Kamis, 23 Mei 2013

Menandai catatan, happy 4th anniversary Journal of Ramadhan

Tidak ada kue ulangtahun, perayaan dengan berbagai giveaway, bahkan pesta-pesta meriah malam malam. Bukan, memang kau kira perayaan ulangtahun orang kaya dan terkenal.

Well, alhamdulillah, masih diberi konsistensi untuk menulis catatan-catatan sedikit ilmu di kepala atau dari buku-buku yang dibaca, jurnal, paper, artikel yang sedang iseng-iseng gak ada kerjaan terbaca :p, dalam sebuah blog yang sejak Mei 2009 lalu terterbitkan di dunia maya, Journal of Ramadhan !

Tentu saja bukan sebuah blog populer, dari 4 tahun malang melintang di dunia maya, hanya tercatat 32 followers dan 56.345 views (berdasarkan statistik internal blogger) yang tanpa sengaja tersesat ke blog Journal of Ramadhan. Mungkin karena tulisan saya yang memang gak bagus atau topik yang tidak populer atau bahkan keduanya!. HAHAHA. Though I don't really care about it. Di titik awal ketika memutuskan untuk menulis blog, hanya ada keinginan untuk berbagi keingintahuan tentang alam kita, diri kita sendiri, bahkan mengintip sedikit misteri mengagumkan di dunia. Saya selalu percaya, dengan sudut yang tepat, topik-topik sains selalu akan semengagumkan cerita fantasi sebelum tidur, seindah roman cinta paling memukau, atau serenyah kisah metropop di novel-novel teenlit. Suatu hari nanti, saya yakin ada saat di mana kita dapat berbincang tentang kisah penemuan menakjubkan terbaru, sehangat kopi yang kita minum di warung kopi sebelah.

After all, terimakasih kepada para pembaca yang tanpa sengaja tersesat dan yang (jika ada) menanti blogpost terbaru tiap bulannya atau para silent reader dan tentu saja pembaca yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di bagian komentar. Trims and I'll keep writing or, oh well, blogging ;)

ganbarimashou !

Read More..

Selasa, 14 Mei 2013

mtDNA dan Jejak Ibu Peradaban

(sumber gambar: ENB 105)
Pada tahun 1987, sebuah penelitian menarik dilakukan oleh Rebecca L. Cann dari University of California, Barkeley terhadap sampel populasi dari 5 daerah geografis yang berbeda. Rebecca L. Can, dkk mengambil darah 147 orang dari total 5 daerah dengan kondisi georgrafis yang berbeda, mengekstrak DNA yang berada di dalam organel sel bernama mitokondria, melakukan peruntunan gen (genome sequencing), dan melakukan analisis (mapping) sekuens gen-gen tersebut. Kesimpulan yang didapat sungguh menarik, semua DNA mitokondria ini berasal dari satu garis keturunan yang sama, berasal dari seorang wanita, yang diperkirakan hidup sekitar 200.000 tahun lalu dan tinggal di Afrika. Sesosok Hawa?

DNA (Deoxyribonucleic acid), kita kenal sebagai suatu cetak biru manusia, di mana seluruh informasi ‘luar-dalam’ manusia dikodekan dalam suatu untaian berpilin ganda. Dalam sel manusia, DNA utama tersimpan rapi dalam suatu inti sel atau nukleus. Meskipun demikian, ada suatu organel sel, tempat dihasilkannya energi bagi sel, yang memiliki untaian DNA berpilin dan membentuk lingkaran, yaitu mitokondria. DNA mitokondria (mtDNA) menjadi salah satu alat istimewa dalam melacak asal usul manusia karena karakteristiknya yang justru berbeda dari DNA pada inti sel. Sementara DNA di inti sel didapatkan dari hasil kombinasi gen ayah dan ibu, mtDNA hanya diwariskan oleh ibu. Meskipun seorang pria memiliki mtDNA yang berasal dari ibunya, ia tidak akan bisa menurunkan mtDNA kepada keturunannya. Hal ini disebabkan, saat proses pembuahan terjadi, ketika sel sperma memasuki sel ovum, mitokondria sel sperma akan mengering dan mati. Alhasil, hanya mtDNA dari sel ovumlah yang akan diwariskan kepada keturunan selanjutnya. Selain karakter di atas, mtDNA memiliki karakteristik lain, seperti tingginya jumlah kopi gen mtDNA, rendahnya proses rekombinasi DNA, laju mutasi yang lebih tinggi.

Sebuah pertanyaan menarik adalah bila mtDNA diturunkan hanya melalui jalur ibu dan tidak ada kombinasi dari gen ayah, apakah hal itu berarti kita memiliki sekuens gen mtDNA yang sama? Jawabannya adalah tidak. Laju mutasi gen mtDNA lebih tinggi dari DNA pada inti sel, terutama mutasi titik, di mana terjadi perubahan pada pasang basa DNA di titik-titik tertentu. Laju mutasi ini tampaknya tetap dari generasi ke generasi, yakni sekitar satu mutasi tiap 3000 generasi, sehingga para peneliti dapat mengestimasikan berapa lama mutasi yang telah terjadi. Secara sederhana, kita dapat melacakan (tracing) pendahulu-pendahulu kita dengan menganalisis mutasi yang terjadi pada mtDNA. Bila kita mencocokkan sekuens mtDNA pada orang-orang yang hidup saat ini, maka garis kesamaan sekuens dapat terlihat yang berarti semakin sama sekuensnya menunjukkan semakin berkerabat orang tersebut. Lebih lanjut, pada mtDNA terdapat bagian-bagian khas tertentu pada sekuens gen yang mengalami mutasi dan cenderung menunjukkan spesifitas daerah geografis tertentu. Misal mutasi pada bagian (macrohaplogroup) L pada mtDNA menunjukkan mtDNA berasal dari daratan Afrika, sementara macrohaplogroup A, B, C, dan D berasal dari Asia. Setelah dilakukan sekuens gen mtDNA pada populasi di berbagai daerah geografis di dunia, mencocokkan berbagai kombinasi gen yang sedemikian kompleks dengan menggunakan simulasi komputer, arus migrasi populasi dunia dapat dibuat dan titik awal populasi tersebut berada pada dataran Afrika. Pada titik kesimpulan inilah, hipotesis mengenai adanya nenek moyang yang sama pada seluruh umat manusia diajukan.

Pendekatan pencarian asal-usul leluhur manusia dengan menggunakan mtDNA tentu saja memiliki kelemahan. Beberapa metode lain diajukan, seperti dengan menggunakan penanda kromosom-Y (yang spesifik hanya laki-laki) sebagai pelengkap analisis dengan metode mtDNA. Terlepas dari apakah anda pendukung teori evolusi atau tidak, kesimpulan bahwa kita berasal dari leluhur yang sama masih sangat kuat dan dapat diperdebatkan.


Bacaan lebih lanjut:
  1. Oppenheimer, S. Mitochondrial DNA: the eve gene. Tersedia di http://www.bradshawfoundation.com/journey/eve.html [diakses 14 Mei 2013]
  2. Pakendorf, B. dan M. Stoneking. (2005). Mitochondrial DNA and human evolution. Annu. Rev. Genomics Hum. Genet., 6, 165-183.
  3. Wilkins, A. How mitochondrial eve connected all humanity and rewrote human evolution. Tersedia di http://io9.com/5878996/how-mitochondrial-eve-connected-all-humanity-and-rewrote-human-evolution [diakses 14 Mei 2013]
  4. Witas, H.W. dan P. Zawicki. (2004). Mitochondrial DNA and human evolution: a review. Antrop. Rev., 67, 97-110.
     


Read More..

Selasa, 23 April 2013

Ikuti kata hati (?)

(sumber: cdn3.sbnation.com)
Sadar-tidak sadar, kita seringkali mengambil keputusan-keputusan strategis berdasarkan apa yang kita sebut sebagai ‘feeling’. Seiring dengan kebanggaan akan keputusan-keputusan logis yang dibuat, ‘feeling’ mempengaruhi keputusan kita lebih dari yang kita bayangkan.

Lupakan sejenak tentang pikiran alam sadar kita, tentang tempat di mana semua informasi yang bisa sepenuhnya kita akses serta kebanggaan atas kecerdasan-kecerdasan logika kita. Perhatikan diri kita pada sebuah cermin, tidak hanya padamuka-muka yang menampakkan kecantikan dan ketampanannya, tetapi lebih jauh masuk ke dalam, terdapat organ kenyal berwarna merah-jambu yang tersusun atas sel-sel yang mengatur dan beraturan, namun kompleks seperti alam semesta ini. Di pertengahan abad kedua puluh, para pemikir mulai menyadari bahwa sangat sedikit yang kita tahu tentang diri kita sendiri. Dan hal pertama yang kita pelajari dari seluruh untaian yang membangun siapa diri kita adalah sebuah pelajaran sederhana: Kebanyakan dari apa yang kita lakukan dan pikirkan dan rasakan tidak berada di bawah kontrol kesadaran kita. Segala hal yang kita sebut sebagai ‘kita’, kesadaran kita, merupakan sebagian kecil dari apa-apa yang dioperasikan oleh neuron-neuron yang saling bertautan membentuk sebuah organ-kenyal-merah-jambu.

Sebuah penelitian menarik dilakukan oleh Antoine Bechara dkk, mereka memberikan 4 buah dek kartu di mana para subjek diminta mengambil satu kartu dari keempat dek dalam satu kesempatan . Setiap kartu memiliki arti ‘mendapatkan uang’ atau ‘kehilangan uang'. Selang beberapa waktu, para subjek mulai menyadari setiap dek memiliki karakteristik, dua diantaranya berarti dek yang bagus (mendapatkan uang) sedangkan yang lainnya berarti dek yang jelek (kehilangan uang). Hal yang menarik adalah, para peneliti tersebut mengukur respon konduksi kulit, yang mencerminkan aktivitas saraf otonom manusia. Para peneliti melihat sesuatu yang menarik: sistem otonom menyadari karakteristik dek dengan baik sebelum alam sadar subjek menyadarinya, yaitu saat subjek akan mengambil dek yang jelek, ada aktivitas yang tercatat pada pengukur respon konduksi kulit yang menandakan sebuah tanda peringatan. Bagian-bagian tertentu otak subjek nampaknya menyadari adanya akibat dari mengambil suatu dek tertentu sebelum kesadaran subjek mengenai mana dek yang bagus atau buruk timbul. Subjek mulai memilih dek yang bagus sebelum mereka secara sadar mengetahui mengapa. Hal ini berarti pengetahuan yang kita sadari atau di alam sadar kita pada situasi tersebut ternyata tidak terlalu diperlukan untuk mengambil keputusan yang baik.

Beberapa studi lain nampaknya berkesimpulan bahwa keadaan atau respon tubuh sebagai bagian dari sistem otonom kita membentuk perasaan yang mempengaruhi bahkan membimbing pengambilan keputusan kita. Tanpa pernah kita sadari, insting bertahan hidup manusia mempengaruhi kondisi output yang terjadi pada tubuh. Ketika suatu kondisi yang buruk terjadi, secara otomatis otak kita mempengaruhi seluruh organ tubuh (denyut jantung, keringat, kontraksi otot, pupil mata, dsb) untuk menyimpan ‘perasaan fisik’ tersebut dan ‘perasaan’ ini kemudian diasosiasikan dengan kondisi yang sedang terjadi. Ketika suatu saat kondisi tersebut kembali terlintas di benak kita, otak secara otomatis menjalankan simulasi yang akan terjadi, membangkitkan kembali perasaan fisik yang kita alami sebelumnya dan kemudian perasaan tersebut atau praduga sebelumnya mempengaruhi keputusan yang akan kita ambil. Dengan kata lain, kondisi tubuh yang telah terekam sebelumnya menyediakan apa yang kita sebut sebuah firasat yang kemudian mempengaruhi sikap yang kita ambil. Sehingga seringkali, kita mengambil keputusan atau mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum kesadaran kita sampai pada mengapa kita melakukan hal tersebut.

Jika kita tidak bisa selalu mengakses pengetahuan dari alam bawah sadar, kemudian bagaimana agar kita dapat mengambilnya? Idenya tentu saja sederhana untuk mengetahui apa yang firasatmu coba katakan. Jika suatu ketika kamu berada dalam dua pilihan sulit dan bingung apa yang harus dipilih, jentikkan sebuah koin ke udara. Setiap sisi koin mewakili pilihan yang hendak diambil. Hal yang paling penting adalah feeling saat koin mendarat di tanganmu. Jika secara misterius kamu merasakan perasaan lega pada hasil dari jentikan koin maka itulah pilihan yang tepat. Jika, sebaliknya, kamu merasakan suatu hal yang konyol dari hasil sisi jentikan koin, maka itu adalah pertanda bahwa sebaiknya kamu memilih opsi lainnya. Selamat mencoba !

Untuk yang ingin tahu lebih banyak:
Eagleman, D. (2011). Incognito: the secret lives of the brain. New York: Vintage Books


Read More..

Senin, 04 Maret 2013

Quran and Babies

(sumber: guardian.co.uk)
‘Mozzart Effect’ masih menyediakan beragam kontroversi soal kebenarannya dalam meningkatkan spatial-temporal reasoning, sebuah kecerdasan yang esensial dalam bagaimana cara kita berpikir pada matematika dan sains 1. Berbagai studi mengenai perkembangan kecerdasan manusia semenjak di dalam rahim mengindikasikan adanya faktor eksternal yang ikut serta berperan 2. Sepertinya bukan menjadi perdebatan lagi bahwa kecerdasan manusia dipengaruhi oleh nature dan nurture. Studi ‘efek peningkatan kecerdasan’ masih terus dipelajari lebih lanjut, mengingat topik ini tidak hanya menjadi hal yang menarik bagi para peneliti tetapi juga begitu hangat terutama di kalangan orangtua. Bagaimanapun juga, studi mengenai ‘Mozzart Effect’ pada janin, paling tidak, membuktikan bahwa stimulus suara (auditori) dapat diterima semenjak manusia berada dalam rahim. Bagaimana dengan Quran? Bila para (calon) ayah dan bunda memberikan stimulus bacaan Quran semenjak dini pada anak-anak mereka. Nampaknya belum ada studi mengenai hal tersebut (atau mungkin saya-nya yang kurang telaten mencari literatur), namun saya akan mencoba membaginya kepada anda, (calon) ayah-bunda, bahwa stimulus auditori dapat diterima oleh manusia semenjak di dalam janin. Bahwa mencoba memberikan stimulus berupa bacaan ayat Quran merupakan hal yang layak untuk dicoba.

Suara bunda suara dunia
Coba bayangkan anda berada dalam kondisi gelap gulita, sendiri, dalam ruangan yang hanya sebesar tubuh anda, tenggelam dalam air di dalamnya. Itulah rahim, tempat pembentukan awal fisik dan psikis manusia. Dimulai dari proses pembuahan, perubahannya menjadi zigot, terus-menerus sel tersebut membelah secara biner, membentuk fungsi-fungsi yang lebih spesifik, hingga akhirnya terciptalah aspek-aspek yang membentuk manusia hingga saat ini. Hal yang menarik tentu saja, janin dapat menangkap stimulus auditori di dalam ruang gelap ini semenjak trimester akhir kehamilan dan mengingat stimulus ini hingga beberapa hari setelah kelahiran 2,3. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Nottingham pada ibu-ibu hamil dengan usia kehamilan 37-42 minggu menunjukkan janin yang diberikan stimulus musik memberikan respon yang sama dengan saat dia telah berumur 5 hari setelah kelahiran. Para peneliti mengukur respon kecepatan denyut jantung subjek saat masih berada di dalam rahim dan setelah dilahirkan 2. Tentu saja studi ini tidak memberikan kesimpulan bahwa efek dari stimulus tersebut akan bermanfaat dan berjangka panjang atau tidak. Akan tetapi garis kesimpulan dapat ditarik, bahwa janin dapat merespon stimulus auditori yang diberikan.

Pertanyaannya selanjutnya adalah, bagaimana janin dapat menangkap stimulus tersebut. Secara garis besar, suara dapat sampai ke organ pendengaran janin lewat dua cara, gelombang suara menjalar melalui cairan amnion (ketuban) dan sampai ke bagian dalam telinga, membran timpani; atau gelombang suara menjalar melalui vibrasi tulang tengkorak janin sehingga sampai ke telinga bagian dalam 4. Beberapa studi, salah satunya oleh Ockleford, dkk, menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir lebih memilih suara bundanya dibandingkan suara-suara lain 5. Begitu pula dengan jenis suara, bayi lebih memilih suara yang berupa ucapan (speech) dibandingkan dengan tanpa ucapan (hanya musik atau nada) 6. Nampaknya, janin lebih familiar dengan suara bundanya sendiri dibandingkan dengan suara-suara lainnya. Bunda, sejak dalam masa kehamilan, merupakan penghubung antara suara sang bayi dan suara dunia.

Saran-saran
Apa yang bisa kita lakukan dalam mengoptimalkan pemberian stimulus bacaan Quran sejak berada dalam janin? Jawabannya jelas, suara bunda adalah suara ternyaman untuk bayinya. Stimulus bacaan Quran terbaik yang bisa diberikan kepada sang janin adalah melalui suara bundanya sendiri. Terutama menjelang trimester akhir kehamilan, di mana organ pendengaran telah terbentuk, intensitas bacaan Quran bunda perlu dikonsistenkan bahkan ditingkatkan jika perlu. Mendapat stimulus selain dari suara bundanya memang tidak menjadi masalah, tetapi menurut hemat saya, suara bunda akan lebih diingat oleh sang janin dibandingkan suara lainnya.

Memasuki masa emas
Dengan menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging), Dehaene-Lambertz beserta rekan-rekannya, mencoba mengukur aktifitas otak bayi-bayi berumur dua bulan saat diberi stimulus berupa suara bundanya dan suara musik sehingga dapat diketahui bagian-bagian mana dari otak bayi yang aktif oleh stimulus suara tersebut 7. Hasilnya bisa diduga, bayi lebih merespon suara bunda dibanding suara musik atau suara orang asing. Area lobus temporal sebelah kiri serta korteks prefrontal kiri dan kanan merupakan bagian yang terstimulasi oleh suara bunda. Artinya, suara bunda memiliki pengaruh dalam stimulasi bagian otak yang berperan dalam komunikasi dan pembentukan bahasa serta bagian yang berperan dalam proses emosional dan intelegensia bayi. Studi ini juga menemukan bahwa bayi-bayi akan lebih baik dalam mempelajari kata yang diucapkan oleh bundanya dibandingkan oleh suara orang lain. Pada masa emas 0-5 tahun, bagian-bagian yang berperan dalam stimulus auditori akan berkembang pesat melalui stimulus suara bunda.

Saran-saran
Nampaknya, suara bunda memegang peran kunci dalam perkembangan bahasa dan emosional bayinya. Stimulus bacaan Quran yang dilakukan oleh bundanya sendiri memegang peranan penting dalam membentuk penghargaan anak akan bacaan Quran. Meskipun demikian, peran serta seluruh anggota keluarga akan lebih mengoptimalkan tumbuh-kembang anak bersama Quran. Meskipun terlalu awal, kita mungkin dapat mengambil hipotesis bahwa kecintaan anak pada Quran memang berawal dari titik mulanya, sang Bunda.

Catatan-catatan
Hingga tanda titik terakhir yang berada di tulisan ini dibubuhkan, penulis sendiri belum menikah dan tidak mempunyai anak (bukan curhat rekan-rekan :p), oleh karenanya saran-saran yang dibuat hanya berada dalam tataran teoritis. Aplikasi yang dapat dilakukan tentunya akan sangat beragam dan bisa menjadi sangat kreatif. Nah (calon) ayah-bunda, selamat mencoba !

Sumber-sumber:
  1. Habe, K. dan N. Jausovec. (2003). Mozart effect – reality or science fiction? Horizon of psychology, 12(4), 23-32.
  2. James, D.K., et.al. (2002). Fetal learning: a prospective randomized controlled study. Ultrasound obstet gynecol, 20, 431-438.
  3. Mampe, B., et.al. (2009). Newborn’s cry melody is shaped by their native language. Current biology, 19, 1994-1997.
  4. Sohmer, H., et.al. (2001). The pathway enabling external sounds to reach the fetal inner ear. Audiology & Neuro-Otology, 6(3), 109-116.
  5. Ockleford, E.M., et.al. (1988). Responses of neonates to parents’ and other’s voices. Early hum dev, 18(1), 27-36.
  6. Hespos, S.J. Language Acquisition: when does the learning begin? Current biology 17(16).
  7. Dehaene-Lambertz, G., et.al. (2010). Language or music, mother or mozzart? Structural and environmental influences on infants’ language networks. Brain & language 114(2), 53-56.

Read More..

Senin, 25 Februari 2013

Sesederhana Telur, Apel, dan Pemandian Umum

(sumber gambar: lightbulbcentral)
Christoper Columbus pulang dari pelayaran melelahkan menemukan daratan di seberang laut Atlantik. Disambut suka cita oleh rakyat Spanyol dan rajanya, didengungkan sebagai pahlawan pembawa dunia baru bagi Spanyol. Pesta perayaan dibuat, ditengah makan malam pelaut-pelaut hebat berkata nyinyir, “Kau telah menemukan dunia di luar samudra kita, lalu ada apa dengan semua itu? Siapa pun dapat menyebrangi lautan dan menemukannya.” Alih-alih menjawab, Columbus mengambil sebutir telur dan menantang semua hadirin untuk membuatnya berdiri tanpa bantuan apa pun. Setiap orang mencoba, telur tetap berputar dan jatuh, gagal memenuhi tantangan, dan mereka mengatakannya tidak mungkin. Columbus melakukannya, meretakkan sedikit pada bagian bawah telur hingga menjadi rata dan mendirikannya dengan mudah. “Apa yang lebih mudah dari melakukan hal yang kalian anggap tidak mungkin?”, ucap Columbus, “Siapa pun dapat melakukannya.”

Kesadaran seringkali merupakan pemicu dari segalanya. Hal-hal sederhana, inspirasi-inspirasi mengagumkan, ide-ide cemerlang selalu berawal dari kesadaran yang menyentak diri manusia. Kesadaranlah yang membedakan antara inovator dengan orang biasa dan para filsuf dengan rakyat jelata. Apel jatuh mungkin hanyalah sekedar apel yang jatuh dalam pandangan orang lain, namun tidak bagi Newton. Ada sesuatu yang lebih besar terkuak di dalamnya, sebuah kesadaran muncul, menyentak Newton. Apel berada dalam posisi diam di atas pohon, jatuh dengan kecepatan yang semakin cepat ke bawah. Pada akhirnya, hanya Newton lah yang tersadarkan, bukan petani atau sembarang orang yang melintasi pohon apel. Dan dari kesadaran ini muncul ide cemerlang tentang alam semesta, gaya gravitasi.

Orang-orang menyebutnya insight, pemahaman akan suatu kebenaran yang tersembunyi. Ide-ide yang muncul seringkali sederhana, namun menuju ide tersebut adalah hal yang lain. Kisah klasik yang meskipun diragukan kebenarannya memberikan kita contoh, kisah penemuan hukum Archimedes yang merupakan prinsip sederhana yang dapat dimengerti ke siswa kelas menengah pertama. Dari semua orang yang berendam dalam pemandian umum mungkin hanya Archimedes yang menyadarinya. Columbus, Newton, Archimedes melihat sesuatu yang berbeda dari suatu hal yang dianggap biasa. Mereka memberikan kita contoh ide-ide sederhana dapat berakibat besar dan ditemukan dengan cara-cara yang tidak biasa. Penemuan-penemuan besar terkadang diinspirasikan dari sesuatu yang sederhana. Observasi, telaah, analisis, percobaan-percobaan membuka yang tersembunyi dari hal-hal sederhana.

Bahwa inspirasi ada di sekitar kita dan menunggu untuk ditemukan adalah keniscayaan. Hal yang kita perlukan mungkin sekedar melihat dari sisi yang berbeda, menemukan maksud dari suatu fenomena, atau bahkan berbagi dengan orang lain. Yakinlah, kita akan bisa menemukan keunikan dari kepolosan, ketakjuban dari ketidakbiasaan, dan keindahan dari hal-hal sederhana.

Read More..

Minggu, 27 Januari 2013

Negative result is not a failure

(sumber: oasisforya.blospot.com)
Eksperimen-eksperimen selalu berangkat dari sebuah pertanyaan, para peneliti kemudian mengandaikan hasilnya dengan membuat hipotesis, mereka melakukan percobaan-percobaan dan mendapatkan hasil. Percobaan-percobaan, bukan satu tetapi banyak percobaan, sehingga dapat menjawab persoalan yang membentang. Hal yang menarik tentu saja betapa satu jawaban dapat menimbulkan sepuluh pertanyaan lanjutan. Dan apa yang kita dapat dari siklus tak terbatas ini adalah apa-apa yang kita lihat sekarang, dari microchip berukuran mini hingga spaceship penjelajah angkasa.

Ada sebuah adagium terkenal dalam dunia riset, “hasil negatif bukanlah sebuah kegagalan”. Hasil positif dan negatif adalah paket dalam semua hal di dunia ini. Kita tak pernah bisa mengharapkan data yang selalu bagus, linearitas yang selalu 0.9999, atau hasil yang selalu optimal. Kegagalan pasti ada pada setiap eksperimen, pencilan sering ada dalam setiap statistik, dan hasil negatif sangat mungkin muncul dalam setiap assay, namun bagaimana cara pandang terhadap setiap kegagalan, data pencilan, dan hasil negatif merupakan hal yang esensial. Karena setiap hasil negatif, setiap kegagalan yang dialami tidak lain merupakan penemuan akan suatu cara untuk tidak membuat suatu tujuan tercapai. Sebuah momen pembelajaran langsung yang tak didapat di bangku kuliah. Sehingga manusia akan terus-menerus berusaha, trial and error, mencapai hasil yang diinginkan.

Hasil negatif tidak perlu menjadi suatu kegagalan, tidak tercapainya cita tak pernah perlu menjadi akhir kehidupan. Karena setiap kita memiliki pilihan untuk mengambil jalan lain, jika kamu masih kuat melawan tantangan, lawanlah sekuat tenaga, jika takdir memilihkan yang lain maka ambillah. Beranjak dari suatu kegagalan akan cita juga adalah keberanian, berani menyusun ulang kembali cerita cita, berani menjalani langkah yang baru. Dan hal itu bukanlah tanda penyerahan !


Read More..

Jumat, 28 Desember 2012

As Simple as...

(sumber: fanpop.com)
Life is as simple as if you’re strong you’ll survive yet if you’re weak you’ll die. The survival of the fittest.

Seleksi alam (natural selection) menjadi topik hangat dalam dunia evolusi mahluk hidup sejak diusulkan oleh Darwin pada abad ke-19. Jika teori evolusi adalah sebuah mobil maka seleksi alam merupakan mesinnya. Apa yang kemudian diusulkan oleh Darwin merupakan hasil pengamatannya di Pulau Galapagos, tempat bersemayam hewan-hewan langka dan menakjubkan. Tetapi, saat ini kita tidak akan berbicara mengenai evolusi, karena pertama saya bukan ahli dalam bidang ini, kedua saya keberatan dengan hipotesis kera adalah nenek moyang manusia. Jadi kita pinggirkan dahulu teori evolusi dalam perdebatan-hingga-akhir-zaman. Mari kita berbicara mengenai ide universal di alam semesta, mau tidak mau, anda akan dibuat setuju dengannya.

Ada sebuah prinsip universal yang terjadi di dunia ini, dari hutan rimba di pedalaman Kalimantan yang mulai menghilang hingga di kantor eksekutif papan atas. Seleksi alam, memegang prinsip siapa yang paling dapat beradaptasi dengan lingkungannya, maka dialah yang paling bertahan. Kau yang kuat bertahan terhadap tantangan kehidupan akan selamat, hidup, dan melanjutkan generasi. Sementara mereka yang tak sanggup menanggung beban perubahan akan terkikis, tersingkir dari arena kehidupan.

Hidup memilih siapa yang pantas untuk melanjutkan hidup, maka buktikanlah bahwa kau cukup berharga untuk hidup. Kita diseleksi setiap hari, setiap detik-menit-jam kita bernapas melalui ujian dalam berbagai bentuk. Hal yang menjadi pertanyaan utama adalah apakah kita lulus? Ujian mengingatkan kita bahwa mereka yang tak bisa mencapai batas minimum kelulusan akan gagal. Ada ambang yang tercipta di dalam sebuah seleksi dan menjadi keharusan kita untuk melewati ambang tersebut.

Bersyukurlah kita dilahirkan sebagai manusia. Kau tahu? Manusia memiliki keterbatasan besar dalam menundukkan lingkungan secara langsung. Kita tidak memiliki penglihatan dan pendengar setajam serigala atau cakar yang dengannya dapat melumpuhkan makanan. Kita tak pernah sekuat gajah atau banteng atau badak sehingga dapat menerjang segala sesuatu dengan mudah. Tetapi manusia diwarisi gumpalan massa seperti gel di dalam rongga tengkorak mereka, otak. Kemampuan manusia untuk belajar dari kejadian masa lalu, mengolahnya, kemudian membuat hal baru atau memprediksi masa depan berdasarkan pengalaman tersebut merupakan kekuatan mahadasyat. Kecerdasan manusia adalah sumber kekuatan terbesar. Dengannya manusia menjadi mahluk yang paling mungkin lolos dalam upacara seleksi alam. Manusia merekayasa apapun, alat-alat sehingga kita dapat menciptakan peradaban, benda-benda sehingga kita dapat menundukkan darat, laut, dan udara, bahkan merekayasa kebenaran untuk berbagai kepentingan. The survival of the fittest, kecerdasan manusia membuatnya paling cakap dalam beradaptasi dengan kehidupan.

Is that bad to be weak?
Sayangnya, jawaban dari pertanyaan di atas adalah ‘Ya’. Tak pernah diragukan lagi, mereka yang lemah akan tersingkir dari percaturan hidup. Bapak-ibu penjual yang digusur misalnya, kelemahan akan kekuasan membuat mereka menjadi tak berdaya menghadapi penguasa. Tidak ada kekuatan menawar, mereka akhirnya tergusur tanpa sempat melawan atau melawan dengan sedikit. Pada kenyataanya kau harus kuat untuk bisa bahagia. Kuat mengatasi kesengsaran akan membawa bahagia, begitu pula kau harus kuat dalam berbahagia. Mereka yang tidak kuat berbahagia bisa jadi merupakan penghuni di salah satu kamar rumah sakit jiwa. Senang, sedih, susah, galau, nelangsa harus dihadapi dengan kuat atau kau akan menjadi lemah, tersingkir, dan tak berdaya.

Kuat bukanlah soal kekuasaan, kekuatan, kelebihan, apapun itu. Kita berbicara mengenai adaptasi, kekuatan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Maka selalu ada kesempatan bagi si lemah untuk bertransformasi menjadi kuat. Adaptasi, si lemah yang mampu beradaptasi sehingga bisa selamat pada dasarnya tidaklah lemah, karena dia sanggup menjawab tantangan kondisi. Apa-apa yang kau sebut sebagai membantu orang lemah pun dapat menjadikan mereka kuat dan bertahan. Bahkan Tuhan pun turut campur tangan dalam menguatkan orang-orang lemah. Secara substansial, siapapun yang lemah akan tersingkir kemudian mati dan yang kuat akan bertahan dan melanjutkan generasi. Jangan pernah berpikir hanya sekedar hidup seadanya, citakanlah untuk menjadi berkecukupan sehingga paling tidak kau akan berpikir untuk terus maju. Fokuslah ke target tertinggi bukan ke batas terendah.


Read More..