Generasi Awal Istimewa
Tak pernah dipungkiri bahwa generasi teristimewa yang pernah ada di muka bumi ini hidup pada masa-masa awal perkembangan Islam. Generasi ini tidak pernah muncul lagi sesudahnya walaupun ada pribadi-pribadi yang memiliki kualitas yang sama dengan generasi ini, namun tetap saja kualitas yang muncul tersebut bersifat individual bukan dalam sebuah generasi.
Pegangan para generasi ini pun masih dimiliki oleh generasi sekarang, Al Quran dan perkataan, perbuatan, serta persetujuan dari Nabi Muhammad saw. Dengan jaminan dari Allah, pegangan ini tetap terjaga keasliannya sampai sekarang sehingga Al Quran dan As Sunah yang kita pegang saat ini adalah sama dengan yang dipegang generasi itu. Perbedaannya hanya mereka hidup bersama Muhammad saw, sedangkan generasi sekarang tidak. Namun jika hal ini menjadi alasan kemunduran generasi sekarang dibanding generasi itu maka niscaya Islam tidak akan pernah bertahan hingga saat ini, dan Allah sudah menjamin kelangsungan agama ini hingga hari akhir.
Kemudian apa yang berbeda dari generasi awal ini ? Jika melihat lebih dalam lagi, ada beberapa hal asasi yang dapat menjadi jawaban:
Al Quran adalah satu-satunya referensi hidup
Generasi awal hanya mengambil Al Quran sebagai sumber panduan mereka dalam setiap langkah dan gerak. Hal ini bukanlah karena pada zaman tersebut tidak memiliki peradaban, kebudayaan, atau ilmu pengetahuan, padahal zaman tersebut sudah ada kerajaan besar Persia, Yunani dan sebagainya. Di sekeliling semenanjung Arab, budaya Nasrani dan Yahudi sudah mewarnai sejak lama. Namun sudah ter-planning dengan baik bagaimana Muhammad saw membina para sahabatnya sehingga bisa terlepas total dari budaya-budaya jahiliyah.
Kesimpulannya adalah Muhammad saw mengarahkan pembinaannya agar referensi dari proses pembinaan tersebut hanya sumber orisinil Ilahi, yaitu Al Qur’an. Muhammad saw bertujuan membentuk suatu generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, murni hatinya dan lurus jalan hdupnya. Maka terbentuklah sebuah generasi gemilang yang pernah tercatat sejarah.
Al Quran untuk hidup
Generasi luar biasa ini mendekatkan diri dengan Al Quran bukanlah untuk menambah ilmu, bahan bacaan, atau pelipur lara. Bukanlah hanya semata-mata menambah isi pikiran dan dada, namun hakikat utamanya adalah memasukkan Al Quran dalam hidup mereka, urusan pribadi mereka, urusan masyarakat mereka. Dan tidaklah mereka menambah hafalannya kecuali sudah melakasanakan apa yang sudah dihafal sebelumnya. Perasaan belajar untuk melaksanakan ini lah yang membuat Al Quran sudah menginfiltrasi kehidupan mereka, menjadi daging dan darah mereka, hadir dalam setiap tarikan dan hembusan nafas.
Perasaan belajar untuk melaksanakan ini lah yang melahirkan generasi Qur’ani, mereka yang bukan hanya menjadikan Al Qur’an menjadi tempat kajian atau pelipur lara semata, tetapi juga menjadikan arahan Ilahi masuk dalam setiap gerak-gerik langkah hidup mereka.
Pemisahan penuh Jahiliyah dan Islamiyah
Faktor lain yang perlu dicatat adalah mereka, para generasi awal Islam, sudah meninggalkan secara menyeluruh kehidupan jahiliyah mereka dan memeluk cahaya Islam secara kaffah. Mereka sudah memisahkan adat dan kebiasaan jahilliyah dari dalam diri mereka dan hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya sikap hidup. Mereka mencurahkan segala hidup mereka dalam kehidupan Islam. Mereka menjadikan Islam untuk hidup mereka.
Untuk kita di zaman sekarang
Berbagai inflitrasi budaya-budaya jahiliyiah sudah memporak-porandakan masyarakat Islam. Masyarakat Islam bahkan sudah diserang pemikirannya sejak dini melalui berbagai macam media sehingga, pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Al Quran bermunculan dari kalangan Islam sendiri. Di tengah kepungan kebudayaan jahiliyah ini, masyarakat Islam harus kembali kepada referensi utamanya Al Quran dan As Sunnah.
Tugas kitalah untuk tersadar mencabut segala akar-akar jahiliyah dari diri-diri kita, dari keluarga kita, dari masyarakat kita. Kita harus mengenal diri kita, menyadari jalan yang harus ditempuh untuk keluar dari suasana jahiliyah seperti para generasi awal ini. Wallahu’alam
Pustaka:
Sayyid Quthb. Ma’aalim fi Ath Thoriq
Read More..
If you can't explain it simply, you don't understand it well enough. (A. Einstein, 1879-1955)
Kamis, 28 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
In a Cup of Tea
“Come let us have some tea and continue to talk about happy things” (Chaim Potok)
Minuman pembuka
Di pagi hari dan secangkir teh hangat sungguh nikmat, tidak hanya bagi anda pecinta teh tetapi juga sebagian besar masyarakat dunia dengan pengecualian para penikmat kopi yang tentunya akan lebih memilih kopi. Teh tak diragukan lagi merupakan minimun yang mendunia, disajikan di berbagai kesempatan istimewa dari istana kerajaan Inggris hingga lesehan bambu pedesaan Indonesia.
Secara umum jenis teh yang ada di dunia ini adalah teh putih, kuning, hijau, hitam, oolong, dan teh fermentasi. Kultur masyarakat membantu menciptakan beragam jenis hidangan teh yang sesuai dengan karakteristik masyarakat tersebut. Bahkan penamaan pun dapat berbeda walau dalam jenis teh yang sama, sebagai contoh istilah "teh merah (red tea)" yang digunakan oleh masyarakat asia ternyata merupakan teh yang sama yang disebut "teh hitam (black tea)" oleh masyarakat barat.
Ini teh susu
Tenang... saya tidak hendak merubah topik pembicaraan menjadi susu; mari bicara teh. Minuman teh merupakan hasil dari produk agrikultur daun atau pucuk daun dari spesies Camellia sinensis maupun varietasnya. Teh pada umumnya dibuat dengan memanaskannya bersama air dan meminumnya setelah air tersebut berubah warna. Tentunya proses ini yang dikenal sebagai infus ini pada dasarnya mengekstraksi kandungan zat dalam teh ke dalam air.
Teh merupakan tanaman asli daerah asia selatan dan timur dengan kemunculan kebiasaan meminum teh pertama kali kemungkinan besar berasal dari daerah sana, meskipun masih belum diketahui secara pasti. Namun penggunaan teh sebagai minuman tercatat pada abad ke-10 sebelum masehi. Teh sudah biasa diminum pada zaman Dinasti Qyn. Dibawa oleh para pedagang Cina, teh menjadi minuman favorit yang mendunia.
Seeing inside
Teh minuman nikmat yang didapat dari daun atau kuncup daun kering dari tanaman teh. Dengan begitu banyak manfaat yang dirasakan oleh para penikmat teh, para pencari tahu menelisik kandungan ekstrak teh dan setelah melalui proses berliku, didapat berbagai macam senyawa kimia dalam teh, terutama dari keluarga besar polifenol.
Jika anda membuat segelas teh hijau yang terkenal itu kemudian anda keringkan hingga habis airnya maka anda akan mendapatkan ampas teh sebanyak kurang lebih 250-350 mg. Dari bobot sebesar itu ketika anda mengurainya lebih lanjut akan didapat 30-42% senyawa katekin (bagian dari keluarga polifenol) dan 3-6% kafein. Dari senyawa-senyawa yang disebut katekin ini yang paling dinilai menarik terutama senyawa (-)-epigalokatekin-3-galat (EGCG). Saat pembuatan teh hitam (atau teh merah yang biasa diseduh orang Indonesia), daun teh dilumat hingga hancur mengakibatkan enzim polifenol oksidase mengkatalisis oksidasi sehingga terjadi polimerisasi dari katekin. Intinya adalah enzim polifenol oksidasi mempercepat reaksi oksidasi sehingga terjadi proses penggabungan senyawa-senyawa katekin (ini yang disebut polimerisasi...). Hasil reaksi oksidasi ini juga adalah senyawa theaflavin (yang tidak terdapat di teh hijau) dengan turunan-turunannya (theaflavin-3-galat, theaflavin-3'-galat, theaflavin-3,3'-digalat) yang membentuk kekhasan warna, rasa, dan aroma teh hitam.
Bagaimanapun juga artis dalam kandungan teh adalah senyawa polifenol dengan aktivitasnya sebagai antioksidan yang berasal dari kemampuannya untuk menangkap spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS). Selain itu, polifenol dari teh juga mampu mengikat berbagai ion logam sehingga mencegah keikutsertaan mereka dalam proses reaksi peroksidasi dalam tubuh. Polifenol teh hijau dan teh hitam ternyata juga dapat menangkap spesies nitrogen reaktif sehingga mengurangi kerusakan pada jaringan lemak, protein, dan asam nukleat.
Teh eh teh...
Teh diyakini oleh masyarakat dunia memiliki berbagai banyak khasiat dan beberapa penelitian memang menunjukkan hal yang serupa. Teh dengan kandungan polifenolnya yang terkenal itu, dapat menghambat oksidasi dari LDL (low density lipoprotein-si lemak baik) sehingga menghambat perkembangan arterosklerosis yang memungkinkan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Selain itu efek hipokolesterolemik juga berkontribusi pada perlindungan dari penyakit jantung.
Pada model tikus (percobaan dengan tikus maksudnya) teh memperlihatkan efek penghambatan terhadap karsinogenesis (proses pembentukan kanker) yang lagi-lagi ditunjukan oleh keluarga polifenol.
On the other side of the looking glass
Dari segala hal kemampuan teh dalam menolong manusia meningkatkan kualitas hidupnya, tersimpan juga sisi lain dari sisi baik. Polifenol teh memiliki kecenderungan kuat untuk berikatan dengan protein dan berbagai mineral. Sehingga dimungkinkan mengakibatkan penurunan absorbsi asupan protein (terutama jenis prolin) dan mineral-mineral oleh tubuh. Kita bisa mengambil kesimpulan mencampur susu bersama teh atau meminum susu berbarengan dengan teh, hampir bisa dipastikan menyebabkan efek baik susu menjadi tidak berguna. Meskipun demikian studi lebih lanjut mengenai efek tidak bersahabat dari teh tetap dilakukan.
Konsumsi terlalu banyak dari teh dapat berakibat pada gangguan nutrisi akibat dari kecenderungan kuat polifenol dalam berikatan serta kandungan kafeinnya, meskipun demikian tidak ada data yang benar-benar menunjukkan bahwa hal tersebut membahayakan bagi nyawa manusia.
Mari ngeteh, mari bicara
Dan memang teh menjadi minuman nikmat peneman perbincangan, karena dirasakan dapat memberikan sensasi relaksasi saat meminumnya. Sebuah senyawa bernama L-Theanine yang bertanggung jawab atas efek ini. L-Theanine merupakan asam amino istimewa pada teh dan memberikan apa yang disebut sebagai rasa ke-5. L-Theanine akan menstimulasi perubahan gelombang otak ke gelombang alfa (hal yang sama juga didapat jika bermeditasi) sehingga menciptakan sensasi relaksasi yang dalam. Selain itu L-Theanine juga mempengaruhi kadar dopamin dan seretonin dalam otak yang memproduksi efek relaksasi.
Dan dari secangkir teh tentunya banyak yang kita peroleh...
Let's have a cup of tea...
Pustaka:
1. Wikipedia
2. Yang dan Landau. 2000. The Journal of Nutrition.
3. NaturDoctor.com
Read More..
Minuman pembuka
Di pagi hari dan secangkir teh hangat sungguh nikmat, tidak hanya bagi anda pecinta teh tetapi juga sebagian besar masyarakat dunia dengan pengecualian para penikmat kopi yang tentunya akan lebih memilih kopi. Teh tak diragukan lagi merupakan minimun yang mendunia, disajikan di berbagai kesempatan istimewa dari istana kerajaan Inggris hingga lesehan bambu pedesaan Indonesia.
Secara umum jenis teh yang ada di dunia ini adalah teh putih, kuning, hijau, hitam, oolong, dan teh fermentasi. Kultur masyarakat membantu menciptakan beragam jenis hidangan teh yang sesuai dengan karakteristik masyarakat tersebut. Bahkan penamaan pun dapat berbeda walau dalam jenis teh yang sama, sebagai contoh istilah "teh merah (red tea)" yang digunakan oleh masyarakat asia ternyata merupakan teh yang sama yang disebut "teh hitam (black tea)" oleh masyarakat barat.
Ini teh susu
Tenang... saya tidak hendak merubah topik pembicaraan menjadi susu; mari bicara teh. Minuman teh merupakan hasil dari produk agrikultur daun atau pucuk daun dari spesies Camellia sinensis maupun varietasnya. Teh pada umumnya dibuat dengan memanaskannya bersama air dan meminumnya setelah air tersebut berubah warna. Tentunya proses ini yang dikenal sebagai infus ini pada dasarnya mengekstraksi kandungan zat dalam teh ke dalam air.
Teh merupakan tanaman asli daerah asia selatan dan timur dengan kemunculan kebiasaan meminum teh pertama kali kemungkinan besar berasal dari daerah sana, meskipun masih belum diketahui secara pasti. Namun penggunaan teh sebagai minuman tercatat pada abad ke-10 sebelum masehi. Teh sudah biasa diminum pada zaman Dinasti Qyn. Dibawa oleh para pedagang Cina, teh menjadi minuman favorit yang mendunia.
Seeing inside
Teh minuman nikmat yang didapat dari daun atau kuncup daun kering dari tanaman teh. Dengan begitu banyak manfaat yang dirasakan oleh para penikmat teh, para pencari tahu menelisik kandungan ekstrak teh dan setelah melalui proses berliku, didapat berbagai macam senyawa kimia dalam teh, terutama dari keluarga besar polifenol.
Jika anda membuat segelas teh hijau yang terkenal itu kemudian anda keringkan hingga habis airnya maka anda akan mendapatkan ampas teh sebanyak kurang lebih 250-350 mg. Dari bobot sebesar itu ketika anda mengurainya lebih lanjut akan didapat 30-42% senyawa katekin (bagian dari keluarga polifenol) dan 3-6% kafein. Dari senyawa-senyawa yang disebut katekin ini yang paling dinilai menarik terutama senyawa (-)-epigalokatekin-3-galat (EGCG). Saat pembuatan teh hitam (atau teh merah yang biasa diseduh orang Indonesia), daun teh dilumat hingga hancur mengakibatkan enzim polifenol oksidase mengkatalisis oksidasi sehingga terjadi polimerisasi dari katekin. Intinya adalah enzim polifenol oksidasi mempercepat reaksi oksidasi sehingga terjadi proses penggabungan senyawa-senyawa katekin (ini yang disebut polimerisasi...). Hasil reaksi oksidasi ini juga adalah senyawa theaflavin (yang tidak terdapat di teh hijau) dengan turunan-turunannya (theaflavin-3-galat, theaflavin-3'-galat, theaflavin-3,3'-digalat) yang membentuk kekhasan warna, rasa, dan aroma teh hitam.
Bagaimanapun juga artis dalam kandungan teh adalah senyawa polifenol dengan aktivitasnya sebagai antioksidan yang berasal dari kemampuannya untuk menangkap spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS). Selain itu, polifenol dari teh juga mampu mengikat berbagai ion logam sehingga mencegah keikutsertaan mereka dalam proses reaksi peroksidasi dalam tubuh. Polifenol teh hijau dan teh hitam ternyata juga dapat menangkap spesies nitrogen reaktif sehingga mengurangi kerusakan pada jaringan lemak, protein, dan asam nukleat.
Teh eh teh...
Teh diyakini oleh masyarakat dunia memiliki berbagai banyak khasiat dan beberapa penelitian memang menunjukkan hal yang serupa. Teh dengan kandungan polifenolnya yang terkenal itu, dapat menghambat oksidasi dari LDL (low density lipoprotein-si lemak baik) sehingga menghambat perkembangan arterosklerosis yang memungkinkan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Selain itu efek hipokolesterolemik juga berkontribusi pada perlindungan dari penyakit jantung.
Pada model tikus (percobaan dengan tikus maksudnya) teh memperlihatkan efek penghambatan terhadap karsinogenesis (proses pembentukan kanker) yang lagi-lagi ditunjukan oleh keluarga polifenol.
On the other side of the looking glass
Dari segala hal kemampuan teh dalam menolong manusia meningkatkan kualitas hidupnya, tersimpan juga sisi lain dari sisi baik. Polifenol teh memiliki kecenderungan kuat untuk berikatan dengan protein dan berbagai mineral. Sehingga dimungkinkan mengakibatkan penurunan absorbsi asupan protein (terutama jenis prolin) dan mineral-mineral oleh tubuh. Kita bisa mengambil kesimpulan mencampur susu bersama teh atau meminum susu berbarengan dengan teh, hampir bisa dipastikan menyebabkan efek baik susu menjadi tidak berguna. Meskipun demikian studi lebih lanjut mengenai efek tidak bersahabat dari teh tetap dilakukan.
Konsumsi terlalu banyak dari teh dapat berakibat pada gangguan nutrisi akibat dari kecenderungan kuat polifenol dalam berikatan serta kandungan kafeinnya, meskipun demikian tidak ada data yang benar-benar menunjukkan bahwa hal tersebut membahayakan bagi nyawa manusia.
Mari ngeteh, mari bicara
Dan memang teh menjadi minuman nikmat peneman perbincangan, karena dirasakan dapat memberikan sensasi relaksasi saat meminumnya. Sebuah senyawa bernama L-Theanine yang bertanggung jawab atas efek ini. L-Theanine merupakan asam amino istimewa pada teh dan memberikan apa yang disebut sebagai rasa ke-5. L-Theanine akan menstimulasi perubahan gelombang otak ke gelombang alfa (hal yang sama juga didapat jika bermeditasi) sehingga menciptakan sensasi relaksasi yang dalam. Selain itu L-Theanine juga mempengaruhi kadar dopamin dan seretonin dalam otak yang memproduksi efek relaksasi.
Dan dari secangkir teh tentunya banyak yang kita peroleh...
Let's have a cup of tea...
Pustaka:
1. Wikipedia
2. Yang dan Landau. 2000. The Journal of Nutrition.
3. NaturDoctor.com
Read More..
Sabtu, 26 Februari 2011
Memang Begitulah Adanya…
Jika kita bertanya di setiap sudut kehidupan ini
pertautan saling silang akan menunjukkan bagaimana banyak pertanyaan-pertanyaan yang sungguh saling terkait.
Prinsip-prinsip umum itu sungguh ada
mereka menyebutnya teori
dan dengan pengujian yang sungguh sangat teliti, mereka menyebutnya Hukum Alam
dan memang begitulah adanya, cara dunia bekerja
kita mungkin tidak selalu tahu mengapa.
Ketika molekul-molekul menyerap energi
mereka berjingkak, berputar, menari, melambungkan atom-atomnya, sikut dan tabrak sana-sini
mereka terlalu bersemangat!
dan kita menyebutnya menghangat, lalu memanas
dan memang begitulah adanya.
Jika anda mampu membaca bahasanya
tubuh manusia adalah buku terbesar sedunia, juga unik
maka molekulnya adalah huruf, nukleotida adalah kata-kata, dan gen…
kita bisa menyebutnya kalimat, merangkai informasi-informasi istimewa dari Pencipta
istimewa untuk saya, istimewa untuk anda
dan kita tak pernah benar-benar sama, meskipun terlahir berdua dalam identik
dan memang begitulah adanya.
Dalam seuntai pita paling memesona sejagad
ada begitu banyak kata yang dikombinasi menjadi begitu banyak kalimat
dan matematika sederhana memperkirakan anda memiliki peluang mendapat kombinasi yang sama teramat kecil,
dan memang begitulah cara kerjanya
Mengapa begitu, Ayah?
Mengapa hal ini terjadi, dan yang lain tidak,
mengapa air mengalir ke tempat rendah, dan bumi berputar?
Ini bukan pertanyaan konyol, apalagi mengada-ada
ini pertanyaan paling mendalam di dunia sains
dan mereka pun menjawabnya
karena ada dua kausalitas di jagad raya: energi dan entropi
karena segala sesuatu akan menurunkan energinya kalau bisa
karena segala sesuatu akan menaikkan entropinya kalau bisa
dan ini masalah keseimbangan keduanya.
Maka anda akan menemukan sesuatu berlalu spontan atau tidak,
dan memang begitulah adanya…
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (Qs. 3: 190) Read More..
pertautan saling silang akan menunjukkan bagaimana banyak pertanyaan-pertanyaan yang sungguh saling terkait.
Prinsip-prinsip umum itu sungguh ada
mereka menyebutnya teori
dan dengan pengujian yang sungguh sangat teliti, mereka menyebutnya Hukum Alam
dan memang begitulah adanya, cara dunia bekerja
kita mungkin tidak selalu tahu mengapa.
Ketika molekul-molekul menyerap energi
mereka berjingkak, berputar, menari, melambungkan atom-atomnya, sikut dan tabrak sana-sini
mereka terlalu bersemangat!
dan kita menyebutnya menghangat, lalu memanas
dan memang begitulah adanya.
Jika anda mampu membaca bahasanya
tubuh manusia adalah buku terbesar sedunia, juga unik
maka molekulnya adalah huruf, nukleotida adalah kata-kata, dan gen…
kita bisa menyebutnya kalimat, merangkai informasi-informasi istimewa dari Pencipta
istimewa untuk saya, istimewa untuk anda
dan kita tak pernah benar-benar sama, meskipun terlahir berdua dalam identik
dan memang begitulah adanya.
Dalam seuntai pita paling memesona sejagad
ada begitu banyak kata yang dikombinasi menjadi begitu banyak kalimat
dan matematika sederhana memperkirakan anda memiliki peluang mendapat kombinasi yang sama teramat kecil,
dan memang begitulah cara kerjanya
Mengapa begitu, Ayah?
Mengapa hal ini terjadi, dan yang lain tidak,
mengapa air mengalir ke tempat rendah, dan bumi berputar?
Ini bukan pertanyaan konyol, apalagi mengada-ada
ini pertanyaan paling mendalam di dunia sains
dan mereka pun menjawabnya
karena ada dua kausalitas di jagad raya: energi dan entropi
karena segala sesuatu akan menurunkan energinya kalau bisa
karena segala sesuatu akan menaikkan entropinya kalau bisa
dan ini masalah keseimbangan keduanya.
Maka anda akan menemukan sesuatu berlalu spontan atau tidak,
dan memang begitulah adanya…
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (Qs. 3: 190) Read More..
Sabtu, 12 Februari 2011
Apa Kabar Saudaramu?
Saya hendak menampar diri saya sendiri lewat tulisan ini
“Duduk termenung ia sendiri, adakah engkau perhatikan ? Jika ya, adakah engkau menyapa ? Jika ya, Sudahkah engkau berbuat untuknya ?”
Teringat sebuah hadist,
“Sesungguhnya kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit.” (HR. Imam Ahmad)
Ada hubungan kuat antara sesama muslim, ada kasih sayang, ada kepekaan di dalamnya. Rasulullah mengandaikannya dengan hubungan sistem saraf di dalam tubuh kita, begitu cepat ketika bagian tubuh terluka maka bagian lainnya ikut merespon. Dalam sholat berjamah pun sudah seharusnya kita merapat hingga tak ada celah syaitan antaranya. Ada hikmah lainnya, kita dapat merasakan kondisi tubuh saudara kita di sebelah kanan dan kiri, terasa panas, demamkah ia, mungkin sedang menggigil.
Persaudaraan mana yang lebih erat ikatannya dari para Rasulullah dan para sahabat. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, namun satu sama lain paham, mengerti bagaimana cara menasihati yang tepat untuk setiap karakter.
Romantisme berukhuwah, itu usang mungkin tercemar
Digerus kesibukan bersama waktu, sudahkah kita melihat kanan dan kiri?
“Oh dia baik-baik saja, raut mukanya standar…”
Paling mudah melihat kondisi orang memang dari sikapnya atau air mukanya, tidak berbohong biasanya. Entahlah, tapi banyak orang yang pandai menyembunyikan perasaannya, masalahnya jauh di dalam hatinya.
Saya tidak berbicara kita seharusnya pandai membaca isi hati orang lain kawan. Hati bukanlah buku yang bisa dibuka dan dibaca dengan mudahnya. Tidak pula seperti membalikan kertas, hati hanya bisa dibolak-balikan oleh Sang Pemilik hati. Oleh karenanya tugas kita adalah sebatas mengupayakan agar hati saudara-saudara kita dapat terikat dan dekat kepada kita. Sayangnya terkadang, hati sendiri juga masih labil nan sering galau, sehingga bagaimana dapat mempengaruhi hati orang lain. Namun kita berada dalam kekeliruan ketika hal itu menjadi alasan besar untuk tidak peduli. Bergeraklah sebatas kemampuan kita, sebarkan kebaikan bukan kegalauan hati kita.
Ukhuwah-ukhuwah, tali-tali persaudaraan yang tersimpul erat dalam naungan cintaNya begitu indah, ketika bersama dalam ketaatan dan berpadu dalam perjuangan hidup. Hei-hei, tunggu dulu, benarkah? Benarkah keindahan itu, romantisme itu ada ketika kita berjabat erat dengan kesibukan-kesibukan dunia. Bagaimana dengan hal sederhana semacam tegur-sapa-tanya-kabar? Salam mungkin? Atau bahkan bertemu saja susah. Romantisme mu murni usang kawan, mengarat tenggelam bersama dengan kepedulian-kepedulian yang gompal.
Oh romantisme, apa yang anda pikirkan begitu mendengar kata itu, cintakah antara dua insan yang merindu dan bla..bla..bla.. Suci cinta itu ketika terbingkai dalam fitrahnya dan tak terjebak dalam maksiat kepadaNya. Rasa dirasa lama-lama terbawa, fitrah itu pun muncul. Tak masalah, namun menjadi masalah ketika fitrah itu terbablas, menurut kemaun nafsu yang berkedok perasaan indah. Interaksi-interaksi menjadi berbeda, tidak wajar, gaya-gaya manis, ucapan-ucapan indah, terdengar merdu, hal-hal yang semestinya hanya untuk pasangan yang sudah dituliskan di Lauful Mahfuz. Itulah cemaran yang bisa terjadi. Berlebihan menanggapi respon dan/atau kekurangan dalam merespon. Semua seharusnya ada kadarnya, semua akan tepat pada waktunya.
Rabithah, lupakah kita?
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam rangka menyeru di jalanMu, dan berjanji setia untuk membela syariatMu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayaMu yang tak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMu, hidupkanlah dengan ma’rifahMu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-sebaik penolong.”
Sempatkan kita, hadirkan wajah-wajah saudara kita dalam doa-doa tulus yang kita panjatkan. Berikan sedikit waktu kita, untuk menyebut nama-nama mereka dalam doa-doa khusu’ kita. Doakan untuk mereka kebaikan dalam sujud kita di sepertiga malam terakhir.
Atau...
Jangan-jangan untuk hal sederhana ini saja kita perhitungan….
wallahu’alam bishawab
Read More..
“Duduk termenung ia sendiri, adakah engkau perhatikan ? Jika ya, adakah engkau menyapa ? Jika ya, Sudahkah engkau berbuat untuknya ?”
Teringat sebuah hadist,
“Sesungguhnya kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman adalah seperti kepala dari tubuhnya. Ia akan merasa sakit jika badannya sakit.” (HR. Imam Ahmad)
Ada hubungan kuat antara sesama muslim, ada kasih sayang, ada kepekaan di dalamnya. Rasulullah mengandaikannya dengan hubungan sistem saraf di dalam tubuh kita, begitu cepat ketika bagian tubuh terluka maka bagian lainnya ikut merespon. Dalam sholat berjamah pun sudah seharusnya kita merapat hingga tak ada celah syaitan antaranya. Ada hikmah lainnya, kita dapat merasakan kondisi tubuh saudara kita di sebelah kanan dan kiri, terasa panas, demamkah ia, mungkin sedang menggigil.
Persaudaraan mana yang lebih erat ikatannya dari para Rasulullah dan para sahabat. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, namun satu sama lain paham, mengerti bagaimana cara menasihati yang tepat untuk setiap karakter.
Romantisme berukhuwah, itu usang mungkin tercemar
Digerus kesibukan bersama waktu, sudahkah kita melihat kanan dan kiri?
“Oh dia baik-baik saja, raut mukanya standar…”
Paling mudah melihat kondisi orang memang dari sikapnya atau air mukanya, tidak berbohong biasanya. Entahlah, tapi banyak orang yang pandai menyembunyikan perasaannya, masalahnya jauh di dalam hatinya.
Saya tidak berbicara kita seharusnya pandai membaca isi hati orang lain kawan. Hati bukanlah buku yang bisa dibuka dan dibaca dengan mudahnya. Tidak pula seperti membalikan kertas, hati hanya bisa dibolak-balikan oleh Sang Pemilik hati. Oleh karenanya tugas kita adalah sebatas mengupayakan agar hati saudara-saudara kita dapat terikat dan dekat kepada kita. Sayangnya terkadang, hati sendiri juga masih labil nan sering galau, sehingga bagaimana dapat mempengaruhi hati orang lain. Namun kita berada dalam kekeliruan ketika hal itu menjadi alasan besar untuk tidak peduli. Bergeraklah sebatas kemampuan kita, sebarkan kebaikan bukan kegalauan hati kita.
Ukhuwah-ukhuwah, tali-tali persaudaraan yang tersimpul erat dalam naungan cintaNya begitu indah, ketika bersama dalam ketaatan dan berpadu dalam perjuangan hidup. Hei-hei, tunggu dulu, benarkah? Benarkah keindahan itu, romantisme itu ada ketika kita berjabat erat dengan kesibukan-kesibukan dunia. Bagaimana dengan hal sederhana semacam tegur-sapa-tanya-kabar? Salam mungkin? Atau bahkan bertemu saja susah. Romantisme mu murni usang kawan, mengarat tenggelam bersama dengan kepedulian-kepedulian yang gompal.
Oh romantisme, apa yang anda pikirkan begitu mendengar kata itu, cintakah antara dua insan yang merindu dan bla..bla..bla.. Suci cinta itu ketika terbingkai dalam fitrahnya dan tak terjebak dalam maksiat kepadaNya. Rasa dirasa lama-lama terbawa, fitrah itu pun muncul. Tak masalah, namun menjadi masalah ketika fitrah itu terbablas, menurut kemaun nafsu yang berkedok perasaan indah. Interaksi-interaksi menjadi berbeda, tidak wajar, gaya-gaya manis, ucapan-ucapan indah, terdengar merdu, hal-hal yang semestinya hanya untuk pasangan yang sudah dituliskan di Lauful Mahfuz. Itulah cemaran yang bisa terjadi. Berlebihan menanggapi respon dan/atau kekurangan dalam merespon. Semua seharusnya ada kadarnya, semua akan tepat pada waktunya.
Rabithah, lupakah kita?
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam rangka menyeru di jalanMu, dan berjanji setia untuk membela syariatMu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayaMu yang tak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMu, hidupkanlah dengan ma’rifahMu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-sebaik penolong.”
Sempatkan kita, hadirkan wajah-wajah saudara kita dalam doa-doa tulus yang kita panjatkan. Berikan sedikit waktu kita, untuk menyebut nama-nama mereka dalam doa-doa khusu’ kita. Doakan untuk mereka kebaikan dalam sujud kita di sepertiga malam terakhir.
Atau...
Jangan-jangan untuk hal sederhana ini saja kita perhitungan….
wallahu’alam bishawab
Read More..
Senin, 17 Januari 2011
Stop Pikirkan Skripsimu !!!!
Sudah cukup provokatif judulnya? Belum? Awalnya saya hendak menggunakan judul ‘Buang saja Skripsimu’ atau ‘Bakar saja Skripsimu’, namun karena dirasa terlalu ekstrim maka saya memilih judul di atas.
Di semester delapan, pada umumnya mahasiswa akan memulai rangkaian tugas akhirnya, yang tentu saja sebagai syarat kelulusan dari jenjang strata satu. Pada masa awal-awal semester dahulu yang sering dipikirkan adalah tugas dari OKK atau mabim, kemudian beranjak di pertengahan masa kuliah, ada yang aktif di organisasi atau memikirkan deadline tugas yang semakin mencekik. Kemudian memasuki akhir masa kuliah maka satu hal yang mendapat porsi besar dalam benak kita, ya, tak lain dan tak bukan adalah skripsi.
Skripsi mungkin di awal hingga akhir merepotkan, dimulai dari pengajuan proposal penelitian (dengan pengurusan administrasi yang sudah mulai rieuweh), kemudian pelaksanaan penelitian (semoga lancar…), hingga penyusunan skripsi, seminar, dan sidang tentu saja. Kepusingan datang tidak hanya dari skripsi itu sendiri namun juga masalah administrasi yang harus dipenuhi. Mau tidak mau tentunya harus dipenuhi jika memang ingin lulus, maka tak jarang kita melihat wajah yang berantakan, senyum yang sudah lari entah kemana, bahkan langkah yang sudah layu dari para pejuang skripsi. Sayang sekali jika kondisinya seperti itu maka malang nian nasibmu nak, hilang sudah pancaran keceriaan dari wajahmu.
Tidak dapat dipungkiri beban skripsi setiap mahasiswa memang berbeda-beda, ada yang mudah mungkin pula ada yang susah, namun saya rasa bukan di sana letak permasalahannya. Saya tentu saja tidak bicara bahwa kita harus membuang jauh-jauh permasalahan yang ada pada skripsi kita dan menjalaninya dengan santai saja (mau lulus kapan kau boi ?). Namun saya rasa banyak di antara kita kehilangan rasa atau makna dibalik menjalani suatu penelitian.
Anda tahu, banyak orang berkata bahwa kekuatan pikiran dapat mengubah persepsi kita terhadap keadaan, dan perubahan persepsi kita terhadap suatu kondisi akan merubah sikap kita dalam menanggapi suatu masalah. Sering banyak motivator ulung yang berkata bahwa bukan keadaan itu sendiri yang penting, namun lebih pada bagaimana kita bereaksi pada masalah tersebut. Hal ini yang menjadikan seseorang memiliki ketahanan yang baik terhadap tekanan atau masalah yang dihadapinya.
Begitu pula dengan menjalani tugas akhir strata satu, semuanya saya rasa bisa menjadi lebih bermakna, lebih menyenangkan meski tetap memusingkan. Pusing mungkin, juga lelah, namun ketika hati tetap bergairah maka rasa dirasa semua kepenatan bisa diatasi dengan baik. Saya pun merasakan hal yang sama, pusing, khawatir, dan lelah menjadi satu, namun hal tersebut ternyata bisa dinikmati. Tidak percaya? Entah menikmati atau tidak namun optimisme selalu hadir di tiap gerak menjalani skripsi.
Kembali pada persepsi, apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata skripsi? Silahkan masing-masing punya bayangannya sendiri, begitu pula saya. Ketika mendengar kata skripsi, saya bisa membayangkan sebuah laporan yang cukup tebal dari hasil penelitian yang tidak mudah dan tidak murah, kemudian kita harus bertahan dari gempuran para reviewer. Wow, serasa ada beban yang menindih kepala ini. Namun saya mencoba merubah persepsi saya, dan saya menemukan hal yang menyenangkan yang lebih berharga berada di pikiran saya dibanding dengan beban-beban itu. Maka saya menghindari istilah skripsi dan menggantinya dengan sebutan penelitian atau riset. Sama saja ya? Tidak menurut saya, anda tahu, kesenangan ketika kita berhasil memecahkan sebuah persoalan yang kita miliki, mencoba hal-hal baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan kita bisa melakukannya, hal tersebut menjadi bayangan saya ketika mendengar kata riset. Gairah-gairah tersebut muncul begitu saja seiring dengan perubahan sudut pandang saya. Saya tidak mengandaikan bahwa penelitian nanti akan mudah dan lancar begitu saja, namun aktivitas kita dalam mencari jawaban atas permasalahan yang timbul, diskusi-diskusi yang akan kita lakukan dengan orang lain, menambah wawasan, membuka cakrawala pikiran, serta mencoba hal baru sekaligus mencoba hingga batas-batas diri kita adalah hal yang luar biasa seru!
Ketakutan atau pun kekhwatiran pasti akan datang, namun seorang pemberani bukanlah mereka yang tidak memiliki rasa takut, tetapi mereka yang dapat menjalani dan mengatasi dengan bijak rasa takut mereka. Mantapkan hati kita kawan, ini adalah jalan yang kita pilih sendiri dengan sadar; kita secara dewasa paham akan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin saja timbul. Namun kenapa kita menyibukkan diri kita dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi, sedangkan ada hal-hal baru yang menggoda kita untuk mencobanya. Have a great research!!!
Read More..
Di semester delapan, pada umumnya mahasiswa akan memulai rangkaian tugas akhirnya, yang tentu saja sebagai syarat kelulusan dari jenjang strata satu. Pada masa awal-awal semester dahulu yang sering dipikirkan adalah tugas dari OKK atau mabim, kemudian beranjak di pertengahan masa kuliah, ada yang aktif di organisasi atau memikirkan deadline tugas yang semakin mencekik. Kemudian memasuki akhir masa kuliah maka satu hal yang mendapat porsi besar dalam benak kita, ya, tak lain dan tak bukan adalah skripsi.
Skripsi mungkin di awal hingga akhir merepotkan, dimulai dari pengajuan proposal penelitian (dengan pengurusan administrasi yang sudah mulai rieuweh), kemudian pelaksanaan penelitian (semoga lancar…), hingga penyusunan skripsi, seminar, dan sidang tentu saja. Kepusingan datang tidak hanya dari skripsi itu sendiri namun juga masalah administrasi yang harus dipenuhi. Mau tidak mau tentunya harus dipenuhi jika memang ingin lulus, maka tak jarang kita melihat wajah yang berantakan, senyum yang sudah lari entah kemana, bahkan langkah yang sudah layu dari para pejuang skripsi. Sayang sekali jika kondisinya seperti itu maka malang nian nasibmu nak, hilang sudah pancaran keceriaan dari wajahmu.
Tidak dapat dipungkiri beban skripsi setiap mahasiswa memang berbeda-beda, ada yang mudah mungkin pula ada yang susah, namun saya rasa bukan di sana letak permasalahannya. Saya tentu saja tidak bicara bahwa kita harus membuang jauh-jauh permasalahan yang ada pada skripsi kita dan menjalaninya dengan santai saja (mau lulus kapan kau boi ?). Namun saya rasa banyak di antara kita kehilangan rasa atau makna dibalik menjalani suatu penelitian.
Anda tahu, banyak orang berkata bahwa kekuatan pikiran dapat mengubah persepsi kita terhadap keadaan, dan perubahan persepsi kita terhadap suatu kondisi akan merubah sikap kita dalam menanggapi suatu masalah. Sering banyak motivator ulung yang berkata bahwa bukan keadaan itu sendiri yang penting, namun lebih pada bagaimana kita bereaksi pada masalah tersebut. Hal ini yang menjadikan seseorang memiliki ketahanan yang baik terhadap tekanan atau masalah yang dihadapinya.
Begitu pula dengan menjalani tugas akhir strata satu, semuanya saya rasa bisa menjadi lebih bermakna, lebih menyenangkan meski tetap memusingkan. Pusing mungkin, juga lelah, namun ketika hati tetap bergairah maka rasa dirasa semua kepenatan bisa diatasi dengan baik. Saya pun merasakan hal yang sama, pusing, khawatir, dan lelah menjadi satu, namun hal tersebut ternyata bisa dinikmati. Tidak percaya? Entah menikmati atau tidak namun optimisme selalu hadir di tiap gerak menjalani skripsi.
Kembali pada persepsi, apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata skripsi? Silahkan masing-masing punya bayangannya sendiri, begitu pula saya. Ketika mendengar kata skripsi, saya bisa membayangkan sebuah laporan yang cukup tebal dari hasil penelitian yang tidak mudah dan tidak murah, kemudian kita harus bertahan dari gempuran para reviewer. Wow, serasa ada beban yang menindih kepala ini. Namun saya mencoba merubah persepsi saya, dan saya menemukan hal yang menyenangkan yang lebih berharga berada di pikiran saya dibanding dengan beban-beban itu. Maka saya menghindari istilah skripsi dan menggantinya dengan sebutan penelitian atau riset. Sama saja ya? Tidak menurut saya, anda tahu, kesenangan ketika kita berhasil memecahkan sebuah persoalan yang kita miliki, mencoba hal-hal baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan kita bisa melakukannya, hal tersebut menjadi bayangan saya ketika mendengar kata riset. Gairah-gairah tersebut muncul begitu saja seiring dengan perubahan sudut pandang saya. Saya tidak mengandaikan bahwa penelitian nanti akan mudah dan lancar begitu saja, namun aktivitas kita dalam mencari jawaban atas permasalahan yang timbul, diskusi-diskusi yang akan kita lakukan dengan orang lain, menambah wawasan, membuka cakrawala pikiran, serta mencoba hal baru sekaligus mencoba hingga batas-batas diri kita adalah hal yang luar biasa seru!
Ketakutan atau pun kekhwatiran pasti akan datang, namun seorang pemberani bukanlah mereka yang tidak memiliki rasa takut, tetapi mereka yang dapat menjalani dan mengatasi dengan bijak rasa takut mereka. Mantapkan hati kita kawan, ini adalah jalan yang kita pilih sendiri dengan sadar; kita secara dewasa paham akan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin saja timbul. Namun kenapa kita menyibukkan diri kita dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi, sedangkan ada hal-hal baru yang menggoda kita untuk mencobanya. Have a great research!!!
(di sela-sela revisi proposal penelitian)
because LIFE IS AN ADVENTURE
Read More..
Rabu, 22 Desember 2010
Amankah Habbatussaudah ?
Habbatussaudah yang dikenal di Indonesia sebagai jinten hitam, menjadi bahan produk-produk herbal yang laku di pasaran. Banyak produsen produk herbal tersebut yang mencatut hadist Rasulullah saw,“Tidaklah ada suatu penyakit, kecuali dalam Habbatus Sauda’ terdapat kesembuhan baginya, kecuali as-Saam (kematian)” (HR. Muslim), tentunya menjadi nilai tambah untuk menarik konsumen yang beragama Islam.
Ketika kita berbicara mengenai obat atau suplemen (baik berbahan kimia sintesis atau bahan alam) maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: kualitas produk, keamanan, dan efikasinya. Ketiga hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena berhubungan dengan kondisi konsumen yang akan mengonsumsinya. Anda bisa bayangkan jika suatu produk obat/suplemen tidak memperhatikan tiga hal tersebut maka konsumenlah yang akan menjadi korban.
Habbatussaudah atau jinten hitam sebagai obat/suplemen yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit pun ternyata memiliki efek-efek yang tidak diinginkan. Padahal selama ini, perhatian masyarakat adalah pada khasiat dari suatu produk herbal tanpa lebih lanjut memikirkan bagaimana keamanan dari produk tersebut.
Hasil penelitian oleh Zaoui, et.al. (2002) menunjukkan adanya efek toksisitas akut dan kronis yang dihasilkan oleh ekstrak minyak dari Nigella sativa. Pemberian sampel secara oral pada tikus percobaan menunjukkan LD50 sebesar 2,06 ml/berat badan. Pengamatan pada konsentrasi dari enzim hepatik menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti, namun kadar serum glukosa, trigeliserida, dan kolesterol darah turun dengan drastis. Hal ini diikuti dengan timbulnya penurunan berat badan pada hewan coba. Penelitian ini juga meliputi sistem hematologi dari hewan coba. Pada penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan kadar hemoglobin serta penurunan kadar leukosit dan trombosit secara signifikan. Selain itu penelitian secara in vitro juga menunjukkan adanya kematian sel limfosit oleh ekstrak Nigella sativa.
Alhamdulillah, ternyata dapat kita simpulkan ekstrak Nigella sativa hanya memiliki efek toksisitas yang rendah dengan ditunjukkan tingginya angka LD50 dan stabilitas dari enzim hepatik pada hewan coba. Oleh karena itu Nigella sativa memiliki kisaran indeks keamanan yang lebar. Meskipun demikian, penggunaan ekstrak Nigella sativa perlu diperhatikan terutama pada pasien-pasien yang juga mengkonsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sel darah putih dan trombosit.
Pustaka:
Zaoui A, Y. Cherrah, N. Mahassini, K. Alaoui, H. Amarouch, M. Hassar. Acute and Chronic Toxicity of Nigella sativa Fixed Oil. Phytomedicine 2002; 9: 69-74.
Read More..
Ketika kita berbicara mengenai obat atau suplemen (baik berbahan kimia sintesis atau bahan alam) maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: kualitas produk, keamanan, dan efikasinya. Ketiga hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena berhubungan dengan kondisi konsumen yang akan mengonsumsinya. Anda bisa bayangkan jika suatu produk obat/suplemen tidak memperhatikan tiga hal tersebut maka konsumenlah yang akan menjadi korban.
Habbatussaudah atau jinten hitam sebagai obat/suplemen yang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit pun ternyata memiliki efek-efek yang tidak diinginkan. Padahal selama ini, perhatian masyarakat adalah pada khasiat dari suatu produk herbal tanpa lebih lanjut memikirkan bagaimana keamanan dari produk tersebut.
Hasil penelitian oleh Zaoui, et.al. (2002) menunjukkan adanya efek toksisitas akut dan kronis yang dihasilkan oleh ekstrak minyak dari Nigella sativa. Pemberian sampel secara oral pada tikus percobaan menunjukkan LD50 sebesar 2,06 ml/berat badan. Pengamatan pada konsentrasi dari enzim hepatik menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti, namun kadar serum glukosa, trigeliserida, dan kolesterol darah turun dengan drastis. Hal ini diikuti dengan timbulnya penurunan berat badan pada hewan coba. Penelitian ini juga meliputi sistem hematologi dari hewan coba. Pada penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan kadar hemoglobin serta penurunan kadar leukosit dan trombosit secara signifikan. Selain itu penelitian secara in vitro juga menunjukkan adanya kematian sel limfosit oleh ekstrak Nigella sativa.
Alhamdulillah, ternyata dapat kita simpulkan ekstrak Nigella sativa hanya memiliki efek toksisitas yang rendah dengan ditunjukkan tingginya angka LD50 dan stabilitas dari enzim hepatik pada hewan coba. Oleh karena itu Nigella sativa memiliki kisaran indeks keamanan yang lebar. Meskipun demikian, penggunaan ekstrak Nigella sativa perlu diperhatikan terutama pada pasien-pasien yang juga mengkonsumsi obat-obat yang berpengaruh pada sel darah putih dan trombosit.
Pustaka:
Zaoui A, Y. Cherrah, N. Mahassini, K. Alaoui, H. Amarouch, M. Hassar. Acute and Chronic Toxicity of Nigella sativa Fixed Oil. Phytomedicine 2002; 9: 69-74.
Read More..
Sabtu, 18 Desember 2010
This is his way, what about you?
His name is Danang A. Probowo, he was an IPB (Bogor Institute of Agriculture) student. In that video clip he presented his life story which is so inspiring for me. One time, in an event in his institute, there was a speaker who said, “Write down your dreams concretely, and don’t write it in your memory only, because you will forget. Write down your 100 targets on a paper.” Then he did it and stuck it on his room wall. A lot of his friends laughed at him. But, one by one, that dreams on that paper was scratched because it came true. He did well in a national MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) championship. Then he was one of the champions in PIMNAS (National Student Science Week) year 2006. Even though, he was not the best in his class, but he was able to be IPB most achieved student and continued to national level. In that video he also wrote that if anyone thinks that he has GPA was 4.00 or always has a perfect score on every class then he said no, I’m not. He had ever had GPA 2.7 and he sometimes got C in his examinations, even he had ever repeated his class. But it was never make him down, as the time went, he could reach his dream to study aboard in Japan. He said that we have to be brave enough to have a big dream, because from his dreams, he has so many achievements until now. Reach that dreams with all your heart and have a faith that there is always a hope.
Every time I play that video, there always appears a passion to move, to come up and reach my goals. After saw that true story, I realize that an ordinary man also can be an extraordinary person. Although there are so many failures that we meet, as long as we hold our faith firmly then we will find the way. I realize to think big and do my best efforts to reach my goals. I begun to write down my dreams, my success, also my failures, that they are a reminder for me that this life will be always fair, even though we sometimes judge it unfairly
"every long journey must begin with a single step"
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)












