Selasa, 30 Agustus 2011

Ied Mubarak 1432H !


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H
Mohon maaf atas segala khilaf (terutama jika ada tulisan-tulisan yg tidak berkenan di hati)
Taqabballahu minna wa minkum
Taqabbal ya karim


Read More..

Rabu, 24 Agustus 2011

Bang Pitung dan Kompeni

Kali ini berlatar belakang sejarah dari tanah betawi, jagoan yang dicintai oleh rakyat kecil juga ditakuti oleh pemerintah berkuasa saat itu, siapa lagi kalau bukan Bang Pitung. Berkisar di akhir abad ke 19, di daerah rawa belong, terhidupkanlah seorang jagoan yang diceritakan tidak hanya punya silat yang mumpuni untuk membuat takut para belanda namun juga disebut pandai mengaji dan belajar ilmu tarekat keIslaman. Bang Pitung, sosok ini hebat dan memang nyata, dikatakan membela rakyat betawi saat itu yang sedang dijajah oleh Belanda dengan sistem tanam paksanya. Namun dari kaca mata kompeni, Bang Pitung hanyalah seorang pengacau yang mengancam keamanan VOC karena ulahnya yang sering membuat repot kompeni. Potensi ancaman keamanannya yang sedemikian besar membuat pemerintahan hindia belanda memberlakukan status ‘dicari, hidup atau mati’.

Legenda ini hidup dan tidak boleh hilang dari sejarah tanah betawi. Namun pada kenyataannya sudah banyak hilang kisah patriotisme Bang Pitung dari cerita-cerita anak muda betawi. Bisa dibayangkan banyak anak muda betawi yang sudah termakan arus modernisasi dan lebih senang ngumpul di mall-mall daripada duduk di surau untuk belajar mengaji atau ilmu tentang Islam seperti yang dilakukan Bang Pitung dulu. Maka saya punya kisahnya sedikit dan saya bagikan kepada anak-anak di daerah kukusan yang mengikuti pesantren kilat Ramadhan for Kids. Saya ceritakan kisahnya sedikit dalam bentuk drama yang mereka mainkan dengan senang hati, meskipun ada malu karena disaksikan teman sebayanya. Saya bagikan juga kepada pembaca, naskah dramanya.

Naskah Drama Si Pitung vs Kompeni


Balada Si Pitung dan Kompeni

Dalang:
Pendahuluan
Alkisah di suatu masa di tanah Betawi, tersiarlah sebuah kabar adanya jagoan Betawi yang berani dan dapat mengalahkan banyak orang-orang kompeni Belanda. Orang tersebut sangat sakti, jago dalam berkelahi dan kebal terhadap peluru senjata kompeni.

Scene 1
[si pitung maju sendiri ke atas panggung dan berbicara kepada penonton]
Pitung: Oi penonton. Aye ini Pitung, anak asli betawi, aye bakal hajar pade orang belande yg udah jajah nih tanah betawi. Penonton, entar liat ye, aksi aye dlm menghajar orang belande setelah pesan-pesan berikut ini……
[si pitung keluar panggung]

Scene 2
[rakyat jelata masuk panggung dalam keadaan habis dijorokin oleh tentara belanda dan berbicara kepada penonton]
Rakyat jelata 1: Eh penonton, kgk kasian ape ngeliatin kite dibeginiin? Dasar emang nih kompeni bisanye nyiksa rakyat kecil aje
Rakyat jelata 2: Iye ni penonton, tuh kompeni bisanye nyiksa doang, kite kgk pernah dikasih makan, lapeer nih. *eh emang lg puasa yee…
[tentara belanda masuk sambil menodongkan senjata ke arah rakyat jelata dan berbicara kepada mereka]
Tentara 1: woi, overdome, kamu orang ngapain aja pada kagak kerja. Ayo kerja atau kita bedil kepala-kepala kamu pada. Jangan pada malas
[sisa tentara lainnya ikut juga mengancam rakyat jelata]
[si Pitung tiba-tiba datang, berbicara kpd para tentara dan melawan mereka]
Pitung: Oi, kalian pade ngapain nyiksa rakyat kecil. Kalo berani hadapin aye, Si Pitung.
Dalang:
dan pertempuran pun terjadi. Para tentara belanda memberondong si pitung dengan senapannya, namun dengan kesaktiaannya si pitung bisa menghindari semua peluru tersebut dan menghajar satu persatu para tentara Belanda, sehingga mereka jatuh terkapar.
Dan begitulah hingga pada akhir hayatnya si Pitung terus berjuang membela rakyat betawi dan melawan para penjajah kompeni Belanda. Hingga hari ini kisah kepahlawan si Pitung yang berani melawan kedzaliman Belanda tetap melegenda dan hendaknya kita sebagai generasi muda bisa mengambil pelajaran dari kisah kepahlawanan si Pitung.
[fin]

salah satu adegan dimana pitung mengalahkan belanda

Balada ini berdurasi kurang lebih 5-10 menit dengan canda tawa di sana-sini. Dan diakhir pertunjukannya beberapa anak lainnya ternyata protes, mereka berprotes, “Pitung kan mati ka ditembak peluru emas oleh Belanda”. Begitulah cerita yang beredar. Dan ternyata bocah-bocah ini, ditengah dahsyatnya game online yang merajalela, masih tahu kisah akhir dari Bang Pitung.

si pitung dan tentara kompeni -setelah balada selesai-

Dan Bang Pitung memang mati, ditembak peluru emas polisi belanda schout van Hinne dalam suatu penggerebekan. Peluru biasa sudah tidak mampu menghadang Bang Pitung karena dikabarkan Abang kita ini punya ilmu rawa rontek. Di antara superhero fiksi yang dibuat oleh Marvell dan teman-teman lainnya, kita justru memiliki superhero nyata yang membela rakyat lemah dan berani melawan penguasa yang lalim, dan inilah Bang Pitung kita.

Referensi: Alwi shahab. 2008. Hari-hari akhir si Pitung. alwishahab.wordpress.com/2008/04/15/hari-hari-akhir-si-pitung/. [diakses 24 Agustus 2011].

Read More..

Jumat, 05 Agustus 2011

Membersamai anak-anak


You can learn many things from children. How much patience you have, for instance. (Franklin P. Jones)

Ada canda-tawa yang mungkin masih kita ingat di masa-masa kecil kita. Keceriaan, kejenakaan, betapa polosnya kita, semua lepas dalam kegembiraan bermain bersama, di kelas, lapangan, hingga persawahan tempat kita bermain petasan saat bulan puasa. Senyum mungkin akan tetap terselip di bibir kita ketika mengingat semua hal tersebut.

Betapa tidak, di tengah kedewasaan yang menyediakan tidak hanya kesempatan yang begitu luas akan masa depan, tetapi juga misteri akan kehidupan, ketakutan-ketakutan akan masa depan yang tidak pasti, dan ketidaktahuan akan hal-hal yang berseliweran di sekitar kita. Tanggung jawab adalah pembebanan alami yang dialami setiap anak manusia yang berniat menjadi dewasa. Menjadi tua adalah suatu keniscayaan, namun menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang sama-sama kita pahami akan konsekuensinya.

Mengingat canda-tawa lama

Sejatinya kita perlu melakukan kontemplasi secara regular, meninjau perjalanan yang sudah kita lewati, cita, target dan ambisi yang sudah atau belum tercapai, kegemilangan dan kegagalan masa lalu. Sejenak saja, kemudian kembali kita melihat hari ini dan menjangkau masa depan. Perenungan adalah salah satu cara, bagaimana kita bisa mengingat masa kecil dahulu. Adakah hangat kebahagiaan di sana atau kesusahan yang mendera-dera ? Apapun, saya yakin ada hikmah di dalamnya, meninggalkan permasalahan apakah kita sanggup memaknainya dengan hakiki atau tidak.
Keceriaan anak-anak, membersamai mereka di dalam kegembiraan yang begitu polos, merefleksikan bayangan masa lalu kita saat kanak-kanak. Begitu dekat seolah terlihat jelas bayangan-bayangan canda-tawa kita di masa lalu. Ada pertengkaran pula di dalamnya, namun kita menyaksikan dengan begitu ajaibnya mereka akan berbaikan kembali, tertawa lepas bersama lagi. Keajaiban masa kecil yang terkadang kita lupakan atau malah hilang seiring dengan hempasan waktu dan keadaan.

Refleksi kecil kita


Dan sebuah refleksi kecil kita pada akhirnya membawa kita pada masa sekarang, memberikan kita pelajaran bahwa kita pun perlu belajar dari anak-anak. Dewasa membawa kematangan dan pengetahuan akan dunia, dan kenangan masa kecil kita dapat menjadi sumber inspirasi tiada batas. Mungkin sejenak kita perlu berpikir ulang, memaknai setiap detik-detik perjalanan hidup kita. Membersamai mereka akan membuat kita kembali menemukan inspirasi untuk menjalani hidup ini dengan sepenuh hati, sepenuh senyum anak-anak yang menerima minuman segelas coklat hangat.


Read More..

Sabtu, 16 Juli 2011

Blood type test: Semudah A, B, …. O


Well, tulisan ini berawal dari sebuah pengalaman saya yang dijadikan objek uji coba untuk menvalidasi blood type test kit yang sudah kadaluarsa. Sama seperti makanan, pereaksi-pereaksi yang digunakan dalam suatu kit juga memiliki batas kadaluarsa, meskipun pereaksi-pereaksi tersebut dalam keadaan terpisah satu sama lain dalam wadah tersendiri. Namun, kemungkinan adanya zat pereaksi yang terurai setelah penyimpanan selama beberapa waktu dapat menjadikan hasil uji golongan darah menjadi tidak valid.

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak pembaca sekalian adalah untuk apa menguji kit yang sudah kadaluarsa? Hehe.., ini berawal dari paradigma hemat agar kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk uji golongan darah di lab komersial, padahal lab sendiri ternyata bisa melakukannya. Kebetulan sekali ada seperangkat kit yang masih terbungkus rapi dan belum pernah dipakai namun sayangnya sudah kadaluarsa. Alhasil, lagi-lagi dengan berlandaskan paradigma hemat, dipakai saja kit tersebut. Nah, sebelum dicobakan ke orang yang ingin diketahui golongan darahnya, maka kita perlu menvalidasi dahulu kit tersebut dengan cara mencobakannya kepada orang yang sudah diketahui golongan darahnya, which in this term was me!. xp

Kisah A, B, dan O
Pada permukaan sel darah manusia terdapat antigen yang utamanya adalah glikoprotein (merupakan protein yang terikat molekul gula) yang kemudian disebut sebagai antigen A dan antigen B. Sistem penggolongan ABO ini dikembangkan oleh Karl Lendsteiner, seorang patologis dari Austria saat dia mengetahui adanya perbedaan reaksi yang terjadi setelah mencampurkan secara acak serum dan sel darah merah dari mahasiswa-mahasiswanya. Seperti yang bisa diduga, mereka yang bergolongan darah A hanya memiliki antigen A pada permukaan sel darah merahnya, golongan darah B hanya memiliki antigen B, golongan darah AB memiliki antigen A dan B, serta golongan darah O tidak memiliki antigen A dan B. Bagaimanapun juga, tubuh kita akan membentuk antibodi terhadap antigen yang kita tidak miliki. Sehingga, mereka yang bergolongan darah A akan menghasilkan antibodi anti-B yang menyebabkan mereka tidak bisa menerima transfusi darah dari orang bergolongan darah B, dan begitu pula sebaliknya. Sisanya, golongan darah O akan menghasilkan antibodi anti-A dan antibodi anti-B sedangkan para pemilik golongan darah AB dapat menerima transfusi darah dari semua golongan darah karena tidak memiliki antibodi anti-A dan anti-B.

Eksekusi…
Back to lab, dan setelah perlengkap tersedia, pereaksi anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D (ini disebut juga anti-rhesus), kapas, alkohol, jarum steril, serta kartu golongan darah; eksekusi kemudian dilaksanakan. Caranya mudah anda tinggal menusukan jarum ke salah satu jari dengan cepat dan tanpa ragu-ragu, dengan pengecualian ibu jari dan jari kelingking (kalo saya tidak salah) tidak boleh digunakan karena kedua jari tersebut tidak dilewati oleh saluran getah bening. Tsk…. (saya tidak tahu sebenarnya bagaimana penulisan efek suara jari ditusuk), darah kemudian keluar dan diteteskan ke atas empat kotak yang tercetak di kartu golongan darah. Penting bagi mereka yang diperiksa darahnya untuk bersikap tenang dan rileks agar darah dapat keluar dengan mudah. Tentunya tenang saja, rasa sakitnya hanya sekejap saja. Darah yang telah berada di atas kartu golongan darah diratakan sedikit dan diteteskan reagen sesuai dengan keterangan yang ada di bawah gambar kotak. Lalu digoyang-goyang pelan untuk meratakan reaksi yang terjadi kemudian lihat hasilnya. Sebagai tambahan, hasil positif dinyatakan dengan terjadinya penggumpalan darah (aglutinasi).

Mereka yang bergolongan A
Pada kotak anti-A menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B tidak ada penggumpalan, kotak anti-AB menunjukkan penggumpalan juga.
Mereka yang bergolongan B
Pada kotak anti-A tidak menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B ada penggumpalan, kotak anti-AB menunjukkan penggumpalan juga.
Mereka yang bergolongan AB
Pada kotak anti-A menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B juga ada penggumpalan, begitu pula dengan kotak anti-AB.
Mereka yang bergolongan O
Pada kotak anti-A tidak menunjukkan penggumpalan, kotak anti-B juga tidak ada penggumpalan, begitu pula kotak anti-AB.
Serta rhesus
Mereka yang memiliki rhesus positif akan terlihat adanya penggumpalan pada kotak anti-D dan begitu sebaliknya.

Setelah diperiksa jangan lupa untuk menutupi luka tusukan dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi alkohol. Sayang sekali, karena uji yang saya jalani gratis tis tis tis sehingga tidak ada roti apalagi mie, :p (memang bukan transfusi darah juga yaa..). Dan hasilnya, ternyata kit kadaluarsa itu masih dapat dipakai, terbukti setelah menghasilkan kesimpulan yang tepat dari golongan darah saya yaitu B.




(diolah dari berbagai referensi)

ps. Bagi mereka yang penasaran, isi pereaksi adalah komponen reaktif dari antibodi monoklonal yang spesifik terhadap antigen-A atau antigen-B. Antibodi monoklonal ini berasal dari immunoglobulin kelas IgM. Antibodi ini diencerkan dalam bovine albumin, etilendiamin tetraasetat (EDTA), dan sebagai pewarna, Patent Blue (Anti-A) atau Tartrazin (Anti-B).


Read More..

Minggu, 19 Juni 2011

Steps in Tokyo #5 : Last Day

“To love is to risk not being loved in return. To hope is to risk pain. To try is to risk failure, but risk must be taken because the greatest hazard in life is to risk nothing.” (Anonymouos)

14 Juni 2011
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Tokyo. Sarapan singkat di Hotel, kami beranjak ke stasiun Roppongi pukul 07.30. Rencana hari ini kami akan berangkat ke Narita dengan naik kereta. Dari stasiun Roppongi kami menuju stasiun Hibya, selanjutnya berjalan kaki sebentar menuju stasiun Yurakucho. Dari stasiun ini kami naik Tokyo-JR dan menuju stasiun Nippori. Dari Nippori inilah kami selanjutnya akan menaiki Narita Skyliner, kereta shinkansen yang terkenal itu. Berbeda dengan stasiun pada umumnya, stasiun tempat pemberangkatan Skyliner memang terlihat lebih bagus dari stasiun pada umumnya. Di stasiun ini ternyata kami bertemu dengan Dini dan Ajeng, dan berangkat bersama menuju Narita.




Bandara adalah tempat terakhir jika anda ingin membeli souvenir sebelum pulang ke tempat asal. Harga di sini ternyata tidak berbeda dengan harga jika kita membeli di tempat lain. Karena biasanya harga-harga barang yang ada di bandara pasti lebih mahal dibandingkan dengan harga pada umumnya. Jadi sebenarnya, jika anda ingin membeli souvenir cukup beli di bandara Narita saja, cukup lengkap dengan harga yang tidak berbeda dengan harga pada umumnya. Tempat terakhir untuk saat ini, dan kaki ini kembali melangkah masuk ke pesawat Garuda GA885.

“Merantaulah ke negeri orang, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan”. Kata-kata tersebut ada pada buku Ranah 3 Warna yang saya baca selama di Pesawat. Sebuah kata-kata dari Imam Syafi’i, begitu memotivasi untuk bisa mencari ilmu hingga ke negeri jauh.

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.”


Kembali saya bulatkan tekad, tujuan sudah ditentukan, visi sudah terlihat, maka segenap energi akan dikerahkan untuk mencapainya. Berjuang, ganbareba dekiru! (berjuanglah, pasti bisa!).


Read More..

Steps in Tokyo #4 : Tokyo Trip !!

“The World is a book, and those who do not travel read only a page.” (St. Augustine)

13 Juni 2011
Sarapan ngebut, kami langsung menuju stasiun Roppongi agar tidak terlambat sampai di Shibuya. Dengan membeli one day ticket1 kereta Metro, kami menuju Aoyama-itchome, kemudian berpindah jalur menuju Shibuya. Stasiun ini sangat ramai oleh warga Jepang yang akan beraktivitas hari ini. Berkumpul di sini, dan kami yang ikut adalah saya, Lestian, Ega, Dini, Ajeng, dan mba Sri. Ancha akan menyusul ikut setelah ikut kuliah terlebih dahulu. Sayangnya Surani terhambat keretanya karena ada orang yang melakukan jujitsu2 dengan menabrakkan diri ke kereta, sehingga pada akhirnya jadwal kereta menjadi terhambat. Alhasil, beliau tidak jadi ikut rombongan kami keliling Tokyo.

Sebelum berangkat, kami mempersenjatai diri terlebih dahulu dengan membeli onigiri3 sebagai bekal perjalanan. Pemandu kami hari ini adalah Ega, exchange student dari FK Hewan UGM, saat ini berada di Saga University. Diawali dengan membeli one day ticket kereta Tokyo-JR, seharga 750 yen, kami bergerak menuju stasiun Tokyo. Di sini kami menuju lokasi pertama yaitu Tokyo Imperial Palace. Sebelum sampai di Istana Kekaisaran, kami melewati Wadakura Fountain Park, sebuah taman yang didirikan untuk memperingati pernikahan kaisar Akihito dan permaisuri Michiko. Banyak obyek menarik pada taman ini, dan tentunya spot untuk foto-foto.




Istana dan Onigiri

Istana kekaisaran Tokyo merupakan tempat tinggal utama keluarga kerajaan, terletak di daerah Chiyoda, Istana ini terdiri dari beberapa bangunan, seperti istana utama (kyuden), kediaman keluarga kerajaan, taman-taman, serta pusat administrasi. Istana ini memiliki beberapa pintu gerbang, namun sayangnya saat kami berada di sana, tidak dapat masuk ke dalam. Di sepanjang pinggiran jalan Istana kami menemukan jejeran pohon sakura yang sedang tidak berbunga saat ini. Setelah itu kami beristirahat sebentar sambil menikmati onigiri yang kami bawa. Berjalan keliling sebentar, kemudian kami kembali ke stasiun Tokyo dan menuju Ueno, untuk melihat-lihat pasar yang ada di sana.




Akiba : Japan’s Mangga Dua

Di Ueno kami sempatkan untuk makan siang di kedai kebab orang Turki. Setelah kenyang makan, kami bergerak mencari mushola, dan sampailah pada Assalam Masjid. Di sepanjang perjalanan, kami menemukan kuil dengan taman di depannya. Banyak burung merpati jinak yang berkeliaran di taman tersebut. Setelah shalat, kami menuju Akihabara, pusat penjualan elektronik yang ada di Tokyo.

Di sini, kami sempat mencari beberapa souvenir yang menarik untuk dibawa pulang, dengan kisaran harga 300 yen ke atas. Ancha akhirnya menyusul kami tiba di Akiba, pusat perbelanjaan elektronik yang ada di Akihabara. Kemudian ancha mengajak kami untuk ke Laoks, salah satu tempat penjualan souvenir juga, namun agak lebih lengkap dari yang ada di Akiba. Kasir di Laoks, ternyata orang Indonesia, dan kami sempat mengobrol sebentar dengan beliau. Setelah puas berbelanja dan melihat-lihat, kami melanjutkan perjalanan menuju Harajuku.




Harajuku’s style: the lost identity

Harajuku merupakan salah satu pusat fashion terkemuka di Jepang. Di sini tujuan kami adalah Daishi shop, Toko 100 yen-an, menjual berbagai macam barang seharga sekitar 105 yen. Tidak banyak hal spesiel di Harajuku pada hari ini, karena bukan hari weekend, yang biasanya banyak para anak muda Jepang berdandan ‘aneh-aneh’.
Well, meskipun demikian, beberapa pelajaran menarik yang bisa saya dapat di sini. Mudah sekali kita menyimpulkan bahwa arus budaya barat tertanam kuat di sini. Saya pikir gaya hidup seperti ini bukanlah asli kultur masyarakat Jepang. Dengan segala moderinitas di sana-sini, saya melihat kekeringan aspek spritualitas. Tingginya angka bunuh diri menjadi salah satu tanda, tekanan hidup yang tinggi hanyalah sebuah pemicu namun dibalik semua itu, penilaian hidup hanya berdasarkan materi semata membuat orang kurang dapat menghargai hidup itu sendiri. Ada identitas yang hilang dari para pemuda Jepang di sini. Entahlah, tapi saya tidak dapat melihat kultur Asia khas Jepang di sini.
Jalan di Harajuku

Tokyo Tower dan Tempura4

Dari sini kami berpisar dengan rombongan perempuannya, karena mereka sudah ke menara Tokyo sebelumnya. Kami bertiga, Saya, Ancha, dan Lestian menuju menara Tokyo yang terkenal itu. Sampai di sana, matahari sudah mulai menggantung rendah di ufuk barat. Kami sempatkan foto-foto sebentar kemudian kembali lagi ke stasiun. Malam ini Ancha berniat mentraktir kami tempura di daerah Shinjuku. Setelah shalat di mushola dekat lokasi, kami bergerak menuju restoran yang dituju. Di sini kami bertemu dengan seorang mahasiswa asal Indonesia dan memutuskan untuk makan bersama. Jujur saja, satu porsi tempura tidak lah sedikit, kami menghabiskannya dengan sangat kenyang.

Hari ini diakhiri dengan kaki pegal-pegal dan perut kenyang. Kami berterima kasih kepada Ancha yang sudah mentraktir kami. Kembali menaiki kereta dan berpisah di stasiun Tochomae, saya berkata suatu saat nanti, saya lah yang akan mentraktirnya di sini. Ini adalah harapan dan cita, suatu saat nanti saya akan merantau ke negeri orang, tidak berdiam diri di negeri sendiri.





Catatan-catatan:
1) one day ticket merupakan satu tiket khusus dimana kita bisa menggunakannya berulang kali dalam satu hari itu untuk berkeliling Tokyo.
2) jujitsu atau bunuh diri, terdapat kepercayaan bahwa mereka yang bunuh diri dengan menabrakan diri ke kereta biasanya memiliki masalah keluarga, karena pihak keluarga nantinya harus membayar ganti rugi akibat terganggunya jadwal kereta karena peristiwa bunuh diri tersebut.
3) onigiri merupaka makanan khas Jepang berupa nasi yang dipadatkan sewaktu masih hangat, berbentuk segiriga, bulat, atau seperti karung beras. Onigiri biasa dilapisi dengan rumput laut dan berisi ikan salmon panggang atau Umeboshi
4) tempura adalah makanan khas Jepang berupa makanan laut atau sayur-sayuran yang dicelup pada adonan berupa tepung dan digoreng hingga renyah.


Read More..

Steps in Tokyo #3 : Closing remarks

“Opportunity follows struggle. It follows effort. It follows hard work. It doesn't come before.” (Shelby Steele).

12 Juni 2011
Hari ketiga di Tokyo dan rencana hari ini adalah kami berkunjung ke tempat mas Aisar terlebih dahulu di Yokohama. Dengan ditemani syafiq, ini adalah pengalaman pertama menjelajah kota Tokyo dengan kereta. Berangkat dari hotel pukul 06.00, kami tidak menyempatkan diri untuk sarapan di hotel terlebih dahulu. Berjalan kembali di sepanjang Tokyo Midtown, ada saja objek menarik untuk difoto atau untuk foto-foto, daerah ini memang dipenuhi bangunan dengan konsep artistik. Saya terkesima dengan jalan yang bersih dari sampah dan cuaca yang sejuk. Menuju stasiun subway Roppongi, saya tidak melihat adanya jejeran parkiran motor, namun sepeda yang dirantai rapi pemiliknya di sepanjang pagar jalan.

Menaiki Metro Subway dengan ongkos 170 yen, kami bergerak menuju stasiun Daimon untuk pindah jalur ke Asakusa line. Anda jangan membayangkan kereta di sana sama dengan kereta di Indonesia, tentu saja berbeda jauh. Bersih, tepat waktu, dan tidak ada pengamen atau orang yang berjualan. Dari Daimon menuju Sengakuji, pindah kereta menaiki Tokyo-JR. Bergerak terus, walaupun sempat salah kereta karena menaiki kereta yang berhenti di setiap stasiun, kami melaju ke arah Yokohama, tepatnya berhenti di stasiun Kamiooka. Salah satu keuntungan naik kereta di sini adalah kita bisa bayar karcis kereta belakangan. Pada awalnya ketika sudah membeli tiket terlebih dahulu di mesin tiket untuk tujuan tertentu, namun ternyata kita mau menuju tempat yang lebih jauh lagi, kita bisa membayar kelebihan jarak di stasiun tujuan lewat mesin fare adjustment. Kita tinggal memasukkan tiketnya, kemudian mesin tersebut akan menghitung berapa ongkos yang kita ‘hutang’, dan tinggal bayar. Baru kita bisa keluar dari stasiun, kemudian dari sini kami menaiki bus menuju tempat mas Aisar.

Bus di sini benar berbeda dari ada yang di Jakarta, bukan saja masalah harus berhenti di tempat yang sudah diharuskan, tapi juga posisi tempat duduknya yang berbeda. Anda tidak akan menemukan kondektur di sini, setiap penumpang harus bayar terlebih dahulu di awal pada mesin yang ada di samping supir bus. Untuk berhenti di tempat pemberhentian selanjutnya, kita cukup menekan tombol yang ada di samping tempat duduk. Setelah berhenti di tempat tujuan, kami berjalan sebentar menuju losmen mas Aisar.




Presentation again !?

Beristirahat sebentar di tempat mas Aisar, kami mendapat kabar, bahwa saya dan Lestian dijadwalkan presentasi lagi, namun kali ini di depan peserta lainnya di auditorium Tokyo Institute of Technology. Diawali dengan makan pagi dulu di salah satu restoran cepat saji, kami kembali menaiki kereta menuju Ookayama. Sesampainya di sana, kami mengikuti terlebih dahulu plenary session dengan pembicara Dr. Khairul Anwar dan salah seorang pembicara dari ITB. Sebuah pesan menarik dari Dr. Khairul Anwar, bahwa bagaimana, kita mahasiswa khususnya di Indonesia, bisa berpikiran terbuka dan tidak terkungkung hanya pada ruang kelas semata, beliau berucap, “think what you get from your 4 years; think whether your thesis can change the world, and corporate with others”. Bahwa memang orang-orang besar berpikir besar, melihat jauh ke depan, melangkah keluar dari zonanya, to think out of the box, di luar sekitarnya.

Break, dan kami akan presentasi setelah break makan dan sholat. Kali ini diawali oleh Lestian terlebih dahulu baru setelah itu saya. Maju dengan rasa percaya diri, itu adalah modal awal, karena bagaimana bisa menang jika sudah kalah lebih dahulu di luar arena. Di depan podium, saya tatap lurus-lurus audiens yang hadir, dan mulai mempresentasikan proposal saya. Walaupun kadang tersendat, namun saya tetap melaju hingga akhir slide. Sesi tanya jawab pun saya hadapi, dengan beberapa pertanyaan dari audiens, to think that I can speak in front of these people, bagi saya hal ini adalah sebuah langkah awal untuk maju, bergerak, berjuang mencapai cita. Struggle will be never end guys, karena kita memiliki visi besar, ini bukan tentang pencapaian diri sendiri, ini tentang membangun masyarakat, juga peradaban.




Wups, dan dilanjutkan dengan special session mengenai Tsunami, menghadirkan Prof. Takaki Naoyuki –jika saya tidak salah lihat di jadwal- berbicara mengenai kondisi di Fukushima, dan Dr. Dinar, berbicara mengenai assessment bencana tsunami. Setelahnya ada workshop dari FLP Jepang, mengenai penulisan. Ada juga bedah buku La Tahzan for Student, buku yang menarik, terutama bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di Jepang, karena berisi mengenai cerita perjuangan para mahasiswa Indonesia yang berjuang di bumi sakura ini. Selanjutnya ada bang Shofwan, yang berbicara mengenai menulis, sebelum menulis itu dilarang.


Waaa,dan saya bertemu kembali rekan seperjuangan di Farmasi dahulu, Ancha. Lama tidak melihatnya, tidak banyak berubah, mukanya masih mirip dengan Eros Sheila on 7, namun hanya rambutnya saja yang gondrong. Berbicara banyak, ngalor ngidur, lumayan mengobati kerinduan, halah. Acara pun berakhir, begitupula rangkaian tiga hari acara AMSTECS 2011 ini.




Ikan-ikan mentah

Kami berdiskusi untuk rencana keliling Tokyo esok hari dengan sesama peserta dari Indonesia. Kata sepakat diucapkan dan kami akan berkumpul di depan stasiun Shibuya besok, tepatnya di pintu gerbang Hachiko. Malam ini, saya dan beberapa kawan dari ITB, Lestian, Syafiq dan Anton, berencana mencari warung sushi yang murah meriah. Sayang sekali Ancha tidak bisa ikut karena pukul 22.00 harus sudah kembali ke asramanya.

Berangkat dari stasiun Ookayama, kami menuju Jiyagaoka. Setelah sempat berputar-putar sebentar, kami akhirnya menemukan warung yang dimaksud. Mengambil menu yang seharga 136 yen sepiring, berisi dua potong sushi. Enak, benar-benar enak, saya menghabiskan tiga porsi piring sushi dengan jenis ikan yang berbeda-beda. Meskipun demikian, saya agak tidak menyukai rasa wasabi1, dengan sensasi menggigit lidah.

Perut sudah cukup kenyang dan saya kembali pulang ke Hotel. Istirahat untuk perjalanan seru esok harinya, a Tokyo trip.





Catatan-catatan:
1) Wasabi, Eutrema japonica, merupakan tanaman asli khas Jepang, yang berasal dari suku kubi-kubisan. Wasabi memiliki rasa yang menyengat dan biasa dimakan bersama irisan ikan segar.



Read More..