Minggu, 27 April 2014

Nobody wants to be left behind.

(sumber: forum.station.sony.com)
Apakah yang menjadi ketakutan manusia, sebenarnya?

Monster yang terbaring di bawah tempat tidur atau bayangan perempuan berambut panjang di pojok kamar sebelah lemari baju atau binatang yang merayap, melata mengerikan? Bukan, saya rasa bukan. Ketidaktahuan adalah ketakutan terbesar manusia. Mahluk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, kejadian yang tidak dimengerti sepenuhnya, atau bahkan masa depan yang tak pernah jelas muaranya berakhir. Ketakutan, ketidakmengertian membawa manusia keluar dari lingkaran amannya, memaksa manusia untuk menghadapi apapun itu, tragedi, masa lalu, masa depan.

Siapa yang tertinggal?

Apa yang paling buruk dari tertinggal? Ketidakmengertian mengapa semua orang meninggalkan, ketidaktahuan apa yang akan terjadi setelahnya. Kita mungkin tak pernah benar-benar mengerti mengapa hal itu terjadi atau hal ini tidak bisa terjadi. Mengapa jawaban-jawaban tak selalu muncul di depan mata. Mengapa kita ditinggal belakangan, sendirian. Dan merasa sendirian adalah hal yang dihindari sangat oleh manusia. Bukan tentang berapa orang di sekitarnya, perasaan sendirian tak melulu berhubungan lurus dengan jumlah orang yang berada di samping kanan-kiri atau depan-belakang. Merasa sendiri adalah esensi dari kesendiriannya, menelingkupi hati, pikiran, raga bahkan walau dunia bergerak bising di sekitar. Siapa yang ingin ditinggal oleh orang terkasih? Kemudian sendiri setelahnya, berjalan di tepi-tepi sepi. Tetapi setiap kekasih akan terpisah, setiap hubungan akan menemui akhir, dan waktu yang membingkai semua hal juga terbatas. Waktu-waktu yang berujung di batasnya dan keinginan-keinginan yang ingin terus melaju, memaksa kita untuk memilih. Meninggalkan satu hal untuk hal lainnya, juga tertinggal oleh satu hal dan menjadi hal lainnya. Kita mungkin tak pernah ingin meninggalkan, begitu pula kita tak ingin pernah ditinggalkan.

Demikiankah?

Dan takut adalah manusia. Meskipun demikian, dikatakan bahwa di atas semua itu, manusia tetap bisa bahagia. Walau dengan bayangan di waktu lalu atau ketidakpastian di akan datang. Kita hidup saat ini. Dikatakan ada pilihan untuk bahagia. Tidak ada orang yang ingin ditinggal di belakang, sendirian. Semisal kamu sendiri, adakah menemukan pilihan untuk berbahagia di sana?



Read More..

Jumat, 07 Maret 2014

Vaksin 101: Komposisi dan Hal-Hal di Sekitarnya

sumber gambar: quickmeme.com
Vaksin, seperti produk obat lainnya, dibuat dengan memenuhi tiga poin kritis: aman, berkualitas, dan berkhasiat. Penelitian pengembangan vaksin memerlukan usaha yang besar dan pada pembuatan produknya untuk skala massal berada dalam pengaturan yang ketat sehingga diupayakan untuk selalu menjaga keamanan, kualitas, dan khasiat dari tiap produk yang sampai ke tangan masyarakat. Berikut saya sarikan untuk pembaca sekalian, beberapa hal terkait bahan-bahan pada vaksin, terutama mengenai masalah keamanannya. Sebagian besar sumber tulisan ini berasal dari Vaccine Education Center, The Children’s Hospital of Philadelphia(1). Tetapi sebelumnya, kita sama-sama perlu tahu beberapa definisi berikut: (1) Adjuvant adalah bahan yang membantu tubuh menimbulkan respon imun yang lebih baik; (2) Preservative atau pengawet merupakan bahan yang mencegah kontaminasi mikroorganisme pada produk vaksin; (3) Additive atau bahan tambahan yang membantu produk vaksin tetap berkualitas selama penyimpanan(2).

Alumunium

Alumunium (lebih tepatnya dalam konteks ini, garam alumunium) sudah digunakan sejak lama dalam proses pembuatan vaksin. Sebagian orang mungkin mempertanyakan mengenai keamanan penggunaan alumunium sebagai adjuvant. Meskipun demikian, hal yang perlu diketahui pertama adalah alumunium merupakan senyawa yang secara normal ada di lingkungan sekitar kita, begitu pula pada air dan makanan yang masuk ke perut, mengandung alumunium walau dalam jumlah yang sangat sedikit sekali. Jumlah garam alumunium dalam sebuah vaksin sangatlah kecil. Sebagai gambarannya, pada enam bulan pertama, seorang bayi yang mendapatkan vaksin lengkap akan menerima sekitar 4 miligram alumunium yang terkandung dalam vaksin. Akan tetapi, pada durasi yang sama, seorang bayi dapat menerima 10 miligram alumunium dari ASI, 40 miligram jika mereka diberi susu formula secara regular, dan hingga 120 miligram bila mereka diberikan susu formula yang berbahan kedelai. Alumunium akan berbahaya hanya bila ketika fungsi ginjal tidak berfungsi dan bila alumunium dalam jumlah besar diberikan, seperti saat kita meminum antasida untuk obat mag.

Selain alumunium, lipid monofosforil A yang diisolasi dari bakteri juga dapat digunakan sebagai adjuvant dan sudah digunakan pada salah satu produk vaksin HPV.

Formaldehid

Formaldehid digunakan selama proses produksi pada beberapa vaksin untuk menginaktivasi virus atau toksin bakteri yang akan digunakan. Sebagian besar formaldehid akan hilang pada proses pemurnian produk, walau sedikit jumlah yang masih tersisa. Meskipun demikian, hal yang perlu dicatat adalah formaldehid juga merupakan produk samping dari sintesis protein dan DNA dalam sel, sehingga senyawa ini umum ditemukan pada aliran darah. Jumlah formaldehid yang umum terdeteksi pada darah 10x lebih besar dari yang dapat ditemukan pada vaksin.

Gelatin

Gelatin merupakan salah satu jenis stabilizer yang ditambahkan pada produk vaksin. Bahan stabilizer berguna untuk melindung bahan aktif selama proses produksi, pendistribusian, hingga penyimpanan. Gelatin yang digunakan pada umumnya berasal dari hewan babi atau sapi. Selain gelatin, beberapa bahan lain dapat digunakan sebagai stabilizer seperti sukrosa, laktosa, albumin, MSG, dan glisin. Data dari CDC(3) hanya beberapa produk vaksin (keluaran Amerika) saja yang menggunakan gelatin sebagi stabilizer-nya, seperti vaksin influenza, vaksin MMR-II, vaksin rabies, vaksin varicella, vaksin demam kuning (yellow fever), dan vaksin zoster. Pada vaksin produksi dalam negeri (keluaran PT Biofarma) tidak disebutkan menggunakan gelatin sebagai stabilizer-nya(4). Gelatin yang digunakan sebenarnya sangat sedikit sekali dan merupakan merupakan senyawa yang mudah dirusak (dihidrolisis) sehingga konsentrasinya akan semakin berkurang.

Merkuri

Merkuri atau lebih tepatnya sebagai senyawa mengandung merkuri merupakan pengawet yang umum digunakan pada awal abad 20. Pengawet ini digunakan terutama pada sediaan vaksin yang digunakan beberapa kali (tidak sekali pakai habis), seperti pada vaksin influenza. Senyawa mengandung merkuri yang dimaksud adalah Thimerosal. Seringkali terdapat kesalahpahaman antara etilmerkuri dengan metilmerkuri. Etilmerkuri terbentuk setelah tubuh memetabolisme thimerosal dan akan dipecah lagi serta dikeluarkan dari tubuh dengan cepat. Metilmerkuri umum terbentuk di alam ketika terdapat logam merkuri. Jika metilmerkuri ditemukan dalam tubuh, hal ini biasanya terjadi akibat mengkonsumsi pangan yang terkontaminasi logam merkuri. Etilmerkuri dan metilmerkuri merupakan dua senyawa yang berbeda dengan cara metabolisme serta pembuangan (clearance) pada tubuh yang berbeda pula. Hingga saat ini, penelitian-penelitian yang ada tidak menemukan adanya hubungan antara thimerosal pada vaksin dengan autisme pada anak(5).

Bagaimana dengan enzim tripsin? Pada dasarnya tripsin bukan merupakan bagian dari komposisi produk vaksin. Tripsin digunakan pada saat penyiapan kultur virus yang akan digunakan untuk pembuatan vaksin, seperti isolasi sel inang dari jaringan hewan untuk tempat tumbuh virus, atau untuk aktivasi partikel virus tertentu(6). Setelah bahan virus atau bagian virus berhasil di-‘panen’ dari kultur sel, bahan tersebut akan dimurnikan hingga memungkin tidak terdeteksi kembali bahan-bahan lainnya, termasuk enzim tripsin. Kemudian setelah itu bahan virus ini lah yang merupakan komposisi dari produk vaksin.

Sumber-sumber:

  1. Vaccine Education Center The Children’s Hospital of Philadelphia. (2012). Vaccine ingredients: what you should know. Diunduh 7 Maret 2014 [vaccine.chop.edu]
  2. American Academy of Pediatrics. (2013). Questions and answers about vaccine ingredients.
  3. CDC. (2013). Vaccine excipient and media summary. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  4. PT Biofarma. Diakses pada 7 Maret 2014 [biofarma.co.id]
  5. CDC. (2013). Understanding thimerosal, mercury, and vaccine safety. Diunduh 7 Maret 2014 [cdc.gov]
  6. European Medicines Agency. (2013). Draft guideline on the use of porcine trypsin used in manufacture of human biological medicine products. EMA/CHMP/BWP/814397/2011 [ema.europe.eu]




Read More..

Memasak dalam Industri Farmasi

(sumber gambar: pharmaleaders.tv)
Industri farmasi, mungkin, adalah industri dengan regulasi terketat (high regulated) dalam pelaksanaannya, dimulai dari pemilihan bahan baku hingga produk jadi yang siap diedarkan di pasaran. Bahkan, setiap produk yang telah beredar masih akan diawasi keamanannya untuk masyarakat. Anda bisa membayangkannya seperti ini, anda adalah suatu industri, memasak adalah hal yang anda lakukan. Jika Anda mengikuti konsep regulasi pada industri farmasi (Good Manufacturing Practice/CPOB), hal berikut yang akan terjadi:


  1. Sebelum pergi ke pasar untuk berbelanja bahan masakan, Anda akan memulainya dengan menuliskan resep masakan yang akan anda buat, beserta cara pembuatannya, cara bagaimana Anda memastikan bahwa rasa dan kualitas masakan Anda akan tetap konsisten, parameter yang akan Anda tes untuk memenuhi standar kualitas yang Anda harapkan dari hasil akhir masakan Anda ketika disajikan di meja makan.
  2. Anda diwajibkan memilih bahan baku masakan yang memenuhi standar yang telah ditentukan. Semua bahan baku yang akan anda gunakan, dimulai dari bahan utama hingga bumbu-bumbunya, akan diperiksa terlebih dahulu, kualitasnya, keamanannya.
  3. Setelah bahan baku memenuhi standar yang telah ditentukan, selanjutnya anda akan mulai masuk ke dapur, ruang produksi anda membuat masakan. Anda akan memastikan segala fasilitas dan peralatan yang akan digunakan memenuhi standar yang telah ditentukan. Kebersihan dapur, bahkan hingga kadar partikel udara terkandung di dalamnya. Sekali saja ditemukan ada hama (serangga, cicak, tikus, dan lainnya) masuk ke dapur Anda, bisa dipastikan masakan Anda akan ditolak masuk ke meja makan. Anda akan memastikan kompor, panci, sodet, dan peralatan masak lainnya berfungsi dengan baik dan sesuai.
  4. Anda akan memastikan siapa personil yang boleh masuk ke dapur Anda. Apakah Anda akan bekerja sendiri atau dibantu orang lain? Berapa orang? Siapa saja? Anda akan memastikan dapur Anda tidak memuat terlalu banyak orang yang akan membuat proses memasak menjadi tidak efektif dan efisien.
  5. Di tengah Anda memasak, Anda akan mengambil sedikit sampel masakan untuk diuji. Sudahkan memenuhi standar yang telah ditentukan? Jika belum, maka Anda akan melakukan investigasi letak kekeliruannya, apakah pada cara Anda memasak atau bahan bakunya yang ternyata bermasalah. Akhirnya bisa beberapa kemungkinan; bisa jadi proses memasak Anda dihentikan atau masih bisa dilanjutkan atau diulang kembali dari awal. Selain itu, Anda akan mencatat segala temuan-temuan yang terjadi selama Anda memasak.
  6. Setelah Anda selesai memasak, dan masakan jadi, sekali lagi Anda akan mengambil sedikit sampel masakan Anda dan diuji kembali. Sudahkah memenuhi syarat yang telah ditentukan? Pengujian bukan hanya masakannya, tetapi juga ‘bungkus’nya, seperti piringnya, sendok-garpunya, tutup sajinya, apakah sudah memenuhi syarat?
  7. Oh iya, pihak diluar Anda (regulator, anggota keluarga lain) akan turut mengaudit masakan Anda.
  8. Masakan Anda yang sudah disajikan di meja makan masih akan tetap diawasi. Apakah menimbulkan sakit perut setelah memakannya, atau bahkan diare pada orang yang memakannya.
Kurang lebih demikian, gambaran yang disederhanakan pada proses yang terjadi dalam Industri farmasi. Jika pada industri makanan ada dua poin kritis yang harus memenuhi standar, keamanan dan kualitas produk maka pada industri farmasi ditambah satu poin lagi, yaitu efikasi atau efek menyembuhkan dari produk obat. Tentunya kita semua tidak menginginkan meminum obat yang tidak menimbulkan efek baik apa pun kan. Dalam CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang diatur oleh Badan POM sendiri ada 12 aspek standar yang harus dipenuhi oleh suatu industri farmasi di Indonesia. Bisnis industri farmasi berjalan pada garis-garis nyawa konsumen, sudah menjadi paradigma bersama bahwa segala produk yang dihasilkan akan aman, bermutu, dan berefek.

Bacaan lebih dalam:
Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik.

Catatan tambahan:
Mengintip sedikit gambaran produksi pada industri farmasi dapat and abaca di tulisan saya di sini.



Read More..

Sabtu, 25 Januari 2014

Anak-anak Ibu

(sumber: natureandhealth.com.au)
Kita semua sepakat, Ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya. Dari naungan rahim seorang ibulah, perkembangan awal manusia dimulai. Mengandung selama kurang lebih 9 bulan, menyapih, merawat-membesarkan hingga setiap anak manusia mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Dan semua orang sepakat, peran Ibu sangatlah esensial dalam perkembangan segala aspek kompetensi anak manusia, kognitif, emosi, perilaku, juga tumbuh-kembang fisik dan mental. Ada pengaruh yang sedemikian besarnya, peran seorang ibu terhadap perkembangan anak. Kita tahu akan hal itu. Banyak studi-studi, contoh-contoh, pengalaman-pengalaman yang membenarkan pendapat tersebut. Golden age merupakan masa yang krusial dalam perkembangan anak, dan peran ibu menjadi sedemikian besarnya dalam mempengaruhi perkembangan emas anak pada rentang umur ini. Akan tetapi jauh sebelum itu, seorang ibu sudah memiliki pengaruh terhadap perkembangan anaknya. Terhadap perkembangan kemampuan anaknya untuk bertahan di dunia luar. Pengaruh ibu sudah dimulai sejak sel pertama manusia terbentuk; zigot.

The Maternal Effect
Kita semua mengenal materi ini; DNA, tak lain tak bukan adalah materi penyimpan semua informasi mengenai kemampuan fisik dan mental manusia. DNA adalah warisan pertama yang diturunkan oleh orangtua kepada keturunannya, menyimpan kombinasi karakter atau sifat kedua orangtua. Dari DNA, protein disintesis, sel dibentuk, jaringan dibangun, organ disusun, hingga seluruh kesatuan manusia dilengkapi. Hingga saat proses pembuahan berhasil dilakukan, ayah dan ibu kita membagi perannya sama. Kita akan menerima sebagian warisan genetik dari ayah dan sebagain lainnya dari ibu. Setiap bagian warisan ayah-ibu kemudian akan bersatu dan membelah terus menerus hingga tercipta manusia utuh. Hal yang selanjutnya menarik adalah setelah peristiwa ini terjadi, kita akan terus-menerus dalam lingkungan ibu, dari rahim hingga gendongan ibu.

Dalam studi hereditas dan genetika, ada istilah yang dikenal sebagai epigenetika, studi mengenai perubahan aktivitas genetis yang terjadi selain karena perubahan sekuens basa DNA. Apa artinya? Perubahan dalam skala molekular hingga (mungkin) fisiologis tubuh organisme, dapat terjadi tidak hanya karena ada perubahan (mutasi) pada sekuens DNA. Mekanisme bagaimana hal ini terjadi masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, meskipun demikian mekanisme yang diketahui di antaranya adalah proses interferensi RNA, remodeling kromatin, metilasi DNA, dan modifikasi histone. Secara sederhana, peristiwa epigenetik merubah bagaimana suatu gen diekspresikan, lebih lanjut lagi, hal ini berarti protein-protein yang akan disintesis oleh suatu sel akan berubah, dan pada akhirnya mungkin saja terjadi perubahan struktur fisiologis organisme tersebut.

Fakta bahwa setelah proses pembuahan terjadi, suatu individu (terutama mamalia, juga manusia) akan terus menerus dalam lingkungan ibunya (terkandung dalam rahim hingga mendapat nutrisi dari ibu). Dalam skala molekular, organel sel seperti mitokondria hanya diperoleh dari sel telur ibu, mengingat mitokondria sel sperma berada pada ekornya yang akan terlepas saat ‘kepala’ sel sperma masuk ke dalam sel telur. Pada studi terhadap berbagai mamalia, pihak ibu dapat memicu terjadinya peristiwa epigenetik terhadap bakal janin yang berkembang dalam rahimnya, yang kemudian dikenal sebagai Maternal Effect. Secara harfiah, kita bisa mengatakan bahwa ibu memiliki akses (tanpa disadari) untuk merubah ekspresi gen (baca: merubah struktur molekular hingga morfologi) dari keturunan yang akan dilahirkannya. Hingga ke tingkat molekular pun, ibu memiliki peran dalam membentuk anak-anaknya.

Implikasi-implikasi
Tujuan utama dari mungkinnya fenomena ini terjadi, tak lain adalah kecendrungan alamiah mahluk hidup untuk bertahan hidup. Suatu insting yang amat mendasar bagi seorang (atau suatu) ibu untuk memperoleh keturunan terbaik yang bertahan hidup di dunia luar (rahim). Walaupun tidak menjamin keturunan berikutnya akan terhindar dari penyakit genetik ataupun ketidakmampuan yang disebabkan faktor genetik muncul, intervensi maternal effect memungkinkan kita memiliki keturunan dalam bentuk terbaik yang bisa diperoleh.

Mungkin ini adalah suatu interpolasi yang terlalu jauh, akan tetapi, jika seorang ibu memiliki keinginan kuat untuk memiliki anak-anak terbaik maka bisa jadi hal tersebut akan memicu terjadinya serangkaian proses yang akan berdampak pada janin yang dikandungnya. Dan pada akhirnya, kita memang anak-anak ibu kita, perwujudan dari harap dan cita sang ibu.

Catatan tambahan
Bagaimana dengan paternal effect, efek ayah, adakah ikut mempengaruhi keturunan yang akan dihasilkan? Pada skala genetik, tentu saja ada, mengingat kita terbentuk dari setengah kromosom ayah dan setengah kromosom ibu. Intensitas hubungan anak-ibu yang sedemikian besar semenjak sel zigot terbentuk memungkinkan ibu memiliki pengaruh besar selama perkembangan janin (selain pengaruh genetik yang memang diturunkan).

Bacaan lebih lanjut:
Champagne, F.A. dan J.P. Curley. (2009). Epigenetic mechanisms mediating the long-term effects of maternal care on development. Neuroscience and Biobehavioral Reviews 33, 593–600.

Qvarnström, A. dan T.D. Price. (2001). Maternal effects, paternal effects and sexual selection. TRENDS in Ecology & Evolution, 16(2), 95-100.

Wolf, J.B. dan M.J. Wade. (2009). What are maternal effects (and what are they not)? Philos. Trans. R. Soc. Lond. B. Biol. Sci., 364(1520), 1107-1115.



Read More..

Rabu, 25 Desember 2013

Saya (tidak) berbicara mimpi lagi.

(sumber: lockerz.com)
Saya pernah melihatnya, mungkin kamu juga, tentang cerita-cerita manusia yang digerakkan secara luarbiasa oleh mimpi. Mereka memimpikannya, memercayai keindahan mimpi-mimpinya, menggerak memujudkan hingga merubahnya menjadi sesuatu yang nyata. Mimpi, impian, cita yang kemudian terwujud nyata, dan mengakhiri dengan bahagia. Akhir bahagia.

Demikian dan sayangnya tidak berlaku sedemikian untuk semua orang.

Kita mengenal ada dua jendral besar dalam sejarah manusia. Keduanya bermimpi tinggi, bervisi besar, dan tergerakkan secara luarbiasa oleh mimpi-visi mereka. Dari keduanya kemudian kita belajar, alur besar takdir dalam aliran waktu dunia sudah digoreskan. Mimpi-mimpi mereka sama hanyut dalam alirannya, namun takdir hanya memeluk mimpi yang sudah digariskan padanya.
 

Dia seorang Habasyah yang kemudian menjadi Jenderal di Yaman. Mimpinya besar, membangun pusat peribadatan terbesar di kawasan timur tengah, bahkan dunia di daerah Yaman. Pusat peribadatan di mana seluruh umat manusia akan mengalihkan kiblat padanya. Mimpi besar perlu usaha-usaha besar mewujudkannya, dan Jenderal yang kemudian dikenal sebagai Abrahah tahu, satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah dengan meluluh-lantahkan Ka’bah. Dan Abrahah melakukan kerja-kerja besar, memimpin pasukan gajah yang menggentarkan untuk menghancurkan pusat peribadahan yang bangun oleh Ibrahim AS. Hingga pada akhirnya kita sama-sama tahu, kisahnya diabadikan khusus pada satu surat dalam Al Qur’an, dibaca oleh seluruh umat Islam sejak diturunkannya. Al Fiil.

Sementara itu, terjarak sekitar 800 tahun lebih, kita memiliki Jenderal yang mewarisi mimpi besar para pendahulunya. Tergerakkan oleh mimpi besar, menaklukan sebuah kota yang sudah dijanjikan, Jenderal ini menggapainya dengan gemilang. Kerja besarnya bahkan sudah dimulai semenjak kanak-kanak, menempa ilmu pada salah satu alim terbaik di masanya, Syaikh Aaq Syamsudin. Menjadikannya sebagai yang disebutkan dalam sabda Muhammad saw., kita semua kemudian mengenalnya sebagai Muhammad Al Fatih. Sang Pembebas.

Dua jenderal besar, dengan mimpi besar dan ikhtiar-ikhtiar terbaik, terlepas dari siapa salah dan benar, salah satunya gagal dan kalah, sementara lainnya berhasil dan berjaya. Dalam pusaran sejarah umat manusia kita belajar, di sisi pemenang, selalu berdampingan mereka yang kalah. Menang-kalah, berhasil-gagal, berjaya-terhina adalah koin dua sisi, satu sama lain berdamping tidak terpisah, menjadi paket kehidupan yang menggelinding melaju bersama waktu. Hingga pada akhirnya kita sama-sama memahfumi, di ujung usaha-usaha manusia selalu terbaring dua kemungkinan.

Yang pada akhirnya kita harus menjemputnya jua.

Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang ada di ujung jalan-jalan yang kita pilih, diakhir usaha-usaha demi mimpi. Adakah sukses membahagia di sana? Atau justru derita menestapa siap memeluk kita yang datang. Ragu dan malah berhenti di tempat tidak menyelesaikan apa-apa. Sementar kita meragu, tanpa tersadar, waktulah yang membawa kita pada ujung akhir perjalanan. Mimpi-mimpi, sayangnya, tidak melulu harus tergapai. Pada ujung-ujung takdir, mimpi kita mungkin tak akan selalu gemilang. Hasilnya bisa jadi tetap sama, bersinar gemintang atau kelam meredup, tetapi bagaimana kita menuju padanya yang memberikan perbedaan besar di antaranya. Adalah hal yang sangat berbeda, maju naik ke atas arena pertandingan dengan kepala tegak dan maju diseret masuk ke dalam arena. Karena, berkahnya bisa jadi ada pada prosesnya, ada pada tiap cara kita menggapainya. Karena hikmahnya, bisa jadi bukan di akhir cerita, melainkan di tengah, di sepanjang perjalanan. Hal yang selanjutnya menjadi pertanyaan adalah, jalan mana yang akan kita ambil?


Read More..

Rabu, 13 November 2013

Hari ketika hujan tidak lagi romantis

Dear Amellia, sahabat ku tersayang.

Bagaimana kabarmu di negeri seberang Mel? Sudahkah berhasil melakukan hal yang kau impi-impikan jika berhasil menjejakkan di negeri empat musim, mencicipi rasa benda putih-putih dingin yang kau sebut salju itu? Aku dengar setiap akhir tahun benda putih-putih dingin itu turun dari langit, seperti hujan yang sering turun di kampung kita.

Amellia yang baik,

Aku dengar hari-hari ini, hujan sudah tidak lagi romantis. Ah, aku tahu kau pasti tak kan percaya. Akan tetapi aku mendengar orang-orang meracau demikian. Paling tidak, seperti itu kata orang-orang kota di sebelah barat kampung kita. Hujan tidak lagi membawa romantisme, seperti dahulu saat kita kecil, menadahkan tangan kita, menangkap air hujan yang turun melewati genting rumah kita yang reyot. Hujan hari ini hanya membawa air, teramat banyak bahkan. Menggenangi rumah-rumah besar bertingkat yang sering kita lihat di TV hitam-putih milik kepala kampung itu. Sampai-sampai hampir aku tidak percaya, biasanya kan alam juga pilih-pilih menimpakan kesusahan. Ternyata orang-orang kaya itu juga ditimpa bencana, hampir tergelak aku tertawa.

Amellia, sahabatku berpipi tembem,

Aku harap kau tidak kurus kering-kempot di sana. Aku tahu sedari dulu kau tidak pernah membiarkan makanan nganggur. Aku harap mereka memberikanmu banyak makanan di sana. Kau tahu Mel, hujan sudah tidak mau lagi membawa rindu, mereka hanya membawa angin besar dan gemuruh di sudut-sudut langit. Apa kau juga melihatnya di TV? Tetangga kita di timur laut sana yang merasakannya. Aku melihatnya, mereka berkata hal yang sama, hujan tidak mau lagi menyampaikan rindu seseorang pada kekasihnya. Mereka hanya membawa kemarahan ibu bumi, angin yang ribut ditambah gemuruh kilat, hal tersebut pastilah memekakkan telinga semua orang. Orang-orang bilang ibu bumi murka karena manusia membuang kotoran mereka ke langit-langitnya, menggelapkan bahkan di siang terik. Mengotori langit yang memberikanmu dulu pelangi Mel, iya, sekarang kau mungkin tidak bisa melihat lengkung warna-warni langit lagi. Semua sudah tertutup debu-debu hitam yang menyesakkan napas.

Amellia yang manis,

Aku mulai setuju bahwa hari-hari ini hujan sudah tidak lagi romantis. Tetapi ada orang sepertimu yang tetap bersikeras tidak setuju dan senang merayakan rindunya bersama hujan. Aku tahu, seperti mu juga, mereka sebenarnya tahu, mereka merayakannya selagi hujan masih mengantarkan rindu mereka ke orang-orang yang mereka kasihi. Sebelum hujan tidak membawa lagi apa-apa, seperti waktu itu Mel, kau ingat? Hari itu hujan tidak membawa apa-apa, tidak romantisme atau rindu, bahkan tidak pula kebencian. Hari itu hujan hanya membawa air saja, bersama angin dan kilat-kilat yang bergemuruh marah. Dan setelahnya, aku melihat kampung kita dengan leluasa Mel, tidak ada lagi rumah-rumah reyot yang berdiri padat-padat di dalamnya. Hujan saat itu membawa pergi romantisme kita Mel, aku tidak melihat apa-apa lagi, selain mayat-mayat yang berceceran di sudut-sudut puing rumah-rumah reyot dan adikmu, yang menangis sesenggukan, memeluk tubuhmu yang mulai dingin membiru.




Read More..

Selasa, 22 Oktober 2013

Di Kanan dan Kiri Otak Kita

(sumber: meritgest.com)
Anda pasti pernah mendengarnya, menggangguk-angguk saat melihat infografis tentangnya, mengingat-ingat, kemudian bergumam, ”Benar juga”. Dengan berbagai macam sumber psikologi popular saat ini, kita terbiasa dengan perbedaan fungsi otak yang begitu terkenal, otak kiri adalah otak analisis, logis, dan matematis. Orang-orang yang lebih suka berpikir analisis, logis, sekuens, atau matematis adalah para pemakai otak bagian kiri. Di lain sisi, otak kanan adalah otak abstrak, seni, dan kreativitas. Maka ini adalah otak para seniman, orang-orang yang berpikir kreatif adalah para pengguna sejati otak bagian kanan.

Demikian dan selesai.

Sayangnya, semua itu tidak lebih dari pseudosains, mitos yang terbungkus sains, atau paling tidak, penyederhanaan yang terlalu terburu-buru dari suatu hasil riset ilmiah. Dari mana miskonsepsi lama ini berasal, di mana letak ketidaktepatannya, dan apa yang bisa kita dapat dari hasil penelitian terkini? Mari sejenak, kita kembali menyelami organ paling menajubkan sekaligus paling misterius yang dimiliki manusia, satu-satunya organ yang dapat mengeksplorasi dirinya sendiri, otak.

Belah otak jadi dua
Adalah Roger W. Sperry, peraih nobel di bidang fisiologi/kedokteran, seorang neurobiologis yang berhasil melakukan operasi pemisahan dua sisi (hemisfer) otak pertama pada pasien epilepsi di tahun 1961. Bagi Sperry pada saat itu, operasi pemisahan dua hemisfer otak merupakan harapan terakhir bagi pasien epilepsinya untuk mencegah penyebaran kondisi epilepsi dari satu sisi otak ke sisi lainnya. Operasi berjalan mulus, pasien epilepsi tersebut berhasil membaik dan berhenti mengalami kejang-kejang akibat epilepsi. Dengan kedua belah otak yang terpisah sekarang, dia tampak baik-baik saja, menjalani kehidupan yang kembali normal, menari, bercanda, mengingat, dan belajar tanpa ada masalah. Tetapi sesuatu yang aneh akhirnya teramati, dengan pensil di kedua tangan, pasien tersebut dapat menggambar bentuk geometris berbeda secara bersamaan, misal gambar lingkaran oleh tangan kanan dan segitiga oleh tangan kiri. Teramati seakan-akan pasien memiliki dua otak yang bekerja secara independen.

Masih ada lagi, ketika pasien melihat sebuah kata hanya dengan mata kanannya saja, dia bisa menyebutkannya tetapi tidak dapat menggambarkannya. Sebaliknya, jika pasien melihat sebuah kata hanya dengan mata kirinya saja, dia bisa menggambarkannya, tetapi tidak dapat menyebutkannya(1). Dari operasi pemisahan kedua sisi otak ini kemudian para peneliti menyadari adanya daerah-daerah khusus pada otak yang bertanggung jawab atas fungsi kognitif tertentu. Otak kanan yang memiliki kemampuan visual-spasial dan otak kiri yang memiliki kemampuan bahasa. Dari titik awal inilah, berkembang konsep lateralisasi fungsi otak (perbedaan fungsi kedua hemisfer otak), yang kemudian diinterpretasikan terlalu jauh sebagai otak kiri adalah otak analisis-logis dan otak kanan adalah otak abstrak-kreativitas.

Interpretasi atas hasil operasi ini nyatanya lebih kompleks dari sekedar dua fungsi otak yang saling berlawanan. Bahwa sebelum zaman penggunaan teknologi pencitraan otak (magnetic resonance imaging, dll.), penemuan fungsi-fungsi otak selalu diawali dari adanya defek (cacat) pada daerah otak tertentu yang teramati pada penderitanya. Dalam salah satu esainya di The Throwing Madonna, William H. Calvin mencatat, “Eksperimen pemisahan otak merupakan contoh yang bagus untuk studi mengenai kemampuan perpindahan fungsi otak dari sisi satu ke sisi lainnya, dibandingkan studi mengenai keterpisahan kemampuan dua sisi otak.” Sebagian besar pasien mengalami epilepsi sejak kecil, dimana perkembangan fungsi otak sedang tinggi-tingginya. Pada masa muda, fungsi otak dapat berpindah dari daerah yang cacat ke daerah lainnya di otak, begitu pula berpindah lintas hemisfer otak(2).

Para neurosaintis sendiri tidak berani mengambil interpretasi yang terlalu jauh dari hasil eksperimen pemisahan hemisfer otak. “Operasi pemisah otak tidak lebih dramatis,” tulis Calvin dalam esainya, “dari sekedar terciptanya konflik antara dua sisi tubuh.” Pada pasien pemisahan hemisfer otak, misalnya, sering terjadi alien hand syndrome, satu tangan menutup kancing baju sedang tangan lainnya membukanya(3). David Eagleman, neurosaintis dari Baylor College of Medicine, menekankan dalam bukunya, Incognito, “Pada operasi pencabutan seluruh bagian dari salah satu hemisfer otak (hemispherectomy), selama operasi dilakukan pada anak di bawah umur 8 tahun, anak tersebut akan tetap dapat menjalani hidup dengan normal walau hanya memiliki setengah otak.” Dengan hanya setengah otak yang dimiliki, dia tetap dapat tumbuh, bermain, mengerjakan matematika, dan hal-hal lainnya yang dilakukan anak normal. Pada titik ini, kedua hemisfer otak tampak seperti kembar, memiliki fungsi kognitif yang sama, satu sama lain(3).

Membedah otak saat ini
Menjadi pandangan yang diterima secara luas bahwa otak kiri berfungsi spesifik pada proses berpikir analisis dan otak kanan berfungsi spesifik pada proses berpikir abstrak atau holistik. Akan tetapi, teori tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dibuktikan. Pada eksperimen yang terkontrol, sebagai contoh, sangat sulit untuk menciptakan metode eksperimen yang hanya menguji proses berpikir analisis saja atau proses berpikir abstrak saja. “Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak ada pekerjaan yang tidak melibatkan kedua proses berpikir,” tulis Vivian Leung, “Saat anda membaca tulisan ini, otak bagian kiri akan memproses kata-kata dan urutannya, dan otak bagian kanan menyediakan makna dan konteks dari suatu kalimat” (4). Dari kerja sama kedua belah otak ini kemudian kita mengerti suatu kalimat secara menyeluruh.

Kreativitas, sungguh, merupakan bagian dari kognisi manusia yang masih menjadi tanda tanya besar akan mekanisme sesungguhnya. Menciptakan eksperimen yang hanya menguji daya kreativitas saja, dan tidak lainnya adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Seperti studi yang dilakukan oleh Aziz-Zadeh terhadap 13 subjek, laki dan perempuan dari berbagai latar belakang pendidikan menghasilkan kesimpulan yang menarik. Dengan menggunakan teknologi pencitraan pada otak manusia (fMRI), Aziz-Zadeh dan tim memeriksa bagian otak yang bekerja saat subjek diberikan tugas berupa tugas yang bersifat menguji kreativitas dan tugas non-kreatif. Hasilnya, otak kanan memang memegang peranan penting pada tugas kreatif, tetapi hal yang menarik adalah tugas kreatif justru lebih memicu otak kiri untuk bekerja dibandingkan tugas non-kreatif(5). Nampaknya, kreativitas bukan sekedar dominasi dari kerja otak kanan. Begitu pula hasil review dari 72 eksperimen yang dilaporkan dalam 63 artikel oleh Dietrich memberikan kesimpulan bahwa kreativitas bukan hasil mandiri dari satu proses mental atau daerah otak tertentu, terutama bila dihubungkan dengan fungsi tunggal otak kanan atau sinkronisasi alfa, dan sebagainya(6).

Pada akhirnya, menilai bahwa diri sendiri atau orang lain lebih menggunakan otak kirinya atau otak kanannya adalah hal yang absurd. Bahkan dari studi pada sejumlah 1.011 subjek untuk melihat adanya kecenderungan orang lebih memakai otak kirinya atau otak kanannya tidak menunjukkan adanya kecenderungan demikian. Jeff Anderson dan tim dari Universitas Utah memindai otak subjek yang terdiri anak-anak hingga dewasa (7- 39 tahun). Kesimpulannya, tidak terlihat adanya pola kecenderungan lebih penggunaan otak kanan saja atau otak kiri saja(7). Sebagai gambaran sederhana, pada aktivitas menggambar (yang mungkin sering dikatakan sebagai aktivitas otak kanan), otak kanan anda akan terkonsentrasi pada gambaran besar, hubungan antara satu objek dengan objek lainnya pada gambar, dan posisi relatif dari objek yang ada pada bidang gambar, sementara otak kiri anda akan fokus pada detail dari objek dan gambar yang anda buat. Tidak ada aktivitas khusus yang menggunakan otak kanan saja atau otak kiri saja.

Referensi:
  1. Boehm, K. 2012. Left brain, right brain: an outdated argument. Tersedia di http://www.yalescientific.org/2012/04/left-brain-right-brain-an-outdated-argument/.
  2. Calvin, W.H. 1983. The throwing Madonna: essay on the brain. McGraw-Hill.
  3. Eagleman, D. 2011. Incognito: the secret lives of the brain. Vintage Book.
  4. Leung, V. 2013. The whole brain scientist. Tersedia di http://www.scq.ubc.ca/the-whole-brain-scientist/.
  5. Aziz-zedah, L., et.al. 2012. Exploring the neural correlates of visual creativity. Soc. Cogn. Affect. Neurosci., 8 (4): 475-480.
  6. Dietrich, A., R. Kanso. 2010. A review of EEG, ERP, and neuroimaging studies of creativity and insight. Psychological Bulletin, 136 (5): 822-848.
  7. Nielsen, J.A., et.al. 2013. An evaluation of the left-brain vs. right-brain hypothesis with resting state functional connectivity magnetic resonance imaging. Plos one, 8 (8): e71275.


Read More..