"Begitu burukah ketika kita melarikan diri dari kenyataan ?", Saya bertanya dan bertanya, tidak mengharapkan jawaban, berharap keluar dari situasi serba masalah ini.
Tapi sayang, kenyataan adalah hal yang harus kita hadapi, mereka tidak akan mengejarmu dan kamu tidak akan berlari dari mereka. Mereka adalah kenyataan di sekitarmu, menunjukan eksistensimu, mencegahmu dari tersesat dalam dunia lainnya.
"Kalau begitu, ajak saja saya pergi dari sini, kamu serba tahu, bantu saya menyelesaikan segalanya." Menatap berharap dan tidak ada yang pernah salah dari harapan.
Sayang, tidak ada yang pernah tahu segalanya, kamu bebas berkelana dalam duniamu, namun tempat kakimu berpijak adalah bumi yang nyata. Tapi tidak ada salahnya jika kita sejenak menapak ke negeri para angin, mengharap hembusan lembutnya menerbangkan segala kecemasan yang melanda. Paling tidak hingga perasaanmu membaik dan kemudian kita bisa bersama-sama menjelajahi bintang gemintang.
“Orang kecil seperti kita, jika tidak punya mimpi maka akan mati boi” (Arai dalam Sang Pemimpi)
Saya pernah bercerita kepadamu tentang mimpi masa lampau, kenangan yang tersimpan dalam kantung-kantung memori yang tersebar di segala penjuru otak. Ada romantisme masa kecil, di mana kita dahulu duduk dan bermain, menikmati sinar matahari dan semilir angin di bawah naungan pohon rindang, melihat alang-alang menari dalam irama hembusan angin. Saya pernah berkisah kepadamu, bahwa angin berbisik lembut saat itu, melayangkan mimpi dan cita kita ke awan yang berarak tenang dalam formasi tiga-tiga. Dan kawan, masihkah engkau dapat mengingat mimpi masa itu, kemudian berani merenggutnya dari angan-angan yang terlelap ?
Mimpi yang mana?
Setiap kita bermimpi, paling tidak berangan dalam lamunan-lamunan di waktu siang atau dalam kejadian-kejadian dalam kepala saat kita terlelap. Ada mimpi yang mengalir masuk ke dalam alam bawah sadar kita, mengisi kekosongan di sudut angan-angan kita. Mimpi yang begitu nyaman, logis, begitu nyata, sampai-sampai kita bisa melihatnya di depan kita. Harapan, cita, impian, atau apapun anda ingin menyebutnya, dan kita sama-sama tahu, mimpi yang seperti ini, mengambil energi harapan kita, menggunakan sumber daya yang kita miliki. Dan kita selalu berharap, mimpi-mimpi ini bisa memeluk erat takdir yang menjadikannya nyata.
Mimpi dan saya kegagalan
Tidak semuanya memeluk takdir, seakan kesempatan menjadi begitu terbatas di depan kita. Pintu-pintu kesempatan menjadi begitu tertutup dan kita dihadapkan pada keputusan yang sulit. Ya, kita bermimpi dan kita juga pernah, mungkin sering, bertemu kegagalan di tengahnya. Bahkan kita sudah melihat kegagalan sebelum melangkah untuk mengambilnya, kita kalah bahkan sebelum berperang. Kita dan begitu banyak kegagalan yang sering dilihat, membatasi mimpi kita, menyadarkan kita bahwa kita tak akan pernah sanggup, bahwa hal yang realistis adalah hal yang aman. Kita mulai tidak berani melangkah ke luar lingkaran, kita membatasi mimpi dan ya, kita melupakan romantisme mimpi masa kecil.
Mimpi dan saya cibiran “Berhentilah mengolokku, agar kau tidak menangis saat aku melenggang anggun di atas mu kelak”
Saya pemimpi dan mereka menyebut saya orang yang tidak pernah realistis. Tapi pemimpi yang sebenarnya tidak membiarkan mimpi mereka hanya berada di ranjang tempat tidur mereka atau melayang di sekitar angan-angan siang hari. Saya memiliki mimpi dan mereka menyebut saya mengada-ada. Mungkinkah orang kecil memang tak pernah diizinkan untuk menjadi besar. Mungkin lingkungan kita tak pernah mengizinkan kita melewati batas yang ditetapkan. Orang rata-rata tidak pernah mengizinkan orang lain lebih dari rata-rata. Dan memang saya pantas dicibir, ketika saya hanya duduk diam memangku tangan dan mulai berangan yang lain lagi. Dan cibiran bukankah hanya sebuah pengingatan bahwa ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memeluk mimpi. Dan percayalah ketika mereka mengatakan tidak mungkin, tidak akan ada orang yang benar-benar bisa menghentikan kita, tidak satu jua pun, tidak ada kecuali diri kita sendiri.
Memberi ruang mimpi “Latihan dengan hal yang tersulit bukanlah selalu berarti baik. Karena ketika kita mulai kelelahan, kita akan menurunkan target pencapaian, kita mulai tidak memberikan ruang pada mimpi.”
Bagaimana perbandingan antara keberhasilan dan kegagalan yang anda alami sampai saat ini ? Kita mulai menurunkan target, kita semua usaha menjadi begitu percuma, ketika semua ikhtiar begitu terasa sia-sia. Seiring dengan pertambahanan usia, kita menjadi begitu banyak melihat kegagalan di sekitar kita, menimpa orang-orang terdekat kita, juga menimpa diri kita sendiri. Kita mulai takut memeluk masa depan yang tidak pasti dan tergugu aman dalam lingkaran yang kita buat sendiri.
Mimpi itu harus direncanakan kawan, menjadikannya begitu realistis seakan kita dapat memeluknya sekarang juga. Dalam setiap rencana yang kita buat dalam kehidupan ini, kita mungkin perlu memberikan ruang untuk mimpi agar menjaga cahaya harapan tetap menyala hangat. Bukan menjadi naïf atau terjebak dalam utopia, tetapi kita mungkin memang perlu memberikan ruang untuk mimpi, agar menjadikan diri kita yakin akan adanya penghidupan yang lebih baik, agar menjadikan kita percaya bahwa dari semua kekurangan yang ada, selalu ada kesempatan untuk memperoleh hal yang lebih baik. Kita perlu memberikan ruang bagi mimpi, tidak terlalu besar agar tidak menjadikan kita terlelap di dalamnya, tidak terlalu kecil agar tidak mati dan meninggalkan kita dalam kekhawatiran, sebuah ruang yang cukup dalam kehidupan kita, agar nanti saat kita terlelah, kita dapat berhenti sejenak, melihat kembali ruang mimpi, mengisi energi perjuangan, dan kemudian berlari lagi.
Dan saya tahu kamu masih mengingatnya, saat kita menari bersama angin yang mengelus lembut kepala kita. Angin yang sama yang berbisik di telinga-telinga kita, “Tumbuhlah besar, berjiwa besar dan lihatlah segala sesuatunya dengan bijak. Maka engkau akan melihat bahwa hidup ini begitu adil.”
Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.
Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Di sini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh seorang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh dilahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan.
Tahapan ini boleh jadi merupakan tahapan yang tidak terlalu diperhatikan saat proses ekstraksi simplisia berlangsung. Hal ini merupakan hal yang wajar, mengingat tahapan ini di antara dua tahapan utama dalam proses ekstraksi, yaitu proses ekstraksi itu sendiri dan proses pengeringan ekstrak menjadi ekstrak kering.
Meskipun demikian, jenis ekstrak yang diinginkan mempengaruhi metode pemekatan yang dipilih. Ekstrak cair sebagai hasil ekstraksi dari ekstraktor, dikenal sebagai misela (miscella), pada umumnya akan dipekatkan dengan metode evaporasi. Ekstrak cair dimasukan ke alat evaporator dimana ekstrak akan dipekatkan dalam vakum untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental ini selanjutnya akan dikeringkan untuk mendapatkan ekstrak kering. Pada skala industri, pelarut yang berhasil didapatkan kembali akan digunakan lagi untuk ekstraksi batch berikutnya.
Pada proses lanjutan, ekstrak cair yang diperoleh dapat dilakukan:
Pemekatan sebagian atau total, tergantung apakah ekstrak cair tersebut ditujukan untuk ekstrak kering, ekstrak cair, atau kental.
Pemekatan sebagian atau diekstraksi kembali (counterextracted) dengan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan ekstrak yang lebih banyak dan lebih murni.
Diekstrak kembali tanpa pemekatan untuk mengisolasi senyawa tertentu.
Selain poin ketiga, setiap ekstrak perlu dilakukan pemekatan. Pada proses pemekatan perlu diperhatikan stabilitas kimia dari senyawa yang ingin diperoleh. Oleh karena itu, proses pemekatan sering kali dilakukan pada suhu 25° – 30° C atau temperatur tinggi dengan durasi singkat untuk menjaga kestabilan senyawa kimia yang bersifat termolabil.
Pemekatan didefinisikan sebagai peningkatan komposisi senyawa terlarut (solute) dalam pelarutnya melalui metode evaporasi atau vaporisasi (vaporization) tanpa mengubahnya menjadi produk kering, meskipun hasil akhir dari proses pemekatan dapat berupa ekstrak dengan viskositas tinggi. Istilah vaporisasi atau boiling down lebih sering digunakan untuk menggambarkan pemekatan suatu ekstrak dibandingkan dengan evaporasi. Evaporasi didefinisikan sebagai proses perubahan keadaan cair menjadi gas dengan kehadiran gas lain, misalnya udara, pada wadah atau tempat evaporasi. Namun pada istilah vaporisasi, hanya molekul dari pelarut yang hadir dalam wadah atau tempat vaporisasi. Istilah boiling down digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah zat padatnya atau konsentrat dengan kepadatan tinggi, sedangkan istilah vaporisasi digunakan ketika objek yang ingin diperoleh kembali adalah pelarutnya.
Parameter yang mempengaruhi proses pemekatan meliputi jumlah larutan yang akan dipekatkan dan kestabilan dari zat terlarut. Jika diperkirakan zat terlarut yang dikehendaki bersifat termostabil maka pemekatan dapat dilakukan pada tekanan biasa atau di bawah vakum. Zat yang bersifat termolabil harus dipekatkan dengan suhu yang diperkirakan tidak akan mendegradasi zat tersebut. Peningkatan tekanan dapat dilakukan agar suhu yang diperlukan untuk menguapkan pelarut dapat diturunkan.
Referensi:
List, P.H. dan P.C. Schmidt. 1989. Phytopharmaceutical technology. London: Heyden & Son Limited.
Bomberdelli, E. 1991. Technologies for the processing of medicinal plants. In R.O.B. Wijesekera (ed). The medicinal plant industry. Florida: C R C Press Inc.
Handa, S.S., et. al. 2008. Extraction technology for medicinal and aromatic plants. Trieste: ICS-UNIDO
Science is an ever-changing field. As new thing discovered, we see the world better
Bahwa mahasiswa adalah iron stock bukanlah suatu hal yang perlu diragukan. Kita sering menganggap bahwa mahasiswa dengan kehidupan kampusnya yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, merupakan miniatur dari sebuah negara. Anda bisa membayangkan bahwa sistem keorganisasian, sistem hirearkinya,-walaupun tidak persis sama- mirip dengan sistem kenegaraan, dengan segala lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang ada di dalamnya. Di satu sisi, aspek keilmiahan (hard competence) pun terus berkembang, walau harus merangkak pelan. Dari tahun ke tahun, sepanjang 4 tahun berkecimpung di dunia kampus FMIPA UI, saya melihat pergerakan maju. Dari pergerakan "Hidup Mahasiswa !!!" "Hidup Rakyat Indonesia!!"
Yel itu adalah slogan khas pergerakan sosial-politik mahasiswa. Idealisme tinggi dengan semangat menggebu untuk memperbaiki bangsa. Aksi adalah hal yang wajar di universitas ini, bagaimana tidak, sebagai satu-satunya kampus besar yang dekat dengan ibu kota, begitu besar arus pergerakan sosial-politik yang mengalir bersama kehidupan organisasi kampus. Di klimaks tahun 1998, kondisi itu begitu menyelimuti dunia mahasiswa, aksi, demonstrasi, tuntutan-tuntutan perbaikan di sana-sini.
Olehnya reformasi bergulir, merubah peta kekuatan dan kekuasaan. Sekali lagi, eksistensi mahasiswa tidak bisa diabaikan. Mahasiswa adalah pihak yang unik, kualitas intelektualitas mereka selalu membuat para tetua mengangguk takjub, idealisme mereka yang demikian besar menjadi kontrol moral bagi pribadi dan komunitas masyarakatnya.
It's changing
Secara kasat mata, saya melihat gradasi perubahan cara mahasiswa menunjukkan idealismenya, memperbaiki ibu pertiwi. 'Turun ke jalan', meski tetap menjadi metode yang ampuh untuk menyampaikan suara-suara nurani, sudah mulai tidak menjadi primadona; atau paling tidak, 'jalan' yang dimaksud sudah mulai berpindah. 'Jalan-jalan'nya menjadi bentuk real turun tangan langsung memperbaiki bangsa, tidak melulu mengandalkan semangat menggebu, namun juga kesadaran untuk men-down to earth-kan hard competence. Bahwa segala yang mahasiswa dapat dibangku perkuliahan bukanlah permata di menara gading, hal tersebut sudah seharusnya menjadi mata air yang memberikan kesegaran di sekitarnya. Bahwa mahasiswa, terlepas bagaimana dia menjalankan kehidupan kampusnya, haruslah bertanggung jawab atas kompetensi yang dimilikinya (atau yang seharusnya dimilikinya) kepada masyarakat, atau minimal orang-orang yang berinvestasi kepadanya.
Saya melihat banyak solusi-solusi nyata untuk permasalahan bangsa yang keluar dari kompetensi para mahasiswa. Meskipun sebagian besar masih berada tahap gagasan ataupun prototype, ide-ide cemerlang itu menanti untuk ditangkap dan direalisasikan. Setiap orang memang tidak selalu dapat menghasilkan gagasan cemerlang, namun gagasan dapat datang dari siapa saja. Hal sederhana yang perlu kita lakukan, adalah memperhatikannya dengan baik, maka ide-ide sepele pun dapat berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Anda tahu? Lihat saja sebuah ide sederhana dahulu, membotolkan air minum! Dan sekarang anda pasti selalu melihat sampah botol air minum di mana-mana.
Moving forward
Jelas ada perubahan besar dari tahun 2007 hingga tahun 2011, pergesaran concern ke arah keilmiahan. Lihat saja, mahasiswa baru disambut tidak lagi hanya dengan slogan Hidup Mahasiswa !, namun juga dorongan untuk berkarya dalam bidang ilmiah. Pemicu utamanya tentu saja PKM (Program Kemahasiswaan Mahasiswa) yang diadakan oleh Dikti ini. Semakin tingginya tingkat kegerahan mahasiswa UI akan ajang ilmiah yang satu ini. Ajang ini seakan-akan harus dapat ditaklukan, jika tidak ingin terus menjadi duri dalam daging. Ajang keilmiahan dan kompetensi lainnya, seperti Mahasiwa Berprestasi, MUN (Model United Nation), olimpiade sains, kontes robotik, berbagai macam ajang dalam bentuk speech, debate atau paper presentation, mulai dari yang bersifat cultural events hingga international conferences banyak ditaklukan oleh mahasiwa UI. Hanya di ajang tingkat nasional ini, PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional), UI belum pernah menunjukkan giginya secara maksimal. Truly, it's really annoying guys.
So, we're moving forward, ajang-ajang penulisan karya ilmiah ini begitu digalakan. Kampanye, pelatihan, seakan-akan semua bidang keilmiahan di seluruh fakultas melebur, berstrategi untuk mencapai cita bersama. Dan gradasi tersebut terlihat nyata -setidaknya di fakultas saya, FMIPA-, perubahan concern ke arah keilmiahan. Dan memang seharusnya seperti itu, sebagai fakultas yang menyandang nama science. Hal ini seperti, kita kembali ke zona sendiri setelah beberapa lama ditinggalkan. Beruntunglah mereka yang berkuliah di fakultas MIPA dan Teknik, mereka tidak perlu mencari kemana tentang rasa keilmiahan, what we only need is just to look in ourselves, it’s in us ! Dan yang perlu kita lakukan adalah dengan meletakkan kompetensi kita kepada tempat yang semestinya, bukan di menara gading nun jauh di atas, tetapi di sekitar kita, di masyarakat kita, di tengah bangsa ini. Surely, we just have to look deeper around and we'll find that every single knowledge of us is a problem solver to every single problem existed.
"what we only need is just to look in ourselves, it’s in us !"
PIMNAS terasa menjadi trigger bangkitnya kembali kultur menulis di mahasiswa UI, menuliskan gagasan tidak hanya mengendapkan dalam otak sendiri, berkarya menghasilkan sesuatu hal, dan bukan hanya unjuk bicara. Namun, ini semua bukan tentang PIMNAS, ataupun ajang-ajang kompetisi ilmiah lainnya. Ini tentang keilmiahan itu sendiri, tentang bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa adalah masyarakat ilmiah, berpikir dan bertindak yang mencerminkan karakter manusia rasional.
"Memory is a way of holding on to the things you love, the things you are, the things you never want to lose.” (Kevin Arnold)
Bagaimana anda mendefinisikannya? Perasaan cinta yang membuncah, benci berdarah-darah, kesedihan yang mengharu-biru atau ketakutan akan ditinggalkan. Dalam kesepakatan yang banyak dipahami oleh hampir semua orang di bumi ini, kita mengenalnya dalam sebuah padanan konsep emosi. Pertanyaan selanjutnya menjadi apa itu emosi ? Dan memang, jawaban akan menelurkan pertanyaannya selanjut, dan selalu saja begitu.
Maka, ketika pertama kali terlintas dalam otak anda kata ‘cinta’ di atas, apa yang anda bayangkan ? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang lantas menyulut kemarahan anda ? Konsep emosi, bagaimanapun juga dipandang secara objektif, mencakup perasaan emosional subjektif dan suasana ‘hati’ ditambah respon-respon fisik yang muncul berkaitan dengan perasaan tersebut. Alih-alih cerita mengenai kegalauan anak-anak muda tentang emosi, cinta, benci, dan rindu, saya akan mengajak pembaca untuk melihatnya dalam sudut pandang lain tentang emosi, cinta, rindu, dan kenangan. Memulainya dari isi kepala kita
Berbicara tentang cinta, maka berbicara tentang hati. Sayangnya, saya mengajak pembaca melalui jalur yang berbeda, dimana kita akan sedikit menyelami samudra tentang memori, tentang sel saraf yang mengambang tenang di dalam cairan serebrospinalnya. Saya agak tidak suka mengatakannya tapi anda perlu memulainya dari pelajaran tentang isi kepala (otak) anda agar anda lebih dapat merasakan keindahan misterius yang ditawarkan otak kepada kita. Secara sederhana, otak kita adalah organ yang kompleks, mencakup ribuan sistem dinamis sel saraf dan koordinasi-koordinasi yang belum sepenuhnya dipahami hingga saat ini.
Di antara semua hal yang merupakan bagian dari otak, sistem limbik berhubungan langsung dengan emosi yang selama ini kita pahami. Ekspresi-ekspresi emosional yang bisa kita amati bersama, misal tersipu, tertawa, menangis dan segala aspek yang berhubungan dengan emosi memperlihatkan hubungannya dengan sistem limbik. Stimulasi-stimulasi tertentu di daerah ini saat dilakukan operasi pembelahan otak memperlihatkan sensasi-sensasi samar yang dialami pasien sebagai perasaan senang ataupun keputusasaan.
Meskipun demikian, pola perilaku dan respon akan suatu situasi yang melibatkan emosi tidak hanya dikerjakan oleh sistem limbik sendiri. Bagian otak lain, korteks otak, yang mengatur fungsi-fungsi luhur manusia, berperan penuh dalam respon kita terhadap keadaan emosional. Emosi nampaknya dengan lebih mudah memanggil program-program yang sudah terpatri dalam korteks kita. Sebuah contoh terkenal adalah gerakan tersenyum. Respon tersenyum atas emosi yang menggembirakan merupakan bahasa universal yang dimiliki semua orang, bahkan mereka yang buta sekalipun. Mereka yang buta sejak lahir akan tetap memiliki ekspresi wajah ‘tersenyum normal’. Tersenyum tampaknya telah diprogramkan sebelumnya di korteks dan dapat diakses setiap saat oleh sistem limbik. Pada tingkat yang mendasar senyum adalah ekspersi manusia yang universal.
“Pada tingkat yang mendasar senyum adalah ekspersi manusia yang universal”
Sedikit-banyak tentang kenangan
Hal-hal yang kita ingat, kenangan masa indah saat SMA misalnya, melibatkan aktivitas holistik dari neuron yang ada di otak kita. Konsep memori mencakup segala informasi yang kita alami yang disimpan dan kita dapat memanggilnya kembali ketika kita ingin mengingat sesuatu. Memori melibatkan kontribusi seluruh sel saraf (neuron) untuk saling berinteraksi dan membentuk koneksi-koneksi di antara mereka sendiri. Hal ini berarti ketika kita mengingat informasi baru maka akan ada banyak koneksi-koneksi yang terbentuk antara neuron dalam kombinasi yang tidak terbatas !
Secara umum, para pakar neurosains membagi memori menjadi dua yaitu memori jangka pendek dan jangka panjang. Meskipun proses penyerapan informasi baru melibatkan kerja berbagai bagian di otak, paling tidak ada dua bagian yang berperan penting dalam aktivitas mengingat ini, yaitu korteks dan hippocampus. Korteks berperan penting dalam proses ingatan jangka pendek, dimana ketika anda menyerap informasi baru, korteks akan menyimpangnya sementara untuk anda. Ketika anda memutuskan bahwa informasi tersebut tidaklah penting maka dengan mudahnya korteks akan membuang informasi tersebut.
Namun, bukankah kita ingin mengingat sesuatu dalam waktu lama ? Memori jangka panjang melibatkan hubungan intens dari paling tidak, hippocampus dan korteks. Hippocampus secara spesifik akan mengubah ingatan jangka pendek menjadi jangka panjang. Memori akan tersimpan dalam ‘kantong-kantong’ ingatan di berbagai bagian otak (ya, memori tidak disimpan dalam satu area khusus di otak). Secara sadar anda dapat merubah memori jangka pendek menjadi jangka panjang dengan pengulangan. Memori memerlukan waktu yang lama untuk menempel secara permanen dalam otak kita, dan selama proses pengendapan tersebut, memori akan rentang untuk menghilang atau dibentuk ulang dengan adanya interferensi, terutama ketika kita dijejali informasi terus-menerus dalam jangka panjang tanpa jeda, seperti yang banyak terjadi di ruang-ruang kelas kita. Kabar baiknya adalah inteferensi tersebut tidak akan terjadi ketika informasi diulang-ulang secara sengaja dengan diberi jeda. Otak manusia, dibanding mengingat detail, lebih menyenangi mengingat konsep dan cenderung mengingat awal dan akhir dari suatu hal dan melupakan bagian tengahnya. Idenya adalah dengan membuat jeda, kita akan memperbanyak awal dan akhir dari suatu hal yang ingin kita ingat. Oleh karena itu disarankan untuk selalu menjeda setiap 30 menit atau satu jam sekali ketika kita sedang belajar.
Kitalah pada dasarnya yang memutuskan apakah suatu hal pantas diingat atau tidak. Kita tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang membosankan. Otak kita akan membuang segala informasi yang tidak penting bagi kita dan menyimpan hanya hal-hal yang menarik perhatian kita. Lebih jauh lagi, memori akan meningkat ketika kita dapat membuat asosiasi informasi baru dengan hal yang sudah ada sebelumnya. Hal yang disebut pemahaman (sering dikatakan lebih kuat dibanding sekedar menghafal) ada hanya ketika kita dapat menggambarkannya dengan jelas dalam kepala kita dan mengasosiasikannya dengan hal yang sudah kita punya. Pemahaman tidak akan pernah ada tanpa penggambaran dalam otak kita, ini fakta penting pendidikan ! Dan asosiasi akan meningkatkan ingatan kita akan detail. Jika kita dapat menarik makna dan hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain, kita dapat mengingat detail dengan lebih mudah. Maknai sebelum detail.
“Otak kita akan membuang segala informasi yang tidak penting dan menyimpan hanya hal-hal yang menarik perhatian kita”
Cinta memang merebut perhatian kita
Peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi akan cenderung untuk lebih diingat dibandingkan dengan peristiwa biasa. Peristiwa penuh emosi (biasa disebut dengan emotionally competent stimulus) adalah stimulus paling baik untuk menyimpan memori dalam waktu lebih lama dan mengingat dengan lebih akurat. Hal ini berkaitan dengan korteks pre-frontal kita, yang berfungsi sebagaai agen pelaksana dalam memecahkan masalah dan menjaga perhatian dan hubungannya dengan amygdala. Amygdala merupakan bagian otak yang sepesial dalam membantu menciptakan dan mempertahankan emosi. Amygdala berisi banyak dopamin, sebuah neurotransmitter otak, yang berperan seperti memo dari suatu bagian ke bagian lainnya. Ketika otak mendeteksi peristiwa yang sarat dengan emosi, amygdala akan melepas dopamin, dimana neurotransmitter ini sangat membantu memori dan pengolahan informasi. Hal ini seperti anda memberikan memo kepada anak buah anda bertuliskan, “Ingatlah ini !” Dengan demikian, hippocampus pun akan bekerja dan menyimpannya sebagai memori jangka panjang.
Walaupun melupakan detail wajah orang yang kita cintai, kita akan tetap mengingat perasaan pernah mencintai dan dicintai, ketika kita bertemu dengan orang tersebut. Amygdala akan merespon peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi, cinta, benci, kesedihan, gembira dan memungkinkan kita untuk dapat mengingat hal-hal lampau dengan lebih baik. Oleh karena itu, ide sederhananya adalah cintai terlebih dahulu pelajaran yang ingin kita ingat, maka kita akan mengingatnya dengan lebih baik. Dengan melibatkan emosi dalam proses pembelajaran, hal ini diharapkan dapat membantu kita mengingat dengan lebih baik. Sayangnya dalam sistem pendidikan formal kita selama ini, hal-hal abstrak seperti emosi, yang cenderung melibatkan otak bagian kanan, belum dilibatkan dan lebih mengagungkan otak bagian kiri. Untuk dapat menjadi pembelajar sejati, kita perlu memaksimalkan potensi kedua bagian otak.
“Walaupun melupakan detail wajah orang yang kita cintai, kita akan tetap mengingat perasaan pernah mencintai dan dicintai”
Referensi:
de Potter, B. Quantum memorizer.
Medina, J. Brain rules.
Sherwood, L. Human physiology.
English is a funny language; that explains why we park our car on the driveway and drive our car on the parkway. ~Author Unknown
Yeah, I know it, English becomes an international language, and in some cases it saved me from another language that I don’t really know. Honestly, long time ago, when I was a little younger, there was a question that pops out of my head, “why must it be English? Becomes language used throughout the world” A random thought comes from a desperate kid who knows a little about that language. A minute later, an answer floated, danced around my head and it said, ”Hey kid, actually that’s not kind of yours, but I think I know, that kingdom had colony all over the world once, and now they call it the Commonwealths". Even though, many countries that had ever been colonized by England have their independence now, the language and culture keep remains.
“Commonwealth is association of the United Kingdom with States that were previously part of the British Empire” [Oxford dictionary]
Well, right now, I need to confess that I’m not really good at English and it bothers me somehow. I’ve read some blogs of my friends that they often use English in their posts. I do believe that they’re really skillful and with humbleness they said that if any errors in their English just correct them, and it’s important for them. None of us are perfect, just they who study and learn from their mistakes will be able to pursue perfection. Yap, I’ve found the main difference between them and me, it is all about the courage to try it, not to be afraid of mistakes, and accept suggestions from others. We need to ignore a little of our ego, and accept that we need feedback from others.
“You will not achieve anything, without courage to begin first.”
So, let me put it into English, my post in blog or essay or anything else. I want to learn, I want to see how vast the world is, and firstly, I need first key to access them, a language that people use. How we expect to change this world, yet our efforts can touch the world. So far, I have only one post written in English in this blog (besides this post), and I hope it can be increased later. :)
“And when the Prayer is finished, then may ye disperse through the land, and seek of the Bounty of Allah: and celebrate the Praises of Allah often (and without stint): that ye may prosper.” [qs. 62:10]