Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

Bersama kembali ke kultur ilmiah

Science is an ever-changing field. As new thing discovered, we see the world better

Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju.

Dari pergerakan
"Hidup Mahasiswa !!!"
"Hidup Rakyat Indonesia!!"

Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.

Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.

It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.

Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.

Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.

So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
"what we only need is just to look in ourselves, it’s in us !"
PIMNAS terasa menjadi trigger bangkitnya kembali kultur menulis di mahasiswa UI, menuliskan gagasan tidak hanya mengendapkan dalam otak sendiri, berkarya menghasilkan sesuatu hal, dan bukan hanya unjuk bicara. Namun, ini semua bukan tentang PIMNAS, ataupun ajang-ajang kompetisi ilmiah lainnya. Ini tentang keilmiahan itu sendiri, tentang bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa adalah masyarakat ilmiah, berpikir dan bertindak yang mencerminkan karakter manusia rasional.

Read More..

Senin, 17 Januari 2011

Stop Pikirkan Skripsimu !!!!

Sudah cukup provokatif judulnya? Belum? Awalnya saya hendak menggunakan judul ‘Buang saja Skripsimu’ atau ‘Bakar saja Skripsimu’, namun karena dirasa terlalu ekstrim maka saya memilih judul di atas.

Di semester delapan, pada umumnya mahasiswa akan memulai rangkaian tugas akhirnya, yang tentu saja sebagai syarat kelulusan dari jenjang strata satu. Pada masa awal-awal semester dahulu yang sering dipikirkan adalah tugas dari OKK atau mabim, kemudian beranjak di pertengahan masa kuliah, ada yang aktif di organisasi atau memikirkan deadline tugas yang semakin mencekik. Kemudian memasuki akhir masa kuliah maka satu hal yang mendapat porsi besar dalam benak kita, ya, tak lain dan tak bukan adalah skripsi.

Skripsi mungkin di awal hingga akhir merepotkan, dimulai dari pengajuan proposal penelitian (dengan pengurusan administrasi yang sudah mulai rieuweh), kemudian pelaksanaan penelitian (semoga lancar…), hingga penyusunan skripsi, seminar, dan sidang tentu saja. Kepusingan datang tidak hanya dari skripsi itu sendiri namun juga masalah administrasi yang harus dipenuhi. Mau tidak mau tentunya harus dipenuhi jika memang ingin lulus, maka tak jarang kita melihat wajah yang berantakan, senyum yang sudah lari entah kemana, bahkan langkah yang sudah layu dari para pejuang skripsi. Sayang sekali jika kondisinya seperti itu maka malang nian nasibmu nak, hilang sudah pancaran keceriaan dari wajahmu.

Tidak dapat dipungkiri beban skripsi setiap mahasiswa memang berbeda-beda, ada yang mudah mungkin pula ada yang susah, namun saya rasa bukan di sana letak permasalahannya. Saya tentu saja tidak bicara bahwa kita harus membuang jauh-jauh permasalahan yang ada pada skripsi kita dan menjalaninya dengan santai saja (mau lulus kapan kau boi ?). Namun saya rasa banyak di antara kita kehilangan rasa atau makna dibalik menjalani suatu penelitian.

Anda tahu, banyak orang berkata bahwa kekuatan pikiran dapat mengubah persepsi kita terhadap keadaan, dan perubahan persepsi kita terhadap suatu kondisi akan merubah sikap kita dalam menanggapi suatu masalah. Sering banyak motivator ulung yang berkata bahwa bukan keadaan itu sendiri yang penting, namun lebih pada bagaimana kita bereaksi pada masalah tersebut. Hal ini yang menjadikan seseorang memiliki ketahanan yang baik terhadap tekanan atau masalah yang dihadapinya.

Begitu pula dengan menjalani tugas akhir strata satu, semuanya saya rasa bisa menjadi lebih bermakna, lebih menyenangkan meski tetap memusingkan. Pusing mungkin, juga lelah, namun ketika hati tetap bergairah maka rasa dirasa semua kepenatan bisa diatasi dengan baik. Saya pun merasakan hal yang sama, pusing, khawatir, dan lelah menjadi satu, namun hal tersebut ternyata bisa dinikmati. Tidak percaya? Entah menikmati atau tidak namun optimisme selalu hadir di tiap gerak menjalani skripsi.

Kembali pada persepsi, apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata skripsi? Silahkan masing-masing punya bayangannya sendiri, begitu pula saya. Ketika mendengar kata skripsi, saya bisa membayangkan sebuah laporan yang cukup tebal dari hasil penelitian yang tidak mudah dan tidak murah, kemudian kita harus bertahan dari gempuran para reviewer. Wow, serasa ada beban yang menindih kepala ini. Namun saya mencoba merubah persepsi saya, dan saya menemukan hal yang menyenangkan yang lebih berharga berada di pikiran saya dibanding dengan beban-beban itu. Maka saya menghindari istilah skripsi dan menggantinya dengan sebutan penelitian atau riset. Sama saja ya? Tidak menurut saya, anda tahu, kesenangan ketika kita berhasil memecahkan sebuah persoalan yang kita miliki, mencoba hal-hal baru yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita bayangkan kita bisa melakukannya, hal tersebut menjadi bayangan saya ketika mendengar kata riset. Gairah-gairah tersebut muncul begitu saja seiring dengan perubahan sudut pandang saya. Saya tidak mengandaikan bahwa penelitian nanti akan mudah dan lancar begitu saja, namun aktivitas kita dalam mencari jawaban atas permasalahan yang timbul, diskusi-diskusi yang akan kita lakukan dengan orang lain, menambah wawasan, membuka cakrawala pikiran, serta mencoba hal baru sekaligus mencoba hingga batas-batas diri kita adalah hal yang luar biasa seru!




Ketakutan atau pun kekhwatiran pasti akan datang, namun seorang pemberani bukanlah mereka yang tidak memiliki rasa takut, tetapi mereka yang dapat menjalani dan mengatasi dengan bijak rasa takut mereka. Mantapkan hati kita kawan, ini adalah jalan yang kita pilih sendiri dengan sadar; kita secara dewasa paham akan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin saja timbul. Namun kenapa kita menyibukkan diri kita dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi, sedangkan ada hal-hal baru yang menggoda kita untuk mencobanya. Have a great research!!!



(di sela-sela revisi proposal penelitian)




because LIFE IS AN ADVENTURE




Read More..

Sabtu, 18 Desember 2010

This is his way, what about you?



His name is Danang A. Probowo, he was an IPB (Bogor Institute of Agriculture) student. In that video clip he presented his life story which is so inspiring for me. One time, in an event in his institute, there was a speaker who said, “Write down your dreams concretely, and don’t write it in your memory only, because you will forget. Write down your 100 targets on a paper.” Then he did it and stuck it on his room wall. A lot of his friends laughed at him. But, one by one, that dreams on that paper was scratched because it came true. He did well in a national MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) championship. Then he was one of the champions in PIMNAS (National Student Science Week) year 2006. Even though, he was not the best in his class, but he was able to be IPB most achieved student and continued to national level. In that video he also wrote that if anyone thinks that he has GPA was 4.00 or always has a perfect score on every class then he said no, I’m not. He had ever had GPA 2.7 and he sometimes got C in his examinations, even he had ever repeated his class. But it was never make him down, as the time went, he could reach his dream to study aboard in Japan. He said that we have to be brave enough to have a big dream, because from his dreams, he has so many achievements until now. Reach that dreams with all your heart and have a faith that there is always a hope.
Every time I play that video, there always appears a passion to move, to come up and reach my goals. After saw that true story, I realize that an ordinary man also can be an extraordinary person. Although there are so many failures that we meet, as long as we hold our faith firmly then we will find the way. I realize to think big and do my best efforts to reach my goals. I begun to write down my dreams, my success, also my failures, that they are a reminder for me that this life will be always fair, even though we sometimes judge it unfairly

"every long journey must begin with a single step"

Read More..

Kamis, 09 Desember 2010

Saya tentang Pemira UI: Refleksi Sederhana dari Mata Awam

(Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan)

Sepanjang masa kampanye BEM UI, pasangan kandidat yang paling gencar terlebih dahulu melakukan kampanye pasif, via berbagai media mulai dari baliho hingga grup di facebook dan twitter adalah maman-ijonk. Pasangan kandidat ini mengusung tema together in excellence, mungkin bermaksud dengan bersama-sama, tanpa harus terbatas oleh golongan, maka keunggulan dapat dicapai. Dari sisi sakti-sri, yang mengusung tema akselerasi-inspirasi, memaksudkan sebuah kepemimpinan yang dapat menginspirasi banyak orang untuk dapat berakselerasi menuju hal yang lebih baik.
Gaya media cetak tampaknya tidak jauh berbeda pada masing-masing kandidat. Foto kandidat menguasai hampir 70% space baliho, kemudian warna minimalis dengan ciri khas masing-masing menjadi gaya umum desain baliho kampanye. Cukup menarik dari kubu maman-ijonk yang membuat logo tematik bagi tiap-tiap fakultas dengan ke-khas-an masing-masing bidang ilmu. Perang media cetak tampaknya lebih didominasi oleh maman-ijonk, yang cukup progresif menebar jala dimana-mana. Perang dunia maya tidak kalah seru, membuat opini mahasiswa adalah kunci utamanya. Dengan kemudahan akses informasi di dunia maya, setiap opini yang dilemparkan dapat menjamah setiap sudut-sudut kampus.
Debat kandidat adalah acara yang ditunggu-tunggu di tiap fakultas. Paling menarik, tentu saja di fakultas teknik. Berlangsung lebih dari 12 jam non-stop, setiap kandidat benar-benar teruji mental, pikiran, dan tubuh. Jalan yang serupa juga ternyata dicoba diterapkan di FH, meski tidak sebaik FT yang sudah merupakan tradisi turun-menurun.

Between White and Black
Black campaign tidak lupa ikut ambil bagian dalam pemira ini. Opini-opini menjatuhkan nan destruktif harusnya tidak keluar dari lisan atau tulisan-tulisan mahasiswa UI. Opini-opini memang banyak merebak di sana-sini, dengan dasar yang tidak jelas dan tidak kuat. Asal cuap, kicau, yang penting riuh, bahkan ricuh menjadi senjata utama. Sayang disayang, terkadang mahasiswa, yang notabene adalah masyarakat ilmiah, lebih senang dengan opini-opini yang tidak jelas dan tidak kuat pijakannya, namun seru dan kontroversial.
Dalam perang dan cinta, segalanya boleh, adalah kalimat mereka yang tidak mengenal dengan baik norma dan moralitas. Kebebasan yang kebablasan sering kali menjadi pijakan dasar untuk menghalalkan segala cara agar memperoleh tujuan. Sayangnya, kebanyakan dari kita masih terbius dengan bayang-bayang kekuasaan, menjadikannya tujuan akhir. Sungguh kekuasaan adalah kehinaan bagi mereka yang tidak amanah menerimanya.
Siapa yang sering diserang ?, secara kasat mata, maka penulis katakan pihak maman-ijonk. Apakah benar pihak sakti-sri melakukan black campaign ? Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat. Banyak bias dalam opini-opini yang berkembang, bisa saja mahasiswa yang terlihat mendukung sakti-sri, ternyata membela maman-ijonk, ataupun sebaliknya. Namun, hal yang dikhawatirkan adalah adanya pihak-pihak tertentu (dengan kepentingan tertentu tentu saja) memanfaatkan salah satu pihak untuk menyerang pihak lainnya. Tentu saja, statement tersebut tidak berdasar, namun berbagai kecurigaan tetap bermunculan. Seharusnya kita bisa menyikapi kecurigaan kita secara positif agar tidak berujung pada su’udzon kepada saudara sendiri, apalagi celaan-celaan yang tidak seharusnya keluar dari lisan-lisan berilmu.
Tarbiyah, sering kata itu muncul dalam celaan. Entah para pencela tahu artinya atau tidak, tarbiyah berarti pembinaan atau pendidikan. Tarbiyah seringkali distigmakan kepada golongan tertentu, dicap ekslusif dan kaku, tanpa berminat mencari tahu lebih dekat dan hanya senang mencerca. Terbelah dan sakit hati, sayang sekali, hanya karena paradigma yang keliru, mengambil sampel yang bahkan tidak memenuhi syarat secara statistika, lalu mengeneralisir segalanya. Harusnya kita semua tahu, bahwa hampir tidak pernah ada yang murni 100% di dunia, selalu ada pencilan, mereka yang berbeda, yang harus disikapi secara bijaksana.

Dendang Para Pemenang dan Balada Orang-Orang Kalah

Hasil Pemira UI telah diumumkan, kemenangan menyapa pihak maman-ijonk. Mereka yang memperoleh suara terbanyak mendapatkan amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Serta Alhamdulillah bagi mereka yang memperoleh suara lebih sedikit, terhindari dari amanah yang akan dihisab kelak di akhirat.
Para pemenang berdendang, semestinya bukanlah lagu kemenangan atau sorak tepuk tangan atau ramai ucapan selamat, juga pujian. Dendang para pemenang sejati adalah syukur serta mohon ampun. Para pemenang sejati tidak larut dalam kegembiraan kemenangan, mereka sadar akan tugas besar menanti di depan,

“maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (Qs. 110: 3)

Orang-orang kalah bukan mereka yang gagal dalam bertanding, hakikatnya mereka yang gagal untuk bangkit lagi adalah orang-orang kalah sesungguhnya. Balada orang-orang kalah adalah mereka yang terus terpuruk dalam kubangan penyesalan, mencari-cari kesalahan, dan menyalahkan segalanya. Balada orang-orang kalah adalah keluh kesah, para pecundang yang bercerita dan berkisah ke sana kemari tentang betapa sengsaranya hidup mereka, tentang kekalahan yang diakibatkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Balada orang-orang kalah adalah mereka yang putus asa dan melakukan langkah-langkah putus asa untuk memuasakan nafsu sendiri atau menyalahkan pihak lain.

Epilog
Sejatinya semua ini adalah proses demokrasi yang diamini negara ini. Ada pro juga kontra, namun para bijaksanawan, mereka yang berpikir dewasa, melihat segalanya dengan pikiran yang matang dan hati yang jernih. Perbedaan adalah khazanah kehidupan, mewarnakan hidup dengan warna-warni pengertian dan cinta, bagi wajah-wajah teduh pengharap ridho Ilahi.
Sungguh menjadi sebuah cita, ketika disapa dengan indah oleh Sang Maha Kuasa,

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surge-Ku.”(Qs. 89: 27-30)





Read More..

Saya tentang Pemira UI: Refleksi Sederhana dari Mata Awam

(Tulisan ini adalah bagian pertama dari dua tulisan)

The key to successful leadership today is influence, not authority.” (Kenneth Blanchard)

Prolog
Perhelatan PEMIRA (Pemilihan Raya) mahasiswa Universitas Indonesia tahun 2010 ini berakhir sudah. Banyak kejadian, dari awal pendaftaran peserta Pemira hingga detik-detik pengumuman hasil perhitungan suara. Sebagai miniatur sebuah negara, universitas menjadi laboratorium besar, tempat di mana para mahasiswanya mencoba kemampuan dirinya dalam berpolitik, berhukum, mencari relasi, hingga berstrategi (baik sehat atau tidak) besar untuk maju. Ada kepentingan-kepentingan di dalamnya? Tentu saja, karena memegang kebenaran pun berarti kita memiliki kepentingan untuk kebenaran dan kebaikan agar tetap bersinar, meski di dasar tergelap. Walau siapapun yang menang belum tentu benar, namun kebenaran pasti akan menang pada akhirnya.
Secara kasat mata, terdapat klasifikasi besar untuk latar belakang akademis seorang mahasiswa, IPA dan IPS. Entah sejak kapan ada dikotonomi seperti ini, namun batas-batas latar belakang akademis seorang mahasiswa tidak mampu menahan keinginan mereka untuk mempelajari dan menguasai bidang lainnya. Napak tilas beberapa ratus tahun ke belakang, saat Andalusia benderang, para cendikiawan rasa-rasanya tidak ada yang ahli hanya di satu bidang, namun di berbagai bidang ilmu yang berbeda. Mungkin saat ini, manusia terlalu mengerdilkan kemampuan otak mereka, entahlah. Penulis sendiri orang dengan latar belakang sains, meski tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau politik, tetapi sadar politik tetap diperlukan, agar tidak terjajah di negeri sendiri, agar paham kondisi masyarakat, agar tidak mudah dibodoh-bodohi apalagi ditipu. Banyak juga orang-orang dengan latar belakang sains justru gemilang di bidang perpolitikan, hukum, sosial, dan lain sebagainya.

Ada Keberpihakan, ada Dinamika

Netralitas hampir tidak pernah ada, kecuali untuk materi-materi kecil itu, nukleus dan teman sejenisnya. Pun inti atom stabil yang bersifat netral itu juga dibentuk dari materi-materi yang berpihak pada positif dan negatif. Kita selalu berpihak, entah pada orang lain atau golongan bahkan pada diri sendiri. Netralitas justru dapat menjadi hal yang salah, karena jika kita tidak berpihak pada kebenaran, pasti kita berpihak pada hal selain itu. Zona abu-abu tetap akan ada, tetapi tendensi akan selalu mengarahkan pada salah satu sisi.
Itu pergolakannya, itu dinamikanya. Kita tetap harus memilih, karena tidak memilih pun menjadi sebuah pilihan. Pertanyaannya maukah kita terlibat di dalamnya, menjadi pemain dan bukan penonton yang hanya bersorak riang jika menghibur dan bersorak riuh jika ricuh. Semangat-semangat merubah suatu keadaan menjadi lebih baik dan benar hanya dimiliki para pemain, mereka yang takut dan hanya menonton adalah pecundang sejati. Laiknya orang alim yang Allah azab terlebih dahulu akibat tidak tersentuh hatinya untuk bergerak merubah masyarakatnya yang berada dalam kedzaliman.

Pemira UI, The Candidates and Their Ways to get people’s hearts
Pemira tahun ini adalah kali keempat penulis mengikutinya. Selama ini tentu saja tetap ikut berpartisipasi, baik sebagai pemilih, campaign manager , tim sukses, atau bantu-bantu panitia pemira. Tahun 2010 ini, peserta untuk calon ketua dan wakil ketua BEM UI adalah pasangan Sakti-Sri dan Maman-Ijonk, anggota independen DPM UI ada 5 (saya lupa, tetapi salah satunya adalah Eko Aditya Rifai), MWA unsur mahasiswa adalah Jay dan Danar. Berbeda dari tahun sebelumnya, MWA unsur mahasiswa tidak dipilih melalui eleksi, tetapi berdasarkan fit and proper test dari anggota DPM UI.
Pembukaan apik dengan roadshow keliling kampus UI depok dan salemba, memperkenalkan siapa calon-calon yang lulus verifikasi. Walau tidak dengan diarak tetapi menjadi kilas-kilas pertama para kandidat untuk menyapa para calon pendukungnya. Selanjutnya, tentu saja masa kampanye, ‘menjual’ diri agar dipilih tentu hal yang lazim dilakukan. Kampanye calon anggota independen DPM UI tidak terlalu heboh, dengan hanya 5 calon dan masing-masing dari fakultas yang berbeda, mereka hanya perlu mengumpulkan 10% jumlah suara dari total mahasiswa yang memilih. Begitu pula dengan MWA unsur mahasiswa, tidak banyak yang terjadi, meski saat acara debat kandidat MWA unsur mahasiswa berlangsung cukup baik, tiap calon memperlihatkan kemampuan dan ‘pesona’ mereka masing-masing. Alur berpikir, pemilihan kata, intonasi, dan ritme berbicara menjadi poin penting yang memikat hati dalam setiap debat.

(bersambung...)

Read More..