Rabu, 18 Juli 2012

The Followership

Great leaders will not guarantee an optimal organization, but great followers will come close (Todd Nielsen).

Sebuah sesi inspirational sharing dengan CEO General Electric Indonesia, Pak Handry Satriago, membuat saya me-review kembali peran pemain-pemain utama dalam sebuah organisasi, which is its leader and followers. Kita sering mendengarnya, bahkan sudah banyak buku-buku yang membahas mengenai leadership, bagaimana anda menjadi pemimpin yang berpengaruh atau seni-seni memimpin dan mempengaruhi orang lain. Mungkin anda juga pernah mengikuti latihan-latihan kepemimpinan dari yang wajib anda ikuti ketika masuk ke sebuah organisasi hingga leadership training yang berharga jutaan rupiah. Yes, all of us are really familiar with term of leadership, yet not about followership.

Being a leader promises many great advantages, oleh karenanya posisi ini begitu diinginkan oleh kita semua. Dan bagaimana sebagian besar dari kita memandang posisi pengikut atau anak buah? Posisi tidak penting yang bekerja manut-manut mengikuti arahan pemimpin dan tidak perlu ‘macam-macam’. Banyak dari kita memandang posisi pengikut adalah posisi yang tidak penting, tidak prestige dan ‘cukup tahu’ saja. Padahal peran leader and follower selalu ada berdampingan. Dalam hirarki sebuah perusahaan saja, seorang supervisor adalah leader bagi stafnya dan follower bagi middle manager. Demikian pula dengan middle manager yang merupakan seorang follower bagi top manager dan seterusnya. Indeed, we are a follower in the very beginning.

Sekarang sudah banyak disadari betapa strategisnya peran pengikut dalam sebuah organisasi. Kehadiran pemimpin yang luar biasa memang merupakan hal yang tidak tergantikan, tetapi tanpa kehadiran pengikut yang baik tidak akan pernah ada kesuksesan yang berarti dalam suatu organisasi. Berbicara mengenai kuantitas saja, tentu lebih banyak jumlah pengikut dibanding jumlah pemimpin dalam suatu organisasi. Ingat Tahun 1998? Turunnya Presiden Soeharto adalah contoh nyata betapa besar potensi pengikut (rakyat dalam kasus 1998 ini) dalam mempengaruhi tatanan organisasi hingga mampu menurunkan pemimpinnya. Kita sekarang melihat dari sudut pandang yang berbeda, sudut pandang followers, di mana ternyata kesuksesan suatu organisasi yang dibawa oleh seorang pemimpin amat dipengaruhi oleh kualitas pengikut dan bukannya kualitas pemimpin itu sendiri.

Setiap pemimpin terbaik selalu memulai dari tingkat pengikut, paling tidak mereka pasti mengikuti atau terinspirasi pada gaya-gaya kepemimpinan orang lain. Karenannya seorang pengikut yang baik akan dengan mudah berubah menjadi seorang pemimpin yang baik. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah seperti apa pengikut yang baik. Saya tidak persis tahu, tetapi jika mengutip pendapat Pak Handry Satriago, a good follower adalah pengikut yang tidak manut-manut saja melainkan pengikut yang mau memberi pendapat/masukan bahkan berani berseberang pendapat dengan pemimpinnya demi kemajuan organisasi. Mereka memberikan feedback kepada pemimpinnya dan bersama-sama memperbaiki kinerja organisasi.

Ada sebuah contoh menarik, suatu ketika sebuah perusahaan farmasi multinasional memilih seorang CEO barunya yang tidak berlatar belakang farmasi, melainkan dari bidang marketing. CEO baru ini, dengan segala keahliannya, ingin mengeluarkan produk baru yang berpotensi besar untuk dipasarkan secara global, maka bertanyalah ia kepada para scientist-nya. Pada waktu itu ada satu produk obat anti inflamasi yang telah disetujui oleh FDA. CEO ini bertanya apakah obat ini berpotensi besar untuk dipasarkan dan yes, jawab para scientist-nya. Maka dengan segala jurus-jurus marketing-nya, CEO ini berhasil memasarkan produk obat anti inflamasi ini dengan baik. Hanya saja, lama-kelamaan muncul semakin banyak komplain konsumen akibat efek sampingnya sehingga produk obat ini harus dikaji ulang keamanannya. Hal yang mengejutkan adalah ternyata para scientist perusahaan tersebut sudah mengetahui akan potensi efek samping obat ini. Apa intinya? pengikut yang hanya menjadi yes man dan ikut begitu saja apa permintaan pemimpin ternyata tidaklah terlalu bagus. Para pengikut perlu ikut paham visi dan misi dari suatu organisasi dan bersama pemimpinnya membangun organisasi. Tentu ada bedanya dengan para pengeritik, a great follower mengambil inisiatif, belajar, dan ikut terlibat aktif dalam seluruh aktivitas organisasi serta memberikan kinerja terbaik mereka.

at last but not least, I love the quote from Pak Handry Satriago which is said, “a good leader won’t bring any successes to the organization without good followers, otherwise a bad leader won’t do bad things with good followers”.



Read More..

Senin, 09 Juli 2012

Dilema Kemandirian Obat Indonesia

Berbicara mengenai kesehatan manusia, maka kita membicarakan masa depan suatu komunitas atau bahkan suatu bangsa. Kesehatan adalah aspek pendukung utama keberlangsungan suatu bangsa. Generasi yang berkualitas tidak akan bisa dihasilkan tanpa dukungan faktor kesehatan yang memadai. Anda bisa membayangkan betapa mudahnya wabah penyakit menghancurkan suatu bangsa. Kita melihat betapa virus AIDS melumatkan negara-negara di Benua Afrika atau wabah malaria yang menyerang negara-negara di Asia Tenggara sehingga memakan banyak korban nyawa. Sebuah kehilangan besar bagi suatu bangsa ketika para penerus mereka harus menjadi korban dari suatu wabah penyakit. Kesehatan boleh dibilang merupakan faktor pendukung utama kemajuan suatu bangsa. Tanpanya, kita tidak akan bisa berbicara mengenai pendidikan tinggi atau teknologi maju ataupun mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki suatu bangsa.

Berbicara mengenai faktor pendukung kesehatan suatu bangsa, maka berbagai aspek dapat diulas di dalamnya. Paling tidak saya melihat tiga hal yang menjadi pendukung utama kesehatan suatu bangsa: kualitas tenaga kesehatan, sistem kesehatan dan aplikasinya serta obat dan ketersediaanya di masyarakat. Dua pertama tidak akan saya bahas di esai ini, saya hanya akan membahas mengenai obat dan bagaimana kemandirian akan ketersediaan obat sangat penting bagi masa depan suatu bangsa. Seperti pendapat umum bahwa obat, baik obat regular maupun tradisional, menjadi tumpuan pertama penyembuhan suatu penyakit. Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita saat ini memiliki ketergantungan dengan suatu tablet atau kapsul dibandingkan dengan gaya hidup sehat. Di zaman saat semua orang mengingkan hal-hal yang instan, obat merupakan jawaban terbaik untuk mengatasi kondisi tidak menyenangkan yang kemudian kita sebut sebagai sakit. Dari sini anda dapat melihat bahwa kebutuhan obat yang akan sulit surut di masyarakat menjadikannya pasar yang sangat potensial. Mengendalikan pasar obat bisa jadi mengendalikan tingkat kesehatan masyarakat atau bahkan pembangunan suatu bangsa.

Berbicara mengenai Indonesia, di sini pemerintah mencoba mengendalikan harga obat melalui program obat generik. Namun, ini hanyalah solusi yang menyembuhkan gejala, bukan sumber penyakitnya. Harga obat yang mahal menjadi penyebab utama mahalnya biaya kesehatan di sini. Mengapa harga obat dapat menjadi mahal? Biaya produksi obat menjadi salah satu penyebabnya. Ya, hingga saat ini bahan baku obat Indonesia (baik bahan aktif maupun bahan tambahan) hampir 96% diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, harga obat sangat terpengaruh dari nilai mata uang kita dibandingkan dengan mata uang asing serta kondisi dari negara yang mengekspor bahan baku obat tersebut. Di satu sisi, kita ingin agar harga obat dapat ditekan, di sisi lain para pelaku usaha (industri farmasi) harus memperhitungkan keberlanjutan usahanya.

Sesungguhnya berbicara mengenai ketersediaan obat di masyarakat merupakan hal yang tidak sederhana. Obat boleh jadi tersedia di pasaran namun bila masyarakat tidak mampu membelinya, maka hal tersebut menjadi percuma saja. Tuntutan ditekannya harga obat juga tidak sesederhana yang terlihat, industri farmasi juga harus mengimbangi antara ongkos produksi dan laba yang didapat. Sama saja jika harga obat tidak dapat menutupi ongkos produksi, maka obat pun tidak bisa diproduksi. Produksi bahan baku obat dalam negeri bisa merupakan suatu solusi juga. Tetapi selama efisiensi produksi bahan baku dalam negeri tidak sebaik produksi luar negeri, maka harga bahan baku produksi dalam negeri dapat lebih mahal daripada produksi luar negeri. Lagi-lagi, ini persoalan investasi ke industri bahan baku obat nasional. Jika teknologinya ingin dikembangkan maka investasi dalam jumlah besar harus dilakukan.

Bagi saya pribadi, produksi bahan baku dalam negeri harus segera dilakukan, meskipun masih belum sempurna. Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada impor bahan baku obat dari luar negeri. Komitmen besar harus dimiliki oleh setiap stakeholder untuk menciptakan industri bahan baku obat nasional.


Read More..

Minggu, 03 Juni 2012

Mars, Venus dan Bumi

Ada sebuah eksperimen menarik (sayang saya tidak bisa menelusuri literatur aslinya), melibatkan empat kelompok subjek eksperimen, dimana perbandingan jumlah pria dan wanita seimbang dalam setiap kelompok. Para peneliti menciptakan seorang vice president fiktif dan meminta tiap kelompok memberi peringkat kinerja tokoh fiktif itu. Setiap kelompok diberitahu kinerja tokoh fiktif tersebut, tapi kelompok pertama diberi tahu bahwa tokoh fiktif tersebut adalah seorang pria, sebaliknya kelompok kedua diberitahu bahwa sang vice president adalah seorang perempuan. Kelompok pertama menilai pria tersebut sebagai sosok yang ‘sangat kompeten’ dan ‘menyenangkan’, sedangkan kelompok kedua menilai vice president, yang diberitahu bahwa dia adalah seorang perempuan, sebagai ‘menyenangkan’ tetapi ‘tidak kompeten’. Semua variabel sama, hanya gender yang dipersepsikan saja yang berubah.

Kelompok ketiga diberitahu bahwa sang vice president adalah seorang pria bintang, berprestasi cemerlang dan kariernya sedang meroket di perusahaan. Kelompok ini menilai bahwa pria tersebut sebagai ‘sangat kompeten’ dan ‘menyenangkan’. Sebaliknya kelompok keempat diberitahu bahwa sang vice president adalah seorang perempuan bintang yang juga sedang meroket menjadi eksekutif puncak. Sang perempuan bintang dinilai sebagai, ‘sangat kompeten’, tapi tidak dianggap ‘menyenangkan’.

Apa inti dari penelitian di atas ? Terlepas dari validitasnya, bias-bias gender benar terjadi di dunia ini dan seringkali menyakitkan orang dalam kehidupan nyata. Banyak kebingungan-kebingungan mengenai pria dan wanita, soal interaksi mereka juga posisi di antara mereka. Selangkah lebih maju oleh ahli ilmu jiwa modern Amerika, John Gray, mengibaratkan pria dan wanita berasal dari planet yang berbeda, sang pria berasal dari Mars dan sang wanita berasal dari Venus. Tetapi, kita tidak akan berkutat pada kebingungan perbedaan yang memang ada (atau yg sengaja diadakan) dan persamaan yang juga ada (ataupun diada-adakan), mari kita mulai selami makna hal-hal tersebut. Dan ikat sabuk pengaman anda, karena kita akan memulainya dari ukuran nano, tempat perbedaan pria-wanita berasal.

The X’s gene

Soal bagaimana kita menjadi pria dan wanita, jawaban singkatnya adalah takdir ! Tenang, ini bukan tentang mempertanyakan kenapa kita terlahir sebagai pria atau wanita, tetapi mengilhami apa yang ada di balik penciptaan tersebut. Tentunya sebagaimana yang diajarkan pada kelas biologi, identitas jenis kelamin diawali dari antusiasme jutaan sel sperma yang memperebutkan satu sel telur berukuran besar. Kira-kira perbandingan kedua sel tersebut adalah seperti ukuran matahari versus ukuran pesawat Enterprise-nya NASA. Ya, dan kita tercipta dengan mewarisi 46 untai DNA yang disebut sebagai kromosom, dengan masing-masing 23 kromosom berasal dari ayah dan 23 lainnya berasal dari ibu. Empat puluh enam untai DNA dan dua diantaranya adalah kromosm seks yang kemudian kita menyebutnya kromosom X dan Y.

Sederhananya, jika anda mendapat dua kromosom X maka anda akan menjadi perempuan, sementara jika anda mendapat satu kromosom X dan satu kromosom Y maka anda akan berubah menjadi pria. Artinya, prialah yang menentukan jenis kelamin anak, maka jangan salahkan sang istri jika anda tidak bisa mendapatkan anak laki-laki. Hal yang menarik adalah ada kesenjangan parah antara kedua kromosom tersebut. Sementara kromosom X berhubungan dengan sebagian besar proses perkembangan yang penting dengan membawa lebih dari 1500 gen, kromosom Y hanya membawa sekitar 100 gen saja. Sehingga janin laki-laki membutuhkan setiap gen dari kromosom X yang bisa didapatkannya, sementara janin perempuan memiliki dua kali lipat kromosom X dari yang dibutuhkannya. Apakah memiliki dua kali lipat ini berarti lebih baik ? Sayangnya tidak dan justru janin perempuan tersebut akan mengabaikan salah satu kromosom X begitu saja. Hal ini disebut dengan penonaktifan dan dari kedua kromosom X tersebut yang manakah yang akan dinonaktifkan, apakah dari ayah atau dari ibu ? Jawabannya tidak ada kecenderungan tertentu. Para peneliti nampaknya menganggap proses penonaktifan tersebut sebagai peristiwa yang acak. Penonaktifan satu kromosom X tidak terjadi pada laki-laki dan ini berarti kromosom X mereka seluruhnya berasal dari ibu. Ini jelas sangat berbeda dengan saudara perempuan mereka yang akan lebih kompleks secara genetis. Dan kabar mengejutkannya adalah perbedaan tersebut sangat mungkin menimbulkan potensi perbedaan antar gender.

Dari X menuju emosi

Kita mengetahui bahwa kromosom X membawa lebih dari 1500 gen dan banyak dari gen tersebut mengatur bagaimana cara manusia berpikir. Gen-gen tersebut dari kromosom X ini didapati ikut dalam proses pembentuk protein-protein yang terkait dengan fungsi otak. Sehingga pada akhirnya memang ada perbedaan dalam proses pemelajaran (yang bukan berarti ada perbedaan cara berpikir) antara pria dan wanita. Perbedaan tersebut paling menonjol terletak pada amygdala, sebuah bagian pada otak yang mengendalikan penciptaan emosi serta kemampuan menginga emosi-emosi tersebut. Amygdala pada otak perempuan cenderung berkomunikasi (melalui perantara senyawa biokimia tentu saja) pada otak belahan kiri yang cenderung mengingat detail-detailnya. Sebaliknya, amygdala pada pria akan cenderung berkomunikasi dengan belahan otak kanan yang cenderung mengingat substansi atau inti dari suatu pengalaman. Artinya, perempuan lebih bisa mengingat peristiwa yang penting secara emosional, seperti pertengkaran, liburan, perayaan pernikahan secara mendetail dan lebih mendalam. Pada akhirnya, jelas bahwa ingatan-ingatan detail akan suatu peristiwa yang penting secara emosional akan membuat siapapun (laki-laki atau perempuan) menjadi lebih emosional dalam menanggapi peristiwa tersebut. Bukan karena ‘perempuan’-nya, melainkan karena cara mengingat detailnya yang membuat seseorang lebih emosional dalam menanggapi suatu peristiwa.

Menuju hal yang kontroversial: perilaku
Jujur saja, perang antar gender dalam mencirikan perilaku-perilaku khas gender memiliki sejarah yang cukup runyam. Hal ini bahkan tidak terlepas dari para intelektual cemerlang, seperti Larry Summers, mantan rektor Harvard, yang mengaitkan adanya hubungan antara rendahnya skor matematika dan sains pada perempuan dengan genetika perilaku yang hampir membuatnya terjungkal dari posisinya. Tetapi ketika para peneliti mempelajari mengenai perbedaan-perbedaan perilaku khas antara pria dan wanita, maka mereka membicarakan tren yang muncul pada populasi dan bukan individu-individu. Oleh karena itu, penelitian tersebut akan bergantung pada statistik dan bagaimana mereka menginterpretasikan data statistik tersebut. Memang mungkin akan muncul tren-tren tertentu pada suatu sampel populasi, namun variasi-variasi akan tetap selalu ada.

Pada kondisi patologi (secara sederhana berarti berpenyakit), perbedaan gender nampaknya muncul pada kondisi-kondisi gangguan jiwa. Misalnya, laki-laki lebih parah dalam mengidap skizofrenia dibandingkan dengan perempuan atau pria menunjukan perilaku yang lebih anti sosial, sementara wanita lebih pencemas. Begitu pula dengan pernyataan bahwa sebagian besar pecandu alkohol dan obat-obatan adalah laki-laki.

Mengenai Bumi
Usaha-usaha untuk lebih mengerti diri kita sendiri atau siapa diri kita sebenarnya yang mendorong para peneliti di Barat melakukan berbagai eksperimen-eksperimen yang berkaitan perilaku-perilaku khas gender. Seperti apakah ada perbedaan cara berbicara antara wanita dan pria, hal ini nampaknya ada dan perbedaan ini cukup berarti, meskipun belum ada kejelasan yang berarti sampai sejauh mana perbedaan tersebut. Bagi anda yang berpegang kuat pada agama ataupun kepercayaan anda, mungkin dicukupkan dengan penjelasan bahwa bukan masalah pria atau wanitanya, melainkan bagaimana manusia (yang terdiri dari pria dan wanita) berbakti (beribadah) kepada Penciptanya. Dan, secara ilmiah, pria memang tidak pernah berasal dari Mars dan wanita tidak berasal dari Venus. Alih-alih mencari perbedaan di kedua planet, secara sederhana saya mengatakan bahwa keduanya sama-sama berasal dari planet Bumi.



Bacaan untuk yang ingin tahu lebih banyak:

  1. Medina, John. (2008). Brain rules.
  2. Lilienfeld, S.O., S.J. Lynn, J. Ruscio and B.L. Beyerstein. (2010). 50 great myths of popular psychology: shattering widespread and misconceptions about human behavior.




Read More..

Sabtu, 05 Mei 2012

2015: Farmasis dan MDGs

“Our world presents worrisome statistic that endanger the perpetuation of generations to come.” (Kofi Annan).

Sebuah pertemuan besar diadakan dunia, berlokasi di New York, 189 pemimpin dari berbagai negara mencanangkan sebuah langkah serius untuk mengatasi masalah-masalah yang semakin membesar di dunia, terutama di negara dunia ketiga. Sebuah pertemuan yang diprakarsai oleh PBB ini merumuskan suatu tujuan global yang kemudian kita kenal sebagai Millennium Development Goals (MDGs). Dengan target pencapaian di tahun 2015, dalam MDGs, kerja-kerja besar dilakukan untuk mencapai (1) pemunahan kemiskinan dan kelaparan ekstrim; (2) pendidikan dasar bagi semua orang; (3) persamaan gender dan penguatan peran perempuan; (4) penurunan angka kematian bayi; (5) perbaikan kesehatan ibu hamil dan menyusui; (6) pemberantasan penyakit HIV/AIDS, malaria, dan lain sebagainya; (7) terjaminnya keberlangsungan lingkungan hidup; dan (8) pembentukan kerja sama global untuk negara berkembang.

Tujuan-tujuan MDGs paling tidak melingkupi empat isu, yaitu isu ekonomi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, persamaan hak, dan lingkungan. Kita tak perlu berpikir keras untuk menyimpulkan di mana peran seorang farmasis dalam penyuksesan MDGs. Sebagai bagian dari tenaga kesehatan, peran farmasis menjadi begitu penting dalam penjaminan terhadap keefektifan dan keamanan suatu terapi pengobatan pada berbagai kondisi pasien misalnya, (pediatrik, geriatrik, ibu hamil dan menyusui, dan lain sebagainya) sehingga peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia menjadi suatu hal yang mungkin dicapai. Farmasis berperan penuh terhadap tersediannya pengobatan yang dapat membantu memperbaiki kualitas kesehatan pasien, assessment terhadap terapi yang diberikan pasien dan penanggulangannya bila terjadi hal yang tidak diinginkan, serta pencerdasan pasien akan suatu terapi yang dijalani demi meningkatkan keberhasilan pengobatan. Di tahun 2012, memasuki kuatral akhir dari target pencapaian MDGs, kita perlu menengok kembali dan bersama mengevaluasi diri sudah sejauh mana kemajuan dan kontribusi farmasis dalam penyuksesan MDGs.

Indonesia kita hari ini
Ada paling tidak tiga isu dalam MDGs yang menjadi bagian dari isu bersama tenaga kesehatan yaitu angka kematian bayi, kesehatan ibu hamil dan menyusui, serta penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Dan ketika kita mengambil potret isu tersebut, kita akan menemukan bahwa menurut laporan pencapaian MDGs di Indonesia, dari tiga isu kesehatan hanya pemberantasan terhadap tuberkulosis yang telah mencapai target. Penurunan angka kematian bayi memperlihatkan tren yang baik meskipun belum mencapai target. Angka kematian bayi di bawah lima tahun sebesar 44 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2007 dengan target angka kematian bayi sebesar 32 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 2015. Sayangnya angka kematian ibu melahirkan cukup mencemaskan; berdasarkan data BPS pada tahun 2007, rasio angka kematian ibu melahirkan sebesar 228 ibu per 100.000 kelahiran, padahal target MDGs pada tahun 2015, ada sebesar 102 ibu per 100.000 kelahiran. Pun demikian dengan angka penderita AIDS yang memperlihatkan tren kenaikan sebesar 4.969 kasus per 100.000 orang pada tahun 2008. Namun, sebaliknya pada kasus malaria yang menunjukan tren penurunan yang baik dengan 1,85 kasus per 1000 orang pada tahun 2009.
Statistik di atas mungkin perlu kembali di-update, namun paling tidak tersingkap bahwa ada PR-PR besar yang perlu dikerjakan bersama. Sementara kita tersibukan akan kegalauan-ria mungkin kita akan tersentil bahwa penderita AIDS terus bertambah dan semakin banyak anak-anak yang tak pernah bertemu ibunya.

Dan kita para farmasis


Komunikasi dan edukasi kepada masyarakat merupakan salah satu rangkaian penting dalam usaha meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dan edukasi yang dapat diberikan oleh seorang farmasis tidak selalu mengenai obat dan penggunaannya melainkan juga pola hidup yang diperlukan untuk mendukung usaha perbaikan kesehatan itu sendiri.
Pada bidang riset, pengembangan baik zat aktif baru maupun bentuk sediaan yang lebih efektif terus dikembangkan oleh para ahli farmasi. Obat baru tidaklah cukup untuk memberantas suatu penyakit menular, tetapi diperlukan juga suatu sistem kesehatan yang kuat. Oleh karena penyakit menular maupun penyakit degeneratif (seperti penyakit diabetes atau jantung) dipengaruhi secara signifikan oleh pola hidup suatu masyarakat maka peran farmasis di ranah farmasi komunitas menjadi penting. Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) menjadi senjata ampuh hanya bila benar dilaksanakan oleh farmasis.
MDGs 2015 sudah seharusnya menjadi visi bersama para farmasis dan tenaga kesehatan lainnya. Kita bersama, dalam berbagai bidang, perlu kembali merevitalisasi peran farmasis dalam memajukan kesehatan Indonesia. Tahun 2015 adalah target nyata dari kerja-kerja nyata di masyarakat dan banyak orang bersedia mengambil peran-peran tersebut dan menjadi bagian dari tinta sejarah kesehatan Indonesia. Pertanyaan besarnya, bagaimana dengan anda ?




Referensi
Bappenas. 2010. Report on the achievement of the millennium development goals Indonesia 2010. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
UNDP. 2006. Modul 4: health strategies. Dipresentasikan di UNDP RBA Workshop on MDG-Based National Development Strategies, UN Millennium Project. February 27th – March 3rd.



Read More..

Kehilangan-Kehilangan

Dari kehilangan-kehilangan kita belajar tentang keberadaan-keberadaan. Mereka menyebutnya penyesalan, ketika hal-hal remeh-temeh yang terabaikan melesap tanpa terasa dan akhirnya terasa ada yang hilang. Apalagi yang terasa benar keberadaannya, mereka menyebutnya benar-benar-kehilangan, ah paling tidak itu kalimat saya sendiri. Paling tidak, kita yang pernah merasanya, membentuk sendiri definisi kehilangan-kehilangan. Dan seperti halnya, kelahiran dan kematian, dari kehilangan-kehilangan kita bisa belajar hakikat keberadaan-ketersediaan.

Pukul empat dan sadar-sadar
Kita pernah terbangun dari tidur menyenangkan dan tersadarkan bahwa segala yang terjadi adalah mimpi. Itu hanya penyesalan sesaat, kau akan melupakan mimpimu semalam. Kita pernah terbangun dan tersadar bahwa harta kita hilang, cinta, jiwa, manusia, hal-hal bahagia. Ada penyesalan, sementara untuk mereka yang sadar, selamanya untuk mereka yang akhirnya tidak ingin dibangunkan.

Kita pernah terbangun pukul 04.00 pagi, menjelang subuh, setelah lewat malam tergelap di sekitar pukul 03.00. Kita pernah terbangun dan menemukan kehilangan-kehilangan. Kita pernah tidak menemukannya, kontak-kontak penting, pekerjaan, catatan-catatan pekerjaan, pencapaian, harta-harta tidak seberapa, tetapi tetap saja harta. Kesadaran pertama bisa membawa kepanikan, ketidakterimaan dan ketidakpercayaan. Kesadaran kedua seharusnya membawa kita akan makna kehilangan-kehilangan. Manajemen mental dan hati yang baik mengantarkan kita pada hakikat kehilangan-kehilangan. Melampaui kecemasan dan kekesalan yang membuncah, hati akan meredamnya, menenangkan dengan makna kehilangan-kehilangan. Dan di kehilangan-kehilangan, kita belajar merelakan apa yang sementara milik kita, apa yang memang hanya dititipkan oleh pemilik sebenarnya.

Pukul empat tigapuluh dan subuh-subuh
Banyak kesempatan diciptakan oleh Sang Pencipta, melalui ibadah-ibadah dan doa-doa khusyuk penuh. Ada kesempatan-kesempatan untuk berkeluh-kesah langsung, bergundah-gulana, mengadu pada Pemilik Segalanya.

Di kegundahan akan kehilangan-kehilangan, kita mengambil wudhu, mengambil kesempatan mengadu langsung melalui ibadah dan doa-doa kita. Di saat subuh, kita mengambil waktu sejenak, bertanya dan berhikmah akan rencana-rencana dari Sang Maha Perencana. Di waktu-waktu khidmat, kita berduaan dengan Sang Pencipta, melepas gusar dan kecewa, kegalauan dan dilema dan dengan penuh harap kita bersama yakin Sang Maha Kuasa tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Pukul enam dan cari-cari
Dalam menanggapi peristiwa-peristiwa, pencarian akan maksud adalah tidak mudah. Kita perlu membuka hati dan pikiran, berprasangka baik kepada Sang Pengatur. Dan dalam pencarian-pencarian tersebut, hati yang lapang akan menemukan syukur dalam tiap-tiap jengkal peristiwa.

Pagi-pagi, pencarian akan kehilangan-kehilangan dijalankan., setelah ditemukan jejak-jejak yang ditinggalkan. Usaha-usaha tetap digerakkan, hal-hal yang hilang haruslah berusaha untuk dicari, meski harapan itu tipis, meskipun kita tahu ada hal-hal yang tak bisa dikembalikan. Dalam cari-mencari, setapak demi setapak di sekitar jalan, kita bisa menemukan tidak hanya setitik harapan akan adanya jejak kaki yang tersamarkan di atas tanah merah becek, tetapi juga kemaknaan akan usaha-usaha dan kehilangan-kehilangan. Ketika kita berpikir kembali, meninjau situasi, kita tergelak mengetahui ada (banyak) usaha-usaha yang perlu dilakukan. Kita tersentak bahwa seringkali tiada waktu untuk kesedihan-kesedihan, ratapan, keluh dan kesah. Kita terbangkit untuk bergerak, mencari, berusaha mencari penanggulangan, mencari solusi dan kemudian kita tersadarkan bahwa segala cela dan caci tidak pernah menjanjikan apa-apa.

Pukul sembilan dan terus saja
Lanjutkan, teruskan, kehidupan terus berjalan maju dengan atau tanpa kita. Tertahan terus dalam kehilangan-kehilangan adalah kesia-siaan yang nyata.



Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Bukanlah melupakan masa lalu, tetapi berdamai dengannya dan menatap masa depan. Dalam segala usaha yang dilakukan, maka penyerahan kepada Sang Pengatur adalah penyempurna. Dalam keikhlasan usaha dan kerelaan pengorbanan, kita sekali lagi terpahamkan akan hakikat kehilangan-kehilangan. Dari cinta hingga harta tak seberapa, kehilangan-kehilangan kembali mengingatkan kita siapa pemilik cinta hingga harta tak seberapa. Dalam kehilangan-kehilangan, sekali lagi kita mengambil inspirasi dari peristiwa kegalauan masa lalu dan menapak mantap menuju masa depan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan kekecewaan dan kesedihan, tetapi kita yang belajar darinya mengambil bukan sebagai beban tetapi bekal perjalanan. Di kehilangan-kehilangan kita menemukan ikatan dari sepenasib-sepenanggungan, kita belajar dari orang lain. Akhirnya dalam kehilangan-kehilangan, kita dapat menjumpai wajah sabar dan ikhlas yang menguatkan kita sepanjang jalan. Jika tak terjumpai, yakinkan bahwa wajah tersebut terlihat saat kita memandang cermin, wajah yang menjadi penguat di sepanjang jalan.

Dari kehilangan-kehilangan kita menuliskan cinta dan harapan.


Read More..

Jumat, 13 April 2012

City of Wind #3

Lelaki yang berjalan mengarungi bumi tidak memiliki alasan lain kecuali pencarian akan suatu hal atau pelarian dari hal lainnya

Dalam perjalanan ruang dan waktu, jiwa dan raga, cinta dan rindu kita menapaki hal baru, mempelajari paling tidak bahwa dunia tidak sebegitu sempitnya sehingga kita bertemu dengan dia, dia dan dia. Perjalanan panjang akan selalu melelahkan, menelusup hingga ke sudut-sudut jiwa. Tetapi akan selalu menyenangkan bersama para angin, kau tahu ? Mereka membawa serta awan yang berarak lembut dalam hamparan langit biru. Saya selalu menemukannya, cumulus yang menggumpal seperti tumpukan kapas di terik hari dan sapuan cirrus di langit jingga senja.

Aku mengawali perjalanan ini bersama seorang kawan, seorang periang juga pelamun, selalu menarik garis simpul atas setiap tapak langkahnya. Ah, dan tentu saja beserta para angin yang berbisik-bisik riang, oleh karenanya kami sengaja bertolak dari titik ini, dari kota para angin selatan menuju kota para angin di utara bersama. Nampaknya, dia paham betul tabiat para angin selatan di musim semi ini, riang dengan kesenangan yang selalu menyeruak ke mana-mana. Tarian ilalang selalu menarik, belum lagi dengung riuh serangga-serangga pohon menyanyikan senandung alam.

Aku berbisik akan merindukan lembut tanah ini, bau rerumputannya serta lengkung warna di antara hijau daun setelah hujan. Selalu menenangkan berbaring di bukit paling tinggi, melihat langit berwarna biru langit, ya biru langit bukan biru muda apalagi biru laut. Hamparannya selalu menularkan keluasannya pada ruang hati yang terkadang menyempit, menatap langit selalu berarti menatap Sang Pemelihara secara langsung dan berharap Dia menatap balik kita ramah. Adalah ketenangan jiwa, hal yang sering kita gadaikan atas nama kesenangan hasrat.





Read More..

Sabtu, 07 April 2012

Berbagi Cinta

”Andai saja kami tetap anak-anak dan tidak pernah menjadi dewasa”

Demikian Qais bin Maluh mengandaikan dalam salah satu syairnya setelah terpisah dengan Laila, cinta masa kecilnya. Qais adalah seorang pemuda tampan nan pintar, berasal dari keturunan Bani Amir dan merupakan seorang yang cerdas dan tekun. Kita mungkin lebih banyak mengenal kisahnya dalam cerita “Laila dan Majnun”, sebuah karya sastra besar yang jauh lebih tua dari kisah “Romeo dan Juliet”-nya William Shakepear dan ditulis oleh seorang sufi asal Persia, Nizami Fanjavi. Kisah roman yang menginspirasi begitu banyak penulis untuk merekam cerita cinta dalam pena-pena mereka. Tak dapat dipungkiri, cinta Qais begitu menggebu dan hal tersebut ternyata disambut oleh Laila yang berasal dari kabilah yang berbeda. Sayang disayang, cinta mereka tertolak oleh perseteruan dua kabilah ini dan selanjutnya kita tahu bagaimana Qais melantunkan begitu banyak syair-syair cinta atas kisahnya dan mulai terobsesi hanya kepada Laila. Dikisahkan bagaimana Qais menjadi gila, bersyair di alam bebas dengan tidak memakai pakaian yang menutupi tubuhnya.

Dan begitulah ketika cinta yang tak berbagi, yang ada adalah perasaan yang bahkan menguasai pikiran dan raga. Setidaknya demikian bagi Qais, pecinta yang begitu putus asa akan cinta. Dan cinta yang tak terbagi ini, meluap, menguasai dan berubah menjadi sesuatu yang membenarkan segala hal sekaligus menyalahkan segala hal lainnya. Pertemuan fisik tak terpenuhi dan apadaya hati hingga pikiran pun tergadaikan, kehidupan serasa penderitaan. Dan mengapa cinta ?

Cinta di atas cinta
Adalah seorang parsi, sahabat Rasulullah saw, yang merasakan cinta kepada seorang wanita sholehah Anshar. Kegalauan menyelimuti pemuda ini, bagaimana tidak, dia adalah seorang Persia, seorang yang berasal jauh dan asing dari Madinah, tempat wanita sholehah ini tumbuh dan meniti kedewasaan. Namun disampaikannyalah kepada seorang saudara yang dipersaudarakan oleh Rasulullah saw, dalam jalinan tali Islam, kepada Abu Darda. Kemudian, mahar pun disiapkan, strategi serta mental dan kedua pemuda ini pun bertamu ke rumah wanita tersebut.
“Saya adalah Abu Darda dan ini saudara saya, Salman, seorang Parsi. Kami telah dipersaudarakan atas nama Allah. Dia telah dimuliakan Allah dengan Islam dan dia juga memuliakan Islam dengan amalan dan jihadnya. Di sisi Rasulullah, dia punya tempat yang mulia, sehingga baginda menyebutnya sebagai ahli-bait baginda. Dan kedatangan saya adalah mewakili Salman untuk melamar puteri sholehah dari rumah ini.”

Lamaran ini pun disambut oleh tuan rumah dengan menyampaikan bahwa hak untuk menerima dan menolak lamaran ini adalah pada anaknya yang bersembunyi di balik hijab dengan debaran hati yang membuncah. Hingga, sang Ibu berucap mewakili sang anak,
“Maafkan kami atas kejujuran kata dalam jawaban ini. Dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa puteri kami menolak lamaran Salman. Akan tetapi seandainya Abu Darda turut mempunyai hasrat yang sama seperti Salman, puteri kami menerimanya.”

Alamak !, apakah yang terpikirkan dalam benak, ketika tambatan hati yang dilamar justru meninginkan sahabat yang mendampingi. Marah, kesal, galau ? Tidak bagi Salman, yang menjawab,
“Allahu Akbar !, dengan mahar dan segala yang telah saya sediakan ini akan saya serahkan kepada sahabat saya Abu Darda untuk pernikahan kalian. Dan saya akan menjadi saksi bagi pernikahan mulia ini.”

Dan dalam sejarah ini, cinta juga tidak terbagi, ada maksud yang tidak tersampaikan dan keinginan yang tidak terpenuhi, namun berakhir dengan ujung yang jelas sangat berbeda dari roman Qais dan Laila. Inilah cinta yang membangun dengan bangun cinta dan bukan menjatuhkan dengan jatuh cinta. Cinta di atas cinta, cinta yang jauh melebihi cinta yang diciptakan fitrah untuk setiap insan di dunia. Cinta di atas cinta, yang tidak terbagi hanya untuk Allah dan Rasul-Nya, cinta syari’i yang sudah seharusnya dimiliki setiap muslim. Cinta ini begitu terang dan hangat menampakan jelas jalan kebenaran. Maka tidaklah cinta fitrah yang didorong syahwat yang menguasai, tetapi cinta Ilahi yang menentramkan.



Berbagi cinta sepanjang hayat
Lelaki mulia ini berada dalam kondisi terlemah, sakit sudah meliputi seluruh tubuhnya selama berhari-hari. Terbaring dalam pangkuan istrinya, dengan ditemani anak perempuan dan menantunya, lelaki ini tampak menghadapi akhir masa-masa tugasnya. Detik-detik akhir mendekat seiring malaikat maut menjalankan tugasnya, perlahan dengan kehati-hatian ruh dari lelaki mulia ini mulai ditarik. Seluruh tubuhnya dibanjiri peluh dan keringat, urat-urat lehernya menegang. Anak perempuannya terpejam dan menantu yang disampingnya menunduk semakin dalam. Terdengar kemudian, lelaki mulia ini terpekik tertahan, “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.” Tubuhnya beranjak dingin, bibirnya bergetar hendak membisikan sesuatu, Ali menantu kesayangannya mendekat ke telinganya, “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu rumahnya, isak tangis mulai bersahutan, para sahabat yang mendampinginya dengan setia saling berpelukan, kesedihan menyeruak menggelayuti langit akan kepergian seorang mulia ini. Putrinya, Fatimah, menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah saw yang mulai kebiruan, “umatku, umatku, umatku.”

Cinta mana lagi yang sedemikian besar hingga bahkan sebelum nafas terakhir terhembus, orang-orang yang bahkan lahir jauh setelah kematiannya masih disebut-sebut olehnya saat menjelang kematian. Dan inilah Rasulullah saw, berbagi cinta sepanjang hayat, cinta yang sedemikian besar hingga bahkan kita yang hidup di masa kini dapat merasakan cintanya melalui ajarannya, perkataannya, sikap dan karakternya yang terus disampaikan dan terjaga dari masa ke masa. Dan berbagi cinta bukanlah hal sesepele “aku cinta padamu” dan “aku akan menikahimu.” Berbagi cinta bukan pula sekedar memiliki sang penggenap hati dan menjalani hidup bahagia bersama. Cinta menjadi kekuatan positif yang sedemikian besar ketika dibagi oleh hati yang ikhlas, seperti cinta keluarga Ibrahim as., cinta yang membangun peradaban. Maka berbagi cinta adalah membangun cinta dalam ketaatan hingga menjulang tinggi ke surga, sepanjang hayat, di jalan cinta-Nya.

Teriring cinta,



Read More..