Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

Mengapa skeptis?

(sumber: aidwatchers.com)
Dalam dunia penelitian, kita memiliki satu metode yang merupakan salah satu dari metode paling kuat yang pernah diciptakan manusia dan kita menyebutnya sebagai double-blind, randomized placebo-controlled study. Pertanyaan pertama yang perlu diajukan kemudian adalah mengapa kita perlu suatu metode yang kuat? Saya mengira-ngira seperti ini jawabannya, ketika manusia mempelajari suatu fenomena, memberikan suatu intervensi atas suatu keadaan dan mengamati akibat dari sebab yang diberikan, akan muncul pertanyaan: bagaimana kita bisa memastikan bahwa ‘sebab’ yang diberikan benar menyebabkan ‘akibat’ yang muncul? Lebih lanjut lagi, apakah ‘akibat’ yang sama akan muncul kembali pada kondisi yang sama di waktu yang berbeda atau kondisi yang berbeda di waktu yang sama, dan seterusnya? Lebih dalam lagi, apakah hanya karena ‘sebab’ yang diberikan saja, suatu ‘akibat’ tersebut muncul dan tidak disebabkan ‘penyebab’ lain? Dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mungkin ada. Pertanyaan-pertanyaan ini memicu serangkaian uji-coba, trial and error, yang kemudian diharapkan memunculkan kesimpulan yang paling mendekati keadaan yang sebenar-benarnya terjadi.

Double-blind, randomized placebo-controlled study dirancang untuk memungkinkan mengeliminasi berbagai faktor dan kondisi yang tidak semestinya dan memungkinkan peneliti untuk mengambil kesimpulan yang paling tepat, mendekati keadaan yang sebenar-benarnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita telaah satu persatu dari nama metode ini sendiri. Istilah placebo-controlled berarti bahwa penelitian ini menggunakan minimal dua kelompok uji: satu kelompok uji diberikan agen (obat) yang sedang diteliti; kelompok uji lainnya diberikan plasebo, suatu bahan/sediaan yang mirip secara pemerian dengan agen (obat) tetapi tidak mempunya efek apapun atau bisa kita sebut obat bohongan. Randomized berarti baik obat uji maupun plasebo diberikan secara acak kepada subjek uji. Double blind dimaksudkan bahwa baik peneliti/investigator maupun subjek uji tidak mengetahui siapa dapat yang mana. Ada orang ketiga yang mengatur, mengacak, dan mencatat kepada siapa, obat atau placebo diberikan. Akan tetapi orang ketiga ini tidak ikut serta dalam analisis penelitian. Hal-hal tersebut dilakukan untuk mengeliminasi bias hasil penelitian yang mungkin disebabkan oleh sugesti subjek uji (placebo effect) maupun subjektivitas peneliti (observer bias) dan subjek uji (Rosenthal effect).

Oleh karena kekuatannya dalam mengeliminasi berbagai bias yang mungkin timbul, metode ini biasa digunakan dalam uji klinis (clinical trial) untuk mengetahui efektivitas suatu agen (obat) dalam memberikan efek atas klaim/hasil yang ditujukan pada manusia (misalnya, mengetahui efek anti nyeri suatu obat A). FDA mensyaratkan dua kali uji ini sebelum suatu obat baru diizinkan beredar. Suatu metode yang luarbiasa walaupun tidak mudah untuk dilakukan. Bila kita membaca paper yang menggunakan metode ini, kita hampir bisa mengambil kesimpulan bahwa hasil penelitian atau kesimpulan yang diambil metode ini berkualitas premium ataupun mendekati 100% kebenarannya.

Sayangnya, meskipun metode ini sangat kuat, hal tersebut tidak menjadikannya serta-merta membuat suatu hasil penelitian berkualitas premium atau sudah pasti benar kesimpulannya. Saya selalu teringat pertanyaan salah seorang dosen di almamater ketika sedang membaca-baca suatu paper, “Apa yang pertama kali perlu kita lihat,” tanya beliau, “untuk mengetahui kualitas suatu paper?” Kami, sewaktu itu, tidak ada yang berhasil menjawab dengan tepat hingga akhirnya beliau yang menjawab sendiri, “Untuk tahu kualitas suatu paper,” lanjut beliau, “hal yang pertama kali dilihat adalah sampel yang digunakan.” Bahkan metode sekuat double-blind, randomized placebo-controlled trial sekalipun bisa menghasilkan hasil yang tidak tepat atau kesimpulan yang melenceng bila sedari awal, sampel yang digunakan keliru. Sebagai contoh (walau agak dramatis), kita ingin melihat efek obat M terhadap penyakit Malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum. Akan menghasilkan kesimpulan yang keliru, bila sampel subjek penelitian yang digunakan terjangkit Malaria yang ternyata hampir 80% disebabkan oleh parasit Plasmodium vivax. Contoh lainnya, kita bisa saja mengambil jumlah sampel yang terlalu sedikit sehingga efek obat M terhadap penyakit Malaria yang disebabkan oleh P. falciparum tidak signifikan secara statistik bila dibandingkan dengan plasebo. Hal ini tidak berarti obat M tidak memiliki efek melawan P. falciparum, tetapi butuh jumlah sampel yang lebih besar untuk dapat mendeteksi efektifitas obat M.

Kembali ke judul
Skeptis bisa jadi kata yang terlalu keras, mungkin kita bisa memperhalusnya menjadi suatu tindakan kehati-hatian, berhati-hati atas apa-apa yang kita terima dan peroleh dari hamburan informasi yang berselayaran di sekitar kita. Dalam membaca suatu paper penelitian pun, kehati-hatian diperlukan untuk mengevaluasi apakah hasil penelitian yang kita baca kuat dan valid sehingga bisa dijadikan landasan. Kita kemudian akan menilai, membaca, menggali lebih banyak lagi dari referensi-referensi yang lain untuk membangun kesimpulan yang kita susun. Perilaku yang sama secara prinsipil diperlukan oleh semua orang di dunia ini, tanpa memandang latar belakang pekerjaan atau pendidikan. Hal ini akan membuat kita lebih mengerti bahwa bias informasi bisa terjadi dimana saja, pada posisi apa saja, dan oleh siapa saja, apalagi pada dunia yang kompleks dimana kita tidak bisa mengontrol arus yang masuk ke dalam kepala kita; sekaligus membuat kita lebih rendah hati dalam mengklaim sesuatu atas pengetahuan kita yang tidak seberapa atasnya. Kebenaran bisa jadi subjektif, bervariasi, atau lebih dari satu, dan kita memiliki kemampuan untuk memilah dan memilihnya. Di atas pilihan itu sendiri, lebih penting rasanya untuk memilih dengan cara yang paling baik.


Read More..

Sabtu, 28 Juni 2014

Summer Tsukuba #6: Farewell Party

Don't be dismayed at good-byes. A farewell is necessary before we can meet again and meeting again, after moments or a lifetime, is certain for those who are friends. (Unknown)

Mendekati seminggu akhir di Tsukuba menjadi puncak-puncak kesibukan seiring dengan target yang senantiasa dikejar. Setiap akhir pekan, saya mengirimkan laporan pekanan ke Aoki sensei di Jakarta atas kemajuan yang telah dicapai. Hingga pekan terakhir, saya telah berhasil mengisolasi 5 senyawa bahan alam, walaupun tidak semuanya memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, dari sejumlah fraksi sampel tanaman yang dibawa ke Tsukuba. Mendekati pekan akhir juga diwarnai dengan kemas-kemas oleh-oleh yang hendak dibawa ke Jakarta :)

Di pekan terakhir Juli, kami, semua anggota lab, mengadakan pesta perpisahan untuk kami bertiga (saya, mba Lidya, dan ka Tia) yang akan segera kembali ke Indonesia. Pesta diadakan setelah maghrib, sesudah kami berbuka, di atas atap lab yang pada sore harinya sudah dihiasi lampion dan pernak-perniknya, meja-meja panjang untuk makan bersama serta semacam panggangan. Berbagai makanan disediakan, mulai dari ikan hingga daging sapi. Oleh karena semua anggota lab tahu kami hanya memakan daging halal, khusus untuk kami pun dibelikan daging yang berlabel halal. Kalo untuk ikan dan lainnya, Alhamdulillah tidak ada yang meragukan. Minuman pun disediakan berbagai jus, walaupun beberapa anggota lab juga menikmati minuman keras seperti anggur atau bir kaleng. Turut hadir pula Kawahara sensei yang merupakan direktur NIBIO tempat lab kami berada.

farewell party di atap lab. Kampai !
Saya pikir sudah menjadi tradisi orang Jepang untuk memberikan hadiah-hadiah kecil (omiyage) kepada orang lain, terutama sebagai tanda terimakasih ataupun perpisahan. Saya pun pada hari-hari sebelumnya sempat menyiapkan omiyage untuk para anggota lab. Banyak kenangan, kesan, hal-hal yang sangat patut untuk saya syukuri Ramadhan tahun 2013 ini. Saya tidak pernah tahu apakah akan ada kesempatan lagi menginjakkan kaki di tanah matahari terbit dan berjumpa dengan mereka lagi atau tidak. Di antara berbagai dinamika, naik dan turunnya hidup kita, saya pikir selalu ada waktu-waktu di mana senyum mengembang dan hati yang ringan bersuka ria. Kenangan musim panas di tahun 2013 adalah salah satunya. ‘Ala kulli hal, Alhamdulillah. :)



Read More..

Summer Tsukuba #5: Puasa !

A 15 hours fasting !

Ada yang lebih spesial kali ini dari sekedar kunjungan kedua ke Jepang, ini kali pertama saya menjalankan tigaperempat bulan Ramadhan di negeri orang, ini kali pertama saya berpuasa selama sekitar 15 jam. Berpuasa di negeri dengan penduduk mayoritas nonmuslim sebenarnya bukan suatu masalah, apalagi jika mereka juga mengerti hal yang sedang kita lakukan. Jika ada hal yang berbeda dari hari biasa adalah bahwa saya absen dari makan siang bersama anggota lab lainnya. Karena memang sedang berpuasa, maka saat istirahat saya isi dengan kembali melanjutkan pekerjaan di lab. Satu hal lagi yang sangat berbeda tentu saja tidak ada pasar kaget penjual kolak pisang, pacar cina, atau kue-kue basah di kanan kiri jalan atau orang-orang yang menghabiskan waktu menunggu maghrib seperti di Indonesia.

Meskipun belum memasuki puncak musim panas di bulan Agustus, matahari bersinar lebih lama dari pada musim lainnya. Di sini, kita sudah memasuki waktu subuh di sekitar jam 3 pagi dan menjemput waktu maghrib di sekitar jam setengah 7. Durasi puasa memang berkisar 15 jam, terlihat berat apalagi di musim panas, tetapi jika dijalani ternyata biasa saja. Apalagi jika kamu menghabiskan lebih dari setengah waktu kamu di lab. Menjalani puasa di sini, Alhamdulillah, banyak diberi kemudahan karena pihak asrama TBIC pun menfasilitasi bagi para penghuni muslim, makanan untuk sahur. Pada malam sebelumnya, mereka yang berpuasa akan mengisi semacam borang yang berisikan menu untuk sahur. Variasi menunya tidak banyak, tetapi jenisnya cukup lengkap dari nasi/roti/cornflake, ada lauknya berupa ayam, serta minuman sari buah ataupun susu. Mas Andi, sebagai ketua komunitas WNI di TBIC, pun berhasil melobi pihak TBIC untuk menyediakan ruangan shalat yang lebih luas di lantai 2 selama bulan Ramadhan. Cukup kiranya memuat belasan muslim yang hendak bertarawih bersama di TBIC. Tarawih pun menjadi hal yang sangat berkesan di Ramadhan tahun 2013, karena inilah pertama kalinya saya berjamaah dengan muslim dari berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Afrika, baik berkulit hitam maupun bule. Imam tarawih biasa dipimpin oleh seorang saudara Muslim dari Mesir yang bersuara merdu setiap kali membaca ayat-ayat Qur’an. Selain itu, setiap hari kami bergantian menyediakan ta’jil untuk berbuka bersama, sekedar sirup dan kurma yang dinikmati bersama-sama.

Di Tsukuba terdapat satu masjid yang biasa dijadikan semua komunitas muslim dari berbagai benua yang tinggal di Tsukuba untuk shalat jum’at berjamaah. Kamu jangan membayangkan sebuah masjid dengan kubah di tengah dan tiang-tiang penyangga berwarna putih atau lainnya. Masjid Tsukuba merupakan rumah (saya kurang tahu apakah hanya menyewa atau sudah dibeli) yang cukup besar dan memiliki 3 ruangan utama: ruang shalat pria, ruang shalat wanita, dan ruang untuk pengurus masjid. Di sampingnya terdapat semacam toko yang menjual macam-macam pangan halal. Meskipun demikian, di sini merupakan pusat komunitas muslim Tsukuba berkumpul, bercengkrama, dan saling berbagi persaudaraan, cinta, serta keimanan. Sepertinya sudah menjadi tradisi untuk melaksanakan buka puasa bersama setiap akhir pekan di sini. Biasanya pelaksana buka puasa dibagi per komunitas Muslim, misalnya pada minggu pertama dilaksanakan oleh komunitas muslim dari Timur Tengah yang menyediakan nasi biryani atau minggu kedua dilaksanakan oleh komunitas muslim dari Indonesia-Malaysia yang kali ini menyediakan menu ayam kecap, capcai, lumpia, hingga brownies kukus. Perjalanan dari TBIC menuju masjid sekitar satu jam yang ditempuh dengan naik sepeda. Seperti biasa, saya ke sana bersama Mas Andi dan Mas Suryo.

Masjid Tsukuba

Buka puasa bersama minggu pertama dengan menu utama nasi biryani

Buka bersama minggu kedua disiapkan oleh komunitas muslim Indonesia dan Malaysia. Saya pun ikut bantu-bantu mempersiapkannya :))
Alhamdulillah, Ramadhan tahun 2013 memang jadi Ramadhan yang demikian istimewa, bukan karena dijalani di negeri orang, melainkan betapa gembiranya bersua dengan saudara-saudara Muslim dari berbagai negara. Menjadi minoritas di negara lain memang membuat rasa persaudaraan dan kedekatan hati menjadi begitu terasa, tetapi bukan tentang itu, bukan hanya itu, Allah sedemikian baiknya mendekatkan hati-hati sesama muslim, memperingankan langkah-langkah kaki bersilaturahim serta tangan kita bersalaman, dan mulut kita yang tersungging senyum seraya berucap salam. Semoga Allah memberkahi tiap jumpa dan salam kita, semoga Allah merahmati tiap silaturahim yang senantiasa dihubungkan. Allahu yubarik fiikum




Read More..

Summer Tsukuba #4: Festival !

There is no summer, without a festival !

Saya kira musim panas adalah musim perayaan di banyak negara. Meskipun cuaca memanas, tak ada yang benar-benar menghalangi keceriaan musim panas. Dan mengunjungi sebuah festival musim panas adalah hal menyenangkan bagi siapa saja. Di Jepang, sejauh yang saya tahu, ada beberapa festival yang diadakan saat musim panas tiba, seperti Festival Tanabata, Festival Hanabi, Festival Obon ataupun Bon-Odori, dan berbagai festival lokal di daerah. Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk mengunjungi tiga festival yang diadakan di Tokyo di bulan Juli, yaitu Festival Iriya-Asagao, Festival Tanabata, dan Festival Hanabi.

Festival Iriya-Asagao
Iriya-asagao atau morning glory flower merupakan bunga yang sangat familiar bagi warga Jepang. Bunga ini mudah dipelihara dan merawatnya sering dijadikan tugas musim panas bagi sekolah anak-anak di Jepang. Festival Iriya-Asagao diadakan setiap tahun pada minggu awal Juli di jalan Kototoi-dori, Iriya, Tokyo. Festival ini dicirikan dengan begitu banyaknya stand penjual bunga morning glory, serta tentu saja stand jajanan yang selalu ada di sisi-sisi jalan.

Festival Iriya-Asagao dengan bunga Asagao biru memesona
Hari minggu, 7 Juli, saya berangkat dari TBIC menuju Tsukuba center dengan ka Tia dan mba Lidya menggunakan Tsukubus yang melewati tempat pemberhentian bus Koyodai. Sesampainya di Tsukuba center, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta Tsukuba express hingga stasiun Asakusa. Di sini kami kemudian bergabung bersama beberapa anggota lab NIBIO, Kawakami-san yang mengikutsertakan suaminya dan Matsubara-san yang mengajak temannya yang ternyata dapat berbahasa Indonesia dengan lumayan baik. Merekalah yang menjadi pemandu festival kami hari itu. Festival Tanabata sebenarnya merupakan tujuan utama kunjungan ke Tokyo kali ini, namun karena pada hari yang sama terdapat Festival Iriya-Asagao pula maka kami pergi ke festival ini terlebih dahulu. Jarak antara jalan Kototoi-dori, tempat Festival Iriya-Asagao berlangsung, dengan jalan Kappabashi, lokasi Festival Tanabata digelar mendukung rencana jalan-jalan kali ini. Dan oleh karena kami masih berada di daerah Asakusa, maka kurang lengkap rasanya bila tidak berkunjung ke Kuil Sansoji terlebih dahulu.

Kuil Sansoji yang berada di Asukasa ini merupakan salah satu tujuan wisata yang menarik. Kamu bisa ikut mencoba melihat peruntungan di masa depan di sini ;)

Festival Tanabata
Tanabata dilaksanakan untuk merayakan pertemuan cinta antara sepasang suami-istri dewa-dewi langit, Orihime dan Hikoboshi, yang hanya dapat berjumpa satu tahun sekali pada tanggal 7 bulan ke 7. Agak mengenaskan sih, hanya bisa bertemu sehari dalam setahun, tapi kira-kira demikian sebagai hukuman dari langit qkarena terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri setelah menikah sehingga melupakan tugas kelangitan mereka. Festival Tanabata memang diadakan setiap tahun pada (umumnya) tanggal 7 Juli di berbagai daerah di Jepang. Pada festival tanabata, setiap orang akan menuliskan harapan/cita-cita mereka pada sepotong kertas warna-warni (tanzaku) dan menggantungkan pada pohon bambu. Festival Tanabata tahun ini diadakan di sepanjang jalan Kappabashi, dengan berbagai untaian ornamen dan pernak-pernik warna-warni yang sangat menarik. Ketika memasuki jalan Kappabashi, kita akan disambut oleh fukinagasi, ornamen berbentuk bola pada pangkalnya dengan banyak pita menjuntai berwarna-warni, yang seakan menari bila terhembus angin.

Fukinagasi di sepanjang jalan Kappabashi memeriahkan keceriaan festival
Hari itu adalah hari yang sangat cerah, menambah semarak dan gairah orang-orang dalam berfestival. Kita akan melihat banyak orang yang memakai yukata warna warni, baik laki-laki maupun wanita. Di sepanjang jalan juga banyak pohon bambu tempat orang-orang menggantungkan tanzaku atau orizuru (kertas lipat berbentuk bangau), atau hiasan lain yang berbentuk segitiga atau lingkaran yang dipasang berkaitan satu sama lain hingga menjuntai beberapa sentimeter. Semakin ke tengah, kita akan melihat berbagai atraksi seperti tarian atau permainan yang saya tidak mengerti cara bermainnya, hahaa.

Festival Tanabata dan semarak kemeriahannya
Hal yang disayangkan, Fuchino sensei tidak dapat bergabung bersama kami hari itu, sehingga sebagai gantinya, beliau menitipkan uang untuk mentraktir kami unagi, makanan yang berisikan belut panggang yang disiram saus tertentu dan diletakkan di atas nasi. Satu kata untuk makanan ini: oishii !

Sebelum bersantap unagi. Dari kiri-kanan: Matsubara san, ka Tia, Saya, Kawakami-san dan suami, teman dari Matsubara-san. (Terimakasih untuk mba Lidya yang menjadi juru foto)

Festival Hanabi
Hanabi
dalam Bahasa Indonesia berarti kembang api, ya, Festival Hanabi adalah festival kembang api yang biasa diadakan setiap akhir Juli di berbagai daerah di Jepang. Hari itu sabtu, 27 Juli kami berangkat dari TBIC sekitar siang hari dengan cuaca cukup panas di bulan puasa. Seperti biasa, rombongan hari itu adalah saya, mas Andi, mas Dafi, mas Suryo, ka Tia, ka Nani berangkat menggunakan sepeda menuju TBIC. Di sana kami bergabung dengan mba Krisna dan mba Ria. Sama seperti pada Festival Hanabi, kami menggunakan kereta Tsukuba Express menuju Asukasa, di mana atraksi kembang api akan berlangsung di atas sungai Sumida yang melintas di samping menara Tokyo SkyTree. Atraksi dimulai sekitar pukul enam sore, sedangkan sekitar setengah lima kami sudah sampai di stasiun Asakusa. Kami menyempatkan diri untuk berjalan di sepanjang pasar tradisional di depan Kuil Sansoji yang sudah mulai pada dipenuhi pengunjung sekaligus memikirkan titik-titik di mana akan melihat atraksi kembang api yang bagus.

Suasana sore hari di daerah Kuil Sansoji sebelum atraksi kembang api dimulai
Saat sampai di Kuil Sansoji, kami terpisah menjadi dua grup karena padatnya manusia yang mulai memenuhi daerah di sekitar Kuil Sansoji dan sungai Sumida. Saya bersama grup mas Andi, kang Dafi, dan mba Krisna memutuskan untuk mencari tempat melihat kembang api di sekitar sungai Sumida. Berhubung hari itu sudah bulan puasa, setelah mendapatkan tempat yang cukup baik dan sudah membawa bekal untuk berbuka, kami memutuskan untuk membeli beberapa minuman dan kentang rebus yang ternyata besar sekali bagi saya untuk menghabiskannya, hahaa. Atraksi kembang api dimulai beberapa menit setelah kami berbuka.

Rona-rona kembang api di atas sungai Sumida. Aslinya jauh lebih dramatis dan spektakular
Bagaimanapun juga ternyata takdir berkata lain, sekitar pukul tujuh malam, hujan lebat mengguyur daerah Asukasu sehingga atraksi kembang api hanya berlangsung sekitar satu jam serta atraksi-atraksi utama belum sempat diluncurkan. Kami sempat berteduh dahulu di depan sebuah toko hingga hujan reda. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang agar tidak terlalu larut sampai di TBIC, walaupun mas Andi dan kang Dafi sempat mentraktir saya sushi seharga 300 yen lebih/potong, hohohoo. Berdasarkan pengamatan sok tahu, saya membagi tiga tingkat restoran sushi. Pertama yang menyajikan sushi seharga sekitar 100 yen. Biasanya potongan daging ikan sushi tersebut tidak dipotong segar ketika pengunjung memesan. Seperti jika makan di warteg, kita memilih sushi yang hendak dimakan dan langsung disajikan kepada kita. Restoran tipe kedua adalah yang menyajikan sushi seharga sekitar 300 yen ke atas. Potongan daging ikan akan dipotong segar saat kita memesan menu yang diinginkan. Sehingga kita harus menunggu dulu beberapa lama hingga pesanan sampai ke meja untuk siap dimakan. Restoran tipe ketiga adalah yang menyajikan sushi seharga lebih dari 1000 yen. Ini adalah restoran kelas atas yang tidak pernah saya bayangkan untuk masuk ke dalamnya. Menurut kabar yang beredar, pengunjung akan memilih sendiri ikan hidup yang akan dijadikan sushi. Weew…

Mampir-mampir sejenak sebelum kembali ke Tsukuba
Sampai kembali di stasiun Tsukuba sekitar pukul 9 malam. Kami mengambil sepeda yang diparkir di salah satu swalayan di dekat Tsukuba center dan bergerak menuju TBIC dalam dengan diiringi lampu sepeda. Sekitar pukul 11 malam kami sudah masuk ke kamar masing-masing. Oleh karena azan subuh sekitar pukul 3 pagi, maka saya memutuskan untuk terjaga hingga selesai shalat subuh. Setelahnya menuntaskan waktu tidur yang kurang di hari minggu :)




Read More..

Jumat, 27 Juni 2014

Summer Tsukuba #3: NIBIO Tsukuba

Research is what I'm doing when I don't know what I'm doing. (Wernher von Braun)

Pelatihan sekaligus bekerja adalah alasan utama saya mendapat kesempatan kembali mengunjungi Jepang. Seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan pertama, sebagian besar hari-hari saya di sini dihabiskan di sebuah institusi penelitian bernama NIBIO atau National Institute of Biomedical Inovation. NIBIO sendiri memiliki beberapa fasilitas riset di berbagai daerah di Jepang dengan pusatnya yang berada di Osaka. Di Tsukuba terdapat dua fasilitas riset NIBIO, yaitu Tsukuba Primate Research Center dan tempat saya ‘ngelab’, Research Center for Medicinal Plant Resources. Apa yang saya kerjakan di sini? Secara sederhana, saya mencari senyawa kimia bahan alam dari suatu spesies tanaman yang memiliki aktivitas anti hepatitis C. Kurang lebih, di sini saya mempelajari teknik-teknik yang biasa dilakukan oleh para peneliti di NIBIO dalam mengisolasi senyawa kimia bahan alam.

Dengan Takewaki-san, tetangga seberang meja kerja. Takewaki adalah mahasiswa farmasi Tokyo University of Science dan sedang menyelesaikan riset tugas akhirnya di NIBIO
Setiap pagi saya, mba Lidya, dan ka Tia berangkat dari TBIC menuju NIBIO bersama dengan para penghuni TBIC lainnya dengan bus yang disediakan oleh JICA. Penghuni TBIC berasal dari beragam negara dengan tujuan tinggal di sana biasanya karena mendapat beasiswa S2/S3 atau pelatihan dari JICA. Setiap pagi senin hingga jumat, kami selalu disediakan dua bus besar dengan rute yang berbeda untuk mengantar para penghuni TBIC ke lokasi aktivitasnya masing-masing. Perjalanan bisa lebih ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit dengan melewati berbagai institusi riset yang berada di Tsukuba. Begitu sampai, kami mengganti sepatu luar dengan sepatu lab, naik ke lantai dua (tempat lab kami berada), masuk ke ruang staf lab dan mengucapkan selamat pagi ohayou gozaimasu ! kepada setiap orang, terutama pada sensei kami. Selanjutnya masuk ke dalam lab dan mulai bekerja di bench masing-masing.

NIBIO, tempat lab saya berada, merupakan area yang cukup luas. Terdapat berbagai macam ladang tempat tanaman obat ditanam untuk dipanen. Koleksi herbariumnya juga banyak, menyimpan tanaman obat dari berbagai daerah di dunia, termasuk Indonesia. Terdapat dua gedung utama yang saya jelajahi untuk bekerja, satu gedung di mana saya menghabiskan sebagian besar waktu penelitian di sana (tempat saya berfoto dengan Takewaki-san di atas) dan satu gedung di mana berbagai instrumen analisis kimia berada. Di gedung yang saya sebut terakhir, biasa saya kunjungi untuk mendapatkan data spektrum NMR dari senyawa kimia yang saya dapat.

Orang-orang di lab ini sangat ramah dan menyenangkan. Sensei saya, Fuchino sensei, adalah orang yang humoris dan terkadang suka ‘jahil’ dengan anggota labnya. Bila jam makan siang tiba, beliau akan meminta semua anggota lab untuk menghentikan pekerjaannya dan makan siang bersama di ruang staf. Sudah menjadi budaya di sini untuk membawa bekal (bento) masing-masing. Oleh karena, lokasi lab yang jauh dari tempat makan ataupun combini (convenient store), maka saya biasanya membawa bento yang disisihkan dari jatah makan pagi di TBIC. Beberapa kali, sensei membawa banyak tomat atau semangka untuk dimakan bersama saat makan siang. Dan pertama kalinyalah saya mencoba memakan semangka yang ditaburi garam dahulu sebelumnya. Dan ternyata, lezat juga :3

Beberapa anggota lab natural product di NIBIO. Berdiri (dari kiri-kanan): mba Lidya, Mikiko-san, *yang berjas lab putih, saya lupa namanya, gomennasai :(*, Miyanaga-san, *ibu ini juga saya lupa namanya,sumimasen deshita*, Kumigay-san. Duduk (dari kiri-kanan): Kawakami-san, Fuchino sensei, Kawahara sensei, Takewaki-san, Matsubara-san. (dok. oleh ka Tia)  
Ah ya, satu budaya lagi yang biasa dilakukan di sini, terutama bila telah selesai bekerja atau pamit akan pulang, berucap otsukaresamadesu :)




Read More..

Kamis, 26 Juni 2014

Summer Tsukuba #2: Trip to Oarai Beach

The journey of life is like a man riding a bicycle. We know he got on the bicycle and started to move. We know that at some point he will stop and get off. We know that if he stops moving and does not get off he will fall off. (William Golding)

Menuju akhir pekan pertama di Tsukuba, saya sudah berkenalan dengan beberapa orang Indonesia dan Malaysia yang sudah menjadi penghuni TBIC sebelum kedatangan saya, termasuk mba Lidya dan ka Tia yang satu lab nantinya dengan saya. Di sini, Alat transportasi andalan kami adalah sepeda TBIC yang bisa dipinjam hingga pukul 21.00. Berhubung transportasi umum yang ada hanyalah bus Tsukubus dengan rute terbatas atau taksi yang sudah pasti mahal, dan tentu saja tidak ada angkot apalagi ojek, walhasil kemanapun pergi, sepeda adalah moda transportasi pilihan, terkecuali bila pergi ke lokasi kerja yang disediakan bus oleh TBIC. Rute bersepeda pertama saya adalah menuju Mall Aeon yang bisa ditempuh dalam 10 menit dari TBIC dengan melewati rumah penduduk, hamparan sawah di kiri kanan jalan, kolong jalan layang tol, bahkan kompleks pemakaman x)

Rencana menghabiskan akhir pekan pertama ini adalah dengan perjalanan ke pantai Oarai bersama beberapa teman baru mahasiswa Universitas Tsukuba. Perjalanan dimulai dengan bersepeda di pagi hari bersama mas Suryo, ka Tia, dan ka Nani menuju Tsukuba Center sejauh sekitar 7,5 km. Sesampainya di sana, kami beristirahat di samping kolam ikan besar dan kemudian menuju titik pertemuan di depan Koban (pos polisi). Dari sini, kami bergabung bersama kang Deni, mba Dian, pak Harsono, dan mba Ria.

Di Tsukuba center, burung hantu adalah lambang kota Tsukuba.
Setelah berkenalan sebentar, memastikan anggota perjalanan lengkap dan sepeda nyaman digunakan, kami bergerak menuju stasiun Tsuchiura yang ditempuh sejauh 10 km.

perjalanan bersepeda menuju stasiun Tsuchiura
Setelah perjalanan memegalkan paha dan betis, kami akhirnya tiba di stasiun Tsuchiura. Saya pertama kalinya menggunakan parkiran sepeda berbayar sejumlah 100 yen di sini. Ban depan sepeda diletakkan ke semacam alat penguncinya, kemudian untuk membuka kuncinya, kita harus memasukkan uang sejumlah 100 yen ke alat penerima uang dan menekan nomor alat parkir sepeda kita.

Parkir sepeda berbayar dengan kunci otomatis di samping Sta. Tsuchiura
Di stasiun Tsuchiura, kami bertemu satu anggota perjalanan terakhir dan paling penting (karena membawa logistik makan siang XD), yaitu teh Windi. Dari sini, kami berangkat menuju stasiun Mito terlebih dahulu untuk mencapai stasiun Oarai.

di Sta. Tsuchiura
Hal menarik dari kereta yang membawa kami dari stasiun Mito menuju stasiun Oarai adalah tidak seperti perjalanan kereta yang pernah saya coba, di rute ini tiket dibayarkan di dalam kereta. Masinis kereta akan memintakan uang tiket satu persatu dari penumpang.

Masinis yang sedang memintakan uang tiket ke penumpang. *Saya ambil secara diam-diam* :p
Dan akhirnya kami tiba di stasiun Oarai

Di depan stasiun Oarai. (dari kiri ke kanan: ka Tya, ka Ria, teh Windi, Pak Harsono, kang Deni, saya, ka Nani,dan ka Dian. Terimakasih untuk mas Suryo sebagai fotografer)
Untuk sampai ke pantai Oarai, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 2 km dengan berjalan kaki.

masih melanjutkan dengan perjalanan kaki menuju pantai Oarai
Sebelum masuk ke daerah pantai, kami mencari lokasi untuk makan siang. Menu pembuka disediakan dan diproses kemudian secara ‘adat’ :P. Selanjutnya, kami berjalan sedikit dari lokasi makan siang, dan bermain-main di pantai yang ternyata tidak begitu ramai. Hal menarik yang dilakukan di sini adalah memberi makan burung camar dengan ikan-ikan kecil, karena kebetulan saat kami tiba, ada beberapa orang Jepang yang sedang memberi makan burung camar.

di Pantai Oarai
Puas bermain di pantai, selanjutnya adalah menikmati menu utama, soto asli khas Indonesia yang telah disiapkan bahan-bahan nya oleh teh Windi. Ittadakimasu ! :D

Ittadakimasu !



Read More..

Summer Tsukuba #1: Introduksi

Apa yang akan kamu tuliskan pada sebuah blog? Kontemplasi sarat makna? Rekaman cerita-cerita sewaktu? Kisah-kisah istimewa penuh inspirasi? Atau ricauan tentang dunia?

Beberapa minggu sebelum perjalanan pesawat saya yang pertama, dosen saya pernah berpesan untuk sebuah perjalanan jauh melintas pulau-pulau ini, “Tuliskan gam”, pesannya, “kisah perjalanan kamu”. Sejak saat itu, ketika saya melakukan perjalanan jauh (yang sangat jarang sekali dilakukan), ada buku catatan kecil yang saya bawa, sekedar untuk menuliskan teman perjalanan, nama tempat, hal-hal menarik yang kemudian tertangkap mata. Saya kemudian menyadari bahwa sekiranya perlu untuk menuliskan pengalaman-pengalaman yang patut untuk dikenang, pada sebuah blog atau catatan-catatan lainnya. Bukan untuk siapa-siapa, dan semoga bukan menjadi wadah berpamer-ria, hanya paling tidak, menjadi pengingat bahwa kita pernah diberi kesempatan-kesempatan berharga, yang walaupun semua hal tersebut telah terlewati, semoga masih terus tersimpan rasa syukur atasnya.

Rangkaian tulisan Summer Tsukuba adalah rekam jejak saat saya diberi kesempatan sekali lagi ke Jepang dalam rangka tugas pekerjaan pada tahun 2013. Seri Summer Tsukuba ini akan saya susun berdasarkan topik-topik besar menarik yang saya lakukan selama satu bulan di sana. Hari ketika saya membuka ruang kantor SATREPS Project di gedung IASTH FK UI, kemudian menyerahkan CV pada calon atasan saya saat itu, Aoki sensei, dan membuat janji untuk wawancara adalah awal dari kesempatan saya kembali ke sana. Hari itu, di awal Juli 2013, memasuki musim panas dan menuju bulan Ramadhan, saya kembali ke negara yang telah melesat bangkit semenjak keterpurukannya di tahun 1945, meskipun kali ini bukan lagi ke Tokyo, melainkan ke sebelah utaranya, dan dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam, kita akan mendapatinya sebagai kota Tsukuba.

Kunjungan kedua
Proyek riset yang saya ikuti merupakan bagian dari program SATREPS Jepang yang mengolaborasikan tiga institusi pendidikan, FK Universitas Kobe, FK Universitas Indonesia, dan FF Universitas Airlangga dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan JST (Japan Science and Technology Agency) sebagai penyuntik donasi. Oleh karena kunjungan saya ke Tsukuba ini mendapat endorsement dari JICA, sungguh sangat dimudahkan pengurusan visa dan keperluan lainnya.

Borang aplikasi dari JICA dan Tiket keberangkatan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam dengan Japan Airlines (JAL 726) sendirian tanpa teman (semacam jomblo :P), saya menapakkan kaki kembali di Narita. Melesat turun dari pesawat, saya tiba di satellite building dan berlanjut menuju gedung utama (honkan) dengan menggunakan kereta monorel tanpa masinis. Setelah mengambil koper dan barang bawaan, saya menyelesaikan urusan kepabeanan (custom inspections), dan menuju loket JICA di lobi kedatangan. Sesampainya di sana, saya disambut petugas yang berjaga, seorang lelaki setengah baya, bersalaman dengan sedikit berkenalan dan bercakap-cakap. Selanjutnya ternyata saya diantarkan ke taksi yang sudah dipesankan untuk membawa saya ke JICA Tsukuba International Center (TBIC), sebuah asrama yang menampung banyak orang dari berbagai negara.

Menuju TBIC
TBIC terletak di kawasan Koyadai, di antara perumahan penduduk dengan pemandangan tatanan rumah yang rapi, jalan yang cukup lengang, serta hamparan persawahan yang masih cukup banyak. Setibanya saya di sana, meja resepsionis adalah tempat pertama yang dituju. Setelah mengisi beberapa borang, saya menerima arahan singkat mengenai jadwal orientasi, kunci kamar, serta kartu makan. Berjalan santai menuju kamar, ha yang saya lakukan pertama kali adalah rebahan di tempat tidur !
Meskipun demikian, setelah badan kembali segar, saya iseng untuk berjalan-jalan di sekitar TBIC.

Di sekitar TBIC
Sambil menghirup udara sore yang segar, dan ditemani suara tonggeret yang khas di musim panas, Japan, here I am back again :)



Read More..

Minggu, 27 April 2014

Nobody wants to be left behind.

(sumber: forum.station.sony.com)
Apakah yang menjadi ketakutan manusia, sebenarnya?

Monster yang terbaring di bawah tempat tidur atau bayangan perempuan berambut panjang di pojok kamar sebelah lemari baju atau binatang yang merayap, melata mengerikan? Bukan, saya rasa bukan. Ketidaktahuan adalah ketakutan terbesar manusia. Mahluk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, kejadian yang tidak dimengerti sepenuhnya, atau bahkan masa depan yang tak pernah jelas muaranya berakhir. Ketakutan, ketidakmengertian membawa manusia keluar dari lingkaran amannya, memaksa manusia untuk menghadapi apapun itu, tragedi, masa lalu, masa depan.

Siapa yang tertinggal?

Apa yang paling buruk dari tertinggal? Ketidakmengertian mengapa semua orang meninggalkan, ketidaktahuan apa yang akan terjadi setelahnya. Kita mungkin tak pernah benar-benar mengerti mengapa hal itu terjadi atau hal ini tidak bisa terjadi. Mengapa jawaban-jawaban tak selalu muncul di depan mata. Mengapa kita ditinggal belakangan, sendirian. Dan merasa sendirian adalah hal yang dihindari sangat oleh manusia. Bukan tentang berapa orang di sekitarnya, perasaan sendirian tak melulu berhubungan lurus dengan jumlah orang yang berada di samping kanan-kiri atau depan-belakang. Merasa sendiri adalah esensi dari kesendiriannya, menelingkupi hati, pikiran, raga bahkan walau dunia bergerak bising di sekitar. Siapa yang ingin ditinggal oleh orang terkasih? Kemudian sendiri setelahnya, berjalan di tepi-tepi sepi. Tetapi setiap kekasih akan terpisah, setiap hubungan akan menemui akhir, dan waktu yang membingkai semua hal juga terbatas. Waktu-waktu yang berujung di batasnya dan keinginan-keinginan yang ingin terus melaju, memaksa kita untuk memilih. Meninggalkan satu hal untuk hal lainnya, juga tertinggal oleh satu hal dan menjadi hal lainnya. Kita mungkin tak pernah ingin meninggalkan, begitu pula kita tak ingin pernah ditinggalkan.

Demikiankah?

Dan takut adalah manusia. Meskipun demikian, dikatakan bahwa di atas semua itu, manusia tetap bisa bahagia. Walau dengan bayangan di waktu lalu atau ketidakpastian di akan datang. Kita hidup saat ini. Dikatakan ada pilihan untuk bahagia. Tidak ada orang yang ingin ditinggal di belakang, sendirian. Semisal kamu sendiri, adakah menemukan pilihan untuk berbahagia di sana?



Read More..

Rabu, 28 Agustus 2013

Saya, membaca, dan es krim

(sumber: wowiamreading.com)
We read to know that we are not alone. (C.S. Lewis)

Saya sendiri tidak pernah mengingatnya dengan jelas, kapan saya mulai suka membaca. Hingga saat ini terkadang saya masih takjub dengan foto masa balita, seumur-umur yang belum bisa membaca, di mana saya duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran dengan posisi terbalik ! Saya sangat yakin bahwa pada saat itu, huruf ‘a’ atau ‘b’ atau ‘z’ tidak lebih dari sekedar gambar-gambar meliuk padat dan rapat. Saya kira ada sesuatu yang menarik perhatian seorang Gama kecil di koran yang terhampar begitu saja di sofa ruang tamu.

Sebelum memulai mengetik tulisan kali ini, saya menyempatkan diri membaca sejenak sebuah artikel yang terlihat menarik saat saya mengetik kata kunci ‘research reading cognitive' pada mesin pencari Google. Pada bagian pendahuluan dari artikel yang ditulis oleh Cunningham dan Stanovich (2001)* tereja istilah Matthew effects. Sebuah istilah yang menggambarkan fenomena di mana orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Singkat cerita, konsep yang sama ternyata berlaku pada kebiasaan membaca manusia. Semakin sering kita terekspos oleh pengalaman membaca maka semakin senang kita dalam aktivitas membaca. Konsep yang sama kemudian mengilhamkan untuk membentuk ‘pengalaman membaca’ yang kaya pada anak-anak untuk menumbuhkan minat membaca sekaligus mengasah kemampuan kognitif mereka. Saya berpikir bahwa ‘pengalaman membaca’ tak mesti tentang anak yang duduk diam membaca, bisa jadi kegiatan-kegiatan yang memiliki banyak aktivitas gerak yang dihubungkan dengan ‘kegiatan membaca’ atau ‘buku’.

Masa awal memasuki universitas boleh jadi menjadi waktu intensitas membaca saya meningkat drastis. Bukan hanya karena tuntutan kuliah, sungguh bukan hanya itu, tetapi juga karena pada masa awal tersebut saya belum memiliki alat elektronik bernama laptop. Alhasil, saya yang tinggal di kost pada saat itu sering berkunjung ke perpustakaan pusat universitas untuk sejenak mengatasi kebosanan di kamar kost pada akhir pekan, selain tentu saja karena saya bisa memakai lab komputernya untuk berselancar ria di dunia maya. Saya ingat ketika saya menyelusuri satu demi satu rak-rak buku di perpustakaan, dari sebelah rak-rak yang berisikan buku-buku psikologi, filsafat, juga agama, berlanjut ke buku-buku sains, kedokteran, teknik, hingga ke buku-buku rumpun humaniora. Dari sini saya menemukan ternyata mereka juga memiliki koleksi buku-buku fiksi ! Dari novel-novel ringan semacam teenlit hingga karya sastra karangan penulis besar yang saya bahkan baru sekedar melihatnya pun sudah tercium aroma beratnya sastra Indonesia. Maka saya perlu berterimakasih pada perpustakaan pusat universitas karena mengenalkan berbagai macam buku fiksi yang menarik untuk dibaca. Saya mengingatnya walau dengan samar, saya membaca hampir semua serial supernova karya Dee hasil pinjaman perpustakaan pusat, atau novel bahasa Inggris pertama yang saya baca karya James Patterson (judulnya saya lupa, yang pasti berhubungan dengan eksperimen genetik yang menjadikan anak manusia bersayap seperti malaikat) hingga novel karya Stephen King yang bahkan pada halaman pertamanya saja sudah membuat saya mengenyerengitkan dahi kemudian menyudahinya pada halaman kelima. Tentu saja saya tidak lupa untuk sekedar meminjam buku farmasi fisiknya Alfred Martin atau melihat-lihat beberapa halaman berwarna dari fisiologi manusianya William F. Ganong.

Satu hal yang saya tahu bahwa membaca dapat membawamu sejenak dari realita di sekitarmu. Terutama ketika kita membaca buku-buku fiksi fantasi yang membawa realita kita ke negeri antah-berantah atau sekedar padang rumput bersemilirkan angin. Saya menyukai membaca dan buku tentunya, yang selalu saya anggap harta yang berharga. Kemajuan teknologi, ebook, tak akan pernah menggantikan kertas-kertas krem buku yang darinya tercium aroma khas yang memesona, atau paling tidak hingga manusia berhasil menciptakan sensasi yang sama pada saat kita membaca ebook. Di tengah pikiran yang sedang berat atau hati yang tidak keruan, membaca adalah pilihan yang selalu menyenangkan. Terutama membaca Qur’an, baca saja dan anda akan merasakan ketenangan yang menjalar dari ubun-ubun kepala. Oleh karena itu jika anda melihat saya sedang bersedih hati atau bermuram ria, berikan saja saya sebuah buku yang menarik untuk dibaca atau tulislah sebuah tulisan dan biarkan saya membacanya. Buku, tak ayal lagi, adalah moodbooster kedua terbaik selain, ah tentu saja yang terbaik pertama, es krim coklat !

*)Cunningham, A.E. and K.E. Stanovich. (2001). What reading does for the mind. Journal of Direct Instruction, 1(2), 137-149.


Read More..

Senin, 19 Agustus 2013

Parasetamol dan cerita lainnya

“Hingga saat ini saya kira semua sepakat, parasetamol masih menjadi obat yang paling dicari-cari saat kepala sakit terasa, saat demam menggigil melanda.”

Parasetamol tak pernah ditemukan benar-benar secara tidak sengaja, paling tidak hingga mereka menyebutnya parasetamol dan dipasarkan oleh Sterling-Winthrop Co. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mencatat selalu ada pelajaran dari setiap kesalahan, dan dari sebuah kesalahan pemberian obat cacing, naftalen, menjadi asetanilid, dua orang asisten professor dari Universitas Strassburg mencatatkan dalam sejarah, obat penurun demam (antpiretik) baru yang dapat diproduksi dengan murah. Sayangnya, keberuntungan tak berlangsung lama, asetanilid memiliki efek samping serius pada hemoglobin darah dan peredarannya ditarik dari pasaran.

Berhenti hingga di sinikah? Tentu saja tidak. Ketidaksengajaan penemuan efek antipiretik asetanilid menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran yang sama yang ada pada setiap penemu-penemu besar dunia. Rasa penasaran yang sama yang membangun peradaban manusia. Hingga singkat cerita, percobaan-percobaan dilakukan, sintesis senyawa baru yang memiliki potensi lebih baik dan efek samping rendah diciptakan. Setelah 60 tahun sejak kejadian kesalahan pemberian obat cacing di Universitas Strassburg, parasetamol dipasarkan ke dunia. Meledak menjadi obat sakit kepala dan demam yang dicari-cari umat manusia.

Kesalahan-kesalahan selalu terjadi, dari sesepele salah mengambil warna dasi hingga salah memberikan obat. Kesalahan-kesalahan mungkin terjadi, pada pribadi yang sudah ahli dan terbiasa sekalipun. Tetapi mereka yang luarbiasa adalah mereka yang mengakui kesalahannya, menyelesaikannya, bahkan bisa jadi memanfaatkannya menjadi suatu yang lebih berguna.

Cerita-cerita sakit kepala
Bahkan ketika mengetik tulisan ini, kepala saya masih agak terasa pening karena beberapa hal nampaknya terlalu menjadi beban pikiran. Beberapa hal memang tak perlu dipikirkan berlebihan karena hal-hal tersebut tercipta untuk dikerjakan. Masalah-masalah tak akan pernah selesai dengan memikirkan solusinya saja. Sakit kepala bisa saja tetap berlangsung walau solusi ditemukan, jika solusi tersebut tak pernah dilakukan, yang berarti tidak terbukti ketepatannya, yang dengan demikian menambah sakit kepala anda !

Banyak hal memang akan membuat anda sakit kepala, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan atau rencana-rencana yang tak berjalan sesuai harapan. Bahkan harapan sendiri bisa membuat anda sakit kepala ! Sekali lagi jika harapan tersebut hanya dibayangkan, tak selangkah pun coba diwujudkan. Bayangan-bayangan masa depan bisa jadi sangat menyeramkan, tetapi bayangan hanyalah bayang-bayang, ketakutan-ketakutan akan masa depan tidak pernah perlu terjadi, dan masa depan sendiri bukanlah sesuatu yang harus selalu dibayang-bayangkan. Masa depan ada untuk kemudian kita melangkah memeluknya.

Urusan cinta yang membius banyak orang bisa jadi membuat anda lebih sakit kepala lagi. Tak ada kegilaan yang lebih memayahkan kecuali pada orang-orang yang memendam rindu dan tersiksa karena kerinduannya. Urusan gila-menggila karena cinta-rindu-harap sebenarnya bisa dihindari dengan mindset yang tepat. Ah, terlalu awam bagi saya untu berbicara persoalan gila-rindu-cinta-harap yang tak habis-habis. Paling tidak, satu solusi yang bisa saya tawarkan untuk meredakan sakit kepala anda sementara, minumlah obat sakit kepala, parasetamol !


Read More..

Kamis, 08 Agustus 2013

Happy Eid Mubarak 1434H :D


Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf pembaca sekalian atas segala postingan yang tidak berkenan.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi :D


Read More..

Kamis, 23 Mei 2013

Menandai catatan, happy 4th anniversary Journal of Ramadhan

Tidak ada kue ulangtahun, perayaan dengan berbagai giveaway, bahkan pesta-pesta meriah malam malam. Bukan, memang kau kira perayaan ulangtahun orang kaya dan terkenal.

Well, alhamdulillah, masih diberi konsistensi untuk menulis catatan-catatan sedikit ilmu di kepala atau dari buku-buku yang dibaca, jurnal, paper, artikel yang sedang iseng-iseng gak ada kerjaan terbaca :p, dalam sebuah blog yang sejak Mei 2009 lalu terterbitkan di dunia maya, Journal of Ramadhan !

Tentu saja bukan sebuah blog populer, dari 4 tahun malang melintang di dunia maya, hanya tercatat 32 followers dan 56.345 views (berdasarkan statistik internal blogger) yang tanpa sengaja tersesat ke blog Journal of Ramadhan. Mungkin karena tulisan saya yang memang gak bagus atau topik yang tidak populer atau bahkan keduanya!. HAHAHA. Though I don't really care about it. Di titik awal ketika memutuskan untuk menulis blog, hanya ada keinginan untuk berbagi keingintahuan tentang alam kita, diri kita sendiri, bahkan mengintip sedikit misteri mengagumkan di dunia. Saya selalu percaya, dengan sudut yang tepat, topik-topik sains selalu akan semengagumkan cerita fantasi sebelum tidur, seindah roman cinta paling memukau, atau serenyah kisah metropop di novel-novel teenlit. Suatu hari nanti, saya yakin ada saat di mana kita dapat berbincang tentang kisah penemuan menakjubkan terbaru, sehangat kopi yang kita minum di warung kopi sebelah.

After all, terimakasih kepada para pembaca yang tanpa sengaja tersesat dan yang (jika ada) menanti blogpost terbaru tiap bulannya atau para silent reader dan tentu saja pembaca yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di bagian komentar. Trims and I'll keep writing or, oh well, blogging ;)

ganbarimashou !

Read More..

Senin, 25 Februari 2013

Sesederhana Telur, Apel, dan Pemandian Umum

(sumber gambar: lightbulbcentral)
Christoper Columbus pulang dari pelayaran melelahkan menemukan daratan di seberang laut Atlantik. Disambut suka cita oleh rakyat Spanyol dan rajanya, didengungkan sebagai pahlawan pembawa dunia baru bagi Spanyol. Pesta perayaan dibuat, ditengah makan malam pelaut-pelaut hebat berkata nyinyir, “Kau telah menemukan dunia di luar samudra kita, lalu ada apa dengan semua itu? Siapa pun dapat menyebrangi lautan dan menemukannya.” Alih-alih menjawab, Columbus mengambil sebutir telur dan menantang semua hadirin untuk membuatnya berdiri tanpa bantuan apa pun. Setiap orang mencoba, telur tetap berputar dan jatuh, gagal memenuhi tantangan, dan mereka mengatakannya tidak mungkin. Columbus melakukannya, meretakkan sedikit pada bagian bawah telur hingga menjadi rata dan mendirikannya dengan mudah. “Apa yang lebih mudah dari melakukan hal yang kalian anggap tidak mungkin?”, ucap Columbus, “Siapa pun dapat melakukannya.”

Kesadaran seringkali merupakan pemicu dari segalanya. Hal-hal sederhana, inspirasi-inspirasi mengagumkan, ide-ide cemerlang selalu berawal dari kesadaran yang menyentak diri manusia. Kesadaranlah yang membedakan antara inovator dengan orang biasa dan para filsuf dengan rakyat jelata. Apel jatuh mungkin hanyalah sekedar apel yang jatuh dalam pandangan orang lain, namun tidak bagi Newton. Ada sesuatu yang lebih besar terkuak di dalamnya, sebuah kesadaran muncul, menyentak Newton. Apel berada dalam posisi diam di atas pohon, jatuh dengan kecepatan yang semakin cepat ke bawah. Pada akhirnya, hanya Newton lah yang tersadarkan, bukan petani atau sembarang orang yang melintasi pohon apel. Dan dari kesadaran ini muncul ide cemerlang tentang alam semesta, gaya gravitasi.

Orang-orang menyebutnya insight, pemahaman akan suatu kebenaran yang tersembunyi. Ide-ide yang muncul seringkali sederhana, namun menuju ide tersebut adalah hal yang lain. Kisah klasik yang meskipun diragukan kebenarannya memberikan kita contoh, kisah penemuan hukum Archimedes yang merupakan prinsip sederhana yang dapat dimengerti ke siswa kelas menengah pertama. Dari semua orang yang berendam dalam pemandian umum mungkin hanya Archimedes yang menyadarinya. Columbus, Newton, Archimedes melihat sesuatu yang berbeda dari suatu hal yang dianggap biasa. Mereka memberikan kita contoh ide-ide sederhana dapat berakibat besar dan ditemukan dengan cara-cara yang tidak biasa. Penemuan-penemuan besar terkadang diinspirasikan dari sesuatu yang sederhana. Observasi, telaah, analisis, percobaan-percobaan membuka yang tersembunyi dari hal-hal sederhana.

Bahwa inspirasi ada di sekitar kita dan menunggu untuk ditemukan adalah keniscayaan. Hal yang kita perlukan mungkin sekedar melihat dari sisi yang berbeda, menemukan maksud dari suatu fenomena, atau bahkan berbagi dengan orang lain. Yakinlah, kita akan bisa menemukan keunikan dari kepolosan, ketakjuban dari ketidakbiasaan, dan keindahan dari hal-hal sederhana.

Read More..

Jumat, 28 Desember 2012

As Simple as...

(sumber: fanpop.com)
Life is as simple as if you’re strong you’ll survive yet if you’re weak you’ll die. The survival of the fittest.

Seleksi alam (natural selection) menjadi topik hangat dalam dunia evolusi mahluk hidup sejak diusulkan oleh Darwin pada abad ke-19. Jika teori evolusi adalah sebuah mobil maka seleksi alam merupakan mesinnya. Apa yang kemudian diusulkan oleh Darwin merupakan hasil pengamatannya di Pulau Galapagos, tempat bersemayam hewan-hewan langka dan menakjubkan. Tetapi, saat ini kita tidak akan berbicara mengenai evolusi, karena pertama saya bukan ahli dalam bidang ini, kedua saya keberatan dengan hipotesis kera adalah nenek moyang manusia. Jadi kita pinggirkan dahulu teori evolusi dalam perdebatan-hingga-akhir-zaman. Mari kita berbicara mengenai ide universal di alam semesta, mau tidak mau, anda akan dibuat setuju dengannya.

Ada sebuah prinsip universal yang terjadi di dunia ini, dari hutan rimba di pedalaman Kalimantan yang mulai menghilang hingga di kantor eksekutif papan atas. Seleksi alam, memegang prinsip siapa yang paling dapat beradaptasi dengan lingkungannya, maka dialah yang paling bertahan. Kau yang kuat bertahan terhadap tantangan kehidupan akan selamat, hidup, dan melanjutkan generasi. Sementara mereka yang tak sanggup menanggung beban perubahan akan terkikis, tersingkir dari arena kehidupan.

Hidup memilih siapa yang pantas untuk melanjutkan hidup, maka buktikanlah bahwa kau cukup berharga untuk hidup. Kita diseleksi setiap hari, setiap detik-menit-jam kita bernapas melalui ujian dalam berbagai bentuk. Hal yang menjadi pertanyaan utama adalah apakah kita lulus? Ujian mengingatkan kita bahwa mereka yang tak bisa mencapai batas minimum kelulusan akan gagal. Ada ambang yang tercipta di dalam sebuah seleksi dan menjadi keharusan kita untuk melewati ambang tersebut.

Bersyukurlah kita dilahirkan sebagai manusia. Kau tahu? Manusia memiliki keterbatasan besar dalam menundukkan lingkungan secara langsung. Kita tidak memiliki penglihatan dan pendengar setajam serigala atau cakar yang dengannya dapat melumpuhkan makanan. Kita tak pernah sekuat gajah atau banteng atau badak sehingga dapat menerjang segala sesuatu dengan mudah. Tetapi manusia diwarisi gumpalan massa seperti gel di dalam rongga tengkorak mereka, otak. Kemampuan manusia untuk belajar dari kejadian masa lalu, mengolahnya, kemudian membuat hal baru atau memprediksi masa depan berdasarkan pengalaman tersebut merupakan kekuatan mahadasyat. Kecerdasan manusia adalah sumber kekuatan terbesar. Dengannya manusia menjadi mahluk yang paling mungkin lolos dalam upacara seleksi alam. Manusia merekayasa apapun, alat-alat sehingga kita dapat menciptakan peradaban, benda-benda sehingga kita dapat menundukkan darat, laut, dan udara, bahkan merekayasa kebenaran untuk berbagai kepentingan. The survival of the fittest, kecerdasan manusia membuatnya paling cakap dalam beradaptasi dengan kehidupan.

Is that bad to be weak?
Sayangnya, jawaban dari pertanyaan di atas adalah ‘Ya’. Tak pernah diragukan lagi, mereka yang lemah akan tersingkir dari percaturan hidup. Bapak-ibu penjual yang digusur misalnya, kelemahan akan kekuasan membuat mereka menjadi tak berdaya menghadapi penguasa. Tidak ada kekuatan menawar, mereka akhirnya tergusur tanpa sempat melawan atau melawan dengan sedikit. Pada kenyataanya kau harus kuat untuk bisa bahagia. Kuat mengatasi kesengsaran akan membawa bahagia, begitu pula kau harus kuat dalam berbahagia. Mereka yang tidak kuat berbahagia bisa jadi merupakan penghuni di salah satu kamar rumah sakit jiwa. Senang, sedih, susah, galau, nelangsa harus dihadapi dengan kuat atau kau akan menjadi lemah, tersingkir, dan tak berdaya.

Kuat bukanlah soal kekuasaan, kekuatan, kelebihan, apapun itu. Kita berbicara mengenai adaptasi, kekuatan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Maka selalu ada kesempatan bagi si lemah untuk bertransformasi menjadi kuat. Adaptasi, si lemah yang mampu beradaptasi sehingga bisa selamat pada dasarnya tidaklah lemah, karena dia sanggup menjawab tantangan kondisi. Apa-apa yang kau sebut sebagai membantu orang lemah pun dapat menjadikan mereka kuat dan bertahan. Bahkan Tuhan pun turut campur tangan dalam menguatkan orang-orang lemah. Secara substansial, siapapun yang lemah akan tersingkir kemudian mati dan yang kuat akan bertahan dan melanjutkan generasi. Jangan pernah berpikir hanya sekedar hidup seadanya, citakanlah untuk menjadi berkecukupan sehingga paling tidak kau akan berpikir untuk terus maju. Fokuslah ke target tertinggi bukan ke batas terendah.


Read More..

Kamis, 29 November 2012

Termakna Subhanallah dan Masya Allah

(sumber gambar: proumedia.com)

Nampaknya terdapat pergeseran pemaknaan ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berikut sedikit uraiannya dari ust. Salim A. Fillah,

Ada dua hal yang mengikatnya, tuntunan Qur’an-Sunnah dan kebiasaan dalam bahasa Arab. Al Qur’an menuturkan bahwa subhanallah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tidak pantas. “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dsb”, Ayat-ayat berkomposisi seperti ini sangatlah banyak. Selain itu, subhanallah juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikan semacam syirik (Qs. Saba: 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita (Qs. Yusuf: 108), dan sebagainya.

Bukankah ada juga pe-Mahasuci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al Qur’an menuturnya dengan kata ganti kedua (Qs. Ali Imran: 191) atau kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut Asma Allah (Qs. Al Israa: 1). Ia juga terpakai pada me-Mahasuci-kan Allah dalam menyaksikan bencana dan mengakui kezaliman diri (Qs. Al Qalam: 29) serta menolak fitnah keji yang menimpa saudara (Qs. An-Nuur: 16).

“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, dan apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR. Bukhari, dari Jabir). Pada hadist ini “subhanallah” diletakkan dalam makna ‘turun’ dan bukannya ‘naik’. Sesuai dengan kebiasaan orang dalam bahasa Arab, secara umum subhanallah digunakan untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah swt dilekatkan padanya. Kesimpulannya, zikir tasbih secara umum adalah utama sebab ia adalah zikir semua mahluk dan tertempat di waktu utama pagi dan petang. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakannya sebagai pe-Mahasuci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagungan-Nya.

Bagaimana dengan masya Allah? Qs. Al Kahfi ayat 39 memberikan kita contoh; ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah, berupa kebun subur menghijau jelang panen, anak-anak yang ceria menggemaskan dan harta yang banyak. Kalimat lengkapnya, Masya Allah la quwwata illa billaah; pada kalimat kedua menegaskan lagi: tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah. Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab, mereka mengucapkan masya Allah pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan. Simpulannya, masya Allah adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah, dan memang hal indah itu dicinta dan dikehendaki oleh Allah.

Demi ketepatan makna keagungan-Nya dan menghindari kesalahpahaman, mari membiasakan mengucap “subhanallah” dan “masya Allah” seperti seharusnya. Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli, insya Allah lebih tepat dan bermakna. Tercontoh orang Indonesia bisa senyum gembira padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat, “Allaahu yahdik!” Arti harfiahnya, “Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan? Tetapi untuk diketahui bahwa makna kiasan dari “Allaahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!” Jadi, mari belajar tanpa henti dan tak usah memaki.

(disarikan dari Menyimak Kicau Merajut Makna oleh Salim A. Fillah)



Read More..

Minggu, 11 November 2012

Cinta Merah Saga

(sumber gambar: fineartamerica.com)
Topik ini sepertinya tidak ada habisnya, Cinta. Menderas bagai air bah, mengalun lembut seringan angin sore, menggelora senyala api, menguatkan setabah bumi. Cinta, seribu penulis telah membahas topik ini pada seribu cerita, kisah, catatan, bahkan darah-darah yang mengalir atas nama cinta. Cinta, kamu dan aku membahasnya tak jemu jua, seringkali berulang hingga terpatri di ingatan kata sakti tentangnya. Selalu saja ada cita rasa baru, ada sudut pandang baru, ada kisah baru setiap kali mengulangnya, melafadzkannya lembut dalam setiap perasaan insan.

Maka biarlah aku, kali ini, membahasnya untukku dan untukmu.

Cinta harusnya pertemuan jiwa-jiwa, persambungan pikiran-pikiran, perangkulan ego-ego. Di dalamnya setiap insan memahami bahwa beda tidak perlu menjadi sengketa. Karena beda bisa jadi penambal lubang-lubang kelemahan, jika tidak, maka memahamkan dan memaafkan sudahlah cukup. Tidak ada insan sempurna yang lepas dari kesalahan.

Cinta seharusnya menumbuh-mengembangkan segala potensi yang ada. Para pecinta sejati tidak mengungkung yang dicintainya atas nama kepemilikan. Maka cinta menjadi penyalanya, pemantik setiap potensi diri, memanusiakan manusia, menjadi manusia yang sebaik-baiknya manusia, insan kamil. Maka setiap pembelajarannya adalah cinta, dan bersama-sama kita belajar menjadi lebih baik. Para pecinta sejati tidak membiarkan yang dicintainya terjebak dalam kenaifan ‘menjadi diri sendiri’. Kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik selalu ada, ‘menjadi diri sendiri’ jika itu berarti tidak mengambil kesempatan untuk menjadi diri yang lebih baik tidaklah berguna. Karena cinta menumbuh-mengembangkan potensi diri, dia bersama bertumbuh dan berkembang dalam jiwa-jiwa para pecinta pembelajar yang senantiasa mengasah diri, menjadi lebih baik.

Cinta adalah tentang pekerjaan memberi, maka hanya orang-orang kuat dan memiliki yang bisa mencintai. Cinta adalah pekerjaan orang-orang kuat, konsisten memberi bukanlah hal ringan yang bisa dilakukan sepanjang hayat. Para pecinta bukan berarti tidak menerima, bisa jadi suatu keniscayaan, tetapi hal itu hanyalah suatu akibat. Fokus para pecinta sejati adalah memberi, dengan segala daya menumbuh-kembangkan yang dicintai. ”Para pecinta sejati tidak suka berjanji,” tulis Anis Matta, “tetapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Janji menerbitkan harapan, tetapi pemberian melahirkan kepercayaan.” Maka menjadi seorang ibu adalah pekerjaan perempuan-perempuan kuat sepanjang zaman, bukan pekerjaan sampingan para wanita karir. Cinta mereka adalah tentang memberi segala daya, menumbuh-mengembangkan, merawat, dan melindungi. Oleh karenanya bagi seorang laki-laki kewajiban terhadap ibu lebih didahulukan dari kewajiban kepada istri.

Cinta seharusnya memuliakan, cinta memuliakan para pecinta dan bukan merendahkannya. Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang paling memuliakan perempuan. Maka laki-laki yang mengumbar janji cinta atas perempuan, namun tidak menikahinya adalah omong kosong besar. Cinta itu memuliakan, maka pernikahan memuliakan laki-laki dan perempuan dalam naungan cinta. Para pecinta sejati tak mengumbar janji, begitu mereka memutuskan untuk mencinta, mereka memilih jalan kesunyian untuk bekerja mewujudkan rencana memberi. Mereka bersiap diri hingga sampai waktunya tiba dan cinta akan menyambutnya dalam keberkahan dan naungan cinta ilahi.

Cinta berbicara tentang keberanian jua pengorbanan. Dari Ali, pemuda cerdas yang disebut sebagai pintu ilmunya Rasulullah, kita belajar. Adalah Fatimah, seorang gadis yang memunculkan debaran dalam jiwa pemuda Ali . Sudah dua sahabat utama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, yang ditolak pinangannya. Dia merelakan dua kali, ketika sahabat utama Rasulullah hendak melamar Fatimah. “Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?” Sahabat-sahabat Anshar menyemangatinya, “kami merasa engkaulah yang baginda maksud.” Maka Ali mengambil satu dari dua pilihan cinta, keberanian. Sangat memalukan meminta Fatimah menunggu hingga dirinya siap dan menikahinya. Tidak bagi Ali, maka cinta adalah tentang mengambil kesempatan yang ini keberanian atau merelakan yang ini pengorbanan. “Ahlan wasahlan,” jawab Rasulullah dan Ali mendapat tidak hanya satu (ahlan) tetapi bahkan dua (wasahlan) yang berarti persetujuan. Dan dari keberanian cinta lahirlah energi besar tanggung jawab. Dan kita semua tahu, Ali tidak memulai pernikahannya dari nol, tetapi minus. Dengan rumah yang tadinya hendak dihadiahkan oleh sahabat-sahabatnya, tetapi Rasulullah memintanya untuk mencicil dan ini berarti hutang. Di jalan para pecinta sejati, cinta bertemu dengan tanggung jawab. Ali memperlihatkannya kepada kita, energi besar tanggung jawab lahir dari cinta dan kita bisa menengok rumah tangga surgawi dari sepasang Ali-Fatimah.

Cinta itu merah saga, menggerakan jiwa-jiwa untuk berbuat, menggelorakan semangat-semangat untuk bekerja. Maka cinta adalah energi jiwa, menghimpunkan segala daya, menyalakan gairah dalam rasa. Cinta bukanlah merah jambu, lenye-lenye, melemahkan jiwa dengan angan panjang, memanjakan rasa dengan senang semu. Cinta itu merah saga, sekencang angin membadai, sederas banjir menerjang, bergelora bak api menyala-nyala. Tapi kemudian ia menjadi tenang, sehangat dekapan ibu, selembut semilir angin, seteguh pijakan bumi. Maka cinta adalah sebuah kata kerja, membangun peradaban manusia, meninggikannya hingga menggapai surga.

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta,
jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana,
tinggi menggapai surga
(Salim A. Fillah)


___
Beberapa inspirasi tentang cinta:
Anis Matta. Serial cinta.
Salim A. Fillah. Jalan cinta para pejuang.


Read More..

Minggu, 04 November 2012

The Ulysses Contract

(sumber gambar: bywayofbeauty.com)
Ulysses atau juga dikenal dengan nama Odysseus dalam mitologi Yunani merupakan salah satu dari tiga penasihat Raja Ithaca. Ulysses adalah seorang ahli strategi dan merupakan tokoh utama dibalik kemenangan Perang Trojan. Strateginya menggunakan bangunan kayu yang berbentuk kuda untuk memasukkan tentara Yunani ke dalam benteng kerajaan Troy membuahkan kemenangan yang gemilang dan tercatat dalam berbagai naskah. Setelah berhasil memenangkan Perang Trojan yang menyejarah tersebut, Ulysses berlayar kembali ke kampung halaman di Pulau Ithaca. Di tengah perjalanan, Ulysses tersadar dia akan melawati Pulau Sirenum scopuli, tempat sesosok mahluk mitologi yunani bernama Siren hidup. Siren dikisahkan merupakan seekor putri duyung atau wanita yang memiliki sayap seperti burung yang memiliki suara merdu, memikat siapa saja yang mendengarnya. Setiap pelaut yang tanpa sengaja mendengar nyanyiannya akan terhanyut dengan godaan yang demikian kuat untuk datang menuju Siren dan menghempaskan kapal mereka ke karang mematikan di sekeliling pulau, menenggelamkan semua orang di kapal. Semua pelaut yang tahu trik mematikan ini, akan menutup kuping mereka dengan segala cara agar tidak mendengar nyanyian Siren. Namun, bagi Ulysses ini merupakan kesempatan langka untuk mendengarkan nyanyian Siren. Mengetahui akibat yang diterimanya jika mendengar nanyian Siren, Ulysses membuat sebuah rencana. Dia sadar bahwa dirinya akan menjadi gila saat mendengar nyanyian tersebut dan akan memerintahkan awak kapal untuk menuju karang. Maka, Ulysses memerintahkan awaknya untuk mengikatnya di tiang kapal dan tidak mengindahkan perintahnya saat melewati Pulau Sirenum scopuli. Dia membuat perintah dengan jelas untuk tidak mendengarkannya dan melepaskan ikatannya hingga mereka telah melewati Pulau. Awaknya sendiri diperintahkan untuk menutupi telinga mereka dengan lilin (beeswax) sehingga mereka tidak akan mendengar nyanyian Siren. Ulysses mengikat dirinya di masa depan (saat mendengar nyanyian Siren) dengan perjanjian (antara ia dengan awaknya) di masa sekarang (sebelum melewati pulau).

Keputusan hari ini yang mengikat kita di masa yang akan datang ini dikenal sebagai Ulysses contract, perjanjian Ulysses. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat sebagai kontrak kerja atau perjanjian-perjanjian yang kita buat dengan orang lain yang akan berkaitan langsung dengan kita. Tetapi sadar atau tidak, kita sehari-hari sering membuat perjanjian Ulysses, bukan kepada orang lain melainkan kepada diri kita sendiri. Bayangkan anda sedang menjalani diet ketat untuk mengurangi berat badan. Akan tetapi, sebuah kue coklat nikmat nan menggoda disajikan kepada anda secara gratis. Apa yang terjadi pada diri anda? Sebuah pertarungan di otak. Di satu sisi otak anda berkata anda sedang dalam diet ketat dan jangan memakannya, namun di sisi lainnya otak anda menginginkannya, sebuah kue coklat nikmat nan menggoda dan gratis! Kebanyakan dari kita akan bernegosiasi dengan ‘diri kita yang lainnya’. “Kamu akan memakan kue ini, namun kamu harus berjanji untuk pergi ke gym besok!” Ya kita telah membuat perjanjian dengan diri kita sendiri.

Selalu ada dua sisi atau lebih dari satu diri kita. Ada yang bilang sebagai sisi baik-buruk atau rasional-emosional, dan lain sebagainya. Salah satu pendekatan terhadap perilaku berpikir manusia adalah pikiran kita merupakan sebuah sistem multi-partai dimana setiap partai di dalamnya dapat saling bertolak belakang ataupun berfungsi tumpang-tindih. Ketika memikirkan suatu keputusan yang akan diambil, otak kita membuat berbagai simulasi-simulasi konsekuensi akan keputusan-keputusan yang ada dan ini memunculkan debat di dalam otak kita mengenai keputusan yang terbaik yang akan diambil. Inilah salah satu yang kemudian membuat kecerdasan manusia menjadi sangat istimewa. Kecerdasan kita memikirkan solusi-solusi dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga memungkinkan kita untuk melakukan suatu hal dengan cara yang berbeda. Kecerdasan kita bukanlah memikirkan satu cara terbaik untuk memecahkan suatu masalah, namun membuat beragam solusi sehingga kita bisa memecahkan suatu masalah dengan cara yang paling efektif dan efisien. Pendekatan multi-partai ini menjelaskan mengapa ada manusia yang tetap dapat berpikir atau berfungsi dengan baik walau setelah mengalami kerusakan otak. Sistem multi-partai memungkinkan fungsi otak yang hilang karena kerusakan tersebut diambil alih oleh bagian otak lainnya. Hal ini menjadikan kecerdasan kita sangat tangguh.

Kembali ke perjanjian Ulysses, ungkapan ini sering dipakai dalam dunia medis terutama pada kasus-kasus penyakit mental, misal skizofrenia. Saat pasien dalam keadaan normal, pihak medis akan membuat kontrak dengan pasien untuk disetujui diberikan penanganan medis ketika kekambuhan (relaps) terjadi di masa datang. Bisa kita bayangkan untuk pasien skizofrenia, ketika terjadi relaps, pasien akan sulit untuk mengambil keputusan. Kondisi perjanjian Ulysses juga sering terjadi dimana anda membiarkan orang lain mengambil keputusan untuk anda di masa depan. Seperti kasus pasien di rumah sakit yang mengalami trauma hebat, kehilangan keluarga atau orang yang dicinta, dimana pasien tersebut meminta untuk menghentikan segala perawatan dan meminta dirinya dimatikan saja dengan overdosis morfin. Tentunya kasus seperti ini akan dibawa ke komisi etik dan biasanya keputusan mereka adalah tidak membiarkan pasien mati karena pada masa datang pasien dapat saja menemukan jalan untuk mengatasi emosinya dan mendapatkan kembali kebahagiaan. Seperti Ulysses dan awaknya, kita bisa bergantung pada pandangan orang lain saat rasionalitas kita tidak dapat berpikir dengan jernih.


Bacaan yang ingin tahu lebih banyak:
Eagleman, David. Incognito: The secret of the living brain


Read More..