Selasa, 14 September 2010

Kontrol Kualitas Produk Steril

Suatu produk yang dimaksudkan untuk digunakan secara steril tentunya harus mengalami proses sterilisasi terbih dahulu. Ketika produk tersebut telah selesai melewati proses sterilisasi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan kontrol terhadap produk steril tersebut. Pada industri bagian ini dikerjakan oleh tim QC (Quality Control). Paling tidak berikut gambaran kontrol kualitas dari produk steril:

Tingkat Keyakinan Sterilitas (Sterility Assurance Levels)
Tingkat Sterility Assurance Levels (SAL) didefinisikan sebagai kemungkinan keberadaan mikroorganime yang masih dapat hidup pada suatu produk setelah mengalami proses sterilisasi. SAL biasa diekspresikan dengan 10-n. Pemilihan SAL yang tepat dipengaruhi oleh tujuan dari penggunaan produk yang akan disterilisasi dan kestabilan produk tersebut terhadap proses sterilisasi. Perhitungan D10 digunakan untuk menghitung dosis yang harus digunakan untuk mencapai SAL yang diinginkan. Suatu produk yang disterilisasi dapat dikatakan steril, jika secara teoritis kemungkinan mikroorganisme untuk dapat bertahan hidup adalah 10-3 atau 10-6, tergantung dari tujuan penggunaan produk tersebut. Namun nilai SAL dapat ditoleransi menjadi kurang dari 10-6 jika produk tersebut, (1) tidak dapat menerima proses sterilisasi yang dapat mencapai nilai SAL 10-6 tanpa berefek buruk pada keamanan dan fungsi produk tersebut; (2) memberikan keuntungan untuk diagnosis, perawatan, dan penyembuhan pasien; (3) sangat unik sehingga tidak ada produk alternatif lain yang dapat menerima proses sterilisasi yang dapat mencapai nilai SAL 10-6.
Produk yang seharusnya memiliki nilai SAL 10-6 adalah sebagai berikut:
1.Produk yang ditujukan untuk berkontak dengan jaringan tubuh, seperti:
a.Perban luka
b.Kateter jantung
c.Sarung tangan operasi
d.Alat suntik
e.Jarum hipodermik
f.Larutan parenteral
g.dan lain sebagainya
2.Produk yang merupakan saluran cairan steril, seperti:
a.Saluran cairan dari set IV
b.Saluran cairan dari alat suntik
c.Wadah penyimpan produk steril
d.dan lain sebagainya
3.Alat implan operasi, seperti:
a.Sediaan implan
b.Lensa intraokular
c.Benang jahit operasi
d.dan lain sebagainya
Nilai SAL sebesar 10-3 ditetapkan untuk produk yang tidak dimaksudkan berkontak dengan jaringan tubuh, seperti:
1.Koleksi spesimen atau peralatan transfer, seperti:
a.Tabung koleksi sel darah untuk keperluan tes diagnostik in vitro
b.Peralatan media kultur
c.Pipet yang digunakan untuk keperluan serologi
d.Wadah spesimen
2.Peralatan topikal, seperti:
a.Elektrode ECG
b.Pakaian operasi
c.dan lain sebagainya
3.Peralatan yang berkontak dengan mukosa, seperti:
a.Alat penekan lidah
b.Sarung tangan
c.Kateter urin
4.Produk yang tidak tahan pada proses sterilisasi untuk mencapai nilai SAL 10-6, seperti:
a.Katup jantung buatan
b.dan lain sebagainya

Evaluasi Bioburden Produk
Bioburden adalah populasi dari mikroorganisme yang dapat hidup pada bahan baku hingga pada komponen suatu produk akhir. Faktor yang dapat mempengaruhi bioburden adalah:
1.Bahan baku; sintetik lebih rendah dari organik
2.Komponen produksi; pembuatan dengan mesin lebih rendah dari buatan tangan
3.Tingkat kontrol lingkungan produksi
4.Peralatan pembantu perakitan produk; seperti udara terkompresi, air, lubrikan
5.Pembersihan pendahuluan sebelum pengemasan
6.Pengemasan dari produk akhir; otomatis dengan mesin lebih rendah daripada manual
Pengujian bioburden produk membutuhkan data jumlah dan identitas dari mikroorganisme. Identifikasi mikroorganisme tersebut tidak perlu terlalu dalam, namun data tentang jenis bakteri gram apa dengan genusnya memberikan informasi yang berguna dan dapat digunakan untuk pengawasan perubahan mikroorganisme dan sebagai perbandingan data mikroorganisme yang muncul kembali selama monitoring lingkungan. Evaluasi bioburden dilakukan dengan cara memilih 10 kemasan secara acak dari satu lot produk yang baru diproduksi. Jumlah sampel dapat diturunkan menjadi 5 kemasan jika harga produk sangat mahal. Produk percobaan dapat digunakan dengan syarat terbuat dari bahan dan proses pembuatan yang sama. Produk yang ditolak selama proses pembuatan dapat pula digunakan selama produk tersebut diperlakukan pada semua langkah produksi. Produk yang sudah kadaluarsa atau sudah lama tidak dapat digunakan karena tidak dapat mewakili keadaan produk yang baru diproduksi.
Metode yang digunakan untuk pengujian bioburden harus divalidasi agar diketahui hubungan antara jumlah estimasi dengan jumlah mikroorganisme yang ada sebenarnya. Metode apapun yang digunakan haruslah reproduksibel sehingga dapat dibandingkan dengan data yang dibuat kemudian. Semua perlakuan harus menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi kemampuan bertahan hidup dari mikroorganisme, seperti kenaikan temperature, pengocokan, ataupun kejutan osmotik (osmotic shock). Estimasi bioburden terdiri dari tiga fase:
1.Pemindahan mikroorganisme dari produk dengan teknik ekstraksi, seperti ultrasonifikasi, agitasi mekanis, pencampuran vortex, pembilasan, contact plating, dan lain-lain. Surfaktan dapat digunakan untuk memfasilitasi pemindahan mikroorganisme.
2.Pemindahan mikroorganisme ke media kultur dengan cepat; metode yang digunakan di antaranya adalah filtrasi membrane, pour plating, spread plates, dan lain sebagainya. Kondisi inkubasi yang tepat harus diperhatikan, seperti pada bakteri aerob pada 30-35°C selama dua hari, ragi dan kapang pada 20-25°C selama 5-7 hari, dan bakteri anaerob pada 30-35°C selama 3-5 hari.
3.Perhitungan koloni.

Uji Sterilitas Produk
Ada dua pendekatan yang dapat digunakana untuk melaksanakan uji sterilitas produk, yaitu:
1.Pencelupan langsung produk pada medium kultur atau medium kultur ke produk, selanjutnya diinkubasi selama 14 hari. Pada proses ini perlu diperhatikan:
Produk mungkin harus dibongkat sebelum terpapar ke media transfer atau secara aseptis dibagi terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke wadah medium.
b. Media kultur harrus dapat menjamin kontak dengan keseluruhan bagian produk
c. Pengocokan atau agitasi setelah perpindahan di media kultur
d. Mempertahankan kontak antara medium dengan produk selama masa inkubasi
2.Pemindahan mikroorganisme dari produk dengan cara elusi dan filtrasi atau memisahkan mikroorganisme yang akan dipindahkan ke kondisi pertumbuhan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
a. Penggunaan teknik elusi mirip dengan yang digunakan pada proses estimasi bioburden
b. Penambahan surfaktan mungkin diperlukan untuk memperbaiki pemindahan mikroorganisme dengan melembabkan permukaan produk
c. Filter membrane yang digunakan berkisar pada 0,45 mikron
d. Pemindahan filtrat ke media kultur dilakukan secara aseptis
Umumnya hanya digunakan satu media kultur yang optimal untuk pengkulturan mikroorganisme aerobik dan fakultatif. Medium soybean-casein digest (tripic soy broth) merupakan media yang paling umum digunakan dan sampel uji diinkubasi pada 28-32°C selama 14 hari. Sampel harus diperiksa tiap hari dan dicatat hasil perkembangannya
Medium pertumbuhan harus diuji terlebih dahulu kualitasnya dalam menumbuhkan bakteri sebelum digunakan pada uji sterilisasi, dan efek produk terhadap kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh harus dievaluasi dengan uji bakteriostasis/fungistasis. Hasil uji akan dibandingkan dengan pertumbuhan mikroorganisme uji pada wadah dengan atau tanpa produk.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi disain metode uji steriilitas adalah sebagai berikut:
1)Bagian produk yang akan dibuat klaim sterilitasnya
2)Sifat fisiko-kimia dari produk
3)Kemungkinan tipe organisme yang akan mengontaminasi dan lokasinya pada atau di dalam produk.
Metode yang digunakan untuk uji sterilitas selama validasi akan mempengaruhi hasil uji coba.

Pustaka
Booth, Anne F. 2001. Sterilization Validation and Routine Operation Handbook: Radiation. Lancaster: Technomic Publishing Company, Inc.

4 komentar:

  1. Terimakasih, informasi ini sangat berguna sekali

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. bermanfaat sekali terima kasih admin, semangat !

    BalasHapus