menjadi lebih baik dan berkembang. Inilah cintanya cinta.
Pertumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dengan cinta seorang melankolik. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungn cinta.
Sukses pecinta sejati adalah seperti sukses cinta seorang guru pada muridnya. Saat nafas cintanya meniup kuncup pun mekar menjadi bunga.
“Orang kecil seperti kita, jika tidak punya mimpi maka akan mati boi” (Arai dalam Sang Pemimpi)
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?
Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran “Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi “Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Di sini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Science is an ever-changing field. As new thing discovered, we see the world better
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju. Dari pergerakan "Hidup Mahasiswa !!!" "Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
"what we only need is just to look in ourselves, it’s in us !"
PIMNAS terasa menjadi trigger bangkitnya kembali kultur menulis di mahasiswa UI, menuliskan gagasan tidak hanya mengendapkan dalam otak sendiri, berkarya menghasilkan sesuatu hal, dan bukan hanya unjuk bicara. Namun, ini semua bukan tentang PIMNAS, ataupun ajang-ajang kompetisi ilmiah lainnya. Ini tentang keilmiahan itu sendiri, tentang bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa adalah masyarakat ilmiah, berpikir dan bertindak yang mencerminkan karakter manusia rasional.
"Memory is a way of holding on to the things you love, the things you are, the things you never want to lose.” (Kevin Arnold)
Bagaimana anda mendefinisikannya? Perasaan cinta yang membuncah, benci berdarah-darah, kesedihan yang mengharu-biru atau ketakutan akan ditinggalkan. Dalam kesepakatan yang banyak dipahami oleh hampir semua orang di bumi ini, kita mengenalnya dalam sebuah padanan konsep emosi. Pertanyaan selanjutnya menjadi apa itu emosi ? Dan memang, jawaban akan menelurkan pertanyaannya selanjut, dan selalu saja begitu.
Maka, ketika pertama kali terlintas dalam otak anda kata ‘cinta’ di atas, apa yang anda bayangkan ? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang lantas menyulut kemarahan anda ? Konsep emosi, bagaimanapun juga dipandang secara objektif, mencakup perasaan emosional subjektif dan suasana ‘hati’ ditambah respon-respon fisik yang muncul berkaitan dengan perasaan tersebut. Alih-alih cerita mengenai kegalauan anak-anak muda tentang emosi, cinta, benci, dan rindu, saya akan mengajak pembaca untuk melihatnya dalam sudut pandang lain tentang emosi, cinta, rindu, dan kenangan. Memulainya dari isi kepala kita
Berbicara tentang cinta, maka berbicara tentang hati. Sayangnya, saya mengajak pembaca melalui jalur yang berbeda, dimana kita akan sedikit menyelami samudra tentang memori, tentang sel saraf yang mengambang tenang di dalam cairan serebrospinalnya. Saya agak tidak suka mengatakannya tapi anda perlu memulainya dari pelajaran tentang isi kepala (otak) anda agar anda lebih dapat merasakan keindahan misterius yang ditawarkan otak kepada kita. Secara sederhana, otak kita adalah organ yang kompleks, mencakup ribuan sistem dinamis sel saraf dan koordinasi-koordinasi yang belum sepenuhnya dipahami hingga saat ini.
Di antara semua hal yang merupakan bagian dari otak, sistem limbik berhubungan langsung dengan emosi yang selama ini kita pahami. Ekspresi-ekspresi emosional yang bisa kita amati bersama, misal tersipu, tertawa, menangis dan segala aspek yang berhubungan dengan emosi memperlihatkan hubungannya dengan sistem limbik. Stimulasi-stimulasi tertentu di daerah ini saat dilakukan operasi pembelahan otak memperlihatkan sensasi-sensasi samar yang dialami pasien sebagai perasaan senang ataupun keputusasaan.
Meskipun demikian, pola perilaku dan respon akan suatu situasi yang melibatkan emosi tidak hanya dikerjakan oleh sistem limbik sendiri. Bagian otak lain, korteks otak, yang mengatur fungsi-fungsi luhur manusia, berperan penuh dalam respon kita terhadap keadaan emosional. Emosi nampaknya dengan lebih mudah memanggil program-program yang sudah terpatri dalam korteks kita. Sebuah contoh terkenal adalah gerakan tersenyum. Respon tersenyum atas emosi yang menggembirakan merupakan bahasa universal yang dimiliki semua orang, bahkan mereka yang buta sekalipun. Mereka yang buta sejak lahir akan tetap memiliki ekspresi wajah ‘tersenyum normal’. Tersenyum tampaknya telah diprogramkan sebelumnya di korteks dan dapat diakses setiap saat oleh sistem limbik. Pada tingkat yang mendasar senyum adalah ekspersi manusia yang universal.
“Pada tingkat yang mendasar senyum adalah ekspersi manusia yang universal”
Sedikit-banyak tentang kenangan
Hal-hal yang kita ingat, kenangan masa indah saat SMA misalnya, melibatkan aktivitas holistik dari neuron yang ada di otak kita. Konsep memori mencakup segala informasi yang kita alami yang disimpan dan kita dapat memanggilnya kembali ketika kita ingin mengingat sesuatu. Memori melibatkan kontribusi seluruh sel saraf (neuron) untuk saling berinteraksi dan membentuk koneksi-koneksi di antara mereka sendiri. Hal ini berarti ketika kita mengingat informasi baru maka akan ada banyak koneksi-koneksi yang terbentuk antara neuron dalam kombinasi yang tidak terbatas !
Secara umum, para pakar neurosains membagi memori menjadi dua yaitu memori jangka pendek dan jangka panjang. Meskipun proses penyerapan informasi baru melibatkan kerja berbagai bagian di otak, paling tidak ada dua bagian yang berperan penting dalam aktivitas mengingat ini, yaitu korteks dan hippocampus. Korteks berperan penting dalam proses ingatan jangka pendek, dimana ketika anda menyerap informasi baru, korteks akan menyimpangnya sementara untuk anda. Ketika anda memutuskan bahwa informasi tersebut tidaklah penting maka dengan mudahnya korteks akan membuang informasi tersebut.
Namun, bukankah kita ingin mengingat sesuatu dalam waktu lama ? Memori jangka panjang melibatkan hubungan intens dari paling tidak, hippocampus dan korteks. Hippocampus secara spesifik akan mengubah ingatan jangka pendek menjadi jangka panjang. Memori akan tersimpan dalam ‘kantong-kantong’ ingatan di berbagai bagian otak (ya, memori tidak disimpan dalam satu area khusus di otak). Secara sadar anda dapat merubah memori jangka pendek menjadi jangka panjang dengan pengulangan. Memori memerlukan waktu yang lama untuk menempel secara permanen dalam otak kita, dan selama proses pengendapan tersebut, memori akan rentang untuk menghilang atau dibentuk ulang dengan adanya interferensi, terutama ketika kita dijejali informasi terus-menerus dalam jangka panjang tanpa jeda, seperti yang banyak terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kabar baiknya adalah inteferensi tersebut tidak akan terjadi ketika informasi diulang-ulang secara sengaja dengan diberi jeda. Otak manusia, dibanding mengingat detail, lebih menyenangi mengingat konsep dan cenderung mengingat awal dan akhir dari suatu hal dan melupakan bagian tengahnya. Idenya adalah dengan membuat jeda, kita akan memperbanyak awal dan akhir dari suatu hal yang ingin kita ingat. Oleh karena itu disarankan untuk selalu menjeda setiap 30 menit atau satu jam sekali ketika kita sedang belajar.
Kitalah pada dasarnya yang memutuskan apakah suatu hal pantas diingat atau tidak. Kita tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang membosankan. Otak kita akan membuang segala informasi yang tidak penting bagi kita dan menyimpan hanya hal-hal yang menarik perhatian kita. Lebih jauh lagi, memori akan meningkat ketika kita dapat membuat asosiasi informasi baru dengan hal yang sudah ada sebelumnya. Hal yang disebut pemahaman (sering dikatakan lebih kuat dibanding sekedar menghafal) ada hanya ketika kita dapat menggambarkannya dengan jelas dalam kepala kita dan mengasosiasikannya dengan hal yang sudah kita punya. Pemahaman tidak akan pernah ada tanpa penggambaran dalam otak kita, ini fakta penting pendidikan ! Dan asosiasi akan meningkatkan ingatan kita akan detail. Jika kita dapat menarik makna dan hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain, kita dapat mengingat detail dengan lebih mudah. Maknai sebelum detail.
“Otak kita akan membuang segala informasi yang tidak penting dan menyimpan hanya hal-hal yang menarik perhatian kita”
Cinta memang merebut perhatian kita
Peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi akan cenderung untuk lebih diingat dibandingkan dengan peristiwa biasa. Peristiwa penuh emosi (biasa disebut dengan emotionally competent stimulus) adalah stimulus paling baik untuk menyimpan memori dalam waktu lebih lama dan mengingat dengan lebih akurat. Hal ini berkaitan dengan korteks pre-frontal kita, yang berfungsi sebagaai agen pelaksana dalam memecahkan masalah dan menjaga perhatian dan hubungannya dengan amygdala. Amygdala merupakan bagian otak yang sepesial dalam membantu menciptakan dan mempertahankan emosi. Amygdala berisi banyak dopamin, sebuah neurotransmitter otak, yang berperan seperti memo dari suatu bagian ke bagian lainnya. Ketika otak mendeteksi peristiwa yang sarat dengan emosi, amygdala akan melepas dopamin, dimana neurotransmitter ini sangat membantu memori dan pengolahan informasi. Hal ini seperti anda memberikan memo kepada anak buah anda bertuliskan, “Ingatlah ini !” Dengan demikian, hippocampus pun akan bekerja dan menyimpannya sebagai memori jangka panjang.
Walaupun melupakan detail wajah orang yang kita cintai, kita akan tetap mengingat perasaan pernah mencintai dan dicintai, ketika kita bertemu dengan orang tersebut. Amygdala akan merespon peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi, cinta, benci, kesedihan, gembira dan memungkinkan kita untuk dapat mengingat hal-hal lampau dengan lebih baik. Oleh karena itu, ide sederhananya adalah cintai terlebih dahulu pelajaran yang ingin kita ingat, maka kita akan mengingatnya dengan lebih baik. Dengan melibatkan emosi dalam proses pembelajaran, hal ini diharapkan dapat membantu kita mengingat dengan lebih baik. Sayangnya dalam sistem pendidikan formal kita selama ini, hal-hal abstrak seperti emosi, yang cenderung melibatkan otak bagian kanan, belum dilibatkan dan lebih mengagungkan otak bagian kiri. Untuk dapat menjadi pembelajar sejati, kita perlu memaksimalkan potensi kedua bagian otak.
“Walaupun melupakan detail wajah orang yang kita cintai, kita akan tetap mengingat perasaan pernah mencintai dan dicintai”
Referensi:
de Potter, B. Quantum memorizer.
Medina, J. Brain rules.
Sherwood, L. Human physiology.