Dear Amellia, sahabat ku tersayang.
Bagaimana kabarmu di negeri seberang Mel? Sudahkah berhasil melakukan hal yang kau impi-impikan jika berhasil menjejakkan di negeri empat musim, mencicipi rasa benda putih-putih dingin yang kau sebut salju itu? Aku dengar setiap akhir tahun benda putih-putih dingin itu turun dari langit, seperti hujan yang sering turun di kampung kita.
Amellia yang baik,
Aku dengar hari-hari ini, hujan sudah tidak lagi romantis. Ah, aku tahu kau pasti tak kan percaya. Akan tetapi aku mendengar orang-orang meracau demikian. Paling tidak, seperti itu kata orang-orang kota di sebelah barat kampung kita. Hujan tidak lagi membawa romantisme, seperti dahulu saat kita kecil, menadahkan tangan kita, menangkap air hujan yang turun melewati genting rumah kita yang reyot. Hujan hari ini hanya membawa air, teramat banyak bahkan. Menggenangi rumah-rumah besar bertingkat yang sering kita lihat di TV hitam-putih milik kepala kampung itu. Sampai-sampai hampir aku tidak percaya, biasanya kan alam juga pilih-pilih menimpakan kesusahan. Ternyata orang-orang kaya itu juga ditimpa bencana, hampir tergelak aku tertawa.
Amellia, sahabatku berpipi tembem,
Aku harap kau tidak kurus kering-kempot di sana. Aku tahu sedari dulu kau tidak pernah membiarkan makanan nganggur. Aku harap mereka memberikanmu banyak makanan di sana. Kau tahu Mel, hujan sudah tidak mau lagi membawa rindu, mereka hanya membawa angin besar dan gemuruh di sudut-sudut langit. Apa kau juga melihatnya di TV? Tetangga kita di timur laut sana yang merasakannya. Aku melihatnya, mereka berkata hal yang sama, hujan tidak mau lagi menyampaikan rindu seseorang pada kekasihnya. Mereka hanya membawa kemarahan ibu bumi, angin yang ribut ditambah gemuruh kilat, hal tersebut pastilah memekakkan telinga semua orang. Orang-orang bilang ibu bumi murka karena manusia membuang kotoran mereka ke langit-langitnya, menggelapkan bahkan di siang terik. Mengotori langit yang memberikanmu dulu pelangi Mel, iya, sekarang kau mungkin tidak bisa melihat lengkung warna-warni langit lagi. Semua sudah tertutup debu-debu hitam yang menyesakkan napas.
Amellia yang manis,
Aku mulai setuju bahwa hari-hari ini hujan sudah tidak lagi romantis. Tetapi ada orang sepertimu yang tetap bersikeras tidak setuju dan senang merayakan rindunya bersama hujan. Aku tahu, seperti mu juga, mereka sebenarnya tahu, mereka merayakannya selagi hujan masih mengantarkan rindu mereka ke orang-orang yang mereka kasihi. Sebelum hujan tidak membawa lagi apa-apa, seperti waktu itu Mel, kau ingat? Hari itu hujan tidak membawa apa-apa, tidak romantisme atau rindu, bahkan tidak pula kebencian. Hari itu hujan hanya membawa air saja, bersama angin dan kilat-kilat yang bergemuruh marah. Dan setelahnya, aku melihat kampung kita dengan leluasa Mel, tidak ada lagi rumah-rumah reyot yang berdiri padat-padat di dalamnya. Hujan saat itu membawa pergi romantisme kita Mel, aku tidak melihat apa-apa lagi, selain mayat-mayat yang berceceran di sudut-sudut puing rumah-rumah reyot dan adikmu, yang menangis sesenggukan, memeluk tubuhmu yang mulai dingin membiru.
Read More..
If you can't explain it simply, you don't understand it well enough. (A. Einstein, 1879-1955)
Rabu, 13 November 2013
Selasa, 22 Oktober 2013
Di Kanan dan Kiri Otak Kita
![]() |
| (sumber: meritgest.com) |
Demikian dan selesai.
Sayangnya, semua itu tidak lebih dari pseudosains, mitos yang terbungkus sains, atau paling tidak, penyederhanaan yang terlalu terburu-buru dari suatu hasil riset ilmiah. Dari mana miskonsepsi lama ini berasal, di mana letak ketidaktepatannya, dan apa yang bisa kita dapat dari hasil penelitian terkini? Mari sejenak, kita kembali menyelami organ paling menajubkan sekaligus paling misterius yang dimiliki manusia, satu-satunya organ yang dapat mengeksplorasi dirinya sendiri, otak.
Belah otak jadi dua
Adalah Roger W. Sperry, peraih nobel di bidang fisiologi/kedokteran, seorang neurobiologis yang berhasil melakukan operasi pemisahan dua sisi (hemisfer) otak pertama pada pasien epilepsi di tahun 1961. Bagi Sperry pada saat itu, operasi pemisahan dua hemisfer otak merupakan harapan terakhir bagi pasien epilepsinya untuk mencegah penyebaran kondisi epilepsi dari satu sisi otak ke sisi lainnya. Operasi berjalan mulus, pasien epilepsi tersebut berhasil membaik dan berhenti mengalami kejang-kejang akibat epilepsi. Dengan kedua belah otak yang terpisah sekarang, dia tampak baik-baik saja, menjalani kehidupan yang kembali normal, menari, bercanda, mengingat, dan belajar tanpa ada masalah. Tetapi sesuatu yang aneh akhirnya teramati, dengan pensil di kedua tangan, pasien tersebut dapat menggambar bentuk geometris berbeda secara bersamaan, misal gambar lingkaran oleh tangan kanan dan segitiga oleh tangan kiri. Teramati seakan-akan pasien memiliki dua otak yang bekerja secara independen.
Masih ada lagi, ketika pasien melihat sebuah kata hanya dengan mata kanannya saja, dia bisa menyebutkannya tetapi tidak dapat menggambarkannya. Sebaliknya, jika pasien melihat sebuah kata hanya dengan mata kirinya saja, dia bisa menggambarkannya, tetapi tidak dapat menyebutkannya(1). Dari operasi pemisahan kedua sisi otak ini kemudian para peneliti menyadari adanya daerah-daerah khusus pada otak yang bertanggung jawab atas fungsi kognitif tertentu. Otak kanan yang memiliki kemampuan visual-spasial dan otak kiri yang memiliki kemampuan bahasa. Dari titik awal inilah, berkembang konsep lateralisasi fungsi otak (perbedaan fungsi kedua hemisfer otak), yang kemudian diinterpretasikan terlalu jauh sebagai otak kiri adalah otak analisis-logis dan otak kanan adalah otak abstrak-kreativitas.
Interpretasi atas hasil operasi ini nyatanya lebih kompleks dari sekedar dua fungsi otak yang saling berlawanan. Bahwa sebelum zaman penggunaan teknologi pencitraan otak (magnetic resonance imaging, dll.), penemuan fungsi-fungsi otak selalu diawali dari adanya defek (cacat) pada daerah otak tertentu yang teramati pada penderitanya. Dalam salah satu esainya di The Throwing Madonna, William H. Calvin mencatat, “Eksperimen pemisahan otak merupakan contoh yang bagus untuk studi mengenai kemampuan perpindahan fungsi otak dari sisi satu ke sisi lainnya, dibandingkan studi mengenai keterpisahan kemampuan dua sisi otak.” Sebagian besar pasien mengalami epilepsi sejak kecil, dimana perkembangan fungsi otak sedang tinggi-tingginya. Pada masa muda, fungsi otak dapat berpindah dari daerah yang cacat ke daerah lainnya di otak, begitu pula berpindah lintas hemisfer otak(2).
Para neurosaintis sendiri tidak berani mengambil interpretasi yang terlalu jauh dari hasil eksperimen pemisahan hemisfer otak. “Operasi pemisah otak tidak lebih dramatis,” tulis Calvin dalam esainya, “dari sekedar terciptanya konflik antara dua sisi tubuh.” Pada pasien pemisahan hemisfer otak, misalnya, sering terjadi alien hand syndrome, satu tangan menutup kancing baju sedang tangan lainnya membukanya(3). David Eagleman, neurosaintis dari Baylor College of Medicine, menekankan dalam bukunya, Incognito, “Pada operasi pencabutan seluruh bagian dari salah satu hemisfer otak (hemispherectomy), selama operasi dilakukan pada anak di bawah umur 8 tahun, anak tersebut akan tetap dapat menjalani hidup dengan normal walau hanya memiliki setengah otak.” Dengan hanya setengah otak yang dimiliki, dia tetap dapat tumbuh, bermain, mengerjakan matematika, dan hal-hal lainnya yang dilakukan anak normal. Pada titik ini, kedua hemisfer otak tampak seperti kembar, memiliki fungsi kognitif yang sama, satu sama lain(3).
Membedah otak saat ini
Menjadi pandangan yang diterima secara luas bahwa otak kiri berfungsi spesifik pada proses berpikir analisis dan otak kanan berfungsi spesifik pada proses berpikir abstrak atau holistik. Akan tetapi, teori tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dibuktikan. Pada eksperimen yang terkontrol, sebagai contoh, sangat sulit untuk menciptakan metode eksperimen yang hanya menguji proses berpikir analisis saja atau proses berpikir abstrak saja. “Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak ada pekerjaan yang tidak melibatkan kedua proses berpikir,” tulis Vivian Leung, “Saat anda membaca tulisan ini, otak bagian kiri akan memproses kata-kata dan urutannya, dan otak bagian kanan menyediakan makna dan konteks dari suatu kalimat” (4). Dari kerja sama kedua belah otak ini kemudian kita mengerti suatu kalimat secara menyeluruh.
Kreativitas, sungguh, merupakan bagian dari kognisi manusia yang masih menjadi tanda tanya besar akan mekanisme sesungguhnya. Menciptakan eksperimen yang hanya menguji daya kreativitas saja, dan tidak lainnya adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Seperti studi yang dilakukan oleh Aziz-Zadeh terhadap 13 subjek, laki dan perempuan dari berbagai latar belakang pendidikan menghasilkan kesimpulan yang menarik. Dengan menggunakan teknologi pencitraan pada otak manusia (fMRI), Aziz-Zadeh dan tim memeriksa bagian otak yang bekerja saat subjek diberikan tugas berupa tugas yang bersifat menguji kreativitas dan tugas non-kreatif. Hasilnya, otak kanan memang memegang peranan penting pada tugas kreatif, tetapi hal yang menarik adalah tugas kreatif justru lebih memicu otak kiri untuk bekerja dibandingkan tugas non-kreatif(5). Nampaknya, kreativitas bukan sekedar dominasi dari kerja otak kanan. Begitu pula hasil review dari 72 eksperimen yang dilaporkan dalam 63 artikel oleh Dietrich memberikan kesimpulan bahwa kreativitas bukan hasil mandiri dari satu proses mental atau daerah otak tertentu, terutama bila dihubungkan dengan fungsi tunggal otak kanan atau sinkronisasi alfa, dan sebagainya(6).
Pada akhirnya, menilai bahwa diri sendiri atau orang lain lebih menggunakan otak kirinya atau otak kanannya adalah hal yang absurd. Bahkan dari studi pada sejumlah 1.011 subjek untuk melihat adanya kecenderungan orang lebih memakai otak kirinya atau otak kanannya tidak menunjukkan adanya kecenderungan demikian. Jeff Anderson dan tim dari Universitas Utah memindai otak subjek yang terdiri anak-anak hingga dewasa (7- 39 tahun). Kesimpulannya, tidak terlihat adanya pola kecenderungan lebih penggunaan otak kanan saja atau otak kiri saja(7). Sebagai gambaran sederhana, pada aktivitas menggambar (yang mungkin sering dikatakan sebagai aktivitas otak kanan), otak kanan anda akan terkonsentrasi pada gambaran besar, hubungan antara satu objek dengan objek lainnya pada gambar, dan posisi relatif dari objek yang ada pada bidang gambar, sementara otak kiri anda akan fokus pada detail dari objek dan gambar yang anda buat. Tidak ada aktivitas khusus yang menggunakan otak kanan saja atau otak kiri saja.
Referensi:
- Boehm, K. 2012. Left brain, right brain: an outdated argument. Tersedia di http://www.yalescientific.org/2012/04/left-brain-right-brain-an-outdated-argument/.
- Calvin, W.H. 1983. The throwing Madonna: essay on the brain. McGraw-Hill.
- Eagleman, D. 2011. Incognito: the secret lives of the brain. Vintage Book.
- Leung, V. 2013. The whole brain scientist. Tersedia di http://www.scq.ubc.ca/the-whole-brain-scientist/.
- Aziz-zedah, L., et.al. 2012. Exploring the neural correlates of visual creativity. Soc. Cogn. Affect. Neurosci., 8 (4): 475-480.
- Dietrich, A., R. Kanso. 2010. A review of EEG, ERP, and neuroimaging studies of creativity and insight. Psychological Bulletin, 136 (5): 822-848.
- Nielsen, J.A., et.al. 2013. An evaluation of the left-brain vs. right-brain hypothesis with resting state functional connectivity magnetic resonance imaging. Plos one, 8 (8): e71275.
Read More..
Rabu, 28 Agustus 2013
Saya, membaca, dan es krim
![]() |
| (sumber: wowiamreading.com) |
Saya sendiri tidak pernah mengingatnya dengan jelas, kapan saya mulai suka membaca. Hingga saat ini terkadang saya masih takjub dengan foto masa balita, seumur-umur yang belum bisa membaca, di mana saya duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran dengan posisi terbalik ! Saya sangat yakin bahwa pada saat itu, huruf ‘a’ atau ‘b’ atau ‘z’ tidak lebih dari sekedar gambar-gambar meliuk padat dan rapat. Saya kira ada sesuatu yang menarik perhatian seorang Gama kecil di koran yang terhampar begitu saja di sofa ruang tamu.
Sebelum memulai mengetik tulisan kali ini, saya menyempatkan diri membaca sejenak sebuah artikel yang terlihat menarik saat saya mengetik kata kunci ‘research reading cognitive' pada mesin pencari Google. Pada bagian pendahuluan dari artikel yang ditulis oleh Cunningham dan Stanovich (2001)* tereja istilah Matthew effects. Sebuah istilah yang menggambarkan fenomena di mana orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Singkat cerita, konsep yang sama ternyata berlaku pada kebiasaan membaca manusia. Semakin sering kita terekspos oleh pengalaman membaca maka semakin senang kita dalam aktivitas membaca. Konsep yang sama kemudian mengilhamkan untuk membentuk ‘pengalaman membaca’ yang kaya pada anak-anak untuk menumbuhkan minat membaca sekaligus mengasah kemampuan kognitif mereka. Saya berpikir bahwa ‘pengalaman membaca’ tak mesti tentang anak yang duduk diam membaca, bisa jadi kegiatan-kegiatan yang memiliki banyak aktivitas gerak yang dihubungkan dengan ‘kegiatan membaca’ atau ‘buku’.
Masa awal memasuki universitas boleh jadi menjadi waktu intensitas membaca saya meningkat drastis. Bukan hanya karena tuntutan kuliah, sungguh bukan hanya itu, tetapi juga karena pada masa awal tersebut saya belum memiliki alat elektronik bernama laptop. Alhasil, saya yang tinggal di kost pada saat itu sering berkunjung ke perpustakaan pusat universitas untuk sejenak mengatasi kebosanan di kamar kost pada akhir pekan, selain tentu saja karena saya bisa memakai lab komputernya untuk berselancar ria di dunia maya. Saya ingat ketika saya menyelusuri satu demi satu rak-rak buku di perpustakaan, dari sebelah rak-rak yang berisikan buku-buku psikologi, filsafat, juga agama, berlanjut ke buku-buku sains, kedokteran, teknik, hingga ke buku-buku rumpun humaniora. Dari sini saya menemukan ternyata mereka juga memiliki koleksi buku-buku fiksi ! Dari novel-novel ringan semacam teenlit hingga karya sastra karangan penulis besar yang saya bahkan baru sekedar melihatnya pun sudah tercium aroma beratnya sastra Indonesia. Maka saya perlu berterimakasih pada perpustakaan pusat universitas karena mengenalkan berbagai macam buku fiksi yang menarik untuk dibaca. Saya mengingatnya walau dengan samar, saya membaca hampir semua serial supernova karya Dee hasil pinjaman perpustakaan pusat, atau novel bahasa Inggris pertama yang saya baca karya James Patterson (judulnya saya lupa, yang pasti berhubungan dengan eksperimen genetik yang menjadikan anak manusia bersayap seperti malaikat) hingga novel karya Stephen King yang bahkan pada halaman pertamanya saja sudah membuat saya mengenyerengitkan dahi kemudian menyudahinya pada halaman kelima. Tentu saja saya tidak lupa untuk sekedar meminjam buku farmasi fisiknya Alfred Martin atau melihat-lihat beberapa halaman berwarna dari fisiologi manusianya William F. Ganong.
Satu hal yang saya tahu bahwa membaca dapat membawamu sejenak dari realita di sekitarmu. Terutama ketika kita membaca buku-buku fiksi fantasi yang membawa realita kita ke negeri antah-berantah atau sekedar padang rumput bersemilirkan angin. Saya menyukai membaca dan buku tentunya, yang selalu saya anggap harta yang berharga. Kemajuan teknologi, ebook, tak akan pernah menggantikan kertas-kertas krem buku yang darinya tercium aroma khas yang memesona, atau paling tidak hingga manusia berhasil menciptakan sensasi yang sama pada saat kita membaca ebook. Di tengah pikiran yang sedang berat atau hati yang tidak keruan, membaca adalah pilihan yang selalu menyenangkan. Terutama membaca Qur’an, baca saja dan anda akan merasakan ketenangan yang menjalar dari ubun-ubun kepala. Oleh karena itu jika anda melihat saya sedang bersedih hati atau bermuram ria, berikan saja saya sebuah buku yang menarik untuk dibaca atau tulislah sebuah tulisan dan biarkan saya membacanya. Buku, tak ayal lagi, adalah moodbooster kedua terbaik selain, ah tentu saja yang terbaik pertama, es krim coklat !
*)Cunningham, A.E. and K.E. Stanovich. (2001). What reading does for the mind. Journal of Direct Instruction, 1(2), 137-149.
Read More..
Senin, 19 Agustus 2013
Parasetamol dan cerita lainnya
“Hingga saat ini saya kira semua sepakat, parasetamol masih menjadi obat yang paling dicari-cari saat kepala sakit terasa, saat demam menggigil melanda.”
Parasetamol tak pernah ditemukan benar-benar secara tidak sengaja, paling tidak hingga mereka menyebutnya parasetamol dan dipasarkan oleh Sterling-Winthrop Co. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mencatat selalu ada pelajaran dari setiap kesalahan, dan dari sebuah kesalahan pemberian obat cacing, naftalen, menjadi asetanilid, dua orang asisten professor dari Universitas Strassburg mencatatkan dalam sejarah, obat penurun demam (antpiretik) baru yang dapat diproduksi dengan murah. Sayangnya, keberuntungan tak berlangsung lama, asetanilid memiliki efek samping serius pada hemoglobin darah dan peredarannya ditarik dari pasaran.
Berhenti hingga di sinikah? Tentu saja tidak. Ketidaksengajaan penemuan efek antipiretik asetanilid menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran yang sama yang ada pada setiap penemu-penemu besar dunia. Rasa penasaran yang sama yang membangun peradaban manusia. Hingga singkat cerita, percobaan-percobaan dilakukan, sintesis senyawa baru yang memiliki potensi lebih baik dan efek samping rendah diciptakan. Setelah 60 tahun sejak kejadian kesalahan pemberian obat cacing di Universitas Strassburg, parasetamol dipasarkan ke dunia. Meledak menjadi obat sakit kepala dan demam yang dicari-cari umat manusia.
Kesalahan-kesalahan selalu terjadi, dari sesepele salah mengambil warna dasi hingga salah memberikan obat. Kesalahan-kesalahan mungkin terjadi, pada pribadi yang sudah ahli dan terbiasa sekalipun. Tetapi mereka yang luarbiasa adalah mereka yang mengakui kesalahannya, menyelesaikannya, bahkan bisa jadi memanfaatkannya menjadi suatu yang lebih berguna.
Cerita-cerita sakit kepala
Bahkan ketika mengetik tulisan ini, kepala saya masih agak terasa pening karena beberapa hal nampaknya terlalu menjadi beban pikiran. Beberapa hal memang tak perlu dipikirkan berlebihan karena hal-hal tersebut tercipta untuk dikerjakan. Masalah-masalah tak akan pernah selesai dengan memikirkan solusinya saja. Sakit kepala bisa saja tetap berlangsung walau solusi ditemukan, jika solusi tersebut tak pernah dilakukan, yang berarti tidak terbukti ketepatannya, yang dengan demikian menambah sakit kepala anda !
Banyak hal memang akan membuat anda sakit kepala, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan atau rencana-rencana yang tak berjalan sesuai harapan. Bahkan harapan sendiri bisa membuat anda sakit kepala ! Sekali lagi jika harapan tersebut hanya dibayangkan, tak selangkah pun coba diwujudkan. Bayangan-bayangan masa depan bisa jadi sangat menyeramkan, tetapi bayangan hanyalah bayang-bayang, ketakutan-ketakutan akan masa depan tidak pernah perlu terjadi, dan masa depan sendiri bukanlah sesuatu yang harus selalu dibayang-bayangkan. Masa depan ada untuk kemudian kita melangkah memeluknya.
Urusan cinta yang membius banyak orang bisa jadi membuat anda lebih sakit kepala lagi. Tak ada kegilaan yang lebih memayahkan kecuali pada orang-orang yang memendam rindu dan tersiksa karena kerinduannya. Urusan gila-menggila karena cinta-rindu-harap sebenarnya bisa dihindari dengan mindset yang tepat. Ah, terlalu awam bagi saya untu berbicara persoalan gila-rindu-cinta-harap yang tak habis-habis. Paling tidak, satu solusi yang bisa saya tawarkan untuk meredakan sakit kepala anda sementara, minumlah obat sakit kepala, parasetamol !
Read More..
Parasetamol tak pernah ditemukan benar-benar secara tidak sengaja, paling tidak hingga mereka menyebutnya parasetamol dan dipasarkan oleh Sterling-Winthrop Co. Meskipun demikian, rasanya kita perlu mencatat selalu ada pelajaran dari setiap kesalahan, dan dari sebuah kesalahan pemberian obat cacing, naftalen, menjadi asetanilid, dua orang asisten professor dari Universitas Strassburg mencatatkan dalam sejarah, obat penurun demam (antpiretik) baru yang dapat diproduksi dengan murah. Sayangnya, keberuntungan tak berlangsung lama, asetanilid memiliki efek samping serius pada hemoglobin darah dan peredarannya ditarik dari pasaran.
Berhenti hingga di sinikah? Tentu saja tidak. Ketidaksengajaan penemuan efek antipiretik asetanilid menggelitik rasa penasaran manusia. Rasa penasaran yang sama yang ada pada setiap penemu-penemu besar dunia. Rasa penasaran yang sama yang membangun peradaban manusia. Hingga singkat cerita, percobaan-percobaan dilakukan, sintesis senyawa baru yang memiliki potensi lebih baik dan efek samping rendah diciptakan. Setelah 60 tahun sejak kejadian kesalahan pemberian obat cacing di Universitas Strassburg, parasetamol dipasarkan ke dunia. Meledak menjadi obat sakit kepala dan demam yang dicari-cari umat manusia.
Kesalahan-kesalahan selalu terjadi, dari sesepele salah mengambil warna dasi hingga salah memberikan obat. Kesalahan-kesalahan mungkin terjadi, pada pribadi yang sudah ahli dan terbiasa sekalipun. Tetapi mereka yang luarbiasa adalah mereka yang mengakui kesalahannya, menyelesaikannya, bahkan bisa jadi memanfaatkannya menjadi suatu yang lebih berguna.
Cerita-cerita sakit kepala
Bahkan ketika mengetik tulisan ini, kepala saya masih agak terasa pening karena beberapa hal nampaknya terlalu menjadi beban pikiran. Beberapa hal memang tak perlu dipikirkan berlebihan karena hal-hal tersebut tercipta untuk dikerjakan. Masalah-masalah tak akan pernah selesai dengan memikirkan solusinya saja. Sakit kepala bisa saja tetap berlangsung walau solusi ditemukan, jika solusi tersebut tak pernah dilakukan, yang berarti tidak terbukti ketepatannya, yang dengan demikian menambah sakit kepala anda !
Banyak hal memang akan membuat anda sakit kepala, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan atau rencana-rencana yang tak berjalan sesuai harapan. Bahkan harapan sendiri bisa membuat anda sakit kepala ! Sekali lagi jika harapan tersebut hanya dibayangkan, tak selangkah pun coba diwujudkan. Bayangan-bayangan masa depan bisa jadi sangat menyeramkan, tetapi bayangan hanyalah bayang-bayang, ketakutan-ketakutan akan masa depan tidak pernah perlu terjadi, dan masa depan sendiri bukanlah sesuatu yang harus selalu dibayang-bayangkan. Masa depan ada untuk kemudian kita melangkah memeluknya.
Urusan cinta yang membius banyak orang bisa jadi membuat anda lebih sakit kepala lagi. Tak ada kegilaan yang lebih memayahkan kecuali pada orang-orang yang memendam rindu dan tersiksa karena kerinduannya. Urusan gila-menggila karena cinta-rindu-harap sebenarnya bisa dihindari dengan mindset yang tepat. Ah, terlalu awam bagi saya untu berbicara persoalan gila-rindu-cinta-harap yang tak habis-habis. Paling tidak, satu solusi yang bisa saya tawarkan untuk meredakan sakit kepala anda sementara, minumlah obat sakit kepala, parasetamol !
Read More..
Kamis, 08 Agustus 2013
Happy Eid Mubarak 1434H :D
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf pembaca sekalian atas segala postingan yang tidak berkenan.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi :D
Read More..
Kamis, 23 Mei 2013
Menandai catatan, happy 4th anniversary Journal of Ramadhan
Tidak ada kue ulangtahun, perayaan dengan berbagai giveaway, bahkan pesta-pesta meriah malam malam. Bukan, memang kau kira perayaan ulangtahun orang kaya dan terkenal.
Well, alhamdulillah, masih diberi konsistensi untuk menulis catatan-catatan sedikit ilmu di kepala atau dari buku-buku yang dibaca, jurnal, paper, artikel yang sedang iseng-iseng gak ada kerjaan terbaca :p, dalam sebuah blog yang sejak Mei 2009 lalu terterbitkan di dunia maya, Journal of Ramadhan !
Tentu saja bukan sebuah blog populer, dari 4 tahun malang melintang di dunia maya, hanya tercatat 32 followers dan 56.345 views (berdasarkan statistik internal blogger) yang tanpa sengaja tersesat ke blog Journal of Ramadhan. Mungkin karena tulisan saya yang memang gak bagus atau topik yang tidak populer atau bahkan keduanya!. HAHAHA. Though I don't really care about it. Di titik awal ketika memutuskan untuk menulis blog, hanya ada keinginan untuk berbagi keingintahuan tentang alam kita, diri kita sendiri, bahkan mengintip sedikit misteri mengagumkan di dunia. Saya selalu percaya, dengan sudut yang tepat, topik-topik sains selalu akan semengagumkan cerita fantasi sebelum tidur, seindah roman cinta paling memukau, atau serenyah kisah metropop di novel-novel teenlit. Suatu hari nanti, saya yakin ada saat di mana kita dapat berbincang tentang kisah penemuan menakjubkan terbaru, sehangat kopi yang kita minum di warung kopi sebelah.
After all, terimakasih kepada para pembaca yang tanpa sengaja tersesat dan yang (jika ada) menanti blogpost terbaru tiap bulannya atau para silent reader dan tentu saja pembaca yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di bagian komentar. Trims and I'll keep writing or, oh well, blogging ;)
ganbarimashou !
Read More..
Well, alhamdulillah, masih diberi konsistensi untuk menulis catatan-catatan sedikit ilmu di kepala atau dari buku-buku yang dibaca, jurnal, paper, artikel yang sedang iseng-iseng gak ada kerjaan terbaca :p, dalam sebuah blog yang sejak Mei 2009 lalu terterbitkan di dunia maya, Journal of Ramadhan !
Tentu saja bukan sebuah blog populer, dari 4 tahun malang melintang di dunia maya, hanya tercatat 32 followers dan 56.345 views (berdasarkan statistik internal blogger) yang tanpa sengaja tersesat ke blog Journal of Ramadhan. Mungkin karena tulisan saya yang memang gak bagus atau topik yang tidak populer atau bahkan keduanya!. HAHAHA. Though I don't really care about it. Di titik awal ketika memutuskan untuk menulis blog, hanya ada keinginan untuk berbagi keingintahuan tentang alam kita, diri kita sendiri, bahkan mengintip sedikit misteri mengagumkan di dunia. Saya selalu percaya, dengan sudut yang tepat, topik-topik sains selalu akan semengagumkan cerita fantasi sebelum tidur, seindah roman cinta paling memukau, atau serenyah kisah metropop di novel-novel teenlit. Suatu hari nanti, saya yakin ada saat di mana kita dapat berbincang tentang kisah penemuan menakjubkan terbaru, sehangat kopi yang kita minum di warung kopi sebelah.
After all, terimakasih kepada para pembaca yang tanpa sengaja tersesat dan yang (jika ada) menanti blogpost terbaru tiap bulannya atau para silent reader dan tentu saja pembaca yang berbaik hati meninggalkan jejaknya di bagian komentar. Trims and I'll keep writing or, oh well, blogging ;)
ganbarimashou !
Read More..
Selasa, 14 Mei 2013
mtDNA dan Jejak Ibu Peradaban
![]() |
| (sumber gambar: ENB 105) |
DNA (Deoxyribonucleic acid), kita kenal sebagai suatu cetak biru manusia, di mana seluruh informasi ‘luar-dalam’ manusia dikodekan dalam suatu untaian berpilin ganda. Dalam sel manusia, DNA utama tersimpan rapi dalam suatu inti sel atau nukleus. Meskipun demikian, ada suatu organel sel, tempat dihasilkannya energi bagi sel, yang memiliki untaian DNA berpilin dan membentuk lingkaran, yaitu mitokondria. DNA mitokondria (mtDNA) menjadi salah satu alat istimewa dalam melacak asal usul manusia karena karakteristiknya yang justru berbeda dari DNA pada inti sel. Sementara DNA di inti sel didapatkan dari hasil kombinasi gen ayah dan ibu, mtDNA hanya diwariskan oleh ibu. Meskipun seorang pria memiliki mtDNA yang berasal dari ibunya, ia tidak akan bisa menurunkan mtDNA kepada keturunannya. Hal ini disebabkan, saat proses pembuahan terjadi, ketika sel sperma memasuki sel ovum, mitokondria sel sperma akan mengering dan mati. Alhasil, hanya mtDNA dari sel ovumlah yang akan diwariskan kepada keturunan selanjutnya. Selain karakter di atas, mtDNA memiliki karakteristik lain, seperti tingginya jumlah kopi gen mtDNA, rendahnya proses rekombinasi DNA, laju mutasi yang lebih tinggi.
Sebuah pertanyaan menarik adalah bila mtDNA diturunkan hanya melalui jalur ibu dan tidak ada kombinasi dari gen ayah, apakah hal itu berarti kita memiliki sekuens gen mtDNA yang sama? Jawabannya adalah tidak. Laju mutasi gen mtDNA lebih tinggi dari DNA pada inti sel, terutama mutasi titik, di mana terjadi perubahan pada pasang basa DNA di titik-titik tertentu. Laju mutasi ini tampaknya tetap dari generasi ke generasi, yakni sekitar satu mutasi tiap 3000 generasi, sehingga para peneliti dapat mengestimasikan berapa lama mutasi yang telah terjadi. Secara sederhana, kita dapat melacakan (tracing) pendahulu-pendahulu kita dengan menganalisis mutasi yang terjadi pada mtDNA. Bila kita mencocokkan sekuens mtDNA pada orang-orang yang hidup saat ini, maka garis kesamaan sekuens dapat terlihat yang berarti semakin sama sekuensnya menunjukkan semakin berkerabat orang tersebut. Lebih lanjut, pada mtDNA terdapat bagian-bagian khas tertentu pada sekuens gen yang mengalami mutasi dan cenderung menunjukkan spesifitas daerah geografis tertentu. Misal mutasi pada bagian (macrohaplogroup) L pada mtDNA menunjukkan mtDNA berasal dari daratan Afrika, sementara macrohaplogroup A, B, C, dan D berasal dari Asia. Setelah dilakukan sekuens gen mtDNA pada populasi di berbagai daerah geografis di dunia, mencocokkan berbagai kombinasi gen yang sedemikian kompleks dengan menggunakan simulasi komputer, arus migrasi populasi dunia dapat dibuat dan titik awal populasi tersebut berada pada dataran Afrika. Pada titik kesimpulan inilah, hipotesis mengenai adanya nenek moyang yang sama pada seluruh umat manusia diajukan.
Pendekatan pencarian asal-usul leluhur manusia dengan menggunakan mtDNA tentu saja memiliki kelemahan. Beberapa metode lain diajukan, seperti dengan menggunakan penanda kromosom-Y (yang spesifik hanya laki-laki) sebagai pelengkap analisis dengan metode mtDNA. Terlepas dari apakah anda pendukung teori evolusi atau tidak, kesimpulan bahwa kita berasal dari leluhur yang sama masih sangat kuat dan dapat diperdebatkan.
Bacaan lebih lanjut:
- Oppenheimer, S. Mitochondrial DNA: the eve gene. Tersedia di http://www.bradshawfoundation.com/journey/eve.html [diakses 14 Mei 2013]
- Pakendorf, B. dan M. Stoneking. (2005). Mitochondrial DNA and human evolution. Annu. Rev. Genomics Hum. Genet., 6, 165-183.
- Wilkins, A. How mitochondrial eve connected all humanity and rewrote human evolution. Tersedia di http://io9.com/5878996/how-mitochondrial-eve-connected-all-humanity-and-rewrote-human-evolution [diakses 14 Mei 2013]
- Witas, H.W. dan P. Zawicki. (2004). Mitochondrial DNA and human evolution: a review. Antrop. Rev., 67, 97-110.
Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)





