Dear Amellia, sahabat ku tersayang.
Bagaimana kabarmu di negeri seberang Mel? Sudahkah berhasil melakukan hal yang kau impi-impikan jika berhasil menjejakkan di negeri empat musim, mencicipi rasa benda putih-putih dingin yang kau sebut salju itu? Aku dengar setiap akhir tahun benda putih-putih dingin itu turun dari langit, seperti hujan yang sering turun di kampung kita.
Amellia yang baik,
Aku dengar hari-hari ini, hujan sudah tidak lagi romantis. Ah, aku tahu kau pasti tak kan percaya. Akan tetapi aku mendengar orang-orang meracau demikian. Paling tidak, seperti itu kata orang-orang kota di sebelah barat kampung kita. Hujan tidak lagi membawa romantisme, seperti dahulu saat kita kecil, menadahkan tangan kita, menangkap air hujan yang turun melewati genting rumah kita yang reyot. Hujan hari ini hanya membawa air, teramat banyak bahkan. Menggenangi rumah-rumah besar bertingkat yang sering kita lihat di TV hitam-putih milik kepala kampung itu. Sampai-sampai hampir aku tidak percaya, biasanya kan alam juga pilih-pilih menimpakan kesusahan. Ternyata orang-orang kaya itu juga ditimpa bencana, hampir tergelak aku tertawa.
Amellia, sahabatku berpipi tembem,
Aku harap kau tidak kurus kering-kempot di sana. Aku tahu sedari dulu kau tidak pernah membiarkan makanan nganggur. Aku harap mereka memberikanmu banyak makanan di sana. Kau tahu Mel, hujan sudah tidak mau lagi membawa rindu, mereka hanya membawa angin besar dan gemuruh di sudut-sudut langit. Apa kau juga melihatnya di TV? Tetangga kita di timur laut sana yang merasakannya. Aku melihatnya, mereka berkata hal yang sama, hujan tidak mau lagi menyampaikan rindu seseorang pada kekasihnya. Mereka hanya membawa kemarahan ibu bumi, angin yang ribut ditambah gemuruh kilat, hal tersebut pastilah memekakkan telinga semua orang. Orang-orang bilang ibu bumi murka karena manusia membuang kotoran mereka ke langit-langitnya, menggelapkan bahkan di siang terik. Mengotori langit yang memberikanmu dulu pelangi Mel, iya, sekarang kau mungkin tidak bisa melihat lengkung warna-warni langit lagi. Semua sudah tertutup debu-debu hitam yang menyesakkan napas.
Amellia yang manis,
Aku mulai setuju bahwa hari-hari ini hujan sudah tidak lagi romantis. Tetapi ada orang sepertimu yang tetap bersikeras tidak setuju dan senang merayakan rindunya bersama hujan. Aku tahu, seperti mu juga, mereka sebenarnya tahu, mereka merayakannya selagi hujan masih mengantarkan rindu mereka ke orang-orang yang mereka kasihi. Sebelum hujan tidak membawa lagi apa-apa, seperti waktu itu Mel, kau ingat? Hari itu hujan tidak membawa apa-apa, tidak romantisme atau rindu, bahkan tidak pula kebencian. Hari itu hujan hanya membawa air saja, bersama angin dan kilat-kilat yang bergemuruh marah. Dan setelahnya, aku melihat kampung kita dengan leluasa Mel, tidak ada lagi rumah-rumah reyot yang berdiri padat-padat di dalamnya. Hujan saat itu membawa pergi romantisme kita Mel, aku tidak melihat apa-apa lagi, selain mayat-mayat yang berceceran di sudut-sudut puing rumah-rumah reyot dan adikmu, yang menangis sesenggukan, memeluk tubuhmu yang mulai dingin membiru.
Read More..
If you can't explain it simply, you don't understand it well enough. (A. Einstein, 1879-1955)
Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 November 2013
Jumat, 13 April 2012
City of Wind #3
Lelaki yang berjalan mengarungi bumi tidak memiliki alasan lain kecuali pencarian akan suatu hal atau pelarian dari hal lainnya
Dalam perjalanan ruang dan waktu, jiwa dan raga, cinta dan rindu kita menapaki hal baru, mempelajari paling tidak bahwa dunia tidak sebegitu sempitnya sehingga kita bertemu dengan dia, dia dan dia. Perjalanan panjang akan selalu melelahkan, menelusup hingga ke sudut-sudut jiwa. Tetapi akan selalu menyenangkan bersama para angin, kau tahu ? Mereka membawa serta awan yang berarak lembut dalam hamparan langit biru. Saya selalu menemukannya, cumulus yang menggumpal seperti tumpukan kapas di terik hari dan sapuan cirrus di langit jingga senja.
Aku mengawali perjalanan ini bersama seorang kawan, seorang periang juga pelamun, selalu menarik garis simpul atas setiap tapak langkahnya. Ah, dan tentu saja beserta para angin yang berbisik-bisik riang, oleh karenanya kami sengaja bertolak dari titik ini, dari kota para angin selatan menuju kota para angin di utara bersama. Nampaknya, dia paham betul tabiat para angin selatan di musim semi ini, riang dengan kesenangan yang selalu menyeruak ke mana-mana. Tarian ilalang selalu menarik, belum lagi dengung riuh serangga-serangga pohon menyanyikan senandung alam.
Aku berbisik akan merindukan lembut tanah ini, bau rerumputannya serta lengkung warna di antara hijau daun setelah hujan. Selalu menenangkan berbaring di bukit paling tinggi, melihat langit berwarna biru langit, ya biru langit bukan biru muda apalagi biru laut. Hamparannya selalu menularkan keluasannya pada ruang hati yang terkadang menyempit, menatap langit selalu berarti menatap Sang Pemelihara secara langsung dan berharap Dia menatap balik kita ramah. Adalah ketenangan jiwa, hal yang sering kita gadaikan atas nama kesenangan hasrat.
Read More..
Dalam perjalanan ruang dan waktu, jiwa dan raga, cinta dan rindu kita menapaki hal baru, mempelajari paling tidak bahwa dunia tidak sebegitu sempitnya sehingga kita bertemu dengan dia, dia dan dia. Perjalanan panjang akan selalu melelahkan, menelusup hingga ke sudut-sudut jiwa. Tetapi akan selalu menyenangkan bersama para angin, kau tahu ? Mereka membawa serta awan yang berarak lembut dalam hamparan langit biru. Saya selalu menemukannya, cumulus yang menggumpal seperti tumpukan kapas di terik hari dan sapuan cirrus di langit jingga senja.
Aku mengawali perjalanan ini bersama seorang kawan, seorang periang juga pelamun, selalu menarik garis simpul atas setiap tapak langkahnya. Ah, dan tentu saja beserta para angin yang berbisik-bisik riang, oleh karenanya kami sengaja bertolak dari titik ini, dari kota para angin selatan menuju kota para angin di utara bersama. Nampaknya, dia paham betul tabiat para angin selatan di musim semi ini, riang dengan kesenangan yang selalu menyeruak ke mana-mana. Tarian ilalang selalu menarik, belum lagi dengung riuh serangga-serangga pohon menyanyikan senandung alam.
Aku berbisik akan merindukan lembut tanah ini, bau rerumputannya serta lengkung warna di antara hijau daun setelah hujan. Selalu menenangkan berbaring di bukit paling tinggi, melihat langit berwarna biru langit, ya biru langit bukan biru muda apalagi biru laut. Hamparannya selalu menularkan keluasannya pada ruang hati yang terkadang menyempit, menatap langit selalu berarti menatap Sang Pemelihara secara langsung dan berharap Dia menatap balik kita ramah. Adalah ketenangan jiwa, hal yang sering kita gadaikan atas nama kesenangan hasrat.
Read More..
Sabtu, 11 Februari 2012
City of Wind #2
Kota Para Angin, siang cerah musim semi awal
“Masih terasa dinginkah ?” ia bertanya. Bulan ini peralihan dari dinginnya angin utara menuju hangatnya angin selatan. “Tidak, tentu saja, siapa yang tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan angin selatan ?”
Beberapa negeri mungkin akan menjanjikanmu kehidupan mewah, surga dunia. Beberapa di antaranya menjanjikan kedamaian dari masa lalu, masalah, kenangan buruk bahkan pengejaran dari musuhmu. Tetapi negeri ini berbeda, kota ini berbeda. Dia tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada apa-apa bahkan. Tidak ada, kecuali lambaian lembut ilalang dan tarian daun-daun yang beriringan seirama. Dan para angin yang selalu membelai rambut mu lembut, berbisik pelan di telinganmu. Mereka berbisik dan jika kamu beruntung mereka akan tertawa bersamamu.
Di awal tekad, mungkin kita perlu berbicara tidak pada siapa pun. Ya, karena tekad tidak perlu diumbarkan, cukup kita hujamkan di hati terdalam. Mungkin satu orang yang perlu kita beritahukan adalah diri kita sendiri, mungkin juga tidak. Karena perjalanan panjang akan terasa jenuh untuk dilalui sendiri. Namun kota ini sedikit memberikan sebuah pelajaran bahwa kesendirian bukan tentang ketidakhadiran orang lain namun ketidakhadiran kita dalam orang lain. Menarik bahwa orang di sekitar kita belum tentu bagian dari diri kita, tetapi mereka yang tidak bersama kita bisa jadi bagian dari diri kita. Dan kebersamaan bukan tentang keberadaan raga tetapi tentang keterikatan hati.
Bagaimanapun juga, perjalanan harus diteruskan karena waktu selalu enggan menunggu.
Read More..
“Masih terasa dinginkah ?” ia bertanya. Bulan ini peralihan dari dinginnya angin utara menuju hangatnya angin selatan. “Tidak, tentu saja, siapa yang tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan angin selatan ?”
Beberapa negeri mungkin akan menjanjikanmu kehidupan mewah, surga dunia. Beberapa di antaranya menjanjikan kedamaian dari masa lalu, masalah, kenangan buruk bahkan pengejaran dari musuhmu. Tetapi negeri ini berbeda, kota ini berbeda. Dia tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada apa-apa bahkan. Tidak ada, kecuali lambaian lembut ilalang dan tarian daun-daun yang beriringan seirama. Dan para angin yang selalu membelai rambut mu lembut, berbisik pelan di telinganmu. Mereka berbisik dan jika kamu beruntung mereka akan tertawa bersamamu.
Di awal tekad, mungkin kita perlu berbicara tidak pada siapa pun. Ya, karena tekad tidak perlu diumbarkan, cukup kita hujamkan di hati terdalam. Mungkin satu orang yang perlu kita beritahukan adalah diri kita sendiri, mungkin juga tidak. Karena perjalanan panjang akan terasa jenuh untuk dilalui sendiri. Namun kota ini sedikit memberikan sebuah pelajaran bahwa kesendirian bukan tentang ketidakhadiran orang lain namun ketidakhadiran kita dalam orang lain. Menarik bahwa orang di sekitar kita belum tentu bagian dari diri kita, tetapi mereka yang tidak bersama kita bisa jadi bagian dari diri kita. Dan kebersamaan bukan tentang keberadaan raga tetapi tentang keterikatan hati.
Bagaimanapun juga, perjalanan harus diteruskan karena waktu selalu enggan menunggu.
Read More..
Selasa, 31 Januari 2012
City of Wind #1
"Begitu burukah ketika kita melarikan diri dari kenyataan ?", Saya bertanya dan bertanya, tidak mengharapkan jawaban, berharap keluar dari situasi serba masalah ini.
Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.
"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.
Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.
Read More..
Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.
"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.
Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)


