Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Hari ketika hujan tidak lagi romantis

Dear Amellia, sahabat ku tersayang.

Bagaimana kabarmu di negeri seberang Mel? Sudahkah berhasil melakukan hal yang kau impi-impikan jika berhasil menjejakkan di negeri empat musim, mencicipi rasa benda putih-putih dingin yang kau sebut salju itu? Aku dengar setiap akhir tahun benda putih-putih dingin itu turun dari langit, seperti hujan yang sering turun di kampung kita.

Amellia yang baik,

Aku dengar hari-hari ini, hujan sudah tidak lagi romantis. Ah, aku tahu kau pasti tak kan percaya. Akan tetapi aku mendengar orang-orang meracau demikian. Paling tidak, seperti itu kata orang-orang kota di sebelah barat kampung kita. Hujan tidak lagi membawa romantisme, seperti dahulu saat kita kecil, menadahkan tangan kita, menangkap air hujan yang turun melewati genting rumah kita yang reyot. Hujan hari ini hanya membawa air, teramat banyak bahkan. Menggenangi rumah-rumah besar bertingkat yang sering kita lihat di TV hitam-putih milik kepala kampung itu. Sampai-sampai hampir aku tidak percaya, biasanya kan alam juga pilih-pilih menimpakan kesusahan. Ternyata orang-orang kaya itu juga ditimpa bencana, hampir tergelak aku tertawa.

Amellia, sahabatku berpipi tembem,

Aku harap kau tidak kurus kering-kempot di sana. Aku tahu sedari dulu kau tidak pernah membiarkan makanan nganggur. Aku harap mereka memberikanmu banyak makanan di sana. Kau tahu Mel, hujan sudah tidak mau lagi membawa rindu, mereka hanya membawa angin besar dan gemuruh di sudut-sudut langit. Apa kau juga melihatnya di TV? Tetangga kita di timur laut sana yang merasakannya. Aku melihatnya, mereka berkata hal yang sama, hujan tidak mau lagi menyampaikan rindu seseorang pada kekasihnya. Mereka hanya membawa kemarahan ibu bumi, angin yang ribut ditambah gemuruh kilat, hal tersebut pastilah memekakkan telinga semua orang. Orang-orang bilang ibu bumi murka karena manusia membuang kotoran mereka ke langit-langitnya, menggelapkan bahkan di siang terik. Mengotori langit yang memberikanmu dulu pelangi Mel, iya, sekarang kau mungkin tidak bisa melihat lengkung warna-warni langit lagi. Semua sudah tertutup debu-debu hitam yang menyesakkan napas.

Amellia yang manis,

Aku mulai setuju bahwa hari-hari ini hujan sudah tidak lagi romantis. Tetapi ada orang sepertimu yang tetap bersikeras tidak setuju dan senang merayakan rindunya bersama hujan. Aku tahu, seperti mu juga, mereka sebenarnya tahu, mereka merayakannya selagi hujan masih mengantarkan rindu mereka ke orang-orang yang mereka kasihi. Sebelum hujan tidak membawa lagi apa-apa, seperti waktu itu Mel, kau ingat? Hari itu hujan tidak membawa apa-apa, tidak romantisme atau rindu, bahkan tidak pula kebencian. Hari itu hujan hanya membawa air saja, bersama angin dan kilat-kilat yang bergemuruh marah. Dan setelahnya, aku melihat kampung kita dengan leluasa Mel, tidak ada lagi rumah-rumah reyot yang berdiri padat-padat di dalamnya. Hujan saat itu membawa pergi romantisme kita Mel, aku tidak melihat apa-apa lagi, selain mayat-mayat yang berceceran di sudut-sudut puing rumah-rumah reyot dan adikmu, yang menangis sesenggukan, memeluk tubuhmu yang mulai dingin membiru.




Read More..

Senin, 03 September 2012

Kertas Berusia

sumber gambar: picstopin.com
Ada selembar kertas diletakkan di atas meja masa. Berdampingan dengan waktu yang dengannya hati bergemuruh.

Ada selembar kertas berisikan gambar juga coretan. Bukan lukisan, gambar sederhana saja dan coretan bercerita tentang jiwa berpautan di persimpangan takdir.

Hati mengetahui alurnya dan kisah kali ini hendak menutup usia, berakhir di ujung pertemuan dengan jumpa.

Sementara waktu hendak memeluk habis, kita berontak, berbisik, menguatkan sesama.

Sementara matahari menyelam di sana, kita berjanji untuk bersinar bersama, menangis sesenggukan, kemudian tegar berjumpa pisah.

Dan doa-doa dilantunkan, mengiring asa tentang persimpangan di jalan kehidupan.

Dan dirapikan kertas berusia, terlipat dua sama rata, diselipkan dalam amplop kecil putih bersih.

Kita melepas merpati yang mengantarkan pesan ke lapak-lapak langit, semoga Penguasanya mengabulkan.

Dan untuk cerita cinta di lembar napas. Terimakasih terimakasih

-sepenuh cinta-


Read More..

Jumat, 13 April 2012

City of Wind #3

Lelaki yang berjalan mengarungi bumi tidak memiliki alasan lain kecuali pencarian akan suatu hal atau pelarian dari hal lainnya

Dalam perjalanan ruang dan waktu, jiwa dan raga, cinta dan rindu kita menapaki hal baru, mempelajari paling tidak bahwa dunia tidak sebegitu sempitnya sehingga kita bertemu dengan dia, dia dan dia. Perjalanan panjang akan selalu melelahkan, menelusup hingga ke sudut-sudut jiwa. Tetapi akan selalu menyenangkan bersama para angin, kau tahu ? Mereka membawa serta awan yang berarak lembut dalam hamparan langit biru. Saya selalu menemukannya, cumulus yang menggumpal seperti tumpukan kapas di terik hari dan sapuan cirrus di langit jingga senja.

Aku mengawali perjalanan ini bersama seorang kawan, seorang periang juga pelamun, selalu menarik garis simpul atas setiap tapak langkahnya. Ah, dan tentu saja beserta para angin yang berbisik-bisik riang, oleh karenanya kami sengaja bertolak dari titik ini, dari kota para angin selatan menuju kota para angin di utara bersama. Nampaknya, dia paham betul tabiat para angin selatan di musim semi ini, riang dengan kesenangan yang selalu menyeruak ke mana-mana. Tarian ilalang selalu menarik, belum lagi dengung riuh serangga-serangga pohon menyanyikan senandung alam.

Aku berbisik akan merindukan lembut tanah ini, bau rerumputannya serta lengkung warna di antara hijau daun setelah hujan. Selalu menenangkan berbaring di bukit paling tinggi, melihat langit berwarna biru langit, ya biru langit bukan biru muda apalagi biru laut. Hamparannya selalu menularkan keluasannya pada ruang hati yang terkadang menyempit, menatap langit selalu berarti menatap Sang Pemelihara secara langsung dan berharap Dia menatap balik kita ramah. Adalah ketenangan jiwa, hal yang sering kita gadaikan atas nama kesenangan hasrat.





Read More..

Sabtu, 11 Februari 2012

City of Wind #2

Kota Para Angin, siang cerah musim semi awal

“Masih terasa dinginkah ?” ia bertanya. Bulan ini peralihan dari dinginnya angin utara menuju hangatnya angin selatan. “Tidak, tentu saja, siapa yang tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan angin selatan ?”

Beberapa negeri mungkin akan menjanjikanmu kehidupan mewah, surga dunia. Beberapa di antaranya menjanjikan kedamaian dari masa lalu, masalah, kenangan buruk bahkan pengejaran dari musuhmu. Tetapi negeri ini berbeda, kota ini berbeda. Dia tidak menjanjikan apa-apa, tidak ada apa-apa bahkan. Tidak ada, kecuali lambaian lembut ilalang dan tarian daun-daun yang beriringan seirama. Dan para angin yang selalu membelai rambut mu lembut, berbisik pelan di telinganmu. Mereka berbisik dan jika kamu beruntung mereka akan tertawa bersamamu.

Di awal tekad, mungkin kita perlu berbicara tidak pada siapa pun. Ya, karena tekad tidak perlu diumbarkan, cukup kita hujamkan di hati terdalam. Mungkin satu orang yang perlu kita beritahukan adalah diri kita sendiri, mungkin juga tidak. Karena perjalanan panjang akan terasa jenuh untuk dilalui sendiri. Namun kota ini sedikit memberikan sebuah pelajaran bahwa kesendirian bukan tentang ketidakhadiran orang lain namun ketidakhadiran kita dalam orang lain. Menarik bahwa orang di sekitar kita belum tentu bagian dari diri kita, tetapi mereka yang tidak bersama kita bisa jadi bagian dari diri kita. Dan kebersamaan bukan tentang keberadaan raga tetapi tentang keterikatan hati.

Bagaimanapun juga, perjalanan harus diteruskan karena waktu selalu enggan menunggu.







Read More..

Selasa, 31 Januari 2012

City of Wind #1

"Begitu burukah ketika kita melarikan diri dari kenyataan ?", Saya bertanya dan bertanya, tidak mengharapkan jawaban, berharap keluar dari situasi serba masalah ini.

Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.

"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.

Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.





Read More..

Sabtu, 07 Mei 2011

Hey, dia yang berjilbab biru


Hai, dia yang berjilbab biru
dimana engkau?
ketika kami terlelap di kasur empuk kami
saat keamanan menghanyutkan kami
mungkinkah di antara letusan-letusan?
atau di jalan sekolahmu yang ditutup orang-orang biadab?

sedang apa engkau?
saat kami bersenda gurau, riang bersama keluarga dan sahabat
mungkin kau mencemaskan ayahmu,
atau saudara laki-lakimu yang belum pulang

Hey, dia yang berjilbab biru
tak takutkah engkau dengan tank-tank besar itu
moncong-moncong senapan
wajah-wajah garang

kau tantang mereka
dengan batu-batu kerikil mu
melayang-layang menyerbu
gagah berani melawan angkara

wahai dia yang berjilbab biru
kami dengar di sana, hufadz dilahirkan di antara desingan peluru
kau sendiri, sudah berapa banyak?
ah 1 atau 2, mungkin terlalu sedikit
10 atau 20, ya kau membuat kami menunduk malu

Ya, dia yang berjilbab biru!
darahmu segar mewarnai tanah cintamu
kau jemput kenikmatan hidup dengan syahidmu
dan langitpun syahdu
sementara kami,

Maafkan, dia yang berjilbab biru
kami sibuk dengan warna-warni duniawi
antara tidak tahu dan tak mau tahu
kami biayai mereka yang meremuk-redamkan kampungmu

Ajari kami, dia yang berjilbab biru
tentang keberanianmu
tentang rasa pantang menyerah
tentang cinta sebenarnya kepada Ilahi Robbi

"Aku kencang berlari
Biar kuhadang dengan apa yang kupunya
Hunus saja tubuh ini
Biar kusyahid itu mati yang mulia
Barisan kami Pemuda Palestina"

(Edcoustic-Pemuda Palestina)


Read More..

Jumat, 21 Mei 2010

Gaza, Gaza


Lima hari aku di Gaza
Banyak sekali kenangan yang ku dapat
Kenangan tersendiri dalam hidupku

Kenangan berada di negeri jihad
Jihad melawan kezaliman
Jihad melawan keangkuhan
Jihad melawan kebiadaban

Rakyatnya sabar dalam berjuang
Meraih cita-cita yang mulia
Sebagai bangsa yang merdeka dari belenggu penjajahan
Walaupun mereka dijajah berpuluh tahun

Diblokade dua tahun lamanya (sekarang memasuki tahun ke empat)
Tidak menghalangi mereka untuk menghormati tamu
Itulah yang saya rasakan selama lima hari di Gaza

Ucapan salam juga disampaikan dengan senyuman
Yang mempererat tali persaudaraan
Kecintaan mereka terhadap Al Qur’an
Menyentuh lubuk hati yang paling dalam

Walaupun mereka dijajah
Tetapi mencetak Al Qur’an dengan bentuk yang indah
Kertas yang bagus
Di baca setiap saat oleh rakyat Gaza
Terutama anak-anak yang mengikuti program tahfizh Al Qur’an


Untuk tahun ini, tahun 2009
Mereka mentargetkan ada 10.000 orang hafizh yang baru
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
Kecintaan mereka terhadap masjid juga menyentuh jiwaku

Walaupun masjidnya dihancurkan penjajah Israel
Mereka masih ke masjid melakukan shalat berjama’ah
Cinta mereka terhadap masjid patut dicontoh

Bahkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
Seluruh masjid mengadakan program i’tikaf
Rakyat Gaza mengikuti program i’tikaf tersebut

Bahkan pemimpin mereka Ismail Haniya juga turut serta
Suatu jalinan yang indah antara rakyat dan pemimpinnya
Dalam ketaatan kepada Allah

Menetes air mataku saat meninggalkan kota Gaza
Mereka melepas keberangkatanku juga menangis

Entah kapan aku akan dapat kembali ke Gaza
Kota yang penuh kenangan spiritual dan jihad
Saya hanya berdoa semoga dapat kembali lagi ke Gaza

Dan shalat di masjid Al Aqsha
Kala itu Palestina merdeka
Insya Allah tidak lama lagi
(Ferry Nur)

tulisan di atas merupakan tulisan dari Ferry Nur yang ditulis di Eramuslim.com
Gaza, ketika kita mendengar istilah itu, maka terlintas tentang perang tiada akhir, kebiadaban, penjajahan, penindasa, dan sebagainya.
Di balik itu semua, di antara reruntuhan sekolah dan mesjid, dilahirkan hafidz-hafidz baru. Begitu kental kecintaan mereka terhadap Islam

Gaza, Gaza
Engkau pasti akan terbebaskan
Di saat itu, umat muslim akan bebas beribadah di Al Aqsa
Doa kami untukmu selalu..


Read More..

Kamis, 17 September 2009

Kisah Penjaga Tol


Suatu ketika, di suatu tempat, tersebutlah seseorang sedang mengendarai kendaraan beroda empatnya untuk berangkat bekerja. Beliau tinggal di daerah depok dan tempat yang ditujunya berada di jalan TB Simatupang. Seperti hari-hari biasanya, untuk menghindari macet, beliau memilih untuk menempuh jalan tol. Seperti pada umumnya, sebelum kita menggunakan jalan tol, maka haruslah melewati gerbang tol untuk mengambil karcis. Saat akan menerima karcis dari si penjaga tol, beliau terheran karena sang penjaga tol melakukan hal yang tidak biasanya dilakukan penjaga tol yang lainnya yang pernah dia temui. Sang penjaga tol tersenyum kepada beliau sebelum memberikan karcis tiket bahkan sang penjaga tol mendoakannya, "Semoga bapak selamat sampai tujuan."

Melihat hal ini orang tersebut terkesima, kemudian setelah kejadian tersebut orang itu berhenti dan menemui pimpinan dari sang penjaga tol untuk meminta izin menemui sang penjaga tol. Lalu bertemulah ia dengan penjaga tol tersebut

"bapak anda, saya sungguh heran. Anda memberikan senyum kepada orang anda tidak kenal. Anda bahkan memberikan doa kepada saya. Hal tersebut bukanlah hal yang biasa saya temui", beliau membuka pembicaraan.
Penjaga tol tersebut pun menjawab, "Sungguh saya hanyalah seorang penjaga tol. Saya tidak memiliki uang banyak agar bisa beramal. Saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk bisa mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Namun bagi saya, bisa tersenyum kepada orang lain, mengucapkan salam, dan mendoakannya adalah sebuah bentuk ibadah yang bisa saya lakukan. Saya selalu melakukannya semenjak saya bekerja di sini, dan hal tersebut sudah 10 tahun yang lalu."

Mendengar hal itu, beliau menjadi terkagum. Bayangkan betapa si penjaga tol begitu menghargai pekerjaan yang dia lakukan. Baginya pekerjaannya adalah ibadahnya. Dengannya dia beramal, sangat sederhana mungkin, tidak bisa seperti orang kaya yang dapat berinfak hingga ratusan ribu bahkan jutaan.


Renungkan sahabatku, betapa banyak ladang amal yang bisa kita lakukan. Betapa setiap pekerjaan kita memiliki nilai ibadah jika kita meniatkannya.


(diadopsi dari cerita ESQ Trainer)

Read More..

Selasa, 30 Juni 2009

Hikayat Dua Ekor Kodok

Once upon a time (halah sok inggris,hehehe), hidup dua ekor kodok di negeri antah berantah dan berada di dua tempat yang berbeda. Pada suatu ketika salah seekor kodok melihat panci yang berisi air yang sedang dipanaskan. Melihat hal tersebut, kodok itu berpikir, "wah sepertinya enak berenang-renang di dalamnya". Kemudian loncatlah sang kodok, ceburrr. "wah airnya tidak dingin, nyaman sekali", pikir si kodok. Lama-kelaman air tersebut semakin hangat, dan semakin nyaman saja menurut si kodok. Tak lama kemudian air tersebut memanas, namun kodok tersebut berpikir ah nanti saja keluarnya gampang nanti tinggal loncat saja; berenang-renang dahulu ah masih hangat nih. Setelah air tersebut menjadi panas, kodok tersebut merasa kesakitan dan mencoba untuk melompat keluar. Namun karena sudah kehabisan energi, akhirnya matilah si kodok menjadi sup.


Di lain tempat, dengan kodok yang berbeda, terdapat sebuah panci namun dengan air yang mendidih di dalamnya. Mendekatlah si kodok dan dia terheran melihat adanya air yang bergolak-golak. Kemudian loncatlah si kodok ke dalam panci tersebut, ceburr!!!. Kemudian si kodok terkaget merasakan air yang begitu panas dan langsung sekuat tenaga keluar dari panci dan akhirnya selamat dari kondisi menjadi sup.

Apa hikmah (ibroh) yang bisa kita dapat dari cerita di atas??
mungkin salah satunya adalah bahwa janganlah terlena dengan perubahan yang kita alami. Salah satu yang kita harus perhatikan adalah, apakah perubahan tersebut menuju ke arah yang lebih baik, atau justru sebaliknya. Karena itu berhati-hatilah dengan sesuatu yang melenakan, bisa jadi hal tersebut malah berakibat buruk.
Hal lainnya adalah terkadang kita perlu merasakan sakit terlebih dahulu sebelum sadar bahwa hal tersebut salah. Padahal sebenarnya kita bisa menghindari rasa sakit tersebut jika kita mau mencari tahu dan menerima bahwa tidak semua hal yang kita lakukan benar, atau dengan kata lain merasa benar sendiri.

Semoga bisa diambil yang baiknya.


Read More..

Jumat, 26 Juni 2009

Sebuah Puisi Dakwah

Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik”.Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu

Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra


Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”

Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerjakeras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah,
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat,
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya , itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya

(penulis puisi ini tidak saya ketahui, mohon maaf)



Read More..

Rabu, 03 Juni 2009

Mereka yang Mencari

Jika kau mencari teman seperjalanan
kau berada di tempat yang salah
Jika kau mencari dahan tuk bergantung
kau memanjat pohon yang salah
Jika kau mencari musuh untuk dibenci
kau berada pada saat yang salah

Kami adalah orang-orang yang mencari
pada terang dan gelap kebenaran
saat sepi dan ramainya dunia
dalam tidur, duduk, atau berdiri raga

Kami para pencari
keping-keping ilmu-Nya
tuk puaskan dahaga jiwa


Jangan kau heran
karena kami sendiri tidak pernah puas
dengan rasa heran kami

Silakan kau tanyakan
tapi manusia tidak pernah punya semua jawaban
karena terkadang...
pertanyaan ada untuk kita cari sendiri jawabannya
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. 3:191)

inilah jalanku kawan, jalan sunyi para pencari kebenaran...



Read More..