Rabu, 07 Juli 2010

Journey to the Future: Kunjungan Pertama, Sebuah Langkah Awal

Berdoalah di tiap awal pekerjaanmu, karena hal itulah yang memberikan nilai lebih dalam setiap hasilmu.

21 Juni 2010

Hari pertama dimulai pukul 06.30, kami berkumpul di balai sidang BNI. Banyak yang tepat waktu, namun tidak sedikit yang tetap telat. Kunjungan hari pertama dimulai ke BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dan selanjutnya berkunjung ke Ristra Indolab. Studek sudah dimulai, semangat kami meninggi, inilah saatnya, perjalanan menuju masa depan pun dimulai.

BPOM, lembaga pemerintah

BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) merupakan lembaga pemerintah non-kementrian. Kunjungan pertama kami adalah ke lembaga ini yang berlokasi di Jl. Percetakan Negara, Jakarta dengan menaiki dua bus. Jumlah kami sekitar 66 dengan ditemani oleh Prof. Atiek yang ternyata sudah sampai lebih dahulu sebelum kami. Pada rundown acara, dijadwalkan kunjungan dimulai pukul 10.00, namun kami hadir setengah jam sebelumnya (such a punctual people!!, hehe..)
Kami disambut dengan hangat oleh Drs. Arustiyono, Apt., Kepala Biro Umum BPOM, yang kemudian menjelaskan betapa BPOM memiliki tugas penting, yaitu memberi perlindungan pada konsumen bahkan hingga ke pelosok daerah dan diakhiri dengan pengingatan akan pentingnya softskill selain hardskill bagi para pegawai BPOM.
Sesi selanjutnya diberikan pemaparan tentang BPOM oleh Dra. Neviyenti, Apt. yang berisikan mengenai l atar belakang pendirian Badan POM, kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, grand strategy, struktur organisasi, visi dan misi, produk yang diawasi oleh Badan POM, serta mekanisme pengawasannya. Selain itu, sesi ini juga dihadiri oleh Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Obat Dra. Tri Asti Isnariani,Apt.M.Pharm dan Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Keracunan, Dra.Murti Hadiyani. Sesi ini diakhiri dengan diskusi, penyerahan kenang-kenangan, dan foto bareng.

Ristra IndoLab, Hidup Mahasiswi!!..

Beranjak dari Jl. Percetakan Negara, kami meluncur ke citeureup, Bogor lokasi target kami selanjutnya, Ristra IndoLab. Wajah para mahasiswi Farmasi terlihat lebih cerah (atau setidaknya begitu menurut penulis). Tak ayal, Ristra merupakan produsen kosmetik yang terkenal di kalangan menengah ke atas, dan apalagi setelah berhembus berita akan dibagikan produk Ristra kepada para peserta yang hadir.
Disambut dengan hangat oleh pihak Ristra, cukup menghibur kami yang agak kepanasan karena AC dalam ruangan tidak sepenuhnya bekerja. Selanjutnya presentasi oleh dokter dari Ristra mengenai kulit dan problemnya serta cara kita menanggulanginya. Kunjungan dilanjutkan dengan keliling pabrik Ristra. Setidaknya ada tiga bagian yang kami kunjungi, yaitu bagian produksi, quality control dan R (Research) and D (Development). Meskipun pada bagian produksi, pekerjaan yang dilakukan masih menggunakan banyak tenaga manusia, Ristra IndoLab dapat menerima pesanan produk untuk diproduksi dari perusahaan kosmetik lainnya. Pada bagian produksi sendiri terlihat adanya ruang preparasi bahan (penyiapan bahan, penimbangan, dll), kemudian bagian yang memproduksi lipstick, bedak, sabun, gel, dan lain sebagainya. Tak lupa ketika memasuki bagian produksi ini kami diharuskan memakai baju khusus untuk mengurangi adanya kontaminasi.
Pada bagian quality control dan R and D, kami berdiskusi langsung dengan pekerja di sana. Banyak hal menarik dan baru bagi kami, kurang lebih memberikan gambaran mengenai pekerjaan di bagian ini. Hal menarik lainnya adalah kami menemui alumni farmasi UI angkatan 2002 (kalo tidak salah) yang bernama ka Inggid (kalo tidak salah lagi, maaf ya ka..) di bagian R and D.
Kunjungan diakhiri dengan pemberian dua buah produk Ristra, yaitu Trustee, penyerahan kenang-kenangan dan foto bareng.
Inilah hari pertama kunjungan kami. Rasa lelah pun terbayar dengan kunjungan yang ada. Sungguh semoga pengalaman yang didapat dapat berguna di masa depan.

Even every long journey must begin with a single step.[unknown]


Read More..

Journey to The Future: Opening Theme

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.[ Eleanor Roosevelt]



Sebuah catatan perjalanan, inilah isi tulisan ini dan tulisan lanjutan yang akan diterbitkan dengan tagline yang sama. Catatan mengenai perjalanan untuk mencari sedikit pengalaman untuk sebuah harapan yang besar. Catatan perjalanan dari keluarga besar Farmasi UI 2007, little experience for great expectation.
Studi Ekskursi (studek) merupakan acara angkatan yang biasa diadakan oleh mahasiswa farmasi UI. Ekskursi berarti di luar kursi, maksudnya adalah sebuah studi di luar kelas untuk melihat langsung gambaran ruang kerja bagi mahasiswa farmasi di masa depan nantinya, setidaknya itulah tujuan utamanya. Mungkin tidak banyak yang tahu, dahulu acara ini merupakan proker dari himpunan mahasiswa farmasi UI, yang kemudian diubah menjadi acara kultural angkatan yang diadakan saat menjelang tahun ke-4 studi di Farmasi UI. Selanjutnya dengan berbagai pertimbangan dan dorongan, pada tahun 2009, kegiatan ini dilegal-formalkan dengan dimasukan sebagai proker khusus HMD farmasi UI.
Studek ini sudah mulai dirancang pada tahun ke-2 studi di Farmasi oleh Farmasi UI angkatan 2007. Pemilihan PO (Project Officer) pun dilaksanakan, kepanitiaan segera dibentuk, dan angkatan mulai disolidkan untuk berkontribusi secara aktif di kegiatan ini. Saat itu dibuat keputusan untuk menghentikan kas angkatan dan mengalihkannya ke tabungan studek. Minggu per minggu uang dikumpulkan, ada yang bayar lunas langsung, ada juga yang menunggak hingga beberapa minggu. Pencarian dana lebih digiatkan ketika memasuki tahun ke-3. Konsep awal dibentuk, Kita pergi ke singapura!! Tetapi tidak kawan, budget terlalu tinggi dan tidak banyak yang bisa dikunjungi, jangan-jangan malah lebih banyak belanjanya. Target diturunkan namun tetap harus lebih baik dari tahun lalu, Kita akan menginjak pasir Bali! Kesepakatan telah dibuat dan terpenting adalah pelaksanaannya. Karena cita tanpa usaha hanyalah angan kosong. Dan tentunya tidak dapat dihindari, kesibukan kuliah harus disisihkan sedikit untuk kepentingan studek. Namun tidak mengapa, inilah pembelajaran menuju kedewasaan. Manajerial waktu merupakan skill yang tak dipelajari saat duduk di bangku kelas.
Waktu terus bergulir, hari semakin dekat, dan kami terus bergerak. Ego pribadi janganlah diikutkan, semua untuk kepentingan bersama. Barisan dirapatkan, pergerakkan terus diakselerasi; memenuhi target budget, fiksasi tempat kunjungan, perancangan konsep acara itulah tema utamanya. Technical Meeting tidak lupa diadakan, tanggal 18 Juni semua hal yang perlu disiapkan disosialisasikan. Tempat kunjungan dan bus sudah dikonfirmasi, kami siap berangkat.
Hari-hari tinggal dihitung jari-jemari. Meskipun dengan keterbatasan di sana-sini kami tetap berani melangkah. Bukankah di setiap perjalanan panjang selalu diawali dengan sebuah langkah? Mereka yang melangkah dengan rasa takut sebenarnya tidak pernah beranjak kemana-mana. Pagi pun tiba, dan mentari tetap tersenyum hangat kepada kami, meskipun awan kegelisahan tetap menggantung, kami melangkah dengan tekad di hati. Semoga hati-hati kami disatukan, langkah-langkah kami dikuatkan, keberkahan dan kebermanfaatan teriring disetiap sudut-sudut studi ini.
Mimpi kemarin adalah kenyataan hari ini, mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.[Hasan Al-Banna]



Read More..

Kamis, 10 Juni 2010

Jalan Berliku Menuju Keadilan: Kisah Nyata Seorang Maba 2010


Siang itu saya pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak karuan. Saya buka ransel sekolah saya sesekali, masih saya pandangi 1 bendel formulir pemberian Bu Arthena, guru BP saya. Saya masih tidak percaya jika ternyata 1 dari 4 formulir seleksi mahasiswa baru UI jalur PPKB untuk sekolah saya tersebut akan jatuh ke tangan saya.

Yah,itulah impian besar saya sejak saya mengenal apa itu PTN. Saya ingin sekali mengenyam pendidikan di UI, itulah hal yang memotivasi saya untuk belajar dengan sungguh-sungguh setiap harinya. Walaupun sebenarnya gerbang untuk meraih impian itu baru saja terbuka, saya galau juga. Kalau saya bicarakan hal ini kepada kedua orangtua saya, saya takut akan membuat mereka semakin terbebani, saya tidak tega. Saya sadar benar bahwa untuk makan sehari-hari saja sulit, sampai-sampai ibu saya harus merantau ke Jakarta. Bagaimana tidak,ayah saya hanyalah seorang PNS golongan II yang tiap bulan hanya menerima gaji bersih tidak lebih dari 350 Ribu.

Sampai sore hari pun saya masih belum berani membicarakan hal ini kepada Ayah saya. Setelah beberapa saat saya shalat Istikarah akhinya saya putuskan: Dengan nekatnya saya mendaftar diam-diam. Karena pada saat itu saya dibebani biaya pendaftaran 100 Ribu sementara saya tidak punya uang sama sekali, maka saya memberanikan diri mendatangi pemilik bimbingan belajar dimana saya biasanya mengajar les untuk meminta setengah dari gaji saya di awal. Beruntung sekali pemilik bimbel itu memaklumi keadaan saya, beliaupun memberikan uang 150 Ribu kepada saya.

Saya sadar bahwa langkah yang saya ambil ini salah karena bertindak tanpa sepengetahuan orangtua. Sehingga saya mendaftarkan diri belum mendapat restu dari orangtua. Tapi sekali lagi,niat dan kemauan saya untuk dapat kuliah di sana mengalahkan segalanya.

Setelah berkas dikirimkan, saya merasa lega. Namun lagi-lagi saya dihantui perasaan bersalah terhadap orangtua saya. Siang itu saya beranikan diri untuk memberi tahu kedua orangtua saya. Pertama kali saya menelepon Ibu saya, Alhamdulillah meskipun awalnya beliau agak kaget tapi pada akhirnya beliau memberi restu kepada saya. Yang agak membuat nyali saya teruji adalah ketika saya memberi tahu kepada ayah saya. Dan ternyata dugaan saya terbukti, ekspresi ayah saya saat itu sangat membuat saya merasa bersalah. Beliau berkata:”Nak, bagaimana kalau kita tidak mampu membayar biaya pendidikannya? Ayah khawatir kalau kamu bakalan dikeluarkan dan akhirnya kecewa. Dengan apa kita membayar? Ayah hanya punya rumah ini. Kalaupun dijual tidak akan cukup untuk membiayai kamu sampai selesai. Lalu bagaimana dengan Adikmu? Kamu memang kurang beruntung mempunyai Ayah seperti Ayah ini…”.

Itulah kata-kata yang keluar dari Ayah saya, ingin rasanya saya menangis ketika mendengarnya. Saya sangat merasa bersalah. Kemudian saya berusaha untuk selalu meyakinkan Ayah saya bahwa saya bisa, ada banyak beasiswa di UI dan saya akan berusaha dengan keras untuk kuliah dengan beasiswa. Kalaupun saya gagal mendapat beasiswa, saya akan bekerja paruh waktu untuk mencukupi biaya kuliah saya. Meskipun Ayah saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya katakan, akhirnya beliau memberi restu kepada saya.

Pada tanggal 16 Januari 2010, saya berangkat sekolah jauh lebih pagi dari biasanya untuk mampir ke warnet melihat pengumuman diterima atau tidaknya saya di UI. Subhanallah, antara percaya dan tidak percaya ternyata saya diterima. Namun pandangan saya buyar ketika melihat besarnya biaya pendidikan yang harus saya bayar. Setelah saya cari-cari cara pembayaran, yaitu pada tanggal 29 Januari 2010, saya memutuskan, dan memang harus memutuskan untuk memilih sistem pembayaran BOP Berkeadilan, yaitu pembayaran biaya pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Saya langsung mendaftar secara on line, dan segera menririmkan berkas-berkas yang dibutuhkan sehari setelah itu. Pengumuman besaran biaya BOP baru diumumkan pada tanggal 8 Maret, sambil bersabar saya terus berdoa semoga permohonan saya tercapai. Besarnya BOP yang saya ajukan waktu itu adalah 100 Ribu (karena yang saya tahu skala BOP antara 0-7,5 Juta), DKFM dan lainnya 700 Ribu, sedangkan untuk uang pangkal saya menuliskan 0 Rupiah. Jadi kalau ditotal saat itu saya mengajukan Biaya keseluruhan sebesar 800 Ribu. Saya mengisinya bukan tanpa alasan, karena saya hanya mampu untuk membayar sebesar itu.

Dalam melengkapi berkas pendaftaran BOP, Saya mengalami beberapa kesulitan. Diantaranya adalah tentang 3 surat rekomendasi dari tetangga yang disertai dengan nomor telepon yang bersangkutan. Bagaimana tidak? Saya hidup di desa yang sangat pelosok, tetangga saya jarang yang mempunyai telepon mereka juga sedikit sekali yang bisa baca tulis. Waktu saya ke rumah Pak RT, saya menjadi ragu. Beliau sudah tua dan tidak punya telepon, akhirnya beliau menuliskan nomor telepon menantunya, itupun tidak selalu dirumah. Pencarian ke tetangga kedua jauh lebih sulit, waktu beliau menuliskan rekomendasi, tulisannya hampir tidak terbaca. Namun beruntung beliau mempunyai telepon yang bisa dihubungi. Surat rekomendasi ketiga saya ajukan kepada pemilik bimbel tempat saya mengajar, beliau adalah orang satu-satunya berpendidikan yang tahu keadaan saya.

Saya harap, melalui beliau inilah saya akan mendapatkan pencerahan. Selain mencari informasi dari internet, saya berusaha untuk mendapatkan nomor telepon kakak kelas dari UI yang bisa membantu saya. Awalnya saya mendapatkan nomor HP Kak ***, mahasiswa Farmasi, saya bercerita panjang lebar kepada beliau tentang keadaan yang saya hadapi. Selang beberapa hari beliau memberikan nomor HP seseorang yang dianggapnya tetap yaitu Kak *****. Saya juga tidak sungkan-sungkan menceritakan keadaan saya kepada beliau dengan harapan beliau dapat membantu saya menurunkan BOP B yang harus saya bayarkan. Awalnya saya malu, namun keinginan saya terlalu kuat untuk mengalahkan rasa malu saya.

Pengumuman BOP yang pertama pun akhirnya keluar. Pagi itu saya hampir menangis karena ternyata BOP sementara yang dibebankan kepada saya jauh dengan yang saya ajukan. Total yang harus saya bayar saat itu adalah 6,2 Juta. Pikiran saya menjadi kacau balau, bagaimana jika Ayah saya tahu? Beliau pasti akan bersedih. Saya terus berhubungan dengan pihak yang mengurusi BOP B melalui email, saya mengajukan Banding. Saya membuat pernyataan bahwa orangtua saya tidak mampu membayar sebesar itu dan hanya mampu membayar tidak lebih dari 1 juta saja. Tiap email yang saya kirimkan direspon, tapi isinya hanya menyuruh saya bersabar menunggu prosedur selanjutnya.

Selang beberapa hari setelah itu, tetangga saya memberi tahu saya bahwa beliau dihubungi pihak UI, namun tidak jelas dengan setiap pertyanyaan yang diajukan oleh pihak UI karena semua pertanyaannya menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan tetangga saya hanya mengerti bahasa Jawa. Saya sedih mendengarnya. Sorenya Pemilik bimbel juga bicara pada saya bahwa beliau mendapat telepon. Namun pada saat itu beliau sedang menghadiri acara hajatan tetangga sehingga tidak tahu kalau ada telepon dari pihak UI. Saya semakin kecewa. Kemudian saya mendatangi Pak RT, Jawaban yang saya dapatkan tidak jauh berbeda. Menantunya saat itu sedang di pabrik sehingga tidak tahu apa yang sedang ditanyakan pihak UI. Saya hampir putus asa, saya takut kalau hal ini akan mempengaruhi hasil BOP B saya.

Satu-satunya harapan saya saat itu adalah Ayah saya, ketika ditelepon ternyata beliau sedang dalam perjalanan. Beliau tidak dapat mendengar dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan karena keadaan yang sangat bising di jalan. Saya hampir menangis mendengarnya. Namun tidak ada yang bisa saya perbuat. Semuanya sudah terlanjur. Saya serahkan keputusan yang terbaik kepada Allah dan pihak yang mengurusi BOP B. Saya harap mereka dapat menetapkan jumlah yang paling adil kepada saya.

Pengumuman hasil Banding pun keluar. Pagi-pagi saya datang ke warnet. Saya kecewa berat karena BOP B saya tidak berubah, masih tetap 6,2 Juta. Saat mengetahui hal itu saya hanya bisa menangis dalam hati. Pikiran saya di sekolah menjadi tidak terfokus gara-gara tidak berani memberitahukannya kepada orangtua saya.

Karena saya masih belum percaya dengan hasil yang saya peroleh pagi itu, sepulang sekolah saya mampir ke warnet lagi. Ternyata informasi yang saya dapatkan berbeda dari yang tadi pagi keluar. Kalau paginya masih 6,2 Juta, siangnya menjadi 5,5 Juta dengan kebijakan 3 kali cicilan. Meskipun mengalami penurunan sebesar 700 Ribu, saya masih kecewa juga karena jumlah sebesar itu sangat jauh dari yang saya ajukan. Namun mau bagaimana lagi, di bawah pengumuman itu terdapat tulisan:”Keputusan penentapan ini bersifat Final dan tidak bisa di ubah lagi”

Sepulang dari warnet, dengan muka kusut, saya menyerahkan hasil cetakan pemberitahuan tersebut kepada Ayah saya. Ayah saya hanya terdiam saja. Saya takut kalau beliau akan kembali pesimis.

Saat membayar cicilan pertama, ada satu hal yang membuat saya tersentuh sebagai seorang anak. Karena Ayah saya tidak mempunyai uang sama sekali, beliau mendatangi Pak Camat untuk meminjam uang. Saya kasihan juga melihat Ayah saya yang menjadi seperti pengemis, demi saya. Setiap hari saya dihantui oleh perasaan ketakutan dan kegalauan. Apakah cicilan berikutnya kami masih mampu mengusahakan untuk membayar?

Tetapi ada satu hal yang meyakinkan saya bahwa dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 Allah berfirman bahwa Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya. Saat itu mulai timbul keyakinan di hati saya bahwa saya pasti bisa melalui semua ini. Ayah dan Ibu saya, itulah semangat saya. Saya ingin membahagiakan mereka. Saya tidak ingin mereka bekerja keras terus-terusan. Dan saya harus bisa membawa perubahan.

Cicilan kedua pun menanti, seperti biasanya, Ayah saya tidak punya uang. Saya tidak ingin melihat lagi beliau menjadi seorang peminta-minta. Akhirnya saya memberanikan diri untuk menelepon saudara saya yang di luar negeri. Ternyata tidak bisa. Saya mencoba lagi menghubungi saudara saya yang di Bekasi, Alhamdulillah beliau berkenan meminjami uang.

Semakin lama perjuangan sulit yang saya lewati ini tidak mengecilkan hati saya untuk mundur, justru mengobar semangat saya untuk tetap bertahan dan memperjuangkan semua ini. Banyak orang-orang terdekat saya yang terus menyemangati saya. Dengan dukungan dan doa mereka, saya berjanji saya akan semakin tegar dalam melangkah.

Sekarang ini saya masih dalam masa menunggu pengumuman beasiswa BIDIK MISI. Inilah harapan saya satu-satunya saat ini. Jika saya berhasil mendapatkannya, paling tidak saya akan melegakan hati kedua orangtua saya.

Dan semakin hari, jarak saya menuju sekolah impian saya, sebuah Universitas terkemuka di Indonesia dengan segala prestasinya semakin dekat. Saya semakin optimis! Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan saya untuk menggapainya, kecuali Allah. Saya akan buktikan kepada semua, bahwa saya gadis miskin dari desa yang hidup sendirian di sana akan dapat berprestasi, sungguh-sungguh dalam menggali ilmu dan tidak akan mengecewakan. Saya janji. Dengan Rahmat Allah, tidak ada yang tidak mungkin…

tulisan ini diambil dari note faccebook salah seorang sahabat
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150223396520145#!/note.php?note_id=10150223396520145
Read More..

Minggu, 06 Juni 2010

Brothers


Tahu Elric bersaudara? Edward dan Alphonso? Ya, bagi para penggemar Full Metal Alchemist pasti tahu akan kedua karakter tersebut. Jika anda juga menonton filmnya maka ada sebuah soundtrack yang saya pikir cukup menyentuh, yaitu yang dibawakan oleh bratya berjudul Brothers

Prosti menya, mladshiy brat!
Ya tak pred toboy vinovat.
Pyitatsya vernut' nyelzya
Togo, chto vzyala zyemlya.

Kto znayet zakon Byitiya,
Pomog byi mne nayti otvet.
Zhestoko oshibsya ya;
Ot smerti lekarstva nyet.

Milaya mama! Nyezhnaya!
Myi tak lyubili tebya.
No vse nashi silyi
Potrachenyi byili zrya.

Tebya soblaznil ya
Prekrasnoy nadezhdoy
Vernut' nash semeynyiy ochag.
Moy brat, ya vo vsem vinovat.

Nye plach', nye pechal'sya, starshiy brat!
Nye tyi odin vinovat.
Doroga u nas odna,
Iskupim vinu do dna.

Mnye nye v chem tebya upreknut'.
I ya nye obihen nichut'.
Tyazhek, nash gryekh
Khotet' byit' silneye vsekh.

Milaya mama! Nyezhnaya!
Myi tak lyubili tebya.
No vse nashi silyi
Potrachenyi byili zrya.

Ya sam soblaznilsya
Prekprasnoy nadezhdoy
Vernut' nash semeinyiy ochag.
Ya sam vo vsem vinovat.

No chto zhe nam delat', kak byit'?
Kak vse ispravit', zyabyit'?
Pyitat'sya vernut' nyel'zhya,
Togo, chto vzyala zyemlya.

Lagu di atas menggunakan bahasa Rusia, berikut terjemahan bahasa Inggrisnya:

Forgive me, little brother
I am so sorry before you.
It's forbidden to try to return
One taken by the earth.

The one who knows the law of existence
Could help me to find the answer.
I was very mistaken
There's no cure for death.*

Dear Mom, sweet Mom!
We loved you so much.
But all our efforts
Unfortunately were in vain.

I tempted you
With the wonderful hope
Of returning our home.
My brother, it's all my fault.

Don't cry, don't be sad, big brother.
You're not the only guilty one.
There's only one road before us,
We will purge our sins completely.

I cannot blame you,
I am not hurt at all.
Well, we sinned
By wanting to be stronger than everyone else.

Dear Mom, sweet Mom!
We loved you so much.
But all our efforts
Unfortunately were in vain.

I was tempted
With the wonderful hope
Of returning our home.
I'm guilty for all of it.

But what should we do, how should we be?
How to fix everything, to forget?
It's forbidden to try to return
One taken by the earth.

Lagu tersebut memang mengkisahkan bagaimana Elric bersaudara ingin menghidupkan kembali ibunya yang meninggal menggunakan alkimia (alchemy). Seperti yang tertera pada hukum pertama alkimia, jika ingin membuat sesuatu maka suatu hal lainnya yang ekuivalen dengan sesuatu yang ingin kita buat harus disediakan. Walaupun pada dasarnya tubuh manusia terdiri dari zat-zat tertentu yang bisa disediakan, namun tidak ada yang ekuivalen dengan jiwa (soul) di dunia ini. Alhasil kecelakaan pun terjadi dan Edward harus kehilangan satu lengan dan kakinya, sedangkan Alphonso harus kehilangan seluruh tubuhnya dan jiwanya diikat di sebuah baju zirah oleh kakaknya sehingga tetap dapat tinggal di dunia.
Sebuah pelajaran bagi kita semua bahwa tidak ada yang setara dengan jiwa di dunia ini, maka bersyukurlah masih diberi kehidupan hingga saat ini dan jangan pernah disia-siakan karena hidup tak kan pernah kembali ketika dia sudah pergi. Rasa persaudaraan seperti yang digambarkan pada lirik di atas bisa kita contoh. Saat saudara kita mengalami kesusahan ataupun kegagalan, tidak selayaknya kita justru menyalahkan atau menghina, namun bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

"Humankind cannot gain anything without first giving something in return.
To obtain, something of equal value must be lost.
That is alchemy's first law of equivalent exchange"




Ps. Perlu diketahui jika para pembaca muslim menonton anime ini maka akan terlihat banyak simbol kepercayaan atau bangsa tertentu. Tentunya ini perlu dicermati dan akan dibahas pada postingan selanjutnya.

Read More..

Jumat, 21 Mei 2010

Gaza, Gaza


Lima hari aku di Gaza
Banyak sekali kenangan yang ku dapat
Kenangan tersendiri dalam hidupku

Kenangan berada di negeri jihad
Jihad melawan kezaliman
Jihad melawan keangkuhan
Jihad melawan kebiadaban

Rakyatnya sabar dalam berjuang
Meraih cita-cita yang mulia
Sebagai bangsa yang merdeka dari belenggu penjajahan
Walaupun mereka dijajah berpuluh tahun

Diblokade dua tahun lamanya (sekarang memasuki tahun ke empat)
Tidak menghalangi mereka untuk menghormati tamu
Itulah yang saya rasakan selama lima hari di Gaza

Ucapan salam juga disampaikan dengan senyuman
Yang mempererat tali persaudaraan
Kecintaan mereka terhadap Al Qur’an
Menyentuh lubuk hati yang paling dalam

Walaupun mereka dijajah
Tetapi mencetak Al Qur’an dengan bentuk yang indah
Kertas yang bagus
Di baca setiap saat oleh rakyat Gaza
Terutama anak-anak yang mengikuti program tahfizh Al Qur’an


Untuk tahun ini, tahun 2009
Mereka mentargetkan ada 10.000 orang hafizh yang baru
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
Kecintaan mereka terhadap masjid juga menyentuh jiwaku

Walaupun masjidnya dihancurkan penjajah Israel
Mereka masih ke masjid melakukan shalat berjama’ah
Cinta mereka terhadap masjid patut dicontoh

Bahkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
Seluruh masjid mengadakan program i’tikaf
Rakyat Gaza mengikuti program i’tikaf tersebut

Bahkan pemimpin mereka Ismail Haniya juga turut serta
Suatu jalinan yang indah antara rakyat dan pemimpinnya
Dalam ketaatan kepada Allah

Menetes air mataku saat meninggalkan kota Gaza
Mereka melepas keberangkatanku juga menangis

Entah kapan aku akan dapat kembali ke Gaza
Kota yang penuh kenangan spiritual dan jihad
Saya hanya berdoa semoga dapat kembali lagi ke Gaza

Dan shalat di masjid Al Aqsha
Kala itu Palestina merdeka
Insya Allah tidak lama lagi
(Ferry Nur)

tulisan di atas merupakan tulisan dari Ferry Nur yang ditulis di Eramuslim.com
Gaza, ketika kita mendengar istilah itu, maka terlintas tentang perang tiada akhir, kebiadaban, penjajahan, penindasa, dan sebagainya.
Di balik itu semua, di antara reruntuhan sekolah dan mesjid, dilahirkan hafidz-hafidz baru. Begitu kental kecintaan mereka terhadap Islam

Gaza, Gaza
Engkau pasti akan terbebaskan
Di saat itu, umat muslim akan bebas beribadah di Al Aqsa
Doa kami untukmu selalu..


Read More..

Jumat, 14 Mei 2010

Any suggestion ???


Well, posting kali ini agak berbeda dari posting-posting sebelumnya yang kebanyakan adalah artikel-artikel non-fiksi. Posting kali ini sebenarnya ingin meminta pendapat dan saran dari pembaca yang kebetulan mampir ke blog ini [boleh dunk sarannya]. Penulis ingin tahu, sebenarnya blog yang baik itu,
1. apa-apa saja topik tulisan yang minimal ada?
2. kemudian agar isi blog tidak monoton, kira2 topik apa saja yang menarik bagi para pembaca

Berawal dari coment seorang teman yang bilang, "gam, blogmu bagus sih, cuma isinya agak monoton",, oalaaah..

"so any suggestion????"
Read More..

Jumat, 07 Mei 2010

Uji Antioksidan


Aktifitas antioksidan tidak dapat diukur secara langsung, melainkan melalui efek antioksidan dalam mengontrol proses oksidasi. Banyak metode yang bisa digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan. Pada pengukuran aktifitas antioksidan perlu diperhatikan sumber radikal bebas dan substrat. Hal ini dikarenakan antioksidan mungkin dapat melindungi lipid dari kerusakan oleh radikal bebas, namun di waktu yang sama dapat mempercepat kerusakan molekul sel lainnya. Untuk mengatasi masalah ini dapat digunakan beberapa metode pengukuran aktifitas antioksidan untuk mengevaluasi efek dari antioksidan. Berikut ini adalah metode yang sering digunakan untuk mengukur aktifitas total antioksidan total suatu senyawa:


1.Uji DPPH
DPPH atau 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (α,α-difenil-βpikrilhidrazil) merupakan suatu radikal bebas yang stabil dan tidak membentuk dimer akibat delokalisasi dari elektron bebas pada seluruh molekul. Delokalisasi elektron bebas ini juga mengakibatkan terbentuknya warna ungu pada larutan DPPH sehingga bisa diukur absorbansinya pada panjang gelombang sekitar 520 nm.
Ketika larutan DPPH dicampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, maka warna ungu dari larutan akan hilang seiring dengan tereduksinya DPPH.
Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode ini berdasarkan dari hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh antioksidan. Intensitas warna dari larutan uji diukur melalui spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang sekitar 520 nm. Hasil dari uji ini diinterpretasikan sebagai EC50, yaitu jumlah antioksidan yang diperlukan untuk menurunkan konsentrasi awal DPPH sebesar 50%. Pada metode ini tidak diperlukan substrat sehingga memiliki keuntungan, yaitu lebih sederhana dan waktu analisis yang lebih cepat.

2.Uji ABTS
Asam 2,2’-Azinobis(3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS) merupakan substrat dari peroksidase, di mana ketika dioksidasi dengan kehadiran H2O2 akan membentuk senyawa radikal kation metastabil dengan karakteristik menunjukan absorbansi kuat pada panjang gelombang 414 nm. ABTS merupakan senyawa larut air dan stabil secara kimia.
Akumulasi dari ABTS dapat dihambat oleh antioksidan pada medium reaksi dengan aktivitas yang bergantung waktu reaksi dan jumlah antioksidan. Kemampuan relatif antioksidan untuk mereduksi ABTS dapat diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 734 nm. Absorbansi maksimal juga dapat terjadi pada panjang gelombang yang lain. Panjang gelombang yang mendekati daerah infra merah (734 nm) dipilih untuk meminimalkan interfensi dari absorbansi komponen lainnnya.
Hasil pengukuran dengan spektrofotometer selanjutnya dibandingkan dengan standar baku antioksidan sintetik, yaitu trolox yang merupakan analog vitamin E larut air. Hasil perbandingan ini diekspresikan sebagai TEAC (Trolox Equivalent Antioxidant Activity). TEAC adalah konsentrasi (dalam milimolar) larutan trolox yang memiliki efek antioksidan ekuivalen dengan 1,0 mM larutan zat uji. TEAC mencerminkan kemampuan relatif dari antioksidan untuk menangkap radikal ABTS dibandingkan dengan trolox.

3.Uji TRAP
Pengujian TRAP atau Total Radical-Trapping Antioxidant Parameter bekerja berdasarkan pengukuran konsumsi oksigen selama reaksi oksidasi lipid terkontrol yang diinduksi oleh dekomposisi termal dari AAPH (2,2’-Azobis(2-aminidopropana)hidroklorida) untuk mengukur total aktivitas antioksidan. Hasil uji ini diekspresikan sebagai jumlah (dalam mikromol) radikal peroksil yang terperangkap oleh 1 liter plasma. Pengukuran serum TRAP berdasarkan penentuan lamanya waktu yang diperlukan oleh serum uji untuk dapat bertahan dari oksidasi buatan.

4.Uji FRAP
Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) bekerja berdasarkan reduksi dari analog ferroin, kompleks Fe3+ dari tripiridiltriazin Fe(TPTZ)3+ menjadi kompleks Fe2+, Fe(TPTZ)2+ yang berwarna biru intensif oleh antioksidan pada suasana asam. Hasil pengujian diinterpretasikan dengan peningkatan absorbansi pada panjang gelombang 593 nm dan dapat disimpulkan sebagai jumlah Fe2+ (dalam mikromolar) ekuivalen dengan antioksidan standar.


pustaka
Antolovich, Michael, Paul D. Prenzler, Emilios Patsalides, Suzanne McDonald, Kevin Robards. 2002. Methods for Testing Antioxidant Activity. Analyst. 127: 183-198.

Molyneux, Philip. The Use of the Stable Free Radical Diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci. Technol. 26(2): 211-219.


Read More..