Hasil akhir tidak menjamin mutu produk, namun mutu haruslah dibentuk ke dalam produk (CPOB)
Mari kita berimajinasi sebentar, bayangkan anda sedang flu berat, anda tidak punya pilihan kecuali membeli obat pereda flu di toko sebelah. Anda akan menemukan beragam obat yang dapat membantu meradakan gejala flu dengan berbagai warna dan kemasan yang berbeda. Kemudian, anggap saja anda mengambil suatu obat dengan merek tertentu, membayarnya, kemudian membawanya pulang. Sekarang anda hendak meminumnya bersama dengan segelas air mineral hangat, anda memegangnya dan kemudian memasukannya ke dalam mulut dalam gerakan lambat dan kemudian saya memencet tombol pause. Baiklah, dari obat (kita bayangkan saja obatnya berbentuk tablet) yang kita beli pernahkah terpikirkan bahwa isi obat tersebut hanyalah tepung yang dicetak menjadi tablet ? Dan anda sembuh hanya karena anda menginginkan anda sembuh ?
Awal mula obat anda
Sekarang saya akan mengajak anda berlari mundur dan melihat bagaimana mereka diciptakan. Percaya atau tidak, obat anda yang berbentuk tablet, kapsul, kaplet bahkan berbentuk segitiga pada awalnya hanyalah serbuk-serbuk tertentu yang kemudian ditimbang dengan berat tertentu, dicampur dan diaduk dan akhirnya dimasukan ke dalam sebuah mesin yang mengompakkan bentuk mereka menjadi sebuah obat yang tadi anda telan. Mudah bukan ? Anda cukup memiliki alat timbang, baskom untuk mencampur bahan-bahan dan (yang ini agak mahal) sebuah mesih pencetak tablet, maka anda dapat memiliki tablet sendiri. Tapi tunggu dulu, walaupun anda mendapatkan bentuk obat yang cantik, bisakah anda memastikan bahwa obat tersebut menyembuhkan dan bukannya meracuni ? Baiklah anggap saja satu obat yang anda buat tersebut menyembuhkan anda dari flu, namun apakah anda yakin dapat menghasilkan obat yang sama dengan kualitas yang sama selanjutnya?
High regulated business
Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi obat menyembuhkan anda sama besarnya dengan potensi meracuni anda. Oleh karenanya mungkin aturan main dalam industri farmasi adalah salah satu yang terketat, paling tidak di Indonesia. Permasalah utamanya tentu saja bahwa obat diharapkan dapat menyembuhkan dan bukan sebaliknya. Kita perlu menjamin bahwa setiap obat yang ada di sekitar kita bukanlah racun-racun yang tidak menyenangkan. Regulasi kita banyak mempersyaratkan suatu obat bukan hanya dari proses produksinya, namun sejak awal pembuatan bahan baku obat, proses distribusinya hingga akhirnya anda dapatkan dari sebuah apotek. Obat-obat yang sudah beredar di tengah-tengah kita pun tidak lepas dari pemantauan. Mereka tetap dan terus dikaji keamanan, kualitas dan kemanfaatannya walaupun sudah dinyatakan layak untuk dijual. Segala bentuk usaha ini tidak lain untuk menjamin bahwa obat yang dihasilkan aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten hingga waktu yang tertera pada tanggal daluwarsa.
Aturan main
Sebuah pedoman akhirnya dibuat untuk melindungi kita semua dari obat-obat yang tidak layak. CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) merupakan pedoman yang dipakai oleh semua industri farmasi di Indonesia dalam proses produksi suatu produk obat. Di dalamnya terurai aturan main, kriteria serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh semua industri farmasi yang ada di Indonesia. Pada prinsipnya pedoman ini dibuat untuk menjamin bahwa obat yang diproduksi aman, bermutu dan berkhasiat secara konsisten. Salah satu hal yang menjadi penekanan adalah bagaimana menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya secara konsisten. Adalah hal yang percuma bila konsistensi mutu obat yang dihasilkan tidak dapat dijamin karena anda tahu, dalam sekali running sebuah mesin pencetak obat dapat menghasilkan ribuan tablet obat dalam waktu satu jam.
Prinsip lain yang perlu anda ketahui adalah bahwa kita tidak dapat menjamin mutu suatu obat hanya berdasarkan hasil tes laboratorium yang dilakukan pada obat jadi. Mengapa ? Dapat anda bayangkan bahwa suatu industri farmasi memiliki keterbatasan untuk memeriksa setiap keping obat yang dibuatnya. Oleh karena itu dari populasi obat yang begitu banyak, maka hanya diambil sekian jumlah sampel yang dapat mewakili populasi obat tersebut. Meskipun saya berkata ‘dapat mewakili’, sekali lagi kita tidak bisa menjamin bahwa semua obat akan memenuhi syarat. Maka pendekatan yang dilakukan bukanlah pada produk jadi namun pada proses untuk menghasilkan produk tersebut. Mutu harus dibentuk ke dalam produk tersebut dengan jalan menciptakan proses yang terkendali. Variabilitas adalah musuh utama dari kinerja proses produksi obat. Variabilitas merupakan hal yang harus dikendalikan (jika bisa hingga 100%) karena idealnya kita menginginkan kualitas yang sama pada setiap tablet yang dihasilkan.
Pertanyaannya menjadi bagaimana mengendalikan variabilitas tersebut ? Jawaban mudahnya adalah memastikan setiap alur proses produksi obat dapat kita kendalikan. Pengendalian yang dimaksud bukan hanya mengenai proses pembuatan obat, tetapi semua aspek yang berpengaruh kepadanya, misal bahan bakunya, lingkungan tempat produksinya hingga orang yang melakukannya. Dengan maksud ingin mengatur secara detail proses produksi obat, maka dibuatlah pedoman CPOB ini yang mengatur 12 aspek yang menyangkut masalah bagaimana memastikan mutu obat, personel yang terlibat, bangunan dan fasilitasnya, peralatan, kebersihan baik individu maupun lingkungan, proses produksi, mengawasi mutu produk, menginspeksi dan mengaudit proses dan aspek yang ikut mempengaruhi, penanganan terhadap keluhan produk dan penarikan kembali produk dari pasaran, pendokumentasian aktivitas, kualifikasi dan validasi proses dan aspek-aspek terkait hingga mengenai kerja sama pembuatan produk antar industri farmasi.
Mengintip lantai produksi
Ya hanya mengintip, ini dapat berarti harfiah bahwa anda mungkin tidak akan dapat pernah menginjakan kaki di lantai produksi industri farmasi dan melihat proses produksi secara langsung sekalipun anda menginginkannya. Well, saya akan membantu anda membayangkan bagaimana masuk ke lantai produksi obat. Hal yang pertama yang perlu anda ketahui bahwa anda harus melepas pakaian serta sepatu anda dan menggantinya dengan pakaian dan sepatu yang khusus digunakan di area ini. Pakaian produksi ini khusus karena dirancang agar tidak melepaskan serat atau partikel sebanyak pakaian yang biasa anda pakai. Bahkan jika kita memasuki area dimana produk steril seperti obat suntik dibuat, dalam proses menuju ke area tersebut kita akan berganti pakaian sebanyak tiga kali ditambah mandi di tempat yang disediakan sebelum akhirnya masuk ke area produksi steril. Kemudian kita akan berjalan di koridor produksi dimana anda akan menemukan lantai halus yang terbuat dari bahan epoksi dan anda tidak akan menemukan sudut dimanapun. Sudut-sudut yang terbentuk, misal pada pertemuan antara lantai dan dinding, tidak berbentuk siku, namun melengkung. Hal yang mungkin tidak bisa dilihat atau dirasakan adalah bahwa ada perbedaan tekanan udara antara ruangan dengan koridor. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kontaminasi antar bahan karena adanya partikel-partikel yang berterbangan.
Uraian di atas hanyalah sebagian dari cara pengendalian proses produksi, dan ingat bahwa bukan hanya proses pembuatan obat saja yang dikendalikan, tetapi juga gudang penyimpanan barang, laboratorium hingga kantin yang disediakan. Anda bisa membayangkan bahwa betapa segala hal yang menyangkut mutu obat yang dihasilkan harus bisa dikendalikan. Tujuan akhirnya agar obat yang anda telan pada awal tulisan ini tadi, benar-benar obat dengan mutu terbaik yang dapat dihasilkan.
Read More..
Journal of Ramadhan
Don't question about my life. It's a grace, also a trial. A world full of dreams and aspirations.
Sabtu, 11 Februari 2012
City of Wind #2
Kota Para Angin, siang cerah musim semi awal
“Masih terasa dinginkah ?” ia bertanya. Bulan ini peralihan dari dinginnya angin utara menuju hangatnya angin selatan. “Tidak, tentu saja, siapa yang tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan angin selatan ?”
Beberapa negeri mungkin akan menjanjikanmu kehidupan mewah, surga dunia. Beberapa di antaranya menjanjikan kedamaian dari masa lalu, masalah, kenangan buruk bahkan pengejaran dari musuhmu. Tetapi negeri ini berbeda, kota ini berbeda. Dia tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada apa-apa bahkan. Tidak ada, kecuali lambaian lembut ilalang dan tarian daun-daun yang beriringan seirama. Dan para angin yang selalu membelai rambut mu lembut, berbisik pelan di telinganmu. Mereka berbisik dan jika kamu beruntung mereka akan tertawa bersamamu.
Di awal tekad, mungkin kita perlu berbicara tidak pada siapa pun. Ya, karena tekad tidak perlu diumbarkan, cukup kita hujamkan di hati terdalam. Mungkin satu orang yang perlu kita beritahukan adalah diri kita sendiri, mungkin juga tidak. Karena perjalanan panjang akan terasa jenuh untuk dilalui sendiri. Namun kota ini sedikit memberikan sebuah pelajaran bahwa kesendirian bukan tentang ketidakhadiran orang lain namun ketidakhadiran kita dalam orang lain. Menarik bahwa orang di sekitar kita belum tentu bagian dari diri kita, tetapi mereka yang tidak bersama kita bisa jadi bagian dari diri kita. Dan kebersamaan bukan tentang keberadaan raga tetapi tentang keterikatan hati.
Bagaimanapun juga, perjalanan harus diteruskan karena waktu selalu enggan menunggu.
Read More..
“Masih terasa dinginkah ?” ia bertanya. Bulan ini peralihan dari dinginnya angin utara menuju hangatnya angin selatan. “Tidak, tentu saja, siapa yang tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan angin selatan ?”
Beberapa negeri mungkin akan menjanjikanmu kehidupan mewah, surga dunia. Beberapa di antaranya menjanjikan kedamaian dari masa lalu, masalah, kenangan buruk bahkan pengejaran dari musuhmu. Tetapi negeri ini berbeda, kota ini berbeda. Dia tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada apa-apa bahkan. Tidak ada, kecuali lambaian lembut ilalang dan tarian daun-daun yang beriringan seirama. Dan para angin yang selalu membelai rambut mu lembut, berbisik pelan di telinganmu. Mereka berbisik dan jika kamu beruntung mereka akan tertawa bersamamu.
Di awal tekad, mungkin kita perlu berbicara tidak pada siapa pun. Ya, karena tekad tidak perlu diumbarkan, cukup kita hujamkan di hati terdalam. Mungkin satu orang yang perlu kita beritahukan adalah diri kita sendiri, mungkin juga tidak. Karena perjalanan panjang akan terasa jenuh untuk dilalui sendiri. Namun kota ini sedikit memberikan sebuah pelajaran bahwa kesendirian bukan tentang ketidakhadiran orang lain namun ketidakhadiran kita dalam orang lain. Menarik bahwa orang di sekitar kita belum tentu bagian dari diri kita, tetapi mereka yang tidak bersama kita bisa jadi bagian dari diri kita. Dan kebersamaan bukan tentang keberadaan raga tetapi tentang keterikatan hati.
Bagaimanapun juga, perjalanan harus diteruskan karena waktu selalu enggan menunggu.
Read More..
Selasa, 31 Januari 2012
City of Wind #1
"Begitu burukah ketika kita melarikan diri dari kenyataan ?", Saya bertanya dan bertanya, tidak mengharapkan jawaban, berharap keluar dari situasi serba masalah ini.
Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.
"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.
Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.
Read More..
Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.
"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.
Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.
Read More..
Sabtu, 17 Desember 2011
Ruang mimpi
“Orang kecil seperti kita, jika tidak punya mimpi maka akan mati boi” (Arai dalam Sang Pemimpi)
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?
Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran
“Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi
“Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Read More..
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran
“Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi
“Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Read More..
Cinta bersemi di pelaminan
Oleh: Anis Matta, Lc.
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Di sini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Keterangan:
Tulisan asli dapat di lihat di www.anismatta.com
Read More..
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Di sini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Keterangan:
Tulisan asli dapat di lihat di www.anismatta.com
Read More..
Senin, 12 Desember 2011
Tahap antara proses ekstraksi: Pemekatan
Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan yang tidak terlalu diperhatikan saat proses ekstraksi simplisia berlangsung. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat tahapan ini di antara dua tahapan utama dalam proses ekstraksi, yaitu proses ekstraksi itu sendiri dan proses pengeringan ekstrak menjadi ekstrak kering.
Meskipun demikian, jenis ekstrak yang diinginkan mempengaruhi metode pemekatan yang dipilih. Ekstrak cair sebagai hasil ekstraksi dari ekstraktor, dikenal sebagai misela (miscella), pada umumnya akan dipekatkan dengan metode evaporasi. Ekstrak cair dimasukan ke alat evaporator dimana ekstrak akan dipekatkan dalam vakum untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental ini selanjutnya akan dikeringkan untuk mendapatkan ekstrak kering. Pada skala industri, pelarut yang berhasil didapatkan kembali akan digunakan lagi untuk ekstraksi batch berikutnya.
Pada proses lanjutan, ekstrak cair yang diperoleh dapat dilakukan:
Selain poin ketiga, setiap ekstrak perlu dilakukan pemekatan. Pada proses pemekatan perlu diperhatikan stabilitas kimia dari senyawa yang ingin diperoleh. Oleh karena itu, proses pemekatan sering kali dilakukan pada suhu 25° – 30° C atau temperatur tinggi dengan durasi singkat untuk menjaga kestabilan senyawa kimia yang bersifat termolabil.
Pemekatan didefinisikan sebagai peningkatan komposisi senyawa terlarut (solute) dalam pelarutnya melalui metode evaporasi atau vaporisasi (vaporization) tanpa mengubahnya menjadi produk kering, meskipun hasil akhir dari proses pemekatan dapat berupa ekstrak dengan viskositas tinggi. Istilah vaporisasi atau boiling down lebih sering digunakan untuk menggambarkan pemekatan suatu ekstrak dibandingkan dengan evaporasi. Evaporasi didefinisikan sebagai proses perubahan keadaan cair menjadi gas dengan kehadiran gas lain, misalnya udara, pada wadah atau tempat evaporasi. Namun pada istilah vaporisasi, hanya molekul dari pelarut yang hadir dalam wadah atau tempat vaporisasi. Istilah boiling down digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah zat padatnya atau konsentrat dengan kepadatan tinggi, sedangkan istilah vaporisasi digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah pelarutnya.
Parameter yang mempengaruhi proses pemekatan meliputi jumlah larutan yang akan dipekatkan dan kestabilan dari zat terlarut. Jika diperkirakan zat terlarut yang dikehendaki bersifat termostabil maka pemekatan dapat dilakukan pada tekanan biasa atau di bawah vakum. Zat yang bersifat termolabil harus dipekatkan dengan suhu yang diperkirakan tidak akan mendegradasi zat tersebut. Peningkatan tekanan dapat dilakukan agar suhu yang diperlukan untuk menguapkan pelarut dapat diturunkan.
Referensi:
List, P.H. dan P.C. Schmidt. 1989. Phytopharmaceutical technology. London: Heyden & Son Limited.
Bomberdelli, E. 1991. Technologies for the processing of medicinal plants. In R.O.B. Wijesekera (ed). The medicinal plant industry. Florida: C R C Press Inc.
Handa, S.S., et. al. 2008. Extraction technology for medicinal and aromatic plants. Trieste: ICS-UNIDO
Read More..
Meskipun demikian, jenis ekstrak yang diinginkan mempengaruhi metode pemekatan yang dipilih. Ekstrak cair sebagai hasil ekstraksi dari ekstraktor, dikenal sebagai misela (miscella), pada umumnya akan dipekatkan dengan metode evaporasi. Ekstrak cair dimasukan ke alat evaporator dimana ekstrak akan dipekatkan dalam vakum untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental ini selanjutnya akan dikeringkan untuk mendapatkan ekstrak kering. Pada skala industri, pelarut yang berhasil didapatkan kembali akan digunakan lagi untuk ekstraksi batch berikutnya.
Pada proses lanjutan, ekstrak cair yang diperoleh dapat dilakukan:
- Pemekatan sebagian atau total, tergantung apakah ekstrak cair tersebut ditujukan untuk ekstrak kering, ekstrak cair, atau kental.
- Pemekatan sebagian atau diekstraksi kembali (counterextracted) dengan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan ekstrak yang lebih banyak dan lebih murni.
- Diekstrak kembali tanpa pemekatan untuk mengisolasi senyawa tertentu.
Selain poin ketiga, setiap ekstrak perlu dilakukan pemekatan. Pada proses pemekatan perlu diperhatikan stabilitas kimia dari senyawa yang ingin diperoleh. Oleh karena itu, proses pemekatan sering kali dilakukan pada suhu 25° – 30° C atau temperatur tinggi dengan durasi singkat untuk menjaga kestabilan senyawa kimia yang bersifat termolabil.
Pemekatan didefinisikan sebagai peningkatan komposisi senyawa terlarut (solute) dalam pelarutnya melalui metode evaporasi atau vaporisasi (vaporization) tanpa mengubahnya menjadi produk kering, meskipun hasil akhir dari proses pemekatan dapat berupa ekstrak dengan viskositas tinggi. Istilah vaporisasi atau boiling down lebih sering digunakan untuk menggambarkan pemekatan suatu ekstrak dibandingkan dengan evaporasi. Evaporasi didefinisikan sebagai proses perubahan keadaan cair menjadi gas dengan kehadiran gas lain, misalnya udara, pada wadah atau tempat evaporasi. Namun pada istilah vaporisasi, hanya molekul dari pelarut yang hadir dalam wadah atau tempat vaporisasi. Istilah boiling down digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah zat padatnya atau konsentrat dengan kepadatan tinggi, sedangkan istilah vaporisasi digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah pelarutnya.
Parameter yang mempengaruhi proses pemekatan meliputi jumlah larutan yang akan dipekatkan dan kestabilan dari zat terlarut. Jika diperkirakan zat terlarut yang dikehendaki bersifat termostabil maka pemekatan dapat dilakukan pada tekanan biasa atau di bawah vakum. Zat yang bersifat termolabil harus dipekatkan dengan suhu yang diperkirakan tidak akan mendegradasi zat tersebut. Peningkatan tekanan dapat dilakukan agar suhu yang diperlukan untuk menguapkan pelarut dapat diturunkan.
Referensi:
List, P.H. dan P.C. Schmidt. 1989. Phytopharmaceutical technology. London: Heyden & Son Limited.
Bomberdelli, E. 1991. Technologies for the processing of medicinal plants. In R.O.B. Wijesekera (ed). The medicinal plant industry. Florida: C R C Press Inc.
Handa, S.S., et. al. 2008. Extraction technology for medicinal and aromatic plants. Trieste: ICS-UNIDO
Read More..
Sabtu, 05 November 2011
Bersama kembali ke kultur ilmiah
Science is an ever-changing field. As new thing discovered, we see the world better
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju.
Dari pergerakan
"Hidup Mahasiswa !!!"
"Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
Read More..
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju.
Dari pergerakan
"Hidup Mahasiswa !!!"
"Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
"what we only need is just to look in ourselves, it’s in us !"PIMNAS terasa menjadi trigger bangkitnya kembali kultur menulis di mahasiswa UI, menuliskan gagasan tidak hanya mengendapkan dalam otak sendiri, berkarya menghasilkan sesuatu hal, dan bukan hanya unjuk bicara. Namun, ini semua bukan tentang PIMNAS, ataupun ajang-ajang kompetisi ilmiah lainnya. Ini tentang keilmiahan itu sendiri, tentang bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa adalah masyarakat ilmiah, berpikir dan bertindak yang mencerminkan karakter manusia rasional.
Read More..
Langgan:
Entri (Atom)








