Great leaders will not guarantee an optimal organization, but great followers will come close (Todd Nielsen).
Sebuah sesi inspirational sharing dengan CEO General Electric Indonesia, Pak Handry Satriago, membuat saya me-review kembali peran pemain-pemain utama dalam sebuah organisasi, which is its leader and followers. Kita sering mendengarnya, bahkan sudah banyak buku-buku yang membahas mengenai leadership, bagaimana anda menjadi pemimpin yang berpengaruh atau seni-seni memimpin dan mempengaruhi orang lain. Mungkin anda juga pernah mengikuti latihan-latihan kepemimpinan dari yang wajib anda ikuti ketika masuk ke sebuah organisasi hingga leadership training yang berharga jutaan rupiah. Yes, all of us are really familiar with term of leadership, yet not about followership.
Being a leader promises many great advantages, oleh karenanya posisi ini begitu diinginkan oleh kita semua. Dan bagaimana sebagian besar dari kita memandang posisi pengikut atau anak buah? Posisi tidak penting yang bekerja manut-manut mengikuti arahan pemimpin dan tidak perlu ‘macam-macam’. Banyak dari kita memandang posisi pengikut adalah posisi yang tidak penting, tidak prestige dan ‘cukup tahu’ saja. Padahal peran leader and follower selalu ada berdampingan. Dalam hirarki sebuah perusahaan saja, seorang supervisor adalah leader bagi stafnya dan follower bagi middle manager. Demikian pula dengan middle manager yang merupakan seorang follower bagi top manager dan seterusnya. Indeed, we are a follower in the very beginning.
Sekarang sudah banyak disadari betapa strategisnya peran pengikut dalam sebuah organisasi. Kehadiran pemimpin yang luar biasa memang merupakan hal yang tidak tergantikan, tetapi tanpa kehadiran pengikut yang baik tidak akan pernah ada kesuksesan yang berarti dalam suatu organisasi. Berbicara mengenai kuantitas saja, tentu lebih banyak jumlah pengikut dibanding jumlah pemimpin dalam suatu organisasi. Ingat Tahun 1998? Turunnya Presiden Soeharto adalah contoh nyata betapa besar potensi pengikut (rakyat dalam kasus 1998 ini) dalam mempengaruhi tatanan organisasi hingga mampu menurunkan pemimpinnya. Kita sekarang melihat dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang followers, di mana ternyata kesuksesan suatu organisasi yang dibawa oleh seorang pemimpin amat dipengaruhi oleh kualitas pengikut dan bukannya kualitas pemimpin itu sendiri.
Setiap pemimpin terbaik selalu memulai dari tingkat pengikut, paling tidak mereka pasti mengikuti atau terinspirasi pada gaya-gaya kepemimpinan orang lain. Karenannya seorang pengikut yang baik akan dengan mudah berubah menjadi seorang pemimpin yang baik. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah seperti apa pengikut yang baik. Saya tidak persis tahu, tetapi jika mengutip pendapat Pak Handry Satriago, a good follower adalah pengikut yang tidak manut-manut saja melainkan pengikut yang mau memberi pendapat/masukan bahkan berani berseberang pendapat dengan pemimpinnya demi kemajuan organisasi. Mereka memberikan feedback kepada pemimpinnya dan bersama-sama memperbaiki kinerja organisasi.
Ada sebuah contoh menarik, suatu ketika sebuah perusahaan farmasi multinasional memilih seorang CEO barunya yang tidak berlatar belakang farmasi, melainkan dari bidang marketing. CEO baru ini, dengan segala keahliannya, ingin mengeluarkan produk baru yang berpotensi besar untuk dipasarkan secara global, maka bertanyalah ia kepada para scientist-nya. Pada waktu itu ada satu produk obat anti inflamasi yang telah disetujui oleh FDA. CEO ini bertanya apakah obat ini berpotensi besar untuk dipasarkan dan yes, jawab para scientist-nya. Maka dengan segala jurus-jurus marketing-nya, CEO ini berhasil memasarkan produk obat anti inflamasi ini dengan baik. Hanya saja, lama-kelamaan muncul semakin banyak komplain konsumen akibat efek sampingnya sehingga produk obat ini harus dikaji ulang keamanannya. Hal yang mengejutkan adalah ternyata para scientist perusahaan tersebut sudah mengetahui akan potensi efek samping obat ini. Apa intinya? pengikut yang hanya menjadi yes man dan ikut begitu saja apa permintaan pemimpin ternyata tidaklah terlalu bagus. Para pengikut perlu ikut paham visi dan misi dari suatu organisasi dan bersama pemimpinnya membangun organisasi. Tentu ada bedanya dengan para pengeritik, a great follower mengambil inisiatif, belajar, dan ikut terlibat aktif dalam seluruh aktivitas organisasi serta memberikan kinerja terbaik mereka.
at last but not least, I love the quote from Pak Handry Satriago which is said, “a good leader won’t bring any successes to the organization without good followers, otherwise a bad leader won’t do bad things with good followers”.
Read More..
If you can't explain it simply, you don't understand it well enough. (A. Einstein, 1879-1955)
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Juli 2012
Sabtu, 05 Mei 2012
Kehilangan-Kehilangan
Dari kehilangan-kehilangan kita belajar tentang keberadaan-keberadaan. Mereka menyebutnya penyesalan, ketika hal-hal remeh-temeh yang terabaikan melesap tanpa terasa dan akhirnya terasa ada yang hilang. Apalagi yang terasa benar keberadaannya, mereka menyebutnya benar-benar-kehilangan, ah paling tidak itu kalimat saya sendiri. Paling tidak, kita yang pernah merasanya, membentuk sendiri definisi kehilangan-kehilangan. Dan seperti halnya, kelahiran dan kematian, dari kehilangan-kehilangan kita bisa belajar hakikat keberadaan-ketersediaan.
Pukul empat dan sadar-sadar
Kita pernah terbangun dari tidur menyenangkan dan tersadarkan bahwa segala yang terjadi adalah mimpi. Itu hanya penyesalan sesaat, kau akan melupakan mimpimu semalam. Kita pernah terbangun dan tersadar bahwa harta kita hilang, cinta, jiwa, manusia, hal-hal bahagia. Ada penyesalan, sementara untuk mereka yang sadar, selamanya untuk mereka yang akhirnya tidak ingin dibangunkan.
Kita pernah terbangun pukul 04.00 pagi, menjelang subuh, setelah lewat malam tergelap di sekitar pukul 03.00. Kita pernah terbangun dan menemukan kehilangan-kehilangan. Kita pernah tidak menemukannya, kontak-kontak penting, pekerjaan, catatan-catatan pekerjaan, pencapaian, harta-harta tidak seberapa, tetapi tetap saja harta. Kesadaran pertama bisa membawa kepanikan, ketidakterimaan dan ketidakpercayaan. Kesadaran kedua seharusnya membawa kita akan makna kehilangan-kehilangan. Manajemen mental dan hati yang baik mengantarkan kita pada hakikat kehilangan-kehilangan. Melampaui kecemasan dan kekesalan yang membuncah, hati akan meredamnya, menenangkan dengan makna kehilangan-kehilangan. Dan di kehilangan-kehilangan, kita belajar merelakan apa yang sementara milik kita, apa yang memang hanya dititipkan oleh pemilik sebenarnya.
Pukul empat tigapuluh dan subuh-subuh
Banyak kesempatan diciptakan oleh Sang Pencipta, melalui ibadah-ibadah dan doa-doa khusyuk penuh. Ada kesempatan-kesempatan untuk berkeluh-kesah langsung, bergundah-gulana, mengadu pada Pemilik Segalanya.
Di kegundahan akan kehilangan-kehilangan, kita mengambil wudhu, mengambil kesempatan mengadu langsung melalui ibadah dan doa-doa kita. Di saat subuh, kita mengambil waktu sejenak, bertanya dan berhikmah akan rencana-rencana dari Sang Maha Perencana. Di waktu-waktu khidmat, kita berduaan dengan Sang Pencipta, melepas gusar dan kecewa, kegalauan dan dilema dan dengan penuh harap kita bersama yakin Sang Maha Kuasa tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Pukul enam dan cari-cari
Dalam menanggapi peristiwa-peristiwa, pencarian akan maksud adalah tidak mudah. Kita perlu membuka hati dan pikiran, berprasangka baik kepada Sang Pengatur. Dan dalam pencarian-pencarian tersebut, hati yang lapang akan menemukan syukur dalam tiap-tiap jengkal peristiwa.
Pagi-pagi, pencarian akan kehilangan-kehilangan dijalankan., setelah ditemukan jejak-jejak yang ditinggalkan. Usaha-usaha tetap digerakkan, hal-hal yang hilang haruslah berusaha untuk dicari, meski harapan itu tipis, meskipun kita tahu ada hal-hal yang tak bisa dikembalikan. Dalam cari-mencari, setapak demi setapak di sekitar jalan, kita bisa menemukan tidak hanya setitik harapan akan adanya jejak kaki yang tersamarkan di atas tanah merah becek, tetapi juga kemaknaan akan usaha-usaha dan kehilangan-kehilangan. Ketika kita berpikir kembali, meninjau situasi, kita tergelak mengetahui ada (banyak) usaha-usaha yang perlu dilakukan. Kita tersentak bahwa seringkali tiada waktu untuk kesedihan-kesedihan, ratapan, keluh dan kesah. Kita terbangkit untuk bergerak, mencari, berusaha mencari penanggulangan, mencari solusi dan kemudian kita tersadarkan bahwa segala cela dan caci tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Pukul sembilan dan terus saja
Lanjutkan, teruskan, kehidupan terus berjalan maju dengan atau tanpa kita. Tertahan terus dalam kehilangan-kehilangan adalah kesia-siaan yang nyata.
Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Bukanlah melupakan masa lalu, tetapi berdamai dengannya dan menatap masa depan. Dalam segala usaha yang dilakukan, maka penyerahan kepada Sang Pengatur adalah penyempurna. Dalam keikhlasan usaha dan kerelaan pengorbanan, kita sekali lagi terpahamkan akan hakikat kehilangan-kehilangan. Dari cinta hingga harta tak seberapa, kehilangan-kehilangan kembali mengingatkan kita siapa pemilik cinta hingga harta tak seberapa. Dalam kehilangan-kehilangan, sekali lagi kita mengambil inspirasi dari peristiwa kegalauan masa lalu dan menapak mantap menuju masa depan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan kekecewaan dan kesedihan, tetapi kita yang belajar darinya mengambil bukan sebagai beban tetapi bekal perjalanan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan ikatan dari sepenasib-sepenanggungan, kita belajar dari orang lain. Akhirnya dalam kehilangan-kehilangan, kita dapat menjumpai wajah sabar dan ikhlas yang menguatkan kita sepanjang jalan. Jika tak terjumpai, yakinkan bahwa wajah tersebut terlihat saat kita memandang cermin, wajah yang menjadi penguat di sepanjang jalan.
Dari kehilangan-kehilangan kita menuliskan cinta dan harapan.
Read More..
Pukul empat dan sadar-sadar
Kita pernah terbangun dari tidur menyenangkan dan tersadarkan bahwa segala yang terjadi adalah mimpi. Itu hanya penyesalan sesaat, kau akan melupakan mimpimu semalam. Kita pernah terbangun dan tersadar bahwa harta kita hilang, cinta, jiwa, manusia, hal-hal bahagia. Ada penyesalan, sementara untuk mereka yang sadar, selamanya untuk mereka yang akhirnya tidak ingin dibangunkan.
Kita pernah terbangun pukul 04.00 pagi, menjelang subuh, setelah lewat malam tergelap di sekitar pukul 03.00. Kita pernah terbangun dan menemukan kehilangan-kehilangan. Kita pernah tidak menemukannya, kontak-kontak penting, pekerjaan, catatan-catatan pekerjaan, pencapaian, harta-harta tidak seberapa, tetapi tetap saja harta. Kesadaran pertama bisa membawa kepanikan, ketidakterimaan dan ketidakpercayaan. Kesadaran kedua seharusnya membawa kita akan makna kehilangan-kehilangan. Manajemen mental dan hati yang baik mengantarkan kita pada hakikat kehilangan-kehilangan. Melampaui kecemasan dan kekesalan yang membuncah, hati akan meredamnya, menenangkan dengan makna kehilangan-kehilangan. Dan di kehilangan-kehilangan, kita belajar merelakan apa yang sementara milik kita, apa yang memang hanya dititipkan oleh pemilik sebenarnya.
Pukul empat tigapuluh dan subuh-subuh
Banyak kesempatan diciptakan oleh Sang Pencipta, melalui ibadah-ibadah dan doa-doa khusyuk penuh. Ada kesempatan-kesempatan untuk berkeluh-kesah langsung, bergundah-gulana, mengadu pada Pemilik Segalanya.
Di kegundahan akan kehilangan-kehilangan, kita mengambil wudhu, mengambil kesempatan mengadu langsung melalui ibadah dan doa-doa kita. Di saat subuh, kita mengambil waktu sejenak, bertanya dan berhikmah akan rencana-rencana dari Sang Maha Perencana. Di waktu-waktu khidmat, kita berduaan dengan Sang Pencipta, melepas gusar dan kecewa, kegalauan dan dilema dan dengan penuh harap kita bersama yakin Sang Maha Kuasa tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.
Pukul enam dan cari-cari
Dalam menanggapi peristiwa-peristiwa, pencarian akan maksud adalah tidak mudah. Kita perlu membuka hati dan pikiran, berprasangka baik kepada Sang Pengatur. Dan dalam pencarian-pencarian tersebut, hati yang lapang akan menemukan syukur dalam tiap-tiap jengkal peristiwa.
Pagi-pagi, pencarian akan kehilangan-kehilangan dijalankan., setelah ditemukan jejak-jejak yang ditinggalkan. Usaha-usaha tetap digerakkan, hal-hal yang hilang haruslah berusaha untuk dicari, meski harapan itu tipis, meskipun kita tahu ada hal-hal yang tak bisa dikembalikan. Dalam cari-mencari, setapak demi setapak di sekitar jalan, kita bisa menemukan tidak hanya setitik harapan akan adanya jejak kaki yang tersamarkan di atas tanah merah becek, tetapi juga kemaknaan akan usaha-usaha dan kehilangan-kehilangan. Ketika kita berpikir kembali, meninjau situasi, kita tergelak mengetahui ada (banyak) usaha-usaha yang perlu dilakukan. Kita tersentak bahwa seringkali tiada waktu untuk kesedihan-kesedihan, ratapan, keluh dan kesah. Kita terbangkit untuk bergerak, mencari, berusaha mencari penanggulangan, mencari solusi dan kemudian kita tersadarkan bahwa segala cela dan caci tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Pukul sembilan dan terus saja
Lanjutkan, teruskan, kehidupan terus berjalan maju dengan atau tanpa kita. Tertahan terus dalam kehilangan-kehilangan adalah kesia-siaan yang nyata.
Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Bukanlah melupakan masa lalu, tetapi berdamai dengannya dan menatap masa depan. Dalam segala usaha yang dilakukan, maka penyerahan kepada Sang Pengatur adalah penyempurna. Dalam keikhlasan usaha dan kerelaan pengorbanan, kita sekali lagi terpahamkan akan hakikat kehilangan-kehilangan. Dari cinta hingga harta tak seberapa, kehilangan-kehilangan kembali mengingatkan kita siapa pemilik cinta hingga harta tak seberapa. Dalam kehilangan-kehilangan, sekali lagi kita mengambil inspirasi dari peristiwa kegalauan masa lalu dan menapak mantap menuju masa depan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan kekecewaan dan kesedihan, tetapi kita yang belajar darinya mengambil bukan sebagai beban tetapi bekal perjalanan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan ikatan dari sepenasib-sepenanggungan, kita belajar dari orang lain. Akhirnya dalam kehilangan-kehilangan, kita dapat menjumpai wajah sabar dan ikhlas yang menguatkan kita sepanjang jalan. Jika tak terjumpai, yakinkan bahwa wajah tersebut terlihat saat kita memandang cermin, wajah yang menjadi penguat di sepanjang jalan.
Dari kehilangan-kehilangan kita menuliskan cinta dan harapan.
Read More..
Sabtu, 17 Desember 2011
Ruang mimpi
“Orang kecil seperti kita, jika tidak punya mimpi maka akan mati boi” (Arai dalam Sang Pemimpi)
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?
Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran
“Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi
“Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Read More..
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran
“Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi
“Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Read More..
Sabtu, 05 November 2011
Bersama kembali ke kultur ilmiah
Science is an ever-changing field. As new thing discovered, we see the world better
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju.
Dari pergerakan
"Hidup Mahasiswa !!!"
"Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
Read More..
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju.
Dari pergerakan
"Hidup Mahasiswa !!!"
"Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
"what we only need is just to look in ourselves, it’s in us !"PIMNAS terasa menjadi trigger bangkitnya kembali kultur menulis di mahasiswa UI, menuliskan gagasan tidak hanya mengendapkan dalam otak sendiri, berkarya menghasilkan sesuatu hal, dan bukan hanya unjuk bicara. Namun, ini semua bukan tentang PIMNAS, ataupun ajang-ajang kompetisi ilmiah lainnya. Ini tentang keilmiahan itu sendiri, tentang bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa adalah masyarakat ilmiah, berpikir dan bertindak yang mencerminkan karakter manusia rasional.
Read More..
Sabtu, 15 Oktober 2011
Let me put it into English
English is a funny language; that explains why we park our car on the driveway and drive our car on the parkway. ~Author Unknown
Yeah, I know it, English becomes an international language, and in some cases it saved me from another language that I don’t really know. Honestly, long time ago, when I was a little younger, there was a question that pops out of my head, “why must it be English? Becomes language used throughout the world” A random thought comes from a desperate kid who knows a little about that language. A minute later, an answer floated, danced around my head and it said, ”Hey kid, actually that’s not kind of yours, but I think I know, that kingdom had colony all over the world once, and now they call it the Commonwealths". Even though, many countries that had ever been colonized by England have their independence now, the language and culture keep remains.
Well, right now, I need to confess that I’m not really good at English and it bothers me somehow. I’ve read some blogs of my friends that they often use English in their posts. I do believe that they’re really skillful and with humbleness they said that if any errors in their English just correct them, and it’s important for them. None of us are perfect, just they who study and learn from their mistakes will be able to pursue perfection. Yap, I’ve found the main difference between them and me, it is all about the courage to try it, not to be afraid of mistakes, and accept suggestions from others. We need to ignore a little of our ego, and accept that we need feedback from others.
So, let me put it into English, my post in blog or essay or anything else. I want to learn, I want to see how vast the world is, and firstly, I need first key to access them, a language that people use. How we expect to change this world, yet our efforts can touch the world. So far, I have only one post written in English in this blog (besides this post), and I hope it can be increased later. :)
Read More..
Yeah, I know it, English becomes an international language, and in some cases it saved me from another language that I don’t really know. Honestly, long time ago, when I was a little younger, there was a question that pops out of my head, “why must it be English? Becomes language used throughout the world” A random thought comes from a desperate kid who knows a little about that language. A minute later, an answer floated, danced around my head and it said, ”Hey kid, actually that’s not kind of yours, but I think I know, that kingdom had colony all over the world once, and now they call it the Commonwealths". Even though, many countries that had ever been colonized by England have their independence now, the language and culture keep remains.
“Commonwealth is association of the United Kingdom with States that were previously part of the British Empire” [Oxford dictionary]
Well, right now, I need to confess that I’m not really good at English and it bothers me somehow. I’ve read some blogs of my friends that they often use English in their posts. I do believe that they’re really skillful and with humbleness they said that if any errors in their English just correct them, and it’s important for them. None of us are perfect, just they who study and learn from their mistakes will be able to pursue perfection. Yap, I’ve found the main difference between them and me, it is all about the courage to try it, not to be afraid of mistakes, and accept suggestions from others. We need to ignore a little of our ego, and accept that we need feedback from others.
“You will not achieve anything, without courage to begin first.”
So, let me put it into English, my post in blog or essay or anything else. I want to learn, I want to see how vast the world is, and firstly, I need first key to access them, a language that people use. How we expect to change this world, yet our efforts can touch the world. So far, I have only one post written in English in this blog (besides this post), and I hope it can be increased later. :)
“And when the Prayer is finished, then may ye disperse through the land, and seek of the Bounty of Allah: and celebrate the Praises of Allah often (and without stint): that ye may prosper.” [qs. 62:10]
Read More..
Sabtu, 18 Desember 2010
This is his way, what about you?
His name is Danang A. Probowo, he was an IPB (Bogor Institute of Agriculture) student. In that video clip he presented his life story which is so inspiring for me. One time, in an event in his institute, there was a speaker who said, “Write down your dreams concretely, and don’t write it in your memory only, because you will forget. Write down your 100 targets on a paper.” Then he did it and stuck it on his room wall. A lot of his friends laughed at him. But, one by one, that dreams on that paper was scratched because it came true. He did well in a national MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) championship. Then he was one of the champions in PIMNAS (National Student Science Week) year 2006. Even though, he was not the best in his class, but he was able to be IPB most achieved student and continued to national level. In that video he also wrote that if anyone thinks that he has GPA was 4.00 or always has a perfect score on every class then he said no, I’m not. He had ever had GPA 2.7 and he sometimes got C in his examinations, even he had ever repeated his class. But it was never make him down, as the time went, he could reach his dream to study aboard in Japan. He said that we have to be brave enough to have a big dream, because from his dreams, he has so many achievements until now. Reach that dreams with all your heart and have a faith that there is always a hope.
Every time I play that video, there always appears a passion to move, to come up and reach my goals. After saw that true story, I realize that an ordinary man also can be an extraordinary person. Although there are so many failures that we meet, as long as we hold our faith firmly then we will find the way. I realize to think big and do my best efforts to reach my goals. I begun to write down my dreams, my success, also my failures, that they are a reminder for me that this life will be always fair, even though we sometimes judge it unfairly
"every long journey must begin with a single step"
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)




