If you can't explain it simply, you don't understand it well enough. (A. Einstein, 1879-1955)
Tampilkan postingan dengan label palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label palestina. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Mei 2011
Hey, dia yang berjilbab biru
Hai, dia yang berjilbab biru
dimana engkau?
ketika kami terlelap di kasur empuk kami
saat keamanan menghanyutkan kami
mungkinkah di antara letusan-letusan?
atau di jalan sekolahmu yang ditutup orang-orang biadab?
sedang apa engkau?
saat kami bersenda gurau, riang bersama keluarga dan sahabat
mungkin kau mencemaskan ayahmu,
atau saudara laki-lakimu yang belum pulang
Hey, dia yang berjilbab biru
tak takutkah engkau dengan tank-tank besar itu
moncong-moncong senapan
wajah-wajah garang
kau tantang mereka
dengan batu-batu kerikil mu
melayang-layang menyerbu
gagah berani melawan angkara
wahai dia yang berjilbab biru
kami dengar di sana, hufadz dilahirkan di antara desingan peluru
kau sendiri, sudah berapa banyak?
ah 1 atau 2, mungkin terlalu sedikit
10 atau 20, ya kau membuat kami menunduk malu
Ya, dia yang berjilbab biru!
darahmu segar mewarnai tanah cintamu
kau jemput kenikmatan hidup dengan syahidmu
dan langitpun syahdu
sementara kami,
Maafkan, dia yang berjilbab biru
kami sibuk dengan warna-warni duniawi
antara tidak tahu dan tak mau tahu
kami biayai mereka yang meremuk-redamkan kampungmu
Ajari kami, dia yang berjilbab biru
tentang keberanianmu
tentang rasa pantang menyerah
tentang cinta sebenarnya kepada Ilahi Robbi
"Aku kencang berlari
Biar kuhadang dengan apa yang kupunya
Hunus saja tubuh ini
Biar kusyahid itu mati yang mulia
Barisan kami Pemuda Palestina"
(Edcoustic-Pemuda Palestina)
Read More..
Senin, 11 Januari 2010
4th International Symposium for Palestine:Education for Palestine (day 2)
Tulisan ini bukanlah tulisan resmi dari Panitia 4th International Symposium, melainkan hanya laporan atau tulisan pribadi penulis
Setelah pada hari pertama Simposium Internasional yang keempat ini dihadiri banyak peserta bahkan hingga ruangan aula lt. 2 gedung dekanat FE UI tidak dapat menampungnya, maka pada hari kedua fenomena yang sama masih terjadi meskipun terjadi penurunan.
Acara ini dipandu oleh pemeran Azzam dalam KCB, yaitu Cholidi Asadil Alam dan menghadirkan pembicara yang lebih banyak dari hari pertama, meskipun terdapat kekecewaan di mana para duta besar (Palestina, Arab, dan Mesir) tidak dapat hadir disebabkan alasan yang tidak jelas. Tim nasyid yang ditampilkan pun lebih menarik dikarenakan hadirnya Izzatul Islam dan Shoutul Harokah.
Acara pada hari kedua ini terbagi menjadi dua sesi yaitu sebelum dan sesudah zuhur, dengan tema yang sedikit berbeda dari hari pertama (pendidikan untuk rakyat Palestina), yaitu peluang negara-negara Islam dalam membantu bangsa Palestina. Pada sesi I, menghadirkan Mapres Nasional 2006, Bang Shofwan Al Banna dan pemred Sabili, Ust. Herry Nurdi. Sesi berlangsung menarik dengan bahasan mulai dari sejarah bangsa Palestina hingga ‘ada apa dengan negara-negara Arab’ dan potensi Indonesia dalam membantu membebaskan bangsa Palestina.
Pada sesi II diawali dengan pengumuman jejarin dana nasional untuk bangsa Palestina yang sudah terkumpul hingga saat itu sebesar 310 jutaan dan langsung diberikan kepada KNRP. Selanjutnya pengumuman para pemenang lomba (Alhamdulillah saya kalah, hehe…) dan nasyid dari Shohar. Pembicara pada sesi II ini adalah Ustadzah Yoyo Yusroh. Mohon maaf tidak bisa melanjutkan pelaporan karena pulang lebih awal disebabkan kondisi tubuh yang sudah tidak mau berkompromi lagi.
Secara garis besar acara ini berlangsung luar biasa, meskipun ada kekurangan di sana sini namun demikian masih dapat teratasi dengan baik. Semoga ini semua tidak sebatas wacana saja dan dapat ditindaklanjuti oleh masing-masing pribadi. Mengutip perkataan ustad Herry Nurdi,
“seperti Konstatinopel yang hanya bisa ditaklukan oleh panglima paling soleh dan pasukan yang paling soleh, jika ingin membebaskan Palestina maka antum harus menjadi soleh dan militan serta menjadi yang terbaik di bidang masing-masing.
Read More..
Setelah pada hari pertama Simposium Internasional yang keempat ini dihadiri banyak peserta bahkan hingga ruangan aula lt. 2 gedung dekanat FE UI tidak dapat menampungnya, maka pada hari kedua fenomena yang sama masih terjadi meskipun terjadi penurunan.
Acara ini dipandu oleh pemeran Azzam dalam KCB, yaitu Cholidi Asadil Alam dan menghadirkan pembicara yang lebih banyak dari hari pertama, meskipun terdapat kekecewaan di mana para duta besar (Palestina, Arab, dan Mesir) tidak dapat hadir disebabkan alasan yang tidak jelas. Tim nasyid yang ditampilkan pun lebih menarik dikarenakan hadirnya Izzatul Islam dan Shoutul Harokah.
Acara pada hari kedua ini terbagi menjadi dua sesi yaitu sebelum dan sesudah zuhur, dengan tema yang sedikit berbeda dari hari pertama (pendidikan untuk rakyat Palestina), yaitu peluang negara-negara Islam dalam membantu bangsa Palestina. Pada sesi I, menghadirkan Mapres Nasional 2006, Bang Shofwan Al Banna dan pemred Sabili, Ust. Herry Nurdi. Sesi berlangsung menarik dengan bahasan mulai dari sejarah bangsa Palestina hingga ‘ada apa dengan negara-negara Arab’ dan potensi Indonesia dalam membantu membebaskan bangsa Palestina.
Pada sesi II diawali dengan pengumuman jejarin dana nasional untuk bangsa Palestina yang sudah terkumpul hingga saat itu sebesar 310 jutaan dan langsung diberikan kepada KNRP. Selanjutnya pengumuman para pemenang lomba (Alhamdulillah saya kalah, hehe…) dan nasyid dari Shohar. Pembicara pada sesi II ini adalah Ustadzah Yoyo Yusroh. Mohon maaf tidak bisa melanjutkan pelaporan karena pulang lebih awal disebabkan kondisi tubuh yang sudah tidak mau berkompromi lagi.
Secara garis besar acara ini berlangsung luar biasa, meskipun ada kekurangan di sana sini namun demikian masih dapat teratasi dengan baik. Semoga ini semua tidak sebatas wacana saja dan dapat ditindaklanjuti oleh masing-masing pribadi. Mengutip perkataan ustad Herry Nurdi,
“seperti Konstatinopel yang hanya bisa ditaklukan oleh panglima paling soleh dan pasukan yang paling soleh, jika ingin membebaskan Palestina maka antum harus menjadi soleh dan militan serta menjadi yang terbaik di bidang masing-masing.
Read More..
Sabtu, 09 Januari 2010
4th International Symposium for Palestine: Education for Palestine (day 1)

'Tulisan ini hanyalah hasil laporan ataupun pendapat dari penulis pribadi dan bukan dari panitia resmi simposium internasional ke-4'
Apa yang akan terlintas pada pikiran anda ketika mendengar kata Palestina? Penjajahan, Zionis Israel, penderitaan, peperangan tak pernah berhenti? Atau hal lainnya?
Ya, ketika berbicara tentang Palestina mungkin tidak akan pernah habis membicarakan tentang kejamnya penjajahan dan sebagainya. Tapi tunggu dulu....
Untuk apa kita berbicara Palestina? Negeri nun jauh di sana, sedangkan kondisi di negeri sendiri masih carut-marut. Apa keuntungannya untuk kita? Hal ini sempat dibahas oleh pembicara pada sesi pertama, yaitu Bang Firtra (wartawan TV-one) dan Pak Basuki (dokter dari Bulan Sabit Merah).
> landasan pertama kenapa kita membantu Palestina adalah karena persaudaraan muslim. Ya, muslim bagaikan satu tubuh jika salah satu bagian sakit maka akan merespon bagian yang lainnya.
> kedua, karena konstitusi kita mengharuskan demikian. Ingat pembukaan UUD 1945 yang biasa kita bacakan sewaktu SD hingga SMA, "Kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan..."
> ketiga, membiarkan kelakuan Israel yang jelas-jelas melanggar peraturan yang disepakati dunia dapat merusak tatanan dunia. Kenapa? Karena tatanan dunia dibangun atas dasar saling menghormati. Jika sikap semau gue ini menyebar maka sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.
> keempat, jika melihat dari segi ekonomi, tanah Palestina merupakan tanah yang subur dan menghasilkan berbagai macam hasil bumi yang berkualitas sangat baik. Selain itu sikap penduduk Palestina yang baik terhadap bangsa Indonesia menjadikan bangsa Indonesia memiliki prospek kerjasama ekonomi yang baik di sana
> dan lainnya, yang bisa kita gali sendiri.
Bisa kita simpulkan bahwa membantu perjuangan bangsa Palestina memiliki imbas tersendiri ke negara Indonesia.
Topik yang diangkat pada simposium kali ini adalah pendidikan bagi penduduk Palestina sebagai salah satu usaha rekontruksi Palestina. Tema ini sangat pantas untuk kita angkat, karena kemajuan dan kehebatan suatu bangsa bergantung pada kualitas SDM yang dimiliki. Maka tidak heran jika fasilitas-fasilitas pendidikan serta laboratorium penelitian dihancurkan untuk tujuan menghancurkan SDM di Palestina.
Pendidikan kedokteran (terutama spesialis) sangat dibutuhkan di sana, jika kita mendengar presentasi dari dr. Basuki. Oleh karena itu, BSM sudah berupaya untuk mensekolahkan dokter Palestina di Indonesia dan dikabarkan akan dibiaya 10 orang dokter Palestina.

Selain acara-acara talkshow juga ada penampilan nasyid dari berbagai macam tim nasyid dan penampilan teater. Acara ini berlangsung dua hari (9 dan 10 januari) bertempat di FEUI
Sekian untuk hari pertama, tunggu postingan selanjutnya untuk hari kedua....
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
